Pages

Saturday, 25 October 2014

Lima Ribu Rupiah Penentu Kejujuran

Uang kembalian Rp 6 ribu (dok.pribadi)
Selamat sore, semoga akhir pekan teman-teman bersama keluarga menyenangkan yaa ^_^

Sore tadi saya mendapat pengalaman sekaligus pembelajaran tentang kejujuran yang kejadiannya tak lebih dari 2 menit.

Ceritanya, saat saya sekeluarga pulang dari pusat perbelanjaan dan kemudian harus mengisi bensin kendaraan. Selesai mengisi bensin, saya memutuskan untuk membeli minum di sebuah warung rokok yang menjual minuman dalam kemasan untuk anak saya yang dari tadi mengeluh minta minum.

Saya yang malas mengeluarkan dompet, kemudian meminta pada suami. Lalu suami saya memberikan lembaran uang Rp 10 ribu. Saya pun langsung ke warung tersebut.

Setelah tangan saya sudah menerima botol minuman yang disebutkan seharga Rp 3 ribu, mata saya melihat tempat permen. 

"Berapa permennya bang?" tanya saya.

"Tiga jadi Rp 500 bu," jawabnya. 

Saya mengangguk.

"Semua bu?" tanyanya.

"Nggak bang, Rp 1.000 aja," jawab saya sambil mengambil 6 bungkus permen.

Saat itu saya belum menaruh curiga, tapi sempat terlintas, kenapa dia bilang semua. Kalau begitu, saya harus membeli permen sebesar Rp 7.000 donk, kan banyak sekali.

Setelah itu, dia memberikan kembalian Rp 1.000 kepada saya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang uang Rp 5.000

Saya yang yakin uang saya Rp 10 ribu jadi bingung. Harusnya kan dia memberikan uang Rp 1.000 dan Rp 5.000 tersebut.

"Loh uang saya kan tadi Rp 10 ribu bang,?" tanya saya heran.

"Masa sih Bu, ini uangya Rp 5 ribu ditangan saya," ujarnya.

"Saya tadi ngasih Rp 10 ribu kok," jawab saya dengan nada yakin.

"Masa sih bu?" katanya sambil pura-pura menengok kotak uangnya.

Sumpah, saat itu saya mulai kesal lihat kelakuan abang penjual yang mencoba menipu saya itu. Akhirnya, saya tanya suami saya.

"Benar kan, tadi Ayah ngasih uang Rp 10 ribu?" tanya saya.

"Iya, uang Rp 10 ribu," jawab suami saya mantap.

Abang penjual itu pun akhirnya mengalah dan memberi saya kembalian Rp 6 ribu rupiah, mungkin karena suami saya juga sudah ikut menjawab.

Semoga saja hal itu pertama kali dilakukan abang penjual tersebut. Tapi, saya lihat dia sudah dengan sigap mengganti uang yang ada ditangan, seakan-akan itu adalah uang yang diterima dari pembeli.

Mungkin uang sebesar Rp 5 ribu bukan jumlah yang besar, tapi untuk saya nilai kejujuran jauuuuuh lebih penting.

Saya rela memberi lebih besar dari Rp 5 ribu jika memang penerimanya membutuhkan dan meminta dengan cara yang benar. Bukan dengan penjual yang mencoba menipu macam tadi!!

Sungguh saya sangat kecewa dengan penjual seperti itu. Bagaimana jika nominal yang ditipunya jauh lebih besar dari orang yang benar-benar sedang kesulitan uang dan tengah kebingungan. Sebab, ia memanfaatkan orang yang tampak kebingungan. Kalau saya, saat itu memang tampak sedang terburu-buru.

Tak heran jika kemudian ada pepatah yang menyebutkan "kejujuran sebagai mata uang yang berlaku dimanapun". Betapa Nabi Muhammad SAW kemudian dijuluki sebagai Al-Amin karena dikenal sebagai laki-laki yang penuh amanat dan kejujuran.

Saya yakin kejujuran hingga saat ini masih menjadi hal yang sangat berharga, sejak dulu dan hingga nanti.

Semoga abang penjual yang saya temui tadi memperoleh senantiasa memperoleh petunjuk, berkah dan ridho Allah SWT. Amin ya robbal alamin.









22 comments:

  1. Bukan nilainya ya mak, tapi rasanya dibohongi itu #sakitnyadisini

    ReplyDelete
    Replies
    1. he-eh mak, sakitnya tuh disini...hahaha tapi kok jadi terngiang2 lagu ya mak :D

      Delete
  2. Mak saya juga pernah mengalami hal serupa tapi beda penjual. Di pasar dekat rumah saya tepatnya. Pas beli ikat rambut. Duh duh padahal uang 500 lho mak. Tapi akhirnya saya yang ngalah padahal saya masih sadar betul kalo ibunya belum ngasih uang kembalian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nominal kadang gak seberapa. Tp kadang perlu diperjuangkan, biar yang melakukan gak keterusan gitu mak.

      Delete
  3. Iya mak bukan nominalnya yang bikun jengkel tapi sikapnya yang nggak jujur & berusaha mengambil yang bukan haknya dengan menipu..

    ReplyDelete
  4. Kalo emang butuh sedekah bilang aja ya mak, daripada pake cara2 kayak gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. SETUJU MAK! eeeh kepencet capslock deh ^^

      Delete
  5. Replies
    1. hahahaha komennya mak Nia bikin saya nyengir. Makasih udah mampir ya mak :)

      Delete
  6. Modus nyari tambahan duit model baru niiiyyy... Duh si abang... Moga2 nggak diulangin lagi tuh si abang triknya, biar rejekinya lancar dan diridhoi ya Mak Ririn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. iya mak uniek, jgn2 ini modus baru. Atau, modus lama tapi saya baru tahu gitu yaa hehehe :)

      Delete
  7. hmm... padahal kalau jujur, rezekinya berkah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, sedih kalo lihat pedagang begitu :(

      Delete
  8. Aku kebayang gondoknya dirimu mak..aku jg psti dah esmosi ktemu pedagang kyk gt

    ReplyDelete
    Replies
    1. kesel banget, sebab aku lagi buru2. Kok ya malah dimanfaatin. Ampuun deh

      Delete
  9. kirain 5rb dan 1rb memang buat kembalian.. ternyata pura2 ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, aku juga gak ngeh pertamanya.

      Delete
  10. sering kejadian seperti itu tapi dalam bentuk yang lain, pura2 lupa harus mengembalikan uang atau kalau hanya kembalian kecil seperti hanya limaratus , coba lihat biasanya pedagang gak mau balikin uangnya, malah2 pura2 gak tahu

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang begitu seharusnya gak boleh dibiarin ya, supaya mereka sadar mana yang hak dan mana yang bukan. Makasih udah mampir yaa :)

      Delete
  11. Iya sih Mak, kita bersikap seperti itu kan juga buat kebaikan penjualnya sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mak! Agar dia terhindar dari yang tidak halal yaa

      Delete

Terimakasih yaa ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...