![]() |
| Membuat puding tambah seru dengan Oatbits Raisin favorit keluarga (dok.pribadi) |
Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts
Tuesday, 5 July 2016
Serunya Membuat Puding Mozaik Bersama Anak, Sambil Menunggu Waktu Berbuka Puasa
Thursday, 30 June 2016
Buku Kisah Hebat Nabi Muhammad dan Kisah Ajaib Lainnya Menemani Selama Ramadan
Putri saya sangat menyukai membaca. Tak hanya buku, segala hal dia baca termasuk koran, majalah atau apa saja yang bisa dibaca. Itu sebabnya saat saya mengajaknya ke acara peluncuran buku anak, dia senang sekali. Buku ini juga tergolong istimewa. Diadakan menjelang bulan Ramadan, buku Kisah Hebat Nabi Muhammad Dan Kisah Ajaib Lainnya, benar-benar mencuri perhatian anak saya. Mau tahu kenapa?
![]() |
| Membaca buku bersama menjelang tidur bersama anak-anak (dok.pribadi) |
Sunday, 19 June 2016
Lactacyd Baby Meringankan Rasa Gatal di Kulit Saat Anak Terkena Flu Singapura
"Bu, anaknya harus dimandikan ya. Pakai Lactacyd baby yang warna biru," kata seorang dokter pada saya malam itu.
"Iya dok, ada di rumah. Tapi saya dengar anak-anak yang terkena flu singapura, tidak boleh dimandikan apalagi pakai sabun," jawab saya lagi. Kakak saya kemarin memang menelepon dan memberitahukan hal itu dari temannya.
"Wah salah itu bu, justru saat flu Singapura kulit harus dijaga tetap bersih. Tapi, jangan pakai sabun biasa," terang dokter lagi sambil menuliskan resep obat lain. Nyatanya Lactacyd Baby dengan PH 3-4 sangat tepat untuk flu singapura yang dialami anak-anak saya.
"Iya dok, ada di rumah. Tapi saya dengar anak-anak yang terkena flu singapura, tidak boleh dimandikan apalagi pakai sabun," jawab saya lagi. Kakak saya kemarin memang menelepon dan memberitahukan hal itu dari temannya.
"Wah salah itu bu, justru saat flu Singapura kulit harus dijaga tetap bersih. Tapi, jangan pakai sabun biasa," terang dokter lagi sambil menuliskan resep obat lain. Nyatanya Lactacyd Baby dengan PH 3-4 sangat tepat untuk flu singapura yang dialami anak-anak saya.
![]() |
| Sandya dengan Lactacyd Baby yang bantu meredakan gatal saat flu singapura (dok.pribadi) |
Monday, 6 June 2016
Merawat Kulit Sensitif Bayi dengan Lactacyd Baby
Kulit bayi kemerahan, biang keringat atau gangguan lain, pernah dialami oleh kedua anak saya. Memang keluarga saya dan suami memiliki keturunan gangguan alergi. Seingat saya, alergi kulit saya pernah sangat parah ketika saya memasuki masa remaja, demikian juga kakak saya. Itu sebabnya saat anak saya menampakkan gejala alergi kulit, saya tidak terlalu kaget. Saya jadi rajin mencari solusi yang paling mudah sekaligus aman. Kabar gembiranya, saya berhasil menemukannya.
![]() |
| Lactacyd Baby dengan kandungan susu yang teruji klinis aman untuk kulit bayi (dok.pribadi) |
Monday, 9 May 2016
Kakak Masuk Masa Praremaja, Tas Princess Tidak Lagi Jadi Pilihan
Saat hendak pulang dari bermain di salah satu lokasi permainan di mall dekat rumah, suami baru ingat janji kami membelikan tas sekolah untuk kakak Aylaa. Lalu kami pun menuju salah satu toko tas yang memang sudah jadi incaran saya beberapa bulan kemarin :D
Saya : Kak, mau tas warna apa? (Mata jelalatan ke tas berbagai warna bergambar princess). Yang warna ungu itu bagus, ada rendanya kak.
Aylaa : Hmmmmm....
Saya : Gak suka ya, warna lain kalo gitu?
Aylaa : Kalo yang gak pake gambar gimana bu, ada gak?
Saya : Haaah masa sih? Maksudnya gimana? (Ibu kaget bin lebay, meski gak sampe melotot ala2 sinetron)
Aylaa : Iya, yang polos atau motif biasa aja bu. Temen2 di sekolah juga gitu sekarang tasnya.
Saya : Oh gitu ya. (Terus teriak ke Ayahnya, "Yaaaah anaknya udah gak mau pake tas princess!")
Saya : Kak, mau tas warna apa? (Mata jelalatan ke tas berbagai warna bergambar princess). Yang warna ungu itu bagus, ada rendanya kak.
Aylaa : Hmmmmm....
Saya : Gak suka ya, warna lain kalo gitu?
Aylaa : Kalo yang gak pake gambar gimana bu, ada gak?
Saya : Haaah masa sih? Maksudnya gimana? (Ibu kaget bin lebay, meski gak sampe melotot ala2 sinetron)
Aylaa : Iya, yang polos atau motif biasa aja bu. Temen2 di sekolah juga gitu sekarang tasnya.
Saya : Oh gitu ya. (Terus teriak ke Ayahnya, "Yaaaah anaknya udah gak mau pake tas princess!")
![]() |
| Kakak yang mulai masuk praremaja, sudah mulai hilang lemak bayinya (dok.pribadi) |
Saturday, 7 May 2016
Cara Mengoptimalkan Daya Tahan Tubuh dan Otak, Agar Kecerdasan Anak Maksimal
Seorang keponakan saya sering bolak-balik rumah sakit untuk diperiksa karena pilek. Hingga akhirnya dokter menyatakan dia memiliki alergi. Keponakan yang lain, sejak kecil harus mengonsumsi susu khusus karena alergi susu sapi. Saya pribadi pernah disebut mengalami bronkitis yang dipicu alergi serta mengalami gatal-gatal karena alergi pada masa sekolah dasar. Itu sebabnya alergi menjadi perhatian saya.
Alergi sebenarnya adalah gangguan daya tubuh pada anak, yang menyebabkan tubuh bereaksi belebihan terhadap paparan, yang tidak terjadi pada tubuh yang normal. Ada berbagai pemicu alergi, seperti yang dialami keluarga saya. Ada alergi pada elemen udara, misalnya sebuk sari, jamur, bulu binatang atau tungau debu rumah. Gejala alergi ini bisa berupa gatal, diare, nyeri perut, sariawan, migren, batuk, pilek atau sesak yang kambuhan. Nah rupanya alergi ini merupakkan gangguan daya tahan tubuh anak. Tapi, apa bisa dicegah atau diatasi ya?
Alergi sebenarnya adalah gangguan daya tubuh pada anak, yang menyebabkan tubuh bereaksi belebihan terhadap paparan, yang tidak terjadi pada tubuh yang normal. Ada berbagai pemicu alergi, seperti yang dialami keluarga saya. Ada alergi pada elemen udara, misalnya sebuk sari, jamur, bulu binatang atau tungau debu rumah. Gejala alergi ini bisa berupa gatal, diare, nyeri perut, sariawan, migren, batuk, pilek atau sesak yang kambuhan. Nah rupanya alergi ini merupakkan gangguan daya tahan tubuh anak. Tapi, apa bisa dicegah atau diatasi ya?
![]() |
| Kegiatan favorit anak2 saya ke taman, sbg cara efektif untuk menstimulasi otak dan daya tahan tubuh (dok.pribadi) |
Sunday, 27 March 2016
Stimulasi Tepat Akan Mendukung Nutrisi, Sehingga Anak Tumbuh Sehat dan Cerdas
Memiliki anak-anak yang sehat dan cerdas, tentu menjadi impian seluruh orangtua. Untuk mencapai itu, bukan hanya sekedar asupan nutrisi anak yang harus diperhatikan, namun juga stimulasi yang tepat untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Yang tidak kalah penting diketahui, stimulasi anak bisa dimulai sejak dini. Tapi, sebenarnya bagaimana sih stimulasi yang tepat untuk anak?
![]() |
| Kakak Aylaa dan adik Sandya paling senang ke tempat bermain yang luas (dok.pribadi) |
Saturday, 5 December 2015
Aturan Aman Menggunakan Handphone untuk Anak
Assalamualaikum. Sudah beberapa waktu ini saya tidak update blog nih *tiup-tiup debu*. Sering beralasan karena kesibukan di kantor, padahal sebenarnya semua tergantung niat kan hehe :)
Nah teman-teman adakah yang pernah bingung dengan rengekan anak yang minta handphone alias ponsel? Saya salah satunya. Anak perempuan saya sudah sejak kelas 3 SD meminta hp sendiri. Beragam cara sudah dia lakukan, tapi saya dan suami belum memberikan. Kakak hanya memegang hp saya atau Ayahnya. Hingga akhirnya ulang tahun ke-9 kemarin, akhirnya kakak dihadiahi hp oleh kakeknya. Mau gimana lagi, masa iya saya larang.
Nah teman-teman adakah yang pernah bingung dengan rengekan anak yang minta handphone alias ponsel? Saya salah satunya. Anak perempuan saya sudah sejak kelas 3 SD meminta hp sendiri. Beragam cara sudah dia lakukan, tapi saya dan suami belum memberikan. Kakak hanya memegang hp saya atau Ayahnya. Hingga akhirnya ulang tahun ke-9 kemarin, akhirnya kakak dihadiahi hp oleh kakeknya. Mau gimana lagi, masa iya saya larang.
![]() |
| Kakak dan hp pemberian kakek (dok.pribadi) |
Tuesday, 14 July 2015
Anak-anak Belajar Antri? Bisa Kok
Saya pernah membaca mengenai guru di Australia yang merasa lebih khawatir jika murid-muridnya tidak bisa antri, dibandingkan tidak bisa mengerjakan soal matematika. Mengapa? Karena untuk melatih anak matematika dapat dilakukan secara intensif hanya dalam jangka waktu 3 bulan. Sedangkan, membangun kebiasaan antri dibutuhkan waktu 12 tahun! Pantas saja mereka khawatir.
Bagaimana dengan di Indonesia? Sayangnya, antri masih bisa dibilang budaya asing. Hiks. Saya kerap diserobot saat antri, ataupun terkadang tidak dapat dibentuk antrian sama sekali. Misalnya, saat di toilet ataupun berbelanja di tempat-tempat tertentu.
![]() |
| Semoga kebiasaan antri anak-anak ini berkembang hingga mereka dewasa nanti. (dok.pribadi) |
Sunday, 23 November 2014
ELC Ultah ke-40,Tiup Lilin Bersama Lebih dari 40 Anak
![]() |
| Berdoa sebelum tiup lilin (foto: dok.pribadi) |
Merayakan ulangtahun tak lengkap rasanya jika tak berbagi kebahagiaan bersama keluarga dan orang lain. Nah, dalam perayaan puncak ulangtahun ke-40, ELC Indonesia mengajak lebih dari 40 anak untuk tiup lilin bersama pada tanggal 1 November 2014, di Grand Indonesia. Wuiiiih seruuuu!!!
Kebetulan saya berkesempatan hadir disana. Suasana meriah sudah terasa seketika saya keluar dari lift. Saya saat itu datang bersama anak-anak. Langsung terasa antusiasme disana.
![]() |
| Persiapan menjelang tiup lilin (foto: Dok.ELC) |
Sudah tampak puluhan anak bersama orangtua bersiap-siap sebelum pucak perayaan dimulai. Para anak yang berulangtahun itu kompak pakai baju hijau. Duuh cantik-cantik dan ganteng-ganteng deh.
Karena saya datang agak awal, maka saya mengajak anak-anak berkeliling dulu. Oh ya, sebelumnya saya mendatangi Mbak Diana di flagship store ELC di Grand Indonesia untuk konfirmasi kehadiran. Waah sudah banyak juga anak-anak yang ada disana. Anak-anak saya juga langsung donk lirik lirik sana sini, lihat mainan keren.
![]() |
| Sandya, Aylaa dan Nenek ikut menikmati seru acaranya ultah ELC (dok.pribadi) |
Tiap anak diberi satu cup cake dengan satu lilin diatasnya. Setelah masing-masing lilin dinyalakan, mulai deh semua bernyanyi. Namanya anak-anak reaksinya lucu-lucu, ada yang sudah tiup lilin duluan, ada yang colek-colek kuenya. Tapi saya menangkap reaksi seorang anak yang tampak khusyu sambil memejamkan mata di depan cupcake dengan lilin yang sudah dinyalakan, sepertinya sih sedang berdoa. Good boy :)
![]() |
| Marketing Manager ELC Indonesia, Abi Shihab dan VP ELC Indonesia, Lina Paulina semangat meniup lilin (foto: Dok.ELC) |
Akhirnya ditemani dengan boneka Edward, Om Abi dan Tante Lina meniup lilin kue ultah ELC yang berwarna kuning hijau yang tampak lezat.
Satu dua tiga...hup hup hup! Horeeee...semua anak ikut tiup lilin :) Selamat ulangtahun ELC, selamat ulangtahun anak-anak. Semoga semakin lebih baik di masa depan nanti. Aamiin.
![]() |
| Senangnya ultah dapet hadiah banyak dari ELC (foto: Dok.ELC) |
Untuk yang hadir, ELC juga menyediakan es krim, cotton candy dan pop corn untuk dinikmati. Ada juga photobooth bersama Edward yang superrr besar. Sayang sekali, saya tidak sempat foto disana, sebab penuh sekali orang-orang yang datang diacara.
Oh ya, untuk yang penasaran tentang mainan ELC, sekarang di Indonesia, sudah ada 29 toko ELC yang tersebar di 6 kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Bali dan Makasar. Hingga 2025 nanti, rencananya ELC akan terus mengembangkan bisnisnya di Indonesia dengan membuka hingga 150 toko, ke kota-kota lain seperti Manado, Palembang, Solo dll.
Info lengkap mengenai toko ELC terdekat, produk ataupun ingin belanja online, bisa kunjungi www.elc.co.id. yaa.
Sekali lagi, saya ingin mengucapkan selamat ulangtahun ke-40 untuk ELC. Semoga semakin banyak anak-anak yang memperoleh manfaat dari mainan-mainan berkualitas dan edukatif dari ELC.
*Tulisan mengenai kriteria mainan ELC dapat dibaca di "Bicara tentang 4 Kriteria Mainan Jelang 40 Tahun ELC"
![]() |
| Seru merayakan ulang tahun bareng ELC. Tahun depan lagi yaa ^^ (foto: Dok.ELC) |
Wednesday, 22 October 2014
Bicara tentang 4 Kriteria Mainan Jelang 40 Tahun ELC
![]() |
| Selamat Ulang Tahun ELC yang ke-40 ^_^ (dok.pribadi) |
Pembahasan soal mainan mulai dari permainan fisik seperti galahsin, petak umpet, main bentengan, lompat tali. Hingga permainan yang melibatkan alat-alat seadanya seperti masak-masakan dengan tanaman dan pisau yang ada di gunting kuku ataupun pisau beneran, juga memanfaatkan kulit jeruk bali untuk mobil-mobilan. Ya, memang masa bermain kami saat itu dibilang luar biasa penuh kreativitas karena keterbatasan alat.
Tapi, apakah anak-anak saat ini harus merasakan hal yang benar-benar sama dengan saya dan suami dulu? Hmmm..mungkin jawabannya akan beragam. Ada berbagai hal yang dipertimbangkan soal mainan.
![]() |
| Pemandangan dari lokasi acara ELC, kereeen yaa (dok.pribadi) |
Demikian juga mengenai keamanan yang menjadi perhatian saya dan suami. Saat ini banyak mainan menggunakan bahan atau pewarna yang berbahaya. Sementara kualitas harus tetap terjaga, dan juga harga yang tetap terjangkau.
Rupanya empat prinsip saya dalam memilih mainan tersebut sejalan dengan produk-produk dari Early Learning Center (ELC). Semakin jelas saat saya mengikuti "Media & Blogger Gathering Ulang Tahun Early Learning Center (ELC) ke-40", di Jakarta, bertempat di Cloude Lounge & Living Room, The Plaza 46th floor, beberapa waktu lalu
![]() |
| Disambut goody bag berisi teddy bear Edward ^_^ (dok.pribadi) |
Ada empat core benefit yang digaungkan oleh produk-produk ELC yang menarik perhatian saya yaitu:
- Play value atau nilai bermain. Semua produk ELC selalu menyenangkan dan mendorong anak untuk belajar sambil bermain.
- Keamanan (safety). Setiap produk ELC selalu diuji secara komprehensif oleh pihak internal ELC atau laboratorium independen sebelum dipasarkan, sehingga telah lolos dan melampaui uji keamanan di Inggris dan Eropa. Standar keamanan ini mencakup fisik, mekanik, symbol, ketahanan terhadap api, peringatan usia, bahan kimia yang digunakan, keamanan maninan elektronik, petunjuk penggunaan, ukuran dan berat produk.
- Kualitas (quality). Dalam pembuatan produk ELC, selalu digunakan material (plastic, kain dan kayu) dengan kualitas terbaik serta memastikan produk memiliki spesifikasi yang tepat bagi anak yang memainkannya.
- Harga yang pantas (value for money). Kebijakan harga yang ditetapkan ELC selalu menawarkan harga yang terbaik bagi pelanggan dengan gabungan semua core benefit.
![]() |
| Anak lucu ini eksis sekali deh *cubit pipi aah* (dok.pribadi) |
Manfaat Bermain
Tak salah jika dunia anak disebut dengan dunia bermain. Banyak proses pembelajaran yang dapat diperoleh anak saat mereka melakukan permainan.
Hadir dalam acara Media Gathering ELC sebagai narasumber, yaitu dr. Markus Danusantoso, Sp.A. Dokter berpostur tinggi tersebut memberikan presentasi mengenai "Peran bermain untuk meningkatkan perkembangan dan kecerdasan anak".
"Bermain merupakan sarana belajar dan menambah pengalaman untuk anak," ujar dr. Markus.
![]() |
| dr. Markus menjelaskan ttg manfaat bermain (dok.pribadi) |
"Bermain juga akan meningkatkan ketajaman panca indera," terangnya.
Kriteria alat permainan yang baik menurut dr. Markus antara lain tidak jauh berbeda dengan empat kriteria ELC yaitu:
- Tidak berbahaya & terbuat dari bahan bermutu
- Sesuai usia bayi/anak
- Menarik/menyenangkan
- Memiliki nilai belajar
- Sederhana (tidak rumit) & harga pantas
Kemudian, dr. Markus memaparkan beberapa alat permainan berikut manfaatnya. Silakan disimak ya bu-ibu :)
*Stacking rings
![]() |
| Stacking rings ELC (mothercare.com) |
Menurut dr. Markus dari permainan ini anak dapat belajar mengenai :
- Memegang, memutar
- Melatih jari tangan
- Melatih konsentrasi
- Mengenal dan melatih memori warna, urutan kecil-besar / besar-kecil
- Berbagi peran main bersama
*Shape sorting bus
![]() |
| Shape sorting bus dari ELC (dok.pribadi) |
- Membantu belajar merangkak
- Koordinasi mata-tangan untuk masuk-dorong mainan
- Melatih jari tangan
- Mengenal bentuk benda sesuai tempatnya
- Konsep “benda hilang dan ada kembali” (object permanence)
- Melatih akurasi-presisi
- Berbagi peran main bersama
Warna warni dan berbagai bentuk, sekaligus pengenalan huruf secara tidak langsung sangat menarik. Mulai dari anak saya tidak bisa mencocokkan bentuk sama sekali, hingga akhirnya mereka berhasil menjadi proses yang menyenangkan tidak hanya untuk anak-anak, namun juga bagi saya sebagai orangtuanya.
* Light & sound walker
![]() |
| Anak sedang bermain light & sound walker ELC (dok.pribadi) |
Untuk anak dengan usia >9 bulan.
- Berjalan, mendorong, duduk, jongkok
- Melatih jari tangan
- Memasukkan, memutar
Dengan warna warni cerah dan tombol-tombol menarik, sangat menarik bagi anak.
*Funky footprint
Untuk anak dengan usia > 12 bulan
![]() |
| Funky footprint yang seru (mothercare.co.id) |
- Koordinasi mata & kaki saat berjalan
- Keseimbangan
- Melompat, melangkah
- Memori & konsentrasi
- Mengenal angka
*Learn to dress
Untuk anak dengan usia >18 bulan
- Ketrampilan jari tangan untuk kemandirian: buka-tutup tali sepatu/kancing/seleting (zipper)
- Koordinasi mata & tangan
- Mengenal berpakaian lengkap
- Melatih imajinasi dan bercerita
*Happyland
![]() |
| Salah satu seri happyland ELC (mothercare.co.id) |
- Konsep ruang: didalam/luar, diatas/bawah, pojok, samping masuk/keluar
- Melatih majinasi dan bercerita
- Mengenal rumah & perabotan, hewan peliharaan, mobil, orang dalam rumah
- Berbagi peran main bersama
Saat saya kecil dulu permainan jenis ini biasa dilakukan dengan berbagai peralatan sederhana. Saya yakin jika anak-anak difasilitasi lebih baik, maka manfaatnya akan jauh lebih baik lagi.
Sand & water table
![]() |
| Sand and Water Table dari ELC (mothercare.co.id) |
Untuk anak dengan usia > 18 bulan–8 tahun
- Eksperimen dengan pasir: bentuk gunung, lubang, melihat efek dari menjatuhkan pasir ke corong
- Peralatan sesuai fungsi: serokan, sekop, garukan
- Imajinasi dan bercerita
- Berbagi peran main bersama
Jika Anda tidak memiliki banyak waktu untuk ke pantai dan memperkenalkan permainan pasir, maka Sand and water ini bisa mengawali.
Anak-anak saya memang jarang bermain di luar ruangan, sepertinya mainan ini akan segera jadi favorit mereka.
Anak-anak saya memang jarang bermain di luar ruangan, sepertinya mainan ini akan segera jadi favorit mereka.
Untuk anak dengan usia usia 3-6 tahun.
- Mengenal magnet, menempel, melepaskan benda
- Belajar huruf, angka, simbol hitungan
- Belajar baca, tulis, gambar
- Konsep benar-salah, hapus jika salah dan ganti yg benar
- Berbagi peran main bersama
Percayalah ibu-ibu, permainan ini sungguh membantu. Apalagi warna warni dan bentuknya yang menarik untuk belajar, dibandingkan hanya mengandalkan alat tulis saja.
*Key-boom-board
![]() |
| Mainan alat musik produk ELC (dok.pribadi) |
- Mengenal alat musik, variasi irama, nada, dan suara lagu
- Melatih jari tangan
- Koordinasi mata, telinga, dan tangan saat bermain/nyanyi
- Berbagi peran main bersama
Saat ia berhasil menekan tuts-tuts alat musik mainan miliknya, maka ia akan tertawa dan mencoba dengan variasi lain. Ia juga senang berpura-pura menyanyi dengan mike, menggunakan sisir atau apapun yang ada di sekitarnya. Saat ini sudah lebih dari 10 lagu sudah dikuasainya, meski kata-katanya seringkali banyak salah yang justru mengundang tawa orang di rumah.
ELC di Indonesia
ELC hadir pertama kali di Indonesia tahun 2008 di Jakarta dibawah bendera Kanmo Retail Group. ELC selalu mempertahankan kontrol melalui aspek kualitas produk, pengembangan isi dan terutama keamanan.
![]() |
| Boneka ELC dengan bulu lembut dan kualitas yang terjamin (dok.pribadi) |
Selama bertahun-tahun, ELC telah menambah koleksi mainan yang unik, seperti HappyLand, rangkaian koleksi mainan bangunan yang brilian, karakter-karakter unik, binatang lucu, dan kendaraan warna-warni.
Tak ketinggalan Rosebud Village, koleksi boneka-boneka kayu lengkap dengan rumah, karakter dan aksesorisnya, serta Toybox, koleksi karakter click-clack yang penuh warna dan menyenangkan serta kendaraan yang diperkenalkan pada tahun 2013.
![]() |
| VP ELC Indonesia, Lina Paulina dan Marketing Manager ELC, Abi Shihab dan Diana |
“Untuk merayakan ulangtahun ke-40, ELC Indonesia telah menyiapkan serangkaian aktivitas yang serba 40,” ujar Lina Paulina, Vice President ELC Indonesia.
Kegiatan pra-acara dimulai dengan menampulkan kartu ucapan ulangtahun yang unik dari 40 sekolah di Jakarta. Kartu ucapan ini akan dipasang di jendela toko ELC Grand Indonesia.
![]() |
| Ada satu lagi nih anak lucu yang ikut Mamanya (dok.pribadi) |
Ditemani oleh Edward, si Teddy Bear, ELC akan mengundang 40 anak yang merayakan ulangtahun bersama tanggal 28 oktober, yang juga bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
Pada acara ini nantinya ke-40 anak tersebut akan mendapat topi ulangtahun dengan gambar Edward, balon dan tentunya, kue ulang tahun. *Idiiih bikin pengen deh ya :D
Untuk peserta lainnya yang hadir, ELC menyiapkan es krim, cotton candy dan pop corn untuk dinikmati. Tersedia juga photobooth untuk mengabadikan foto bersama Edward. Selain itu, disiapkan juga berbagai aktivitas seperti face painting dan area bermain.
Waaah..sepertinya seru maksimal ini acara ulangtahun ELC!!
(Reportasenya bisa baca di "ELC Ultah ke-40, Tiup Lilin Bersama Lebih dari 40 Anak" )
Siap Buka 150 Toko
![]() |
| Yuhuuu mainannya memang menggiurkan ya :D (dok.pribadi) |
![]() Saya dan Edward dari ELC yang super empuk dan halus (dok.pribadi) |
ELC Indonesia merencanakan akan memiliki 150 toko di tahun 2025 dengan ekspansi ke kota-kota lain seperti Manado, Palembang, Solo,dll. Namun demikian, saat ini ELC menyediakan fasilitas bagi pelanggan yang berada di kota yang belum terdapat toko ELC dengan layanan e-commerce yaitu di situs web www.elc.co.id.
Jadi tunggu apa lagi, yuuk serbu ELC untuk mendapatkan mainan bermutu, bermanfaat dan aman untuk anak-anak kita. Apalagi menjelang ultah ke-40 ini, banyak acara dan diskon loooh ^_^
![]() |
| Kumpul bareng Kumpulan Emak Blogger yang super kereeen (dok.pribadi) |
Tuesday, 7 October 2014
Batita Juga Bisa Ngobrol Seru
![]() |
| Sandya bercakap-cakap dengan sepupunya Fira (dok.pribadi) |
Tingkah Aylaa dan Fatya yang berusia hampir 8 dan 9 tahun tak terlalu menarik perhatian saya. Berbeda ketika saya melihat dua batita yang menarik-narik kursi dan mulai berbicang. Sandya (2 tahun 10 bulan) dan sepupunya Fira (3 tahun 2 bulan) ini bercakap-cakap layaknya kami orang dewasa dan kakak-kakaknya.
Tapi, yang bikin adegan perbincangan ini lucu adalah bahasa yang mereka gunakan. Sekilas terdengar seperti perbincangan umumnya, tapi kalau didengar lebih seksama, bahasa mereka itu unik sekali. Bahkan sebagian besar yang saya dengar, tidak bisa saya mengerti. Tapi, ajaibnya perbincangan mereka itu seru dan lancar sekali, saling menimpali satu sama lain hihihihihi :)
Saya teringat sebuah cerita tentang anak-anak balita dari berbagai latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda. Mereka dapat dengan mudah berkomunikasi dan bermain bersama, meski mereka tidak mengenal ataupun menggunakan bahasa yang sama.
Mengapa demikian ya?
Sandya dan Fira, keduanya adalah anak yang cerewet di rumah.
Mama saya sendiri sering bilang, "Biasanya anak laki-laki, kemampuan bicaranya lambat. Tapi Sandya gak tuh".
Memang perlu saya akui, Sandya itu cukup mahir untuk kemampuan berbicara. Bahkan kalau kata suami saya, "Sandya jangankan ngomong, nyela aja udah jago". Hehehe maksudnya anak itu sering becanda dengan kata-kata.
Dari Wikipedia, saya mendapat informasi bahwa kemampuan bahasa termasuk pada perkembangan kognitif. Pada periode awal balita, usia dua tahun kosa kata rata-rata balita adalah 50 kata, Bertambah pada usia lima tahun,, diatas 1000 kosa kata.
Pada usia tiga tahun balita mulai berbicara dengan kalimat sederhana berisi tiga kata dan mulai mempelajari tata bahasa dari bahasa ibunya. Misalnya :
Usia 24 bulan: "Haus, minum"
Usia 36 bulan:"Aku haus minta minum"
![]() |
| Para batita yang super aktif (dok.pribadi) |
Kepribadian Sandya sendiri memang lebih supel dibandingkan kakak Aylaa yang agak pemalu. Tiap kali ditanya orang, Sandya akan menjawab, berbeda dengan Aylaa yang biasanya ngumpet karena malu. Tapi, semoga nanti, kakak Aylaa bisa lebih berani seiring perkembangan usia dan percaya dirinya.
Memang semua anak itu unik dan memiliki perkembangan yang tidak sama satu sama lain. Pengalaman saya yang punya dua anak saja, sudah luar biasa.
Bagaimana dengan teman-teman yang punya anak lebih banyak, pasti lebih seru ya ^_^
Label:
anak,
anak batita,
anak bawah tiga tahun,
anak ngobrol,
bahasa anak,
balita,
batita,
kemampuan bahasa anak,
parenting,
perbincangan anak,
perkembangan bahasa,
perkembangan batita
Tuesday, 9 September 2014
Sekolah Impian Itu Kini Sudah Memiliki Nama
![]() |
| Kakak Aylaa dan teman-teman seru-seruan di bis saat field trip (Foto: Hikmalia Prihatin) |
Demikianlah yang saya rasakan saat melihat sebuah sekolah di kawasan Kelapa Dua, Depok sekitar tahun 2005 silam. Saat itu saya bekerja di sebuah harian nasional, terutama di halaman keluarga yang salah satunya mengulas sekolah-sekolah.
Mulai dari ujung Jakarta barat hingga kawasan Jakarta Timur, Depok dan sekitarnya, saya jalani untuk mencari sekolah-sekolah yang saya rasa memiliki sistem pendidikan yang baik untuk anak-anak. Turun naik bis, kesulitan mendapatkan waktu wawancara hingga manajemen sekolah yang tertutup, semua saya alami saat itu. Namun, tak ada yang saya tak jalani, jika hati ini menjadi penuntunnya.
Salah satu misi saya saat itu adalah menimba ilmu sebanyak-banyaknya mengenai sistem pendidikan usia dini. Apalagi saat itu saya juga baru menikah dan berencana segera memiliki anak, sehingga bagi saya, manfaatnya juga untuk pribadi. Nyatanya memang ilmu saya soal parenting, masih benar-benar seujung kuku. Semakin saya menyelami, maka semakin sedikit rasanya yang saya sudah ketahui.
![]() |
| Para siswa yang super ceria (Foto: Azizah) |
Pencarian saya kemudian bertumpu pada sebuah sekolah yang dari depan tidak terlalu menyolok. Gerbangnya yang agak menjorok ke dalam, membuat sulit untuk melihat ke dalam sekolah lebih jauh. Dari nomor telepon yang tertera di depan sekolah, maka saya menghubungi dan membuat janji wawancara lebih lanjut.
Singkat cerita, saya berkesempatan dengan pendiri sekolah tersebut yaitu sepasang suami istri. Ternyata sekolah ini adalah sekolah yang mereka dirikan dengan idealisme yang agak berbeda dengan sekolah lain. Kebetulan, sang istri adalah seorang Psikolog sekaligus pengajar yang sangat mencintai anak-anak.
Sekolah inklusif. Kebalikan dari sekolah eksklusif hanya untuk kalangan tertentu. Sekolah ini menerima semua anak, kecuali kekurangan mereka tidak dapat diatasi pengajar.
Disini saya bertemu dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Anak-anak yang sulit berkonsentrasi namun masih dibimbing dengan kasih sayang. Disini saya melihat ketulusan dan kesabaran para pengajar.
Begitu terkesannya saya dengan sekolah ini, hingga saya berniat untuk memasukkan anak saya ke sini nanti. Seingat saya, waktu itu saya tengah mengadung anak pertama saya.
Pengajar Berhati Mulia
Ketika anak saya, Aylaa, sudah sudah cukup umur untuk pendidikan usia dini, saya kembali teringat dengan sekolah yang pernah saya impikan mendidik anak saya kelak. Namun, karena satu dan lain hal, rupanya anak saya belum berjodoh sekolah disana. Jaraknya lumayan jauh, sulit untuk saya mengantarkan ke sana.
![]() |
| Ibu-ibu guru yang luar biasa (Foto: Azizah) |
Alhamdulillah, setelah beragam proses penerimaan, anak saya berhasil masuk sekolah tersebut. Sekolah dengan program pengajaran yang menomorsatukan kenyamanan anak, tidak mendorong anak secara akademik berlebihan dan terutama para pengajar yang penuh cinta.
![]() |
| Salah seorang siswa sedang diajarkan berwudhu (Foto: Azizah) |
![]() |
| Seorang siswa dengan kebutuhan khusus bercakap-cakap dengan guru pendampingnya (Foto: Azizah) |
![]() |
| Seorang guru pendamping mengajarkan wudhu anak kelas 1 (Foto: Azizah) |
Program dan sistem pendidikan memang sangat penting, tapi hubungan antarmanusia tidak kalah krusial. Apalagi guru adalah salah satu role model yang dilihat anak-anak setiap hari, bisa dibilang mereka adalah sosok "pengganti" orangtua saat di sekolah. Tentu saja, saya menginginkan guru-guru terbaik untuk anak saya.
![]() |
| Mendidik tak hanya mengajar pelajaran namun juga termasuk membesarkan hati (Foto: Azizah) |
Jika mereka butuh orang yang bisa menulis, maka saya ada. Saat mereka perlu narasumber yang bisa saya kontak, tentu saya bantu. Atau, saat butuh moderator dengan kemampuan pas-pasan, saya siap. Tapi, asal jangan butuh koki atau penjahit deh, pasti saya nggak bisa hehehehe :D
![]() |
| Trio keren ini bukan artis loh, tapi para bapak guru yang jempolan (Foto: Azizah) |
![]() |
| Saya bersama dengan ibu-ibu sesama orangtua siswa |
Oh ya, sekilas tentang misi mereka yang dicantumkan di website yaitu mengoptimalkan perkembangan anak melalui berbagai kegiatan dan sarana yang dibutuhkan dengan mengintegrasikan nilai – nilai Islam dalam setiap aktivitas.
Sekolah ini tidak melulu mengenai materi pelajaran, namun kegiatan ekstra kurikulernya yang beragam mulai dari tari tradisional, klub menulis, vokal, futsal dan lain-lain, juga berhasil mengambil hati saya.
Untuk saya, sekolah yang selama ini ada dalam impian saya sudah berhasil saya temukan. Seakan saya menemukan yang saya tidak peroleh saat saya bersekolah dulu.
![]() |
| Kakak Aylaa di depan sekolah (dok.pribadi) |
Selamat belajar dan menimba ilmu yang seluas-luasnya ya, kakak Aylaa :)
*Tulisan ini diikutsertakan dalam "Give Away Sekolah Impian"
Monday, 25 August 2014
Asyik Manfaatkan Barang Bekas, Bonus Kedekatan dengan Anak
![]() |
| Hiasan dinding dari tangkai es krim ala Ibu dan Aylaa (dok.pribadi) |
Selamat sore teman-teman semua J
Semoga hari seninnya lancar dan bahagia, meski badan saya hari ini
sendi-sendinya berasa teriak-teriak karena kemaren saya ajak jogging, untuk pertama
kali setelah bertahun-tahun gak olahraga :D
Anyway, saya mau cerita tentang craft aja deh hari
ini. Awalnya, saya tertantang sebuah lomba. Sebenarnya itu lomba untuk Ayah dan
anak tentang memanfaatkan barang bekas. Tapi, Ayah dan anak itu anteng-anteng
aja, jadilah emaknya yang rempong. Entah kenapa saya kok semangat gini ya.
Nah akhirnya, dapatlah ide hiasan dinding dari
piring kertas bekas ulang tahun. Itu tuh piring yang biasa untuk kue ultah atau
cake kecil. Hihihi untuk mulai project itu seru deh. Saya ajak anak saya
lihat-lihat gambar, beli bahan-bahan tambahan ke toko dan akhirnya ngerjain
bareng-bareng. Meski pas sesi foto, agak-agak malu, tapi akhirnya saya
berhasil foto sesuai persyaratan yaitu foto ayah anak saat mengerjakan craft
sampai foto dengan hasil akhirnya. Legaaa..beres..kirim deh.
Lomba itu membangkitkan rasa penasaran saya. Minggu
depannya, saya coba membuat yang lain. Kali ini saya coba ngubek-ngubek bahan
bekas atau benda tidak terpakai apa yang bisa digunakan. Saya nemu pasir pantai
warna putih yang pernah saya beli untuk ngisi pot. Saya kemudian bikin pigura
foto dan hiasan dinding kamar mandi dari papan puzzle anak-anak yang tidak
dipakai. Pinggir-pinggirnya saya beri lem dan taburi pasir pantai tadi. Case
closed! *gambar menyusul bagi yang penasaran* ^_^
Tapi ternyata, kemudian terpancing tidak hanya
saya. Kemarin malam kakak, bawa kardus bekas ke hadapan saya, sambil ngomomg “Bu,
ini bisa dibikin apa ya?”. Nah lo, saya yang seharian sudah kecapean, kaget
sendiri.
Namun, saya juga tidak mau kehilangan kesempatan
menumbuhkan kreativitas kakak. Memang pasti repot, tapi jujur saja, saya sangat
menikmati.
Akhirnya saya bawa kakak browsing sana-sini tentang
craft dari barang bekas. Pandangannya tertuju pada craft dari tangkai es krim.
Kebetulan di rumah masih ada beberapa. Akhirnya, project dadakan malam itu
dimulai.
Anak saya yang pertama ini, sebenarnya sangat suka
menggambar. Tapi, jika ia sudah berhadapan dengan craft, dia sering tampak
gugup, tidak percaya diri dan takut salah. Jika sudah begini, biasanya saya
akan bilang, “Tidak ada yang salah atau benar disini, kak. Dinikmati saja
setiap prosesnya. Kan gambar yang kita lihat cuma ide awal, hasil akhirnya ya
kita buat tergantung kita”.
Memang harus saya akui, membuat craft semacam ini
membuat otak saya merasa rileks sekaligus kreatif. Mulai stres hanya ketika
adik Sandya mulai ikutan dan mengacak-acak segala sesuatu yang saya pakai.
Mulai dari ikutan menggunting, oles lem dimana-mana, dan akan makin stress kalau
kakak sudah teriak-teriak marahin adiknya.
Meski repot karena direcoki adik Sandya, taraaaaa....sebuah hiasan dinding bawah laut dari
tangkai es krim jadi deh. Kakak membuat ikan dan ubur-ubur serta rumput laut
dari kertas. Sementara saya bertugas menempelkan tangkai es krim. Senangnya
melihat binar senang di mata kakak.
Secara keseluruhan, meski sekilas tampak menyusahhkan dan kadang ribet
karena direcoki adik, saya dan kakak tidak kapok kok mengerjakan project
berikutnya. Manfaatnya, bisa memanfaatkan barang bekas sekaligus mendekatkan
hubungan saya dengan kakak. Beneran loh, dari kegiatan itu saya bisa
mengajarkan kakak kreatif, juga sabar dan menikmati tiap proses. Pokoknya seru
deh.
Jadi, project berikutnya apa lagi ya, kak?
Tuesday, 24 June 2014
Cita-cita, Milik Orangtua atau Anak?
![]() |
| Screenshot facebook page komunitas ayah edy |
Isi postingannya sebagai berikut:
MEREKA SEMUA SUDAH JELAS MAU JADI APA ?
Sudahkah anak-anak kita jelas mau jadi apa ?
Jangan hanya sekedar sekolah
Jangan hanya sekedar lulus
Jangan hanya sekedar ikut tes agar di terima di perti
Jangan hanya sekedar ikut-ikutan teman pilih jurusan di perti
TAPI HARUS JELAS DULU MAU JADI APA
baru cari jenis pendidikan yang mendukungnya secara penuh
Sebagian besar postingan dari Komunitas Ayah Edy tersebut biasanya sangat saya sukai, bahkan seringkali saya share, tapi untuk kali ini, saya sempat mengernyitkan dahi.
Jika demikian yang dilakukan orangtua, bisa-bisa orangtua yang terlalu banyak berperan dalam menentukan cita-cita anak untuk masa depan. Mengapa demikian, dan dimana salahnya? Bukankah Orangtua paling tahu yang terbaik untuk anak-anaknya?
Berkaca pada pengalaman saya, yang "diminta" oleh Papa saya untuk kuliah di Fakultas Hukum karena menurut beliau adalah pilihan terbaik, sementara minat saya sebenarnya adalah Fakultas Komunikasi. Hasilnya, saya berhasil menyelesaikan pendidikan itu, tapi apakah saya kemudian dengan senang hati berkecimpung didalamnya, itu lain cerita.
Hehe kalau teman-teman saya pastinya tahu, selama berkarir sejak akhir tahun 2002, tak pernah sekali pun saya menyentuh ranah hukum sebagai pekerjaan. Meski saya lulusan hukum, ternyata hati saya tak bisa dibohongi, untuk berkarir di bidang komunikasi, sehingga kemudian saya diterima sebagai reporter di sebuah harian ekonomi. Meski orangtua saya sempat keberatan dengan keputusan saya tersebut, tapi tak ada yang dapat menghalangi saya.
Pengalaman itu yang kemudian membuat saya berpikir lebih jauh mengenai postingan diatas. Mungkin, zaman sudah berubah dan anak-anak mampu memutuskan lebih cepat dibandingkan saya dulu? Tapi, saya kira, perkembangan anak sejak dulu hingga sekarang tak banyak berubah. Anak baru belajar berguling sekitar 3 bulan, merangkak beberapa bulan kemudian, lalu belajar berjalan sekitar usia 1 tahun,
Saya pribadi sangat khawatir orangtua terjebak dengan ambisi pribadi yang diturunkan kepada anak-anaknya.
Kekhawatiran saya juga kepada orangtua yang seakan-akan berlomba mencari sekolah-sekolah yang dianggap prestisius yang dapat memberikan pendidikan terbaik dari sisi akademik. Bukankah diatas langit ada langit? Jika satu sekolah dirasa tidak cocok oleh orangtua, kemudian anak diminta pindah, maka kepentingan siapa yang sebenarnya dibela? Cocokkah keputusan itu ditangan orangtua sepenuhnya?
Demikian pula ketika saya pening mendengar ada orangtua yang resah karena anaknya tidak bisa masuk jurusan IPA yang dianggap lebih prestisius dibanding IPS dengan alasan-alasan stereotipe yang belum tentu kebenarannya. Kalau ditanyakan pada para pekerja, saya yakin yang benar-benar bisa dimanfaatkan dari bangku sekolah hingga kuliah dalam dunia kerja itu sangatlah sedikit.
Saya pribadi memang memiliki harapan tertentu pada anak-anak saya, layaknya orangtua lain. Tapi, tak ada niat saya untuk benar-benar memutuskan kelak mereka akan bekerja menjadi apa. Saya tahu, kelebihan kakak Aylaa adalah bahasa.
Apakah lantas saya tak bangga karena ia tak jago matematika? Sama sekali tidak. Sebaliknya, saya justru sangat merasa bangga. Saya punya rencana untuk memasukkannya ke les bahasa asing yang dia sukai, yaitu bahasa Jepang selain bahasa Inggris. Tapi, dengan catatan, semua harus disetujui secara pribadi olehnya.
Yang saya pikir adalah saya membekalinya sebanyak dan semampu saya dan suami sebagai orangtua. Mengenai profesi yang kelak akan dipilihnya, saya tak akan banyak ikut campur, selama pekerjaan itu halal dan tidak bertentangan dengan agama dan keyakinan.
Hmmm..mungkin ada yang punya pendapat lain? Saya tunggu komentarnya yaa ^_^
Tuesday, 20 May 2014
Edukasi Seks Dimulai dengan Menghargai Diri Sendiri
| Buku dan majalah jadi sarana saya berbicara mengenai edukasi seks dengan Aylaa (dok.pribadi) |
Putri saya yang pertama kini duduk di kelas 2 dan berusia 7,5 tahun, sementara putra kedua saya berusia 2,5 tahun. Tak heran jika kemudian saya jadi salah satu orangtua yang ketar-ketir dengan segala pemberitaan pelecehan seksual terhadap anak-anak.
Putri saya termasuk jenis anak yang pemalu dan introvert yang biasanya menjadi sasaran empuk terhadap hal-hal yang buruk. Saat putri saya mencari Sekolah Dasar, maka itu jadi pekerjaan yang benar-benar memakan waktu dan energi, karena saya tahu, putri saya jenis pendiam yang sangat mungkin memperoleh perlakuan tidak menyenangkan dan diam saja. Misalnya, bully dari teman sekolah ataupun pelecehan lain yang rasanya tidak berani saya bayangkan.
Alhamdulillah pencarian sekolah itu berakhir bahagia. Saya menemukan sebuah sekolah yang tidak hanya mengedepankan akademik tapi juga pengembangan karakter. Tak hanya menomorsatukan tugas dan PR sekolah, namun juga perilaku siswanya. Bagi saya, berkomunikasi dengan guru merupakan satu hal penting dan itu saya temukan di sekolah itu.
Berkaitan dengan edukasi seks memang belum secara gamblang diajarkan di sekolah, tapi putri saya sudah memahami yang namanya menstruasi dari kakak kelasnya, mengapa pria dan wanita berbeda secara fisik, dan lain sebagainya. Ada suatu ketika, dua orang siswa laki-laki dan perempuan yang berdekatan secara berlebihan yang mengundang perhatian guru, setelah itu kemudian satu kelas diberikan pengertian dalam pelajaran akhlak.
Kekhawatiran saya terhadap putra kedua saya yang 2,5 tahun pun tentu tak jauh berbeda. Apalagi saya mendengar dan membaca berita bahwa korban pelecehan seksual kini juga banyak dialami anak-anak laki-laki, bahkan yang masih berusia balita. Astagfirullah >.< Meski putra saya tergolong ekstrovert dan mudah bergaul, justru saya merasa harus meningkatkan kewaspadaan. Apalagi, jika ia sudah masuk sekolah nanti.
| Sandya bersama dengan salah satu temannya di rumah (dok.pribadi) |
Tak dipungkiri, sebagian besar anak korban pelecehan seksual itu tidak memahami bahwa perlakuan yang mereka terima tidak pantas dan tidak seharusnya. Atau, mereka justru takut disalahkan dan kemudian memendam rasa sakit dan frustasi yang dialaminya. Biasanya yang diarah adalah anak-anak yang tampak pendiam, introvert dan tak banyak bicara.
Untuk itulah saya merasa harus memberikan perhatian ekstra terhadap putri saya. Bagaimana caranya? Salah satu yang saya tekankan dalam pembelajaran edukasi seks dimulai dengan menghargai diri sendiri.
Memang awalnya hal ini saya lakukan untuk memupuk percaya diri. Saya terangkan bahwa setiap orang unik dan tidak apa-apa berbeda dengan orang lain. Jika temannya bercita-cita sebagai dokter, maka ia yang senang menari dan ingin menjadi penari, adalah hal yang lumrah. Jika sahabatnya, pintar pelajaran matematika, sementara putri saya selalu menuai pujian guru saat bahasa Inggris, maka itulah perbedaan kemampuan tiap orang.
Saat ia sudah mampu menghargai diri dengan segala perbedaan dan keistimewaan yang dimiliki, kemudian saya harapkan percaya dirinya tumbuh dan semakin menghargai diri sendiri.
Kemudian, saya meneruskan dengan mengajarkan bahwa tubuhnya adalah miliknya yang tidak boleh disentuh oleh sembarang orang. Bahkan saat ia sudah menginjak usia tertentu, orang-orang terdekatnya tak boleh lagi menyentuh di bagian vital. Ketika ada yang mencoba melakukannya, maka ia mempunyai hak untuk menolak, menghindari dan sedapat mungkin berlari menjauh dengan cara yang dapat dilakukan mulai dari berteriak, memukul dan sebagainya.
Biasanya saya berbicara mengenai hal tersebut di kala senggang ataupun saat saya sedang membantunya mencuci rambut. Atau, melalui cerita sebelum tidur, juga saat ia sedang membaca buku ataupun majalah Princess kesukaannya.
Satu hal lagi, saya dan suami mencoba menjadi salah satu tempat curhat anak-anak. Saat mereka merasa sedih ataupun senang, kami berdua berusaha menjadi tempat mereka bercerita.
Semoga semakin tingginya kesadaran anak-anak dan pengawasan orangtua akan mempersempit ruang gerak untuk para pelaku pelecehan anak dan tak perlu ada lagi anak-anak yang menjadi korban. Ya Allah jaga dan lindungilah anak-anak kami. Amin ya robbal alamiin.
*Artikel ini diikutsertakan dalam "Give Away 10 Hari At-Thahirah Blog Contest"
Label:
anak,
anak ekstrovert,
anak introvert,
anak pendiam,
anak sulit bergaul,
edukasi seks,
korban pelecehan,
mendidik anak,
menghargai diri,
parenting,
pelecehan seks,
pendidikan anak,
sahabat anak
Subscribe to:
Posts (Atom)










%2BELC%2B-Birthday%2B40th%2B-%2B01112014%2B-%2B291.jpg)

%2BELC%2B-Birthday%2B40th%2B-%2B01112014%2B-%2B209.jpg)
%2BELC%2B-Birthday%2B40th%2B-%2B01112014%2B-%2B304.jpg)
%2BELC%2B-Birthday%2B40th%2B-%2B01112014%2B-%2B342.jpg)

































