Pages

Tuesday, 29 October 2013

Masih Anak-anak Kok Operasi Usus Buntu?

Ayah dan Aylaa saat infusnya sudah dibuka dan siap-siap pulang dari rumah sakit (dok.pribadi)

Pada awal bulan Oktober lalu, anak sulung saya, Aylaa mengeluh sakit perut. Saya coba membalurkan perutnya dengan minyak kayu putih, juga termasuk punggungnya. "Mungkin masuk angin," kata saya dalam hati mencoba menenangkan diri.

Tapi, rupanya rasa sakit itu semakin menjadi. Menjelang tengah malam, Aylaa mengerang-ngerang kesakitan. Yang kemudian berujung pada ruang UGD (Unit Gawat Darurat) pada rumah sakit langganan kami. Diagnosa sementara adalah maag, lantaran mie instan yang sempat saya berikan *hiks merasa bersalah*. Setelah sempet diomel2in dokter, kami pun pulang dengan membawa obat lambung dan penghilang nyeri.

Tapi, entah mengapa, saya kok masih setengah percaya dengan diagnosis dokter tersebut. Rasanya masih agak mengganjal. Kalau bisa dibilang, saya ini hampir mirip dengan Papa saya, yang tingkat kekhawatirannya lebih dibanding orang lain, yang seringkali disebut suami saya sih, lebay. Saya coba tepis perasaan itu.

Suami saya yang orangnya lebih santai menganggap rasa sakit yang mereda ini sudah selesai. Sehingga ketika saya mengatakan ingin membawanya ke dokter spesialis anak (DSA) yang kebetulan praktik pada hari Sabtu sore, suami sempat menolak. Tapi, saya tetap bersikeras.

Kecurigaan saya diamini oleh dokter spesialis anak yang biasa menangani anak saya sejak berusia tujuh bulan. Sebab, anak saya menunjuk perut dibagian bawah pusar bagian kanan. Sementara kalau sakit pencernaan, biasanya rasa sakit akan terasa di perut bagian kiri. DSA pun kemudian memberikan surat rujukan ke dokter bedah, yang kebetulan praktiknya pada hari Senin. Kami pun pulang.

Tengah malam, Aylaa kembali mengeluh sakit. Seluruh badannya dipenuhi keringat dingin karena menahan sakit. Kami pun kembali ke UGD. Kali ini karena ada diagnosis sementara dari DSA sebagai sakit usus buntu, Aylaa pun kemudian diputuskan untuk rawat inap. Sebenarnya saya pun tidak keberatan, sebab di rumah pun, kami tidak tahu harus berbuat apa saat Aylaa merasa sakit.

Aylaa langsung diinfus di UGD dan dibawa ke ruang rawat inap, setelah suami saya selesai mengurus ke bagian administrasi. Mulailah malam pertama kami di RS.

Pada pagi harinya, dokter jaga datang dan mengatakan menurut hasil tes darah anak saya, diagnosisnya adalah typus karena memang ada virus typus yang terdeteksi. Anehnya, anak saya tidak mengalami demam.  Tapi, saya belum puas dan menunggu DSA kami..

Ketika DSA datang, dia memiliki pikiran yang sama untuk tetap meminta dokter bedah memeriksa Aylaa. Kami pun menunggu hari Senin dengan harap-harap cemas. Dokter bedah yang dalam pikiran saya adalah dokter senior yang super kaku, ternyata dokter yang masih muda dan enak diajak komunikasi. Dia terlebih dahulu bertanya pada Aylaa dimana rasa sakitnya. Aylaa kembali menunjuk perut bawah pusar bagian kanan.

Dokter kemudian meminta anak saya untuk di tes untuk memastikan radang usus buntu. Malamnya Aylaa diminta berpuasa selama 8 jam. Kemudian setelah dilakukan semacam rontgen pada perutnya, ia diminta untuk meminum sejenis cairan putih semacam susu sebanyak satu gelas. Baru boleh makan sekitar dua jam kemudian. Lalu di rontgen ulang pada sore harinya.

Waktu terasa lama saat itu, apalagi saat menunggu hasil tes. Ketika dokter bedah datang hari Selasa menyatakan Aylaa positif terkena usus buntu, saya antara lega dan deg2an. Lega karena penyakitnya sudah ketahuan, tapi juga deg2an membayangkan Aylaa harus menjalani operasi.

Dokter bedah menjelaskan berbagai kemungkinan, risiko operasi serta beberapa gambar dari operasi-operasi yang sudah dilaksanakannya. *tutup mata tp penasaran* syereeem sumpaaah!! Ada yang usus buntunya sudah pecah dan cairannya merembes kemana2 didalam perut, ada yang usus buntunya sudah lebih dari kepalan tangan, padahal normalnya usus buntuk itu tidak lebih besar dari kelingking.

Menurut dokter, Aylaa belum separah itu. Namun, usus buntu Aylaa sensitif sehingga cepat radang jika terkena pemicu. Memang Aylaa buang air besar (BAB) tidak teratur dan sering mengeluh sakit perut tanpa alasan. Mungkin juga sering menahan buang air kecil (BAK) dan BAB di sekolah. Maklum, toilet sekolah seringkali tampak menakutkan untuk anak-anak.

Masih menurut dokter bedah, rasa sakit radang usus buntu pada anak-anak belum tentu di perut bagian kanan, sehingga sering tampak tidak jelas, lantaran syaraf-syaraf yang belum sempurna pertumbuhannya. Apalagi anak-anak yang belum lancar berkomunikasi. Pasien usus buntu sang dokter bedah itu pun usianya beragam mulai dari anak lima tahun, remaja hingga dewasa.

Mengutip dari jaringnews ada beberapa tanda-tanda gangguan pada usus buntu :
  1.  Rasa sakit yang dimulai di sekitar pusar dan sering juga di bagian bawah kanan perut.
  2.  Rasa sakit akan semakin terasa selama beberapa jam.
  3. Rasa sakit akan semakin timbul jika daerah perut bagian kanan bawah ditekan dan kemudian tekanan dengan cepat dilepaskan.
  4. Nyeri yang memburuk ketika sedang batuk, berjalan atau melakukan gerakan lain yang mengguncang tubuh.
  5. Kehilangan nafsu makan.
  6. Mual dan muntah karena adanya hambatan pada usus.
  7. Demam.
  8. Sembelit
  9. Ketidakmampuan untuk membuang gas.
  10. Diare
  11. Perut yang terlihat membengkak

Kondisi Aylaa sendiri disebut dokter sebagai radang usus buntu yang kronis alias kambuhan. Saya jadi ingat, Aylaa terkadang mengeluh sakit perut saat berjalan agak jauh, seringkali mual saat naik kendaraan. Selain itu, air seninya seringkali berbau menyengat. Itu yang membuat saya semakin yakin agar Aylaa menjalani operasi. Meskipun beberapa teman menyarankan untuk memperoleh 2nd opinion dari dokter dan rumah sakit lain.

Alhamdulillah, operasi yang dilaksanakan kemudian pada hari Kamis, berjalan lancar. Meskipun sempat diawali tangis Aylaa, lantaran saya yang duluan menangis saat mengantar ke kamar operasi :'(

Pemulihan pun berjalan cepat. Pada keesokan hari, Aylaa sudah bisa berjalan dan hari Sabtu sudah diperbolehkan pulang. Setelah menghabiskan waktu 7 hari di RS, berbagai kebiasaan di rumah pun serasa jadi sangat menyenangkan. Ini juga saya tulis dalam tulisan Rutinitas itu (Ternyata) Patut Dinikmati

Sayangnya, tak sampai dua minggu, Aylaa harus kembali rawat inap di RS yang sama. Tidak berkaitan dengan operasi usus buntunya, namun kali ini karena typhus. Muntah2 berat sepanjang pagi, membuat dokter memutuskan untuk rawat inap karena dikhawatirkan dehidrasi. Kami pun kembali menginap di RS. Kali ini lima hari.

Hari senin kemarin, Aylaa baru masuk sekolah lagi. Hampir tiga minggu tidak masuk sekolah, banyak pelajaran yang tertinggal. Tapi, tak apa lah. Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan jika nilainya agak turun. Yang penting pemulihannya berjalan lancar. Pekerjaan rumah saya saat ini adalah menjaga asupan makanan Aylaa, mengingatkannya tidak terlalu capek serta banyak memberi sayur dan buah agar pencernaannya lancar.

Hehe untuk itu, saya yang dulu jaraaang masuk dapur, kini jadi lebih sering. Pagi-pagi sudah menyiapkan untuk camilan dan makan siang yang dibawa ke sekolah. Kadang ditambah sarapan. Untuk itu, biasanya saya blogwalking ke blog temen2 yang memuat soal kuliner. Atau, tanya2 Mama soal resep. Namanya juga usaha.

Jadi kalo ditanya tentang operasi usus buntu Aylaa, kalo untuk saya bisa dibilang sebagai langkah tepat. Sekarang setiap naik kendaraan, Aylaa tidak mengeluh mual atau sakit perut. Air seninya pun tidak lagi berbau menyengat dan tidak ada keluhan sakit perut lagi, kecuali kemarin sewaktu sakit typhus.

Doakan Aylaa dan kami sekeluarga sehat selalu yaa. Aamiin. Terimakasih sudah mampir, teman ^_^










10 comments:

  1. Ya Allahh.. kasian ya mak kalo anak kecil terus sakit, hiks..

    suka khawatir juga kalau kenapa2..

    semoga kak Alyaa sembuh dari segala penyakit ya mak..:D

    ReplyDelete
  2. Aamiin. Makasih ya mak. Semoga si kecil dan keluarga sehat selalu ^^

    ReplyDelete
  3. usus buntu nggak memandang usia kak. Temen sd-ku dulu juga kena pada usia anak-anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener bgt, usus buntu jg bisa kronis seperti anak saya atau juga akut, yang perlu segera operasi. Semoga kita dan keluarga selalu diberi kesehatan. Aamiin. Makasih udah mampir ^_^

      Delete
  4. Saya juga pernah mengantarkan teman yg usus buntunya hampir pecah, sudah ke dokter berkali-kali didiagnosa maagh akut....malam itu dia sampai muntah2 dan hampir pingsan tak berdaya...setelah di bawa ke RS ternyata harus operasai usus buntu.....hikamahnya ikhtiar kita harus lebih sabar lg dalam mencari tahu diagnosa dokter...dokter juga manusia bisa salah....makanya tepat bunda Aylaa sabar mencari opini dokter lain....Alhamdulillah..Aylaa sudah sembuh...rumah pun kembali ceria dan hangat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Iya, memang kita terkadang harus mengikuti feeling. Semoga kita dan keluarga selalu diberkahi kesehatan ya. Aamiin. Makasih udah mampir ya ^_^

      Delete
  5. Anak sy umur 6thn kurang.abis mnjalani oprasi usus buntu.Usus buntux sdh pecah&nanahx sdh mnyebar kmn2.Pasca operasi ini malh mengalami diare hebat,hingga elektrolit serta kaliumx rendah.Sdh 6hr drawat diRs blm diijinkan pulang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh kalo udah sampe pecah, memang bisa banyak komplikasinya. Semoga cepet sembuh anaknya ya mbak Natalia. Aamiin.

      Delete
  6. Anak sy umur 6thn kurang.abis mnjalani oprasi usus buntu.Usus buntux sdh pecah&nanahx sdh mnyebar kmn2.Pasca operasi ini malh mengalami diare hebat,hingga elektrolit serta kaliumx rendah.Sdh 6hr drawat diRs blm diijinkan pulang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga si kecil sudah benar2 pulih ya

      Delete

Terimakasih yaa ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...