Pages

Friday, 3 May 2013

Pendidikan atau Pembelajaran?

Selamat malam semuaaa..semoga sudah duduk nyaman dan beristirahat di rumah masing-masing ya. Kalo yang masih harus ngurus kerjaan dan deadline, tetap semangaat tapi jangan kemaleman juga istirahatnya. Ingat, tubuh kita punya hak untuk beristirahat.

Eniweey, malam ini ada keluhan seorang teman yang menggelitik pikiran dan hati saya. Apakah itu dan apa juga hubungannya dengan judul saya diatas itu? Hehehe baiklah kita akan mulai sebentar lagi, ayo berhitung bersama..3..2..1 :D

Jadi gini, ada seorang ibu yang tengah gundah gulana lantaran ada sesuatu yang mengganjal saat proses belajar mengajar di sekolah putranya. Dirasa ada yang kurang sreg, tp orangtua tidak bisa banyak bertindak, karena taruhannya adalah sang buah hati.

Kok bisa gitu? Pasalnya, sekolah itu kan bagai rumah kedua untuk anak-anak, memindahkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kalau sudah begini, pendidikan tak ubahnya produk pada umumnya, kalau suka dan cocok ya tetap digunakan, dan sebaliknya kalo sudah gak sreg, ya diganti. Sayangnya, produk yang kita bicarakan ini soal pendidikan anak, bukann soal sabun atau pasta gigi yang bisa diganti kapan pun kita mau.

Tapi, sebenarnya apa sih sebenarnya pendidikan itu? Saya sendiri bukan ahli pendidikan ataupun praktisi yang memiliki cukup pengalaman untuk membuat sebuah definisi. Ada beberapa kutipan dari beberapa ahli yang saya kutip yang sekiranya dapat mewakili defisin pendidikan tersebut.

“Education is the kindling of a flame, not the filling of a vessel.” ― Socrates

“Education is not the filling of a pail, but the lighting of a fire.”― W.B. Yeats

Dua kutipan yang hampir mirip tersebut merupakan favorit saya. Mengapa? Karena untuk saya, pendidikan itu bukan bagaikan seseorang mengisi wadah kosong, melainkan "membangunkan" apa yang sudah tertanam dan memaksimalkan kemampuan tersebut.

Lah terus itu judul di atas apah dong maksudnyaah? Hehe bahasan saya serius banget gak sih? moga2 masih ada yang nerusin baca *komat-kamit* :)

Jadi menurut saya pribadih nih ya, pendidikan itu lebih berbau formalitas seperti masuk sekolah, ujian, memperoleh ijazah dll, sementara pembelajaran itu lebih luas dari pendidikan. Didalam pembelajaran pasti ada pendidikan, tp didalam pendidikan belum tentu ada pembelajaran. Looh kok gitu? Loh kok bisa, aah pasti pikiran situ aja tuh?

Ya iya emang ini pikiran saya pribadi, pan udah dibilangin dari tadi. Contohnya, saat anak menghafal tanggal2 bersejarah mulai awal perang Diponegoro sampe awal kemerdekaan tahun 1945, apa mereka benar-benar belajar? Ya, untuk anak2 yang tingkat kemampuan mengingatnya tinggi, bisa jadi mereka akan hafal di luar kepala. Kemudian pertanyaannya sampai kapan? Ada yang kesenggol temennya, trus lupa. Ada juga yang tiba-tiba lupa pas ujian, sukur2 ada yang inget sampe ujian selesai.

Kalau mereka ingat sampe ujian trus mereka dapat nilai bagus dari ingatan itu, apa mereka sudah benar-benar melakukan pembelajaran? Eittss tunggu dulu. belum tentu. Buat saya, pembelajaran itu kalau mereka sudah tahu berbagai hal tentang perang tersebut. Misalnya, apa penyulut perang Diponegoro, siapa Diponegoro itu, kemudian apa latar belakang pembangkangan yang ia lakukan terhadap Belanda lalu siapa saja yang menjadi teman atau musuhnya dll. Begitu juga dengan perang kemerdekaan, dll. Demikian juga saat mereka belajar geografi, yang gak cuma diminta menghafal nama2 negara Asia, Eropa, Afrika dll ditambah dengan nama kepala negara, ibu kota dll, yang tidak jauh dari data.

Maafkan jika saya salah, tapi untuk belajar, saya yakin ada keinginan siswa untuk terlibat aktif, untuk mencaritahu dan untuk memenuhi rasa penasarannya. Sudahkan anak-anak kita belajar seperti itu? Atau, yang mereka jalani lebih banyak merujuk pada paragraf saya sebelumnya.

“Children must be taught how to think, not what to think.” ― Margaret Mead

Satu lagi kutipan yang sangat "nendang" untuk tulisan saya kali ini. Kita sebagai orang dewasa seringkali merasa "lebih tahu", "lebih berpengalaman" dan lebih-lebih yang lain dibandingkan anak2 kita. Padahal ini tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataannya, kita kebetulan lebih dulu menjalaninya dibandingkan anak-anak kita. Tapi apakah itu membuat kita berhak memberikan perintah-perintah dan rambu2 pada anak-anak? Apakah kita benar-benar berhak menentukan apa yang kita pikir terbaik untuk mereka?

“In learning you will teach, and in teaching you will learn.”― Phil Collins

Mengajar dalam kalimat Phil Collins ini juga bukan berarti untuk para pengajar formal. menjadi orangtua adalah salah satu profesi pengajar tertua dengan masa kerja yang tak terbatas. Ya, saya yakin setiap orangtua adalah guru sejati bagi anak-anaknya. Jadi pertanyaannya kemudian? Apakah kita sebagai orangtua sudah mencukupkan dan memantaskan diri sebagai pengajar anak-anak kita dengan perilaku, sikap dan tindakan kita? Apakah selama ini kita sudah mengambil porsi kita dalam pendidikan dan pembelajaran anak-anak kita, atau lebih banyak menyerahkan kepada sekolah dan institusi formal lainnya?

“Educating the mind without educating the heart is no education at all.”― Aristotle

Ini adalah inti dari pendidkan dan pembelajaran sebenarnya untuk saya, yaitu mendidik hati termasuk karakter, kepribadian dan lain2 yang utama pada anak. Saya tidak menampik bahwa ada kebanggaan jika anak saya meraih prestasi di bidang akademik ataupun bidang2 lain. Tapi yang tak kalah penting dan membuat saya bangga adalah ketika anak saya mampu berempati ketika  temannya sakit, atau ketika mau mengambilkan minum untuk saya atau Ayahnya ketika sedang terbatuk2, atau ketika ia memeluk sayang dan menjaga adiknya. Apakah itu diajarkan di sekolah, dan apakah orangtua sudah mengajarkan itu kepada anak-anaknya? Lalu darimana anak2 bisa memahami dan melakukan hal tersebut jika ia sama sekali tidak mengetahui pentingnya perilaku tersebut dan contoh yang bisa ditirunya.

Satu garis merah dari pendidikan atau pembelajaran untuk saya kemudian adalah mencoba menjadikan anak-anak pribadi yang lebih baik. Meskipun saya yakin hal itu tidak hanya diperoleh dari institusi formal. Dan jika nilai berupa angka yang masih menjadi patokan orangtua dalam pendidikan anak, coba tanyakan kepada para pekerja profesional ataupun pada diri kita sendiri, seberapa banyak hal tersebut mempengaruhi diri kita saat ini? Apakah angka tersebut yang mendefinisikan diri kita saat ini?

Terimakasih sudah mau meluangkan waktu disini. Maaf kalau ada salah2 kata dan sok tahu. Masukan, kritik dan tukar pendapat disini sangat diharapkan looh. Selamat malam semuaa :)




Thursday, 25 April 2013

Cinta Dalam Sebungkus Lumpia Basah


Sumber foto: jejakrasa.blogspot.com

Selamat soreee..Assalamualaikum semua. Apa kabar? Semoga kita sehat sentosa dan dalam lindungan Allah SWT.

Hehe apa pula judul tulisan saya hari ini ya? Kalo Garin Nugroho pernah bikin film Cinta dalam Sepotong Roti dan penulis muda, Raditya Dika punya film Cinta Dalam Kardus, nah yang saya alami ini beda lagi.

Jangan2 ada komen, idiih ganjen amat sih ibu2 ngomongin cinta2an. Eitsss jangan salah, meski udah suami istri, cinta itu harus tetap disirami, semacam tanaman gitu hehehe :)

Trus apa hubungannya sih sama lumpia basah, ada juga keujanan yang basah deh :D Sabar..sabar..mari kita mulai. Ini postingan kepanjangan intronya yah.

Ceritanya begini, saya dan suami kan udah menikah hampir 8 tahun, ditambah 4 tahun kenal (malu ah bilang pacaran, pan gak boleh pacaran kata ustad Yusuf Mansur). Jadiiii, total hampir 12 tahun deh sejak pertama kenal. Suami saya itu jauuuuh dari jenis romantis, yang suka ngasih kejutan bunga atau coklat. Apalagi bikin puisi dan bernyanyi romantis pake gitar di depan jendela hihihi, pokoknya tipe pekerja keras dan gak ngerti gombal2an, meski suka becanda sesekali juga.

Nah menjelang ulang tahun saya ke ... (maaf kena sensor ;) pada awal April kemaren, tiba-tiba suami ngajak liburan ke Puncak. Oww oww romantis dong nih. Taaapiiii, jangan salah duga pemirsaaa, liburan ini bukan tipe yang begitu. Liburan kami ke Puncak adalah bareng temen2 tim kantor suami, lengkap dengan membawa keluarga masing-masing. Termasuk saya bawa dua anak dan Papa Mama. Tapi buat jenis manusia seperti suami saya, kejutan seperti itu udah lumayaaaan banget deh :) Makasih yaa.

Jadi dimana kisah lumpia basahnya? beloooom..ini masih intronya hahahaa

Suami saya juga punya kebiasaan ngambil cuti panjang sekitar 2 minggu pas bulan April yaitu menjelang, saat dan setelah saya ultah. Kalo dulu si Kakak masih TK sih, kita bisa jalan bebas2 aja, tapi sekarang kan Kakak udah SD, jadi mana bisa ijin sesuka2 hati. Jadilah sisa cuti suami, menggantikan saya yang anter jemput Kakak ke sekolah. Nah cerita-ceritanya, berhubung suami saya tukang jajan dan pemilih makanan alias picky eater, tiap kali selesai nganter atau jemput Kakak sekolah, suami jalan2 cari makanan.

Pada suatu hari, saya sempet terucap, "Yah, lumpia basah yang di depan SMP itu kayanya enak ya,". Sebenernya lokasi SMP itu gak deket2 amat sih sama sekolah Kakak, agak beda jurusan malah. Waktu itu kita kebetulan lewat. Saya udah gitu lupa deh pernah ngomong gitu.

Suatu pagi, suami saya pamit mau ada urusan setelah nganter Kakak ke sekolah. Kebetulan memang rumah mertua saya gak terlalu jauh. Jadi suami mau nengok orangtuanya. Trus saya sibuk deh sama si Adek,mulai dari mandiin, pake baju, makan dll. Sampe akhirnya Adek bobo lagi. Suami belum pulang. Hmmm telpon gak telpon gak, iih saya kan gak mau disebut istri posesip, itu tuuuh yang suka nelp2 mulu kalo suami pergi *buang muka* *Eh jangan ada yg ambil ya, muka saya kan cuma satu* :D

Tunggu punya tunggu, suami pun pulang. Tapi, bungkusan apa itu? Tadaaa..ternyata itu adalah lumpia basah yang saya pengen yang sempat lontarkan beberapa hari lalu. Sumpaahh, lumpia itu rasanya suangaaat uenaaaaaak pagi menjelang siang itu. Mungkin karena efek laper, terkejut juga karena merasa senang diperhatikan suami.

Ya seperti itulah suami saya, memang tidak suka menggombal dan berkata-kata romantis. Dibalik pribadi pekerja keras, Ayah yang sangat baik kepada anak-anaknya, sekaligus putra yang sangat hormat kepada orangtuanya, dia adalah suami yang sangat pengertian, mendukung sekaligus suka memberi kejutan sederhana, namun sangat menyenangkan.

Seperti siang itu, cintanya tampak dalam sebuah lumpia basah yang dibalut oleh daun pisang serta dilengkapi sepasang sumpit. Lumpia dengan harga Rp 5 ribu itu nilainya beratus-ratus kali lipat di mata saya siang itu, karena lengkap dengan balutan perhatian dan kasih sayang suami. Terimakasih yaa.

Demikiaan kisah saya sore ini, moga2 dibaca sampai akhir hehehe. Selamat sore, selamat menikmati camilan sore :) 



Monday, 11 March 2013

Menyiapkan Anak untuk Gagal?


Selamat malam semuaaa! apa kabar? semoga baik, sehat dan bahagia semuanya ya. Aamiin. Alhamdulillah saya juga demikian, kecuali sedikit sakit gigi lantaran tumbuh gigi bungsu (halaaah gak keren banget yak), yang memicu sakit kepala juga. Saya jadi makin ngerti kenapa anak2 rewel kalo tumbuh gigi, saya yang orang gede aja gitu kok *eh :D

Aniwei, apa hubungannya sih sama tuh judul mak? hehe gak ada sih, itu cuma pembuka sekaligus curcol sayah hehehe :) Markitmul, alias mari kita mulai...

Begini, saya kan ngedaftar tuh ke website pendidikan luar yang ngasih berbagai informasi tentang pendidikan, terutama kalo saya mati gaya untuk kelas menulis saya yaitu http://www.education.com/

Nah, saya juga nge-like dong page Facebooknya. Kemaren2 mereka tuh posting foto yang judulnya Famous Failures yang berisi foto2 orang-orang terkenal seperti Einstein, Michael Jordan, Oprah, Steve Jobs, Walt Disney dan The Beatles. Bingung dong, kok orang gagal sih, mereka kan justru sangat berhasil di bidangnya? Hayooo penasaran kan? Saya juga. Akhirnya saya buru2 buka FB di laptop, soalnya kalo di HP gak kebaca kata-katanya.

Kalimat pengantar dari foto tersebut adalah: "Have you encouraged your kid to try something new lately?" Dengan kata lain, kegagalan dikaitkan dengan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru. Apakah kita sebagai orangtua sudah melakukan itu? *ngaca rin ngaca hehe*

Sebenernya yang paling nendang untuk saya pribadi sih, bukan dari sisi mencoba sesuatu yang baru. Tapi, justru mempersiapkan anak mengalami kegagalan? Loh kok gitu? Sebab, hidup itu memang tidak selalu dihiasi dengan keberhasilan. Kegagalan itu antara lain sebagai tangga menuju keberhasilan. Tapi, apakah kita pernah mengajarkan anak kita untuk gagal? Atau bagaimana bersikap dan berhati besar saat mereka gagal?

Selama ini, yang saya tahu orangtua selalu "diajarkan" oleh lingkungan untuk memberikan pujian atau reward saat anak berhasil, tapi jarang yang memberikan hal tersebut saat anak gagal, bukan begitu?

Padahal, saat gagal justru waktu yang lebih penting bagi para anak-anak menerima motivasi dan semangat dari orangtua dibandingkan saat mereka berhasil, iya kan? Jangankan anak-anak, saya saja yang sudah dewasa merasa seperti itu.

Coba kita lihat para manusia "gagal" yang kemudian menjadi luar biasa hebat dalam foto-foto diatas. Manusia yang dijuluki sebagai salah satu manusia terpintar di dunia, Albert Einstein ternyata tidak bisa bicara hingga berusia empat tahun, dan gurunya berkata dia tidak akan dapat memiliki kapasitas yang besar atau lebih tepatnya kalimatnya "he would never amount to much". Bayangkan, seorang guru yang berkata seperti itu *geleng2 kepala*

Siapa yang tak kenal Michael Jordan sebagai salah satu legenda Basket? Jordan muda rupanya pernah dikeluarkan dari tim Basket di sekolahnya hingga ia masuk ke kamar dan menangis. Lalu ada Walt Disney, Steve Jobs, Oprah dan The Beatles yang juga mengalami kegagalan dan tentunya kekecewaan yang besar.

Apakah pengalaman ini seakan-akan mengingatkan pada diri Anda sendiri? Kalau saya iya. ada beberapa kali saya merasa gagal dan terpuruk, kecewa dan merasa jd orang paling malang di dunia. Saya rasa semua orang pernah merasa seperti itu, sesekali dalam hidup.

Lalu apa yang membedakan kita dengan orang-orang hebat tersebut diatas? Mereka tidak menyerah. Itu kuncinya, menurut saya. Apakah Einstein menyerah ketika gurunya mengejeknya sedemikian rupa? Tak akan ada lagu-lagu legendaris dari The Beatles jika mereka langsung merasa gagal dan terpuruk? Kita juga tidak akan pernah mengenal Micky Mouse dan Disneyland, jika Walt Disney terus menerus kecewa lantaran dianggap gagal setelah dipecat dari pekerjaannya di sebuah surat kabar karena "kurang imajinasi dan tidak memiliki ide original".

Jadi bagaimana kita seharusnya menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi kegagalan dan bangkit dari keterpurukan tersebut? Menurut saya pribadi, terutama dari sikap kita sebagai orangtua. Ayah dan Ibu adalah tokoh panutan terdekat bagi anak. Bagi mereka, tentunya sikap kita lah yang akan mereka lihat pertama kali, secara sadar ataupun dibawah sadar.

Saya sendiri bukan seorang berbasis pendidikan ataupu psikologi, satu-satunya cara yang saya tahu adalah berdasarkan pengalaman. Satu hal yang saya praktekkan baru-baru ini adalah ketika para siswa kelas menulis saya yang gagal meraih juara ketika mengikuti lomba menulis. Untuk saya pribadi, keberanian mereka untuk mengikut lomba saja sudah merupakan kemenangan. Meski mereka tidak juara, saya tetap memberikan apresiasi saya pada mereka, meskipun hadiahnya sederhana yaitu camilan setelah kelas menulis :) 

Sementara untuk anak saya sendiri, saya tetap menyemangatinya setelah ia tidak menang saat ikut lomba menghafal surat-surat Al-Quran waktu TK. Padahal waktu itu, hampir satu rumah yang mengantarnya saking semangat hehehe 

Saya akui kadang tak mudah berbagi cerita kegagalan dibandingkan keberhasilan, apalagi pada anak-anak, tapi kisah-kisah semacam itu saya yakini dapat menguatkan mereka dan pada akhirnya membuat mereka menganggap bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti, namun harus dihadapi dan membuat mereka berusaha lebih keras lagi. Yang pasti, kegagalan apapun yang anak alami, penting untuk mereka mengetahui bahwa Ayah dan Ibu akan tetap mencintai mereka.

Selamat malam dan terima bingkisan :D hehehe met istirahat semuaaaaa....







Thursday, 21 February 2013

Ngintip Kerjaan Copy Writer Yuk

Selamat pagiiiii! Assalamualaikum wr wb. Sudah sarapan semuanya? Hehe semoga udah ya, jangan kaya saya hari ini sarapannya gak jelas, berhubung ribet sama krucils. Mau makan sekarang, eeh makanannya belom jadi *kasian pak kasian bu* :D

Inget punya inget, masih ada janji untuk nerusin soal copy writing kemaren hasil dari pelatihan Akber Depok sama salah satu copy writer di Kompas Grup yaitu mas Seno Pramuadji


Yang penting diingat, saya nulis bukan sebagai Copy writer ya, mungkin ada beberapa hal dari pengalaman saya, tapi sebagian besar ya dari penuturan mas Seno sebagai praktisi yang sudah malang melintang di dunia copy writing. Jadi sudah siaaap? Mulai... *buka catetan dulu ya, mak*

Mengutip kembali dari tulisan saya sebelumnya Copywriter (Ternyata) Bukan Tukang Bikin Kopi :D kalo yang dimaksud dengaan dari copy writing adalah menyampaikan pesan (message). Termasuk dalan lingkung manajemen pemasaran, namun bukan jenis hard sell tapi lebih smooth alias halus. Bahasa mudahnya sih, nulis untuk iklan.

Seperti yang kita lihat sehari-hari, iklan itu macam-macam medianya ada copy writing untuk iklan televisi, media cetak, billboard, radio dan lain-lain.

Tugas copy writer secara mainstream adalah yang bekerja di agensi periklanan, ini yang akan kita bahas. Meskipun untuk copy writer lain seperti in-house dalam sebuah perusahaan atau menulis iklan di media cetak/digital tidak terlalu banyak berbeda.

Menurut Seno, ketika klien atau pemberi iklan sudah memiliki tema, maka tugas copy writer bersama dengan art director untuk mengonsep lebih lanjut. Itu sebabnya, Seno menekankan bahwa seorang copy writer adalah story teller karena ia menyampaikan sebuah cerita. Copy writer membuat konsep berupa story line atau alur cerita yang kemudian dicoba untuk ditampilkan secara visual oleh art director.

Ia mengandaikan kerja copy writer dengan art director itu bagaikan Batman dan Robin. Keduanya harus berjalan beriringan dal am memproduksi iklan.

Ada dua hal yang perlu diingat dalam pembuatan story line iklan tersebut. Pertama, "What to Say" yaitu apa produk yang akan disampaikan dan "How to Say" yaitu bagaimana cara penyampaiannya. Dari "Apa" tersebut kemudian dibuat mind mapping untuk mencari "bagaimana" yang paling pas agar dapat sesuai dengan pemirsa yang dituju.

Tak hanya sekedar kata-kata, copy writer juga harus membayangkan kira-kira situasi sekeliling dari konsep yang dimilikinya. bahkan, kata Seno, seorang copy writer harus sedikitnya memahami mengenai pergerakan kamera untuk menunjang konsepnya, meskipun tidak mutlak.

Itu sebabnya, Seno menegaskan, copy writer harus tahu dan mau mencari tahu mengenai produk dan kalangan yang disasar oleh klien. Jika kalangan yang dituju, anak SMA maka cari tahu kehidupan anak-anak SMA sehari-hari. Cari tahu apa kegiatan mereka sejak bangun tidur pagi hari hingga malam saat tiidur. Apa saja yang mereka lakukan dan apa pemikiran mereka.

Meski kadang, tidak semua juga bisa dilakukan sendiri. Misalnya, Seno pernah memperoleh tugas untuk membuat iklan tentang pembalut wanita.

"Saya pake sendiri juga gak mungkin. akhirnya saya berikan ke kakak saya, trus saya tanya-tanya pendapatnya. Untuk memperoleh perbandingan, saya berikan juga pembalut dari merek lain. Dari situ saya tahu tentang produk tersebut dan kompetitornya,"tutur Seno.

Setelah tema, konsep, story line sudah ada, maka dibuatkan story board yaitu bagaimana sebuah iklan itu akan berjalan. Untuk pembuatan iklan televisi memang agak rumit, karena diperlukan pencarian lokasi syuting, pemeran iklan dan lain sebagainya.

"Pernah ada syuting outdoor 2 hari 2 malam, hanya dengan tidur 4-5 jam per hari untuk mengambil master gambarnya. Kalau hujan, maka digunakan scene yang memang sedang hujan," terangnya.Ia mengakui pekerjaan copy writer di agensi memang tidak ringan, namun dari segi pendampatan sangatlah lumayan. 

Kemudian, untuk copy writer di media lain belum tentu juga lebih mudah. Misalnya, pekerjaan Seno saat ini adalah membuat iklan untuk media online. Ia harus berpikir keras bagaimana agar pengunjung website mau membaca atau melihat iklan yang dibuatnya, padahal di media online, orang sangat mudah untuk berpindah layar. Jika iklan tak menarik, biasanya orang akan langsung menutupnya.

Ada istilah Call to Action (CTA) yaitu melihat apa yang disampaikan terkait dengan durasi. Untuk durasi iklan di televisi sangat beragam, mulai dari 15 detik, 30 detik sampai 60 detik. Kemudian, untuk iklan di cetak, durasinya malah lebih pendek sekitar 2 detik, kok bisa?

Kata Seno, durasi itu adalah ssaat orang membalik halaman. Ketika iklan menarik, durasi akan bertambah lama. "Iklan itu perlu ada stopping power, ketika pembaca melihat dan berkata "ini gue banget," tegasnya. Ia mencontohkan salah satu iklan yang pernah dimuat di koran Kompas. Satu halaman dari koran itu hanya diisi dengan logo dan satu baris kalimat, selebihnya latar belakag hitam. Padahal harga untuk iklan tersebut ratusan juta.

"Mungkin itu salah satu cara untuk memperpanjang durasi orang untuk membacanya,"  kata Seno. Kemudian, ada juga iklan billboard yang durasinya lebih pendek yaitu hanya satu detik. Bayangkan, pekerjaan kreatif yang harus dilakukan untuk menarik orang hanya dalam waktu singkat tersebut.

Tapi, jangan ragu jangan bimbang,ada beberapa tip untuk terus berusaha kreatif sebagai copy writer ala Seno yaitu :
  1. Belajar dari hidup/sekitar
  2. Nonton DVD/Film, dengerin musik
  3. See things differently, lakukan yang biasa tidak dilakukan
  4. Rajin baca dan nulis
  5. Coba selami kalangan yang akan dituju, bicara dalam bahasa mereka
  6. Ketika membuat storyline, bayangkan sedang berbicara dengan konsumen. Ambil foto yang merupakan personifikasi customer. Misalnya, kalangan yang dituju ibu-ibu, maka ambil foto dari ibu sendiri dan bayangkan sedang mencoba menarik hatinya untuk membeli yang kita jual
  7. learn the experience. Coba produk tersebut, alami sendiri.
  8. Sleep with the brand. Hehe kata Seno, kalo perlu, copy writer itu ngulik produk yang ditanganinya, semua kelebihan dan kekurangannya, bandingkan sama kompetitor, sampe-sampe ketiduran sama produknya.

Phiiiuuh... akhirnya selesai juga tulisan saya soal copy writer ini *lap keringet*, maafkan atas segala kekurangannya. Masukan dan kritik membangun diterima dengan senang hati, tp jgn pedes2 ya, cabenya satu ajah :D Kalo mau tahu lebih lanjut, tanya2 aja langsung ke mas Seno di akun Twitternya Seno Pramuadji jangan sungkan dan ragu, orangnya asyik kok, kalo belum dijawab paling karena lagi sibuk hehehe :)

Jadi siapa yang tertarik jadi copy writer?

Tuesday, 19 February 2013

Cek Ayo Cek Obat Aman untuk Ibu Menyusui

Selamat pagiii...udah pada sarapan semuanyaaa? Oh ada yang sarapan roti, nasi uduk? Eh ada yang sarapan nasi goreng pete cah ikan asin? *glek..bagi donk* Trus ada juga yang menu sarapannya gulai ikan, martabak telur dan balado kentang? Alamak itu sarapan atau makan siang siih :D hehehe

Alhamdulillah di rumah saya sarapannya nasi anget sama pepes ikan mas plus sambel kecap, mak nyuus lah pokoknya. Ini ngomongin sarapan, jadi hilang arah mau nulis apaan. Kembali ke laptop!

Begini, ceritanya saya mau nerusin penulisan copy writing dari posting saya sebelumnya Copywriter (Ternyata) Bukan Tukang Kopi :D yang di Akber Depok dari mas Seno Pramuadji ,tapi eeh tapinya ada satu topik yang menarik saya. Biasalah namanya juga emak-emak, suka gampang teralih deh, apalagi sama hal yang berhubungan dengan anak. ntar aja yak tulisan soal copy writingnya sodara-sodara yang baik hati*ketjup-ketjup*

Nah, ceritanya kemarin di Facebook saya nemuin update soal obat-obatan yang aman untuk Ibu menyusui. Berhubung saya masih menyusui adek Sandya (1y 2m), jadinya info ini langsung menarik hati. Sengaja saya share di blog supaya gak lupa dan siapa tahu bermanfaat untuk ibu-ibu lain di seluruh jagad raya *lebay*

Oh ya, satu lagi pesan saya, kalo ibu menyusui periksa ke dokter trus dibuatin resep, ya jangan sungkan2 nanya ke dokternya aman atau gak. Saya pan sering tuh ke dokter gak bawa anak, jadi dokter gak tahu kalo lagi menyusui. Jangan juga berharap dokter tau kalo gak dikasitau, emangnya dia pembaca pikiran apah? Juga kan gak ada plang di jidat kalo kita lagi nyusuin hehehe :) Jadi jangan ragu dan malu ngomong dan nanya soal keamanannya. Dokter yang baik biasanya mau jawab dan jelasin, ya minimal ngangguk-ngangguk deh :)

Didalam daftar dibawah (ini gimana sih, udah didalam dibawah,dasar emak2 galau :) lumayan lengkap kok ada obat penurun panas dan penghilang nyeri, antibiotik, alergi, asma, sampe obat jantung, epilepsi, anti depresi, thyrooid sampe kontrasepsi yang aman untuk ibu menyusui. Silakan di ceki-ceki ya.

Daftar Obat-obatan yang Aman untuk Ibu Menyusui:

1. Penurun Panas dan Analgesik (penghilang nyeri): Asetaminofen (parasetamol), ibuprofen, anestesi lokal.
2. Antibiotik: Golongan penisilin (Amoxicilin, ampicillin) dan sefalosporin (Cefadroxil, ceftriaxone, cefotaxime).
3. Asma: Prednisolon, prednison, salbutamol, flutikason.
4. Rhinitis Alergi: Beclometason, fluticasone.
5. Diabetes Melitus: Indulin, glipizide.
6. Jantung: Thiazide, propanolol, metoprolol, labetolol.
7. Epilepsi: Phenytoin, carbamazepine.
8. Anti depresi: Sertraline.
9. Obat thyroid: Propythiouracil, Levothyroxine.
10. Kontrasepsi: Progestin (mini pil).

Sumber: Kemang Medical Care

Monday, 18 February 2013

Copywriter (Ternyata) Bukan Tukang Bikin Kopi :D

"Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina". Kalimat itu tentunya sudah tidak asing lagi. Yang artinya, menuntut ilmu diperbolehkan sampai ke tempat yang jauh. Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan saya soal copywriter sih?? Hehe sabar, sabar. Orang sabar disayang-sayang :D

Begini, hari Sabtu kemarin tepatnya tanggal 16 Februari 2013, saya bela-belain dateng ke acara Akber Depok (nah apa lagi itu?) untuk menghadiri semacam temu wicara dengan tema "Be A Creative Copywriter" di kawasan Margonda, Depok.

Trus hubungannya ama negeri Cina apaan? Hihihi gak ada sih, cuma rasanya dari rumah saya di Cimanggis Depok lumayan aja sampe ke Margonda buat belajar. Padahal sih kalo ke mal, rasanya biasa-biasa aja yee. Untunglah suami saya yang baik hati dan tidak sombong, sangat mengerti istrinya yang banyak pengen tahu ini itu sehingga saya tiba tepat waktu, bahkan lebih dulu dari panitia ;)

Nanti soal Akber Depok alias Akademi Berbagi Depok, saya jelasin lebih lanjut dibawah deh. Saya pengen cerita dulu soal Copy writer ini, makhluk apa sih dia. 

Yang jadi narasumber alias copy writer yang siap berbagi siang itu namanya Seno Pramuadji yang merupakan digital creative di grup Kompas. Tapi, sebelumnya dia juga sudah beberapa kali pindah tempat kerja, termasuk jadi copywriter di agensi periklanan, juga in-house copywriter. macem-macem deh.

Orangnya asik, gayanya khas pekerja kreatif, ngomongnya ceplas-ceplos. Seno bilang, copy writer itu pekerjaan yang belum terlalu banyak dipahami oleh orang awam. Bahkan, ibunya sendiri sampe-sampe gak ngerti tuh kerjaannya apa hehehe :) Oleh karena masih jarang profesional di bidang copy writing, itu sebabnya penghasilannya cukup menjanjikan, apalagi yang udah berpengalaman.

Dia mengutip Enda nasution yang sering disebut sebagai Bapak Blogger di Indonesia, sekaligus memiliki pengalaman copy writing. Didalam blognya, cuplik Seno, Enda masih sering mendengar pertanyaan konyol seperti "Copy writer itu yang tukang buat kopi?" atau bahkan ada yang tersesat dengan kalimat "Copy Righting" heheh itu sih gak ada, yang ada yaitu Copy Right alias Hak cipta yang ada di bidang hukum alias legal dan gak berkaitan sama sekali dengan kerja penulisan kreatif.

Menurut Seno, inti dari copy writing adalah menyampaikan pesan (message). Termasuk dalan lingkung manajemen pemasaran, namun bukan jenis hard sell tapi lebih smooth alias halus. Bahasa mudahnya sih, nulis untuk iklan.

Iklan itu juga macam-macam medianya ada copy writing untuk iklan televisi, media cetak, billboard, radio dan lain-lain.

"Copy writer itu tugasnya mengonsep sebuah periklanan berupa konten atau kata-kata bersama dengan art director," kata Seno. Lebih lanjut, Seno mengatakan, Copy Writer itu adalah seorang konseptor juga seorang story teller.

Kontribusi seorang copy writer kepada perusahaan atau klien adalah membuat konsumen yang awalnya tidak suka menjadi suka. Hal itu tentu bukan suatu tugas yang ringan. Satu yang perlu diingat, kata Seno, sebagai copy writer harus yakin bahwa brand atau merek atau perusahaannya sebagai nomor 1 di dunia!

"Mindset harus seperti itu. Kalo gak, mana bisa jual ke orang," ujar Seno beralasan.

Namun, satu kalimat dari Seno yang paling saya ingat "Copy writing itu menulis dengan hati, kalau tidak, maka konten tidak akan mengena". Menulis dengan hati? Wah saya sendiri menjadi sedikit tertegun dengan kalimat itu. Bagaimana tidak? Di media, orang-orang iklan alias marketing alias pemasaran bisa dibilang sebagai orang-orang yang money oriented di perusahaan, nnamun ternyata dibalik itu, tugas copy writer adalah menulis dengan hati.

Jujur saja, kalimat ini sangat menohok bagi saya. Coba kita lihat di sekeliling, seberapa banyak orang yang masih menggunakan hatinya saat bekerja? Apalagi di masa serba materialistis sekarang. Saya sendiri merasa dengan menulis, saya berusaha jujur dengan diri sendiri dan sekitar. Ternyata nilai tersebut, masih dijunjung tinggi dalam profesi penulisan, termasuk dalam bidang pemasaran.

Ada beberapa hal teknis yang diungkapkan Seno dalam kelas yang diadakan Akber Depok siang itu, nanti saya sambung dalam posting selanjutnya ya, udah kepanjangan nih. Oh ya, AKber sendiri artinya akademi berbagi yang sudah ada di beberapa kota di seluruh nusantara. Akber semacam organisasi nirlaba yang berusaha berbagi ilmu dari berbagai profesi yang dijalankan oleh relawan-relawan. Semua acaranya free alias gratis, termasuk peserta, pembicara dan relawannya. Termasuk tempat lokasi pelaksanaan Akber. Kalau tertarik bisa lihat di situs web Akademi Berbagi juga akun Facebok Akademi Berbagi atau akun Twitter Akademi Berbagi.

Selain itu, Akber juga ada di berbagai kota dengan kelas masing-masing, termasuk Akber Depok yang saya ikuti. Saya haturkan terimakasih sekaligus salut saya kepada relawan, pembicara Akber yang telah memfasilitasi saya dan peserta lain. Insya Allah, ilmu yang diperoleh saya dan teman-teman peserta lain mengenai copy writing ini bisa berguna. Aamiin.

*Artikel lebih lengkap mengenai pekerjaan copywriter bisa dibaca dalam "Ngintip Kerjaan Copywriter Yuk"






Thursday, 14 February 2013

Valentine No, Puisi Cinta Yes :)


Assalamualaikum, selamat soreee semuaaa!! Itu yang lagi ngantuk2 di depan komputer kantor, cuci muka dulu deh atau yang lagi ngemil di rumah, bagi-bagi dooonk :) hehehe semangat amat sih maaak :D

Hari ini tanggal 14 Februari yang dirayakan oleh sebagian orang sebagai hari Valentine. Saya sih seumur-umur gak pernah tuh ikut ngerayain, karena emang buat saya gak terlalu penting juga sih.

Tapi, hari ini saya baca di pertanyaan salah satu penulis kenamaan sekaligus teknopreneur muda Ollie di Twitter yang bertanya soal puisi cinta favorit. Saya jadi teringat salah satu puisi favorit saya yang saya baca di buku Sajak-sajak Cinta dari A. Mustofa Bisri alias Gus Mus.

Pemilihan kata-katanya sederhana, tapi maknanya dalem. Cinta yang tidak menuntut berlebihan, tidak seperti cinta-cinta alay jaman sekarang yang serba hingar bingar. Penasaran gak? Hehehe saya cuplik puisi dibawah.

Etapi, ada lagi satu puisi yang menjadi favorit saya yang judulnya Dari Tupai Kepada Pohonnya. Pengandaian dalam puisi ini menurut saya luar biasa dan membuat maknanya sangat dalam. Penulis aslinya sendiri saya tidak tahu, lupa juga waktu itu copas dari mana hehehehe :) Kepada penulisnya, saya ucapkan salut saya.

Selamat menikmati puisi-puisi cinta favorit saya, teman-teman :)

Perkenankanlah aku mencintaimu

A.Mustofa Bisri

Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
meski tanpa kepastian yang pasti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan
baru yang menjanjikan

Perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintu mu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikan
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku



Dari Tupai Kepada Pohonnya
Penulis: Anonim

Sering kuanggap dia pohon yang kuat,
Sehingga tidak sakit saat dahannya kukerat-kerat sampai bergetah
Apalah artinya keratan kecil pada pohon yang tangguh? Begitu pikirku
selalu

Sering pula aku bersandar kepadanya,
Kala lelah datang tiba-tiba

Sering pula aku menangis dibawahnya,
Dan merasakan betapa ujung-ujung dahannya menyatu memelukku

Aku sering pergi meninggalkannya, bermain-main di pohon lain
Tapi ia tetap disana, kukuh berdiri walau daunnya mengering
Dan rontok sehelai demi sehelai

Bila aku kembali, daunnya berubah lagi menjadi hijau
Segar rasanya
Sering aku berpikir dia akan jatuh
Roboh menimpaku dan membuatku mati
Dan segala prasangka itu membuatku ingin pindah ke pohon lain

Ditengah ragu, ia menawarkan sebuah lubang di batangnya untukku
bersarang
Sekarang kala hujan menderas,
Aku tahu dia diciptakan untuk aku
Dan aku diciptakan untuknya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...