Pages

Showing posts with label ibu. Show all posts
Showing posts with label ibu. Show all posts

Sunday, 6 December 2015

Kasih dari Ibu yang Tak Pernah Melahirkan Saya

Kalau berbicara soal ibu, jalan hidup saya bisa dibilang salah satu yang unik. Selama ini saya merasa punya dua ibu. Bukan berarti saya punya ibu tiri, juga bukan termasuk ibu mertua. Ibu saya yang satu ini, memang tak pernah melahirkan saya, namun rasa sayangnya sangat luar biasa untuk saya.

Ibu saya yang satu ini menunggui kelahiran saya, mengurus saya sejak bayi, menjaga saat saya sakit, memarahi saya jika saya berbuat salah dan setia mendampingi saya hingga saat ini. Ibu saya ini adalah asisten rumah tangga Mama yang kemudian sudah saya anggap ibu sendiri. Sekarang saya dan anak-anak memanggilnya dengan sebutan Nenek Eneng.

Nenek Eneng bersama dua anak saya dan seorang keponakan saat jalan-jalan (dok.pribadi)

Tuesday, 29 April 2014

Tulisan Itu Berkata "I Love You, Ibu"

I love you ibu, tulisan tangan Aylaa di dinding dengan air (dok.pribadi)
Aylaa: bu, sini deh.
Ibu : apaan sih kak?
Aylaa: lihat ini (nunjukin tulisan di dinding, I love you, ibu)
ibu : I love you too sayang

Coretan  di dinding seperti di foto di atas mungkin terlihat remeh. Hanya berupa tulisan di dinding samping kamar mandi yang dibuat dengan tangan mungil Aylaa yang basah. Tapi, artinya sama sekali tidak remeh untuk saya.  Pernyataan spontan yang tulus dari seorang putri untuk Ibunya tak pernah remeh. Saya segera menjawab dan memeluknya. 

Padahal saya sempat khawatir waktu dan perhatian saya yang banyak berkurang karena saya sudah mulai bekerja lagi di kantor hampir tiga bulan. Dulu saya bisa seharian bersamanya, mengantar dan jemput ke sekolah serta membantu dengan pekerjaan rumah dan lain-lain. Tapi, saat ini, saya hanya dapat meluangkan waktu lebih banyak saat akhir pekan.

Tapi, ternyata Aylaa dapat memahami dan beradaptasi lebih cepat dari yang saya sangka. Terutama adalah ia tahu bahwa rasa sayang Ibunya tak akan pernah berkurang sedikitpun, meski waktu yang kami habiskan bersama tak lagi sebanyak dulu.

Terimakasih sayang, I love you more than words can say.




Wednesday, 25 December 2013

Apa Cita-citamu, Nak?


"Aku mau jadi dokter!"

Mungkin itu jawaban paling banyak yang dijawab anak-anak, saat saya kecil dulu. Mungkin juga sampai sekarang. Entah karena memang dirasa sebagai jawaban paling mudah, paling keren atau mungkin juga paling memenuhi ekspektasi orangtua.

Saya sendiri termasuk satu diantara yang pernah mengatakan itu waktu kecil, saat ditanya mau jadi apa. Hanya saja kalo orang lain jawabnya pas ditanya di depan kelas, kalo saya ngomong langsung saat ngeliat dokter buka laci yang penuh duit. Hahahaha mata duitan sedari kecil, donk :D

Aylaa (tengah) bersama teman-temannya saat lomba menari mewakil sekolah (dok.pribadi)

Saturday, 28 September 2013

Kepemimpinan si Kecil: Dimulai dari Ibu, Diawali dari Rumah

"Aylaa mau jadi seperti Ibu".

Itu kalimat anak sulung saya, Aylaa (hampir 7 tahun) pada suatu sore. Kalimat yang membuat saya tersenyum sekaligus penasaran. Meskipun secara teori, saya sudah tahu memang kedua orangtua adalah panutan dari anak-anaknya, namun pernyataan sore itu tetap saja mengejutkan saya.
Foto Aylaa lulus TK bersama Ibu dan adik Sandya. Ayah gak ikut soalnya lagi ngantor ^_^ (dok.pribadi)

Tuesday, 19 February 2013

Cek Ayo Cek Obat Aman untuk Ibu Menyusui

Selamat pagiii...udah pada sarapan semuanyaaa? Oh ada yang sarapan roti, nasi uduk? Eh ada yang sarapan nasi goreng pete cah ikan asin? *glek..bagi donk* Trus ada juga yang menu sarapannya gulai ikan, martabak telur dan balado kentang? Alamak itu sarapan atau makan siang siih :D hehehe

Alhamdulillah di rumah saya sarapannya nasi anget sama pepes ikan mas plus sambel kecap, mak nyuus lah pokoknya. Ini ngomongin sarapan, jadi hilang arah mau nulis apaan. Kembali ke laptop!

Begini, ceritanya saya mau nerusin penulisan copy writing dari posting saya sebelumnya Copywriter (Ternyata) Bukan Tukang Kopi :D yang di Akber Depok dari mas Seno Pramuadji ,tapi eeh tapinya ada satu topik yang menarik saya. Biasalah namanya juga emak-emak, suka gampang teralih deh, apalagi sama hal yang berhubungan dengan anak. ntar aja yak tulisan soal copy writingnya sodara-sodara yang baik hati*ketjup-ketjup*

Nah, ceritanya kemarin di Facebook saya nemuin update soal obat-obatan yang aman untuk Ibu menyusui. Berhubung saya masih menyusui adek Sandya (1y 2m), jadinya info ini langsung menarik hati. Sengaja saya share di blog supaya gak lupa dan siapa tahu bermanfaat untuk ibu-ibu lain di seluruh jagad raya *lebay*

Oh ya, satu lagi pesan saya, kalo ibu menyusui periksa ke dokter trus dibuatin resep, ya jangan sungkan2 nanya ke dokternya aman atau gak. Saya pan sering tuh ke dokter gak bawa anak, jadi dokter gak tahu kalo lagi menyusui. Jangan juga berharap dokter tau kalo gak dikasitau, emangnya dia pembaca pikiran apah? Juga kan gak ada plang di jidat kalo kita lagi nyusuin hehehe :) Jadi jangan ragu dan malu ngomong dan nanya soal keamanannya. Dokter yang baik biasanya mau jawab dan jelasin, ya minimal ngangguk-ngangguk deh :)

Didalam daftar dibawah (ini gimana sih, udah didalam dibawah,dasar emak2 galau :) lumayan lengkap kok ada obat penurun panas dan penghilang nyeri, antibiotik, alergi, asma, sampe obat jantung, epilepsi, anti depresi, thyrooid sampe kontrasepsi yang aman untuk ibu menyusui. Silakan di ceki-ceki ya.

Daftar Obat-obatan yang Aman untuk Ibu Menyusui:

1. Penurun Panas dan Analgesik (penghilang nyeri): Asetaminofen (parasetamol), ibuprofen, anestesi lokal.
2. Antibiotik: Golongan penisilin (Amoxicilin, ampicillin) dan sefalosporin (Cefadroxil, ceftriaxone, cefotaxime).
3. Asma: Prednisolon, prednison, salbutamol, flutikason.
4. Rhinitis Alergi: Beclometason, fluticasone.
5. Diabetes Melitus: Indulin, glipizide.
6. Jantung: Thiazide, propanolol, metoprolol, labetolol.
7. Epilepsi: Phenytoin, carbamazepine.
8. Anti depresi: Sertraline.
9. Obat thyroid: Propythiouracil, Levothyroxine.
10. Kontrasepsi: Progestin (mini pil).

Sumber: Kemang Medical Care

Tuesday, 20 November 2012

Ego oooh Ego

Assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi yang mendung dan sariawan (hehe harusnya berawan ya:). Maklum saya lagi terganggu sariawan selama dua hari kemaren, jadi sekalian deh ^.^

Anyway, saya pengen bahas soal si ego nih. Ego sebenarnya asal kata dari egosentris. yang menurut kamus bahasa Indonesia yaitu menjadikan diri sendiri sbg titik pusat pemikiran (perbuatan); berpusat pd diri sendiri (menilai segalanya dr sudut diri sendiri). Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/ego/mirip#ixzz2Cj5LC1zG


Nah kalau kata sifat dari egosentris ini (belajar bahasa Indonesia dikit ya), biasa disebut egois. Jadi kalau lihat dua sejoli pacaran, sambil teriak "Kamu egois, gak mau mikirin perasaan aku!" Hehe itu artinya, salah seorang bersikap mementingkan diri sendiri. Kalau suamii istri sih sepertinya malu ngomong2 gitu, langsung aja ngacir (hehe bukan kisah pribadi loh, ya dikit2 deh).

Kembali ke ego, nah sesuai dengan tema blog saya (tumben nyambung), yaitu ibu bekerja yang kemudian jadi full time mother alias ibu2 yg di rumah, masalah ego ini bisa jadi sangat menjadi masalah  (apaaa sssiiiih). Alias kalau tidak bisa ditekan atau disalurkan dengan baik dan benar, bisa menyebabkan susah tidur, depresi dll (menurut saya yg bukan ilmuwan dan tanpa penelitian loooh).

Kenapa bisa begitu? Ini nih penting dibaca untuk para suami (termasuk suami saya ^.^). Para wanita alias ibu yg sebelumnya bekerja kemudian menjadi ibu rumah tangga, memiliki ego pribadi yang lebih tinggi. Pasalnya, kami terbiasa memiliki identitas sebagai seseorang secara pribadi, memiliki penghasilan sendiri dan yg jelas waktu untuk diri sendiri (kalo kerja di kantor gak mungkin bawa2 anak kan hehe) dll.

Nah, ketika jd ibu rumah tangga, yg biasa dihadapi adalah diri pribadi menjadi kurang dihargai. aaah masa sih? di lingkungan rumah, maka ibu akan dipanggil dengan nama suami, di sekolah anak2, dipanggil berdasarkan nama anak2nya. Hal yg mungkin terlihat sepele, namun jg sangat krusial. Kemerdekaan finansial dan jalan2 juga berubah. Mau belanja atau jalan2, inget itu uang suami atau inget anak2 gak ada yg jaga, eh cucian numpuk hehehe

Ssssttt..buat bapak2, saya kasih bocoran ya, kalau sering2 jalan atau dinas luar kota, ini jg yg sering bikin ibu2 bete. Selain gak ada yg nemenin jaga anak, para ibu2 ini jd inget jaman dia kerja dan sering jalan2 ke luar kota/negeri. Hiks :(

Si ego ini yg kemudiian harus bisa ditekan. Ya si ibu harus inget lagi komitmennya saat memutuskan jd ibu RT dan yg pasti kepentingan anak2. Bukan berarti bapak2nya gak bisa partisipasi loh, ajak2 donk istri dan anakk2 libur ke luar kota (curhaat dweh), atau beri ruang dan waktu untuk istri menikmati waktunya sendirian, kasih voucher ke salon atau butik gitu...maunyaa kaan?!

Yang pasti, setiap pilihan disertai dengan konsekuensi. kalau milih jadi ibu RT ya ada konsekuensinya, begitu jg saat memutuskan bekerja. Jadi konsisten aja kali ya. Hehe udah dulu deh tulisan saya yang penuh dgn curhat di pagi hari yg mendung ini. Maap kalau ada salah2 kata, namanya juga manusia biasa. Komentar ataupun saran sangat ditunggu (hiiks abis jarang yg komen sih).... Sampai jumpa...

Thursday, 5 July 2012

Bimbang alias Galau? Mulailah Menulis

Selamat siang. Assalamualaikum. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul di pikiran dan juga hati para ibu2 rumah yang sebelumnya ngantor (sok tau deh), hehe minimal diri saya sendiri, adalah apakah saya akan kembali bekerja di kantor atau tidak. Saya sendiri sempat berjanji untuk menahan diri dari kerja kantor sampai usia Sandya satu tahun.

Tapiii, akhir-akhir ini berbagai hal muncul dan membuat saya galau alias bimbang. Bukan berarti sudah ada pekerjaannya sih, hihihi yang penting kan niatnya dulu. Biasanya, untuk saya, kalau niat belum kuat, sulit terlaksana, seperti membuat blog ini deh ^.^

Anyway, salah satu yang dulu sering saya lakukan saat bimbang adalah menuliskan keuntungan (pro) dan kerugian (kontra) dari satu langkah yang saya akan ambil. Sederhana kok, misalnya kalau saya memutuskan kembali bekerja, maka pendapatan akan tetap setiap bulan. Kontranya, waktu di rumah dan anak2 jadi sangaaat berkurang. Dan lain sebagainya, yang mungkin tidak bisa dituliskan disini satu per satu.

Kenapa menuliskan segala sesuatu membuat perbedaan? Saya pernah mengikuti tweet dari pendiri Pecel Lele Lela yaitu Rangga Umara. Dia sering membahas mengenai kekuatan menulis rencana secara detail setiap hari. Sepertinya sih kisahnya sudah dibukukan atau follow twitternya.

Saya sendiri tidak terlalu menelan bulat2 apapun yang saya baca dan dengar. Tapi, saya memang sudah sering membuktikan sendiri. Saya adalah jenis penulis diary. Jadi saya memiliki rencana tahunan yang saya tuliskan di diary. Alhamdulillah sebagian besar menjadi kenyataan. Masih menurut Rangga Umara, hal itu lantaran otak kita menjadi terarah dengan apa yang sudah kita tulis.

Jadi, tunggu apa lagi, bimbang atau punya rencana? Ambil pulpen dan mulai menulis yuk ^.^

Saturday, 30 June 2012

Independensi Finansial Ibu Rumahan

Assalamualaikum. Hadeuuuh judul saya serem amat ya di akhir pekan gini. Hehe gak apa2 ya. Harus diakui,  salah satu faktor kekhawatiran para ibu2 ngantor yang kemudian beralih ke ibu rumah tangga adalah masalah keuangan. Yang biasanya mau beli ini itu, tinggal mengambil dari uang sendiri (terutama untuk kebutuhan kecil2 atau belanja pribadi), tapi giliran jadi ibu rumah tangga, mau gak mau jadi ngandalin pemasukan dari suami.

Tapi, apa emang bener harus begitu? Sebenarnya gak juga sih. Sekarang banyak juga ibu2 rumah tangga yang berhasil memperoleh pendapatan sendiri. Kalau saya sih, selama ini lebih banyak mengandalkan kemampuan menulis, hehe mau masak gak gape apalagi jahit hahahaha :)

Trus saya ingin mengaitkan dunia maya alias online yang semakin membuka kesempatan luas2 untuk para ibu2 rumah tangga ini. Tenaaang, saya gak akan menuliskan soal MLM yang kini rame mencoba meraih pasar ibu2 muda di dunia maya.

Ceritanya, sehari2 mengamati dunia online baik di Facebook, Multiply dll dari para penjual, saya melihat semakin banyak para ibu2 yang kemudian memiliki kesempatan untuk memperoleh pendapatan sekaligus menyalurkan minatnya. Contohnya apa? Saya lihat ibu2 yang suka menjahit, kemudian ada yang menjual baju hasil jahitannya. TIdak hanya baju, juga ada selimut, bantal, bedding alias peralatan tidur bayi, tas, dll. Bahkan ada yang sampai membuka butik menjahit online. Nah lo kok bisa, gimana caranya? ya bisa aja, customer tinggal memberi data2 ukuran dirinya, jadi deh!

Begitu juga untuk yang hobi masak, mulai dari berbagai kue kering, cake, nugget sampai coklat buatan rumahan memenuhi ruang online dan peminatnya semakin banyak.

Lalu bagaimana yang tidak punya hobi populer seperti itu? Banyak jalan menuju Roma, hehe tapi bukan bang Rhoma (kalo Ridho Rhoma sih boleh..apaaaa siiih??) Ada yang memanfaatkan kemampuan jualan, ada juga yang masuk MLM online, dan segudang cara lainnya. INtinya, ibu masih punya banyak waktu untuk mengurus keluarga dan rumah, tapi juga memiliki kemandirian alias independensi finansial, alias gak tergantung banget sama suami.

Saya sendiri sampai2 kepikiran untuk belajar menjahit, saking ngilernya melihat pasar yang ada. Hehe tapi masih ragu2 mengingat, saya bukan orang yang sabaran dan teliti, judulnya sadar diiriii ;p Tapi, jangan tiru saya ya (GR deh), gak ada kata terlambat untuk belajar sesuatu. Yang penting konsisten dan niat yang kuat.

Anyway, nanti kalau ada pengalaman atau ide lain, saya tulis lagi yaa. Selamat berakhir pekan ^.^

Wednesday, 27 June 2012

Hidup = Rangkaian Perubahan

Assalamualaikum. Hai, selamat menjelang siang. Nah jam segini adalah waktu saya menyisihkan sedikit waktu untuk menulis alias mengekspresikan pikiran dan perasaan saya, my writing therapy ^.^

Kembali ke judul, hidup adalah rangkaian perubahan. Ya, memang bisa dibilang begitu. Ah masa sih? Ada yang bilang, hidupnya dari dulu tidak berubah, begitu2 saja. Ayo yang pernah ngomong begitu, ditilik2 lagi. Masa iya, hidup tidak pernah berubah. Setiap hari saja menu makanan yang kita makan berbeda, hal2 yang dihadapi juga beda2. Mood juga berubah-ubah, dari seneng, bete, seneng lagi, lebih bete hehehehe

Saya pernah nonton salah satu serial film Touch yang dibintangi Kiefer Sutherland yang beken dalam serial 24. Ceritanya, Kiefer punya seorang anak penyandang autis atau semacamnya, yang memiliki keistimewaan, dia berkomunikasi melalui simbol. Saya sendiri kurang terlalu mengikuti serial tersebut. Yang pasti saat saya menonton, kata-kata pengantarnya berkata tentang perubahan. Betapa manusia takut dengan yang namanya perubahan, padahal dalam sepersekian detik akan terdapat perubahan, betapa masa kini yang kita sebut, akan menjadi masa lalu dalam sekejap. Yaah kira2 begitu deh, pokoknya saya sendiri kagum dengan kalimat2nya yang dalem banget.

Hehe tulisan ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh niat saya untuk mengganti tempat tidur yang tinggi dengan kasur, lantaran Sandya yang sekarang usia 7 bulan sudah bisa gulang guling kemana2 dan kemarin alhasil jatuh dari tempat tidur, yang bikin saya shok sampai sekarang. Buat saya, tempat tidur itu telah menemani saya selama bertahun2, sehingga rasanya ini perubahan yang lumayan berat (melow ceritanya hihihi).

Intinya, hal itu membuat saya berpikir. Hidup akan selalu diiringi dengan perubahan. Tidak ada bedanya untuk ibu rumah tangga, wanita karir, direktur atau kepala negara sekalipun. Perubahan adalah sesuatu yang alami dan tidak bisa ditahan oleh manusia. Jika hari ini belum beruntung, Insya Allah besok lebih beruntung. Sebaliknya, jika hari ini diberi banyak rezeki dan berkah, jangan sombong bahwa besok akan memperoleh hal yang sama.

Ah, jangan2 tulisan ini membuat pembacanya bosen. Hehe jangan ya :) Saya sendiri menulis sesuai dengan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan. Namanya juga mencoba mengekspresikan diri. Terimakasih sudah mampir membaca ^.^

Tuesday, 26 June 2012

Ibu Waspada atau Terlalu Khawatir?

Selamat siang. Hehe ini saya yang coba curi2 waktu karena anak-anak saya sedang diawasi pengasuhnya. Semalaman saya hampir tidak bisa tidur. Ada apa lagi sih??

Hehe begini risiko bekerja sebagai ibu rumah tangga yang tanggung jawab 24 jam, baik tenaga maupun sisi emosional. Ceritanya, kemarin siang saya menyuruh si kakak melihat adiknya yang baru terbangung tidur dan menangis karena saya masih sibuk di depan komputer. Dasar anak balita, semua gerakan ingin cepat. Akhirnya, dia pun terjatuh dan kepalanya sedikit terbentur lantai. Saya elus2 tanpa berpikir macam2.

Hingga akhirnya saat Ayah datang, kakak cerita pada Ayah bahwa kepalanya sakit lantara jatuh tadi siang. Saya terkaget, waah sakitnya masih ada toh! saya elus2 lagi, sambil ditiup dan saya berdoa ayat kursi sebagai andalan, karena si Kakak tidak suka minyak2an.

Dasar ibu2 era internet, saya langsung browsing mengenai hal2 yang berkaitan dengan kepala terbentur. Alhasil, saya malah semakin deg2an dan berniat mengajak kakak ke dokter. Tapi, suami yang berkepala dingin (hehe kepribadian saya memang berbanding terbalik dengan suami) berkata tidak perlu, apalagi kakak tidak menunjukkan gejala muntah, pusing dll. Hanya sedikit mengeluh sakit saat berjalan.

Tapi, saya belum cukup tenang. Semalaman akhirnya bolak balik kamar kakak hingga siang ini. Saya sudah siap2 kartu berobat dll, kalau tiba2 kakak muntah atau menunjukkan gejala mencurigakan. Masih menurut internet, pengawasan masih harus dilakukan 3x24 jam. Alhamdulillah kakak tidurnya nyenyak, makan lahap dan gak ada perubahan perilaku.

Saya harap saya termasuk golongan yang waspada, bukan ibu2 rempong yang terlalu khawatir. Oh ya, referensi internet memang terkadang perlu dibaca ya ibu2, tp jangan dijadikan satu patokan saja. Bertanya kepada ahli medis seperti dokter langganan atau dokter keluarga mungkin bisa lebih membantu.

Selamat melanjutkan aktivitas yaa ^.^

Monday, 25 June 2012

Ibu Ngantor vs Ibu Rumah Tangga

Halo, selamat hari senin! Hari ini seperti biasa hari saya dimulai dengan ribet mengurus dua anak, mulai dari mandi sampai makan pagi. Tidak hanya si bayi yang membuat ribet, si balita pun tidak kalah ruwet ngurusnya. Apalagi sekarang sang kakak sedang libur sekolah, jadi seharian di rumah deh.

Hal ini yang kemudian membuat saya berpikir, mungkinkah hal ini yang membuat para ibu2 terutama yang pernah merasakan menjadi wanita karir menjadi stres ketika harus berjibaku di rumah? Hmm..bisa jadi urusan anak menjadi salah satunya, tapi berdasar pengalaman, ada beberapa hal lain kok. Saya mau bahas aah.

Pertama, urusan anak. Pertama2 harus ingat, bersyukur kepada Allah SWT, sudah diberikan amanah berupa keturunan sehingga harus diurus dan dijaga baik2. Hal itu juga yang kemudian membuat saya memutuskan untuk tetap di rumah, setidaknya bisa bekerja dari rumah. Tapiiiii, terkadang anak memang membuat ibu tidak bisa kemana2, banyak tuntutan ini itu dari mereka. Mulai dari kewajiban memandikan, memberi makan dll, hingga menemani nonton tv, belajar dll. Memang itu sudah kewajiban dari ibu, namun terkadang rutinitas tersebut bisa membuat bosan. Sesekali saya ingin "membebaskan diri" dari rengekan ini dan itu. Jalan keluarnya, saya berikan waktu untuk diri saya sendiri, minimal 30 menit dengan berada di depan komputer, menulis blog ini. Hehehe karena memang kecintaan saya menulis. Kalau ibu2 yang lain senang ke salon ataupun arisan, silakan saja.

Kedua, eksistensi diri. Hadeeuuuh..bukan mau sok iye dengan istilah ini. Tapi, saat saya (dan ibu2 lain yang pernah ngantor kemudian jadi IRT), kita dikenal sebagai diri dan kemampuan kita secara pribadi. Kita dipanggil dengan nama kita sendiri. Tapi, setelah jadi IRT, panggilan terhadap diri kita berubah. Di rumah, dipanggil dengan nama suami, kemudian di sekolah dipanggil dengan sebutan Mama ..... (nama anak). Hal ini seringkali membuat saya merasa kehilangan jati diri. Hehehe beneran loh, kadang hal itu berpengaruh juga terhadap rasa percaya diri. Untuk saya sih, hal ini biasanya disiasati (lagi-lagi) dengan kegiatan menulis. Menulis artikel lepas atau bikin buku bareng2 temen, dll yang menempelkan identitas nama saya. Untuk ibu2 lain, bisa juga melakukan hal sesuai minatnya.

Ketiga, pengakuan suami dan orang sekitar. Intinya, akan lebih sulit bagi ibu rumah tangga mendapatkan pengakuan atau sekedar pujian dari kerja kerasnya seharian berupa anak yang sudah makan atau cukup tidur, dibandingkan ketika bekerja dan memperoleh penghargaan, baik dari orang-orang sekitar, bahkan suami dan keluarga. Ilmu yang saya pakai untuk hal ini adalah ikhlas, karena saya sudah memilih jalur ibu rumah tangga.


Satu lagi yang ingin saya bagi, jujur saja, saya sempat terkejut dengan komentar suami pada suatu hari ketika menjemput saya dari tempat saya membantu penulisan. "Ibu kok kalo di luar seneng banget, mukanya senyum trus ketawa-tawa". Hehehe saya cuma nyengir aja waktu itu. Tapi, saya jadi berpikir, bahwa selama saya di rumah, saya lebih sering cemberut, marah2, ngomel ke anak ataupun asisten di rumah. Aaah pantas saja, suami saya ngomong begitu. MEmang sulit saat berada di rumah yang selalu dihadapkan dengan kondisi macam2, harus terus tersenyum ataupun tidak marah2.Yaah, untuk yang satu ini memang saya masih harus banyak belajar bersabar. Kalau yang ini, saya juga mohon petunjuk untuk yang lebih berpengalaman.

Beneran nih yang punya saran, masukan ataupun bagi pengalaman, saya tunggu ya. Bel saya alias anak-anak sudah rewel, artinya saya harus sudahkan dulu tulisan ini deh. Terimakasih.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...