Pages

Showing posts with label suami istri. Show all posts
Showing posts with label suami istri. Show all posts

Monday, 12 December 2016

Jatuh Cinta Lagi Setelah Menikah, Apa yang Harus Dilakukan?


Setiap kali melihat postingan di media sosial yang merayakan ulangtahun pernikahan, saya ikut terharu. Baru saja saya melihat seorang teman yang mengucapkan Happy Anniversary ke-40 untuk kedua orangtuanya. Alhamdulillah orangtua saya saat ini menapaki pernikahan 41 tahun dan tahun depan insya Allah mencapai 42 tahun pernikahan. Semoga sehat dan rukun ya Ma, Pa.

Pernikahan Mama dan Papa saya memang tidak selalu mulus. Ada kelok ataupun turunan terjal yang terbilang tajam. Dari mereka berdua saya memahami pentingnya komitmen dan kepercayaan, tidak hanya cinta.

Meski pernah berbagi dalam artikel  "Bagaimana Jika Jatuh Cinta Lagi Setelah Menikah?" saya masih merasa perlu menambahkan lagi dengan postingan ini. Apa yang harus dilakukan jika suami atau istri jatuh cinta lagi dengan orang lain?

Semoga sehat dan langgeng terus ya Ma, Pa (dok.pribadi)

Tuesday, 3 May 2016

Bagaimana Jika Jatuh Cinta Lagi Setelah Menikah?

"Rin, pernah ngalamin gak jatuh cinta lagi setelah nikah?" Sebuah pertanyaan yang bikin saya kaget diajukan seorang teman baru-baru ini. Pertanyaan tersebut membuat saya gelagapan. Apalagi ketika disusul pertanyaan, "Suamimu kira-kira pernah jatuh cinta lagi gak?

Dua pertanyaan mendadak itu membuat saya berpikir sebelum menjawab. Hmmmmm....


Jatuh cinta lagi setelah menikah (dok.pribadi) 


Saturday, 21 February 2015

Bagaimana Jika Pendapatan Istri Lebih Besar?

Halo teman-teman semua, selamat berakhir pekan ya. Semoga sedang berkumpul dengan keluarga dalam keadaan sehat dan bahagia semua, meski sedang tanggal tua nih :D Hehe ngomong2 soal tanggal tua, alias masa2 menunggu gajian, saya jadi ingin bahas tentang kemungkinan jika pendapatan istri lebih besar dari suami? Kira-kira gimana ya?

Dulu saya sempat berpikir, saya tidak ingin mengarah pada sebuah profesi yang sebenarnya bisa saya lakoni setelah saya lulus kuliah. Profesi yang menuntut kerja gila2an, namun memiliki kemungkinan pendapatan yang lumayan besar.

Masalah keuangan merupakan hal sensitif pada suami istri (dok.pribadi)

Friday, 5 December 2014

Badai Itu Bernama Orang Ketiga

Hai, selamat menjelang akhir pekan teman-teman.

Alhamdulillah hari ini saya berkesempatan bersilaturahmi dengan seorang teman lama. Lebih dari lima tahun tak bertemu, waktu sekitar satu jam rasanya tak cukup.

Hehe kalo ini tangan saya dan suami ^^ (dok.pribadi)
Banyak cerita yang keluar dari mulut teman saya yang membuat saya kaget. Ia mengaku mendapat beberapa cobaan dalam hidup berkeluarga beberapa tahun terakhir.

Yang pertama, mengenai permasalahan anaknya yang kurang disikapi dengan baik di sekolahnya.  Meski perlu perjuangan dari teman saya, Alhamdulillah dapat terselesaikan.

Yang kemudian membuat saya sangat terkejut adalah mengenai kisah ketidaksetiaan suaminya. Saya memang hanya mengenal suaminya melalui cerita saja. Dulu saya menganggap bahwa mereka adalah salah satu pasangan yang sempurna dengan anak-anak yang luar biasa.

Berangkat dari kondisi yang perlu diperjuangkan berdua, hingga akhirnya terpenuhi secara materi, lebih dari cukup. Setidaknya, begitu pandangan saya.

Kisah teman saya mengenai ketidaksetiaan suaminya sungguh mengejutkan saya. Apalagi, orang ketiga dalam rumah tangga mereka bukan orang asing bagi teman saya. Istilahnya, mereka bertiga sudah kenal lama sebelumnya.

Dari ceritanya, saya mendapat sedikit gambaran bahwa hubungan itu awalnya terjalin lantaran curhat. Suami orang ketiga itu terlebih dulu punya hubungan dengan perempuan lain. Hal itulah yang kemudian menjadi curhatnya kepada suami teman saya. 

Namun, akhirnya, keduanya yang sudah sama-sama menikah itu lama kelamaan menjadi dekat. Hubungan mereka tak sebentar, hampir empat tahun dan sudah sangat “serius”! *you know what i mean*

Teman saya mengaku sampai-sampai berat badannya turun sangat banyak karena tak ingin makan. Bahkan terpikir untuk bunuh diri :'( Masalah seakan silih berganti menghampirinya. Ikut perih rasanya hati saya mendengar hal itu.

Kami terus mengobrol, bukan karena saya ingin tahu atau usil. Saya ingin mencoba memahami sekaligus belajar dari kejadian yang menimpa teman saya itu. Sekaligus memuji kekuatannya sebagai ibu dan istri.

Menjelang akhir pembicaraan karena saya harus kembali ngantor, teman saya menunjukkan foto orang ketiga tersebut. Astagfirullah, bergetar hati saya begitu mengetahui tampilannya. Seorang wanita cantik berkerudung panjang. Menurut teman saya, wanita tersebut sudah sejak SMP menggunakan jilbab, shalat hampir selalu tepat waktu dan pandai mengaji.

Sungguh bukan gambaran wanita ketiga yang ada di pikiran saya sebelumnya :((
   
Dari kejadian yang menimpa teman saya, saya menjadi berpikir, sebagai suami istri, janganlah saling curhat dengan orang lain yang bukan pasangan kita. Sebab, curhat semacam itu lama kelamaan dapat mendekatkan diri dengan orang tersebut. Padahal, seharusnya istri atau suami merupakan orang terdekat kita.

Saya juga mendapat pelajaran, jangan pernah menilai orang hanya dari luarnya saja. Sebab tampilan luar, sangat bisa menipu kita.

Semoga teman saya diberi kekuatan dan rumah tangga mereka kembali diberikan ridho Allah SWT untuk kembali rukun.  Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk menahan diri dari hal-hal yang tercela dan tak terpuji. Amin ya robbal alamiin. 

Thursday, 7 November 2013

Sedihnyaaa Ditinggal Liburan :(

Salah satu kenyataan yang suka bikin gak enak hati saat jadi ibu rumah tangga yang saya alami adalah saat suami ke luar kota. Kalau urusan kerjaan sih saya coba ngerti, tapi sebelnya itu kantor suami saya sering banget ngadain liburan bareng. Setahun itu gak kurang dari tiga kali. Nanti ada liburan per bagian, divisi, ntar ada lagi liburan staf yang selantai...hikss :(

Jujur aja nih ya, kalo yang bakal ngerti perasaan saya itu terutama ibu2 yang pernah bekerja kemudian menjelma jadi ibu rumah tangga. Tapi, tergantung juga sih, kalo mereka masih punya waktu untuk "me time" berupa jalan2 sih beda juga ya.

Kenapa sih bete gitu rin? Hadeeuuh kalo ada yang nanya gitu, rasanya pengen tak gerus...hehehe tapi ini karena yg nanya diri sendiri, mari kita jawab. Pertama, seperti komentar di status Facebook, adalah iri. Ya iya lah, siapa juga yang gak ngiri sama liburan dibayarin. Saya juga, apalagi kalo lagi rempong sama anak2 dan urusan rumah, bayangan liburan, pantai, pegunungan, vila dsb digunakan untuk menenangkan diri.

Kedua, alasan saya bete adalah bikin saya teringat jaman saya jadi wartawan yang sering jalan2 dulu. Ya namanya jalan2 biaya sendiri kan gak bisa sesering jaman liputan dulu hiks. Apalagi kalo inget.....aaah sudahlah -__-

Ketiga, karena waktu saya untuk "me time" lebih banyak nulis karena anak2 main sama ayahnya jadi angus kalo gini. Gimana gak, kalo gak ada Ayahnya, siapa lagi yang ditempelin anak2 selain ibu. Kan biasanya Senin-Jumat itu semua sama ibu, nah Sabtu-minggu untuk main sama ayahnya gitu.

Tapi, saya juga jarang banget sih bisa "me time" keluar rumah lama. Pernah ketemuan sama temen SMA, gak sampe 2 jam, itu misscall udah lebih dari 5 kali. Coba bayangkan kalo Ibu liburan selama weekend, berapa misscall yang akan diperoleh? Silakan dikalikan..heheh kok jadi soal matematika gini :D

Anyway, daripada bete soal liburan ini, saya share aja deh foto-foto saya waktu dulu dapat pelatihan dan sempet liburan ke Eropa.*senyuum rin..senyuuuum*

Missed Berlin sooo much (dok.pribadi)

 
Saya di Paris. Kapan ya bisa balik lagi (dok.pribadi)
Venice..I loooove this city. Pengen kesana lagiiii (dok.pribadi)

Thursday, 25 April 2013

Cinta Dalam Sebungkus Lumpia Basah


Sumber foto: jejakrasa.blogspot.com

Selamat soreee..Assalamualaikum semua. Apa kabar? Semoga kita sehat sentosa dan dalam lindungan Allah SWT.

Hehe apa pula judul tulisan saya hari ini ya? Kalo Garin Nugroho pernah bikin film Cinta dalam Sepotong Roti dan penulis muda, Raditya Dika punya film Cinta Dalam Kardus, nah yang saya alami ini beda lagi.

Jangan2 ada komen, idiih ganjen amat sih ibu2 ngomongin cinta2an. Eitsss jangan salah, meski udah suami istri, cinta itu harus tetap disirami, semacam tanaman gitu hehehe :)

Trus apa hubungannya sih sama lumpia basah, ada juga keujanan yang basah deh :D Sabar..sabar..mari kita mulai. Ini postingan kepanjangan intronya yah.

Ceritanya begini, saya dan suami kan udah menikah hampir 8 tahun, ditambah 4 tahun kenal (malu ah bilang pacaran, pan gak boleh pacaran kata ustad Yusuf Mansur). Jadiiii, total hampir 12 tahun deh sejak pertama kenal. Suami saya itu jauuuuh dari jenis romantis, yang suka ngasih kejutan bunga atau coklat. Apalagi bikin puisi dan bernyanyi romantis pake gitar di depan jendela hihihi, pokoknya tipe pekerja keras dan gak ngerti gombal2an, meski suka becanda sesekali juga.

Nah menjelang ulang tahun saya ke ... (maaf kena sensor ;) pada awal April kemaren, tiba-tiba suami ngajak liburan ke Puncak. Oww oww romantis dong nih. Taaapiiii, jangan salah duga pemirsaaa, liburan ini bukan tipe yang begitu. Liburan kami ke Puncak adalah bareng temen2 tim kantor suami, lengkap dengan membawa keluarga masing-masing. Termasuk saya bawa dua anak dan Papa Mama. Tapi buat jenis manusia seperti suami saya, kejutan seperti itu udah lumayaaaan banget deh :) Makasih yaa.

Jadi dimana kisah lumpia basahnya? beloooom..ini masih intronya hahahaa

Suami saya juga punya kebiasaan ngambil cuti panjang sekitar 2 minggu pas bulan April yaitu menjelang, saat dan setelah saya ultah. Kalo dulu si Kakak masih TK sih, kita bisa jalan bebas2 aja, tapi sekarang kan Kakak udah SD, jadi mana bisa ijin sesuka2 hati. Jadilah sisa cuti suami, menggantikan saya yang anter jemput Kakak ke sekolah. Nah cerita-ceritanya, berhubung suami saya tukang jajan dan pemilih makanan alias picky eater, tiap kali selesai nganter atau jemput Kakak sekolah, suami jalan2 cari makanan.

Pada suatu hari, saya sempet terucap, "Yah, lumpia basah yang di depan SMP itu kayanya enak ya,". Sebenernya lokasi SMP itu gak deket2 amat sih sama sekolah Kakak, agak beda jurusan malah. Waktu itu kita kebetulan lewat. Saya udah gitu lupa deh pernah ngomong gitu.

Suatu pagi, suami saya pamit mau ada urusan setelah nganter Kakak ke sekolah. Kebetulan memang rumah mertua saya gak terlalu jauh. Jadi suami mau nengok orangtuanya. Trus saya sibuk deh sama si Adek,mulai dari mandiin, pake baju, makan dll. Sampe akhirnya Adek bobo lagi. Suami belum pulang. Hmmm telpon gak telpon gak, iih saya kan gak mau disebut istri posesip, itu tuuuh yang suka nelp2 mulu kalo suami pergi *buang muka* *Eh jangan ada yg ambil ya, muka saya kan cuma satu* :D

Tunggu punya tunggu, suami pun pulang. Tapi, bungkusan apa itu? Tadaaa..ternyata itu adalah lumpia basah yang saya pengen yang sempat lontarkan beberapa hari lalu. Sumpaahh, lumpia itu rasanya suangaaat uenaaaaaak pagi menjelang siang itu. Mungkin karena efek laper, terkejut juga karena merasa senang diperhatikan suami.

Ya seperti itulah suami saya, memang tidak suka menggombal dan berkata-kata romantis. Dibalik pribadi pekerja keras, Ayah yang sangat baik kepada anak-anaknya, sekaligus putra yang sangat hormat kepada orangtuanya, dia adalah suami yang sangat pengertian, mendukung sekaligus suka memberi kejutan sederhana, namun sangat menyenangkan.

Seperti siang itu, cintanya tampak dalam sebuah lumpia basah yang dibalut oleh daun pisang serta dilengkapi sepasang sumpit. Lumpia dengan harga Rp 5 ribu itu nilainya beratus-ratus kali lipat di mata saya siang itu, karena lengkap dengan balutan perhatian dan kasih sayang suami. Terimakasih yaa.

Demikiaan kisah saya sore ini, moga2 dibaca sampai akhir hehehe. Selamat sore, selamat menikmati camilan sore :) 



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...