Pages

Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Thursday, 30 June 2016

Buku Kisah Hebat Nabi Muhammad dan Kisah Ajaib Lainnya Menemani Selama Ramadan

Putri saya sangat menyukai membaca.  Tak hanya buku, segala hal dia baca termasuk koran, majalah atau apa saja yang bisa dibaca. Itu sebabnya saat saya mengajaknya ke acara peluncuran buku anak, dia senang sekali. Buku ini juga tergolong istimewa. Diadakan menjelang bulan Ramadan, buku Kisah Hebat Nabi Muhammad Dan Kisah Ajaib Lainnya, benar-benar mencuri perhatian anak saya. Mau tahu kenapa?

Membaca buku bersama menjelang tidur bersama anak-anak (dok.pribadi)


Monday, 18 January 2016

Menikmati Episode Hujan, Mengarungi Samudra Kata Sarat Makna

Buku berjudul "Episode Hujan" ini menjadi sangat istimewa bagi saya, karena saya mengenal penulisnya. Sekilas saya mengetahui naskah ini. Yang setia menunggu penerbit yang tepat untuknya. Kesabaran itu akhirnya berbuah manis. Izinkan saya mengucapkan selamat untuk sang penulis, Lucia Priandarini.

Ia adalah sosok mungil berwajah manis, yang saya sapa Rini. Duduk disamping saya dalam kurun waktu beberapa bulan di kantor. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Malang. Namun, waktu tersebut cukup untuk saya mengenal pemikiran dan kegelisahannya. Dua modal penting yang sangat dibutuhkan seorang penulis. Tak heran, ketika Episode Hujan diterbitkan, saya termasuk yang segera memesan buku ini.

Episode Hujan yang sarat kalimat segar dan inspiratif (dok.pribadi)


Wednesday, 26 March 2014

Haruskah Self Publishing?

Buku-buku serius ini kebetulan jadi objek foto saya yang galau.
Percayalah ini bukan buku bacaan saya sebenarnya :D (dok.pribadi)
Assalamualaikum...halo-haloo teman-teman semuanya! Semoga kabarnya sehat dan baik-baik semua ya. Aamiin.

Baru-baru ini saya mendapat kabar bahwa naskah saya ditolak. Sedih? pastinya lah. Putus asa? No way! Trus apa masalahnya?

Sebenernya saya sih santai-santai aja sama naskah itu, tapi kok ya setiap hari buka facebook kok semakin banyak saya menemukan "calon-calon pembaca" yang sekiranya mendapat manfaat dari naskah saya itu. Walaupun saya bukan penulis buku kawakan, saya meyakini tulisan saya setidaknya dapat menginspirasi para calon pembaca tersebut.

Sebagai gambaran, naskah saya itu tak jauh bercerita tentang jungkir balik saya dari seorang working mother yang bertransformasi menjadi stay at home mom. Tentu saja, tidak benar-benar plek sama dengan isi blog, karena juga harus menyesuaikan dengan bahasa buku dan tentunya saya banyak tambahkan berbagai hal yang sekiranya memperkaya naskah.

Alasan dari penerbit yang menolak naskah saya adalah sebagai berikut:

"Naskah ini kurang informatif untuk diterbitkan sebagai buku nonfiksi, padahal temanya menarik."

Yang kemudian menggelitik saya adalah haruskah saya menerbitkannya menjadi buku self publishing dengan berbagai keterbatasan yang saya miliki? Ataukah saya harus mengirimkannya kembali ke penerbit lain yang sekiranya membutuhkan beberapa bulan lagi? Padahal saya gemas untuk segera bisa berbagi dengan sesama perempuan mengenai pengalaman saya dalam naskah.

Sejujurnya, keinginan menerbitkan naskah ini tak melulu saya pikirkan dari segi materi. Namun lebih kepada keinginan saya untuk berbagi.

Jadi, bagaimana keputusannya? Hehehe mungkin bukan rumput yang bergoyang yang tahu jawabannya, tapi sepertinya saya masih harus menunggu kata hati ini lebih lanjut.

Selamat santap siang dan meneruskan aktivitas, terimakasih sudah mampir ^_^

Wednesday, 22 January 2014

Surat untuk Stiletto Book

Dear Stiletto Book
di
Tempat

Assalamualaikum wr.wb.


Semoga semua yang ada di Stiletto Book dalam keadaan sehat wal'afiat, tanpa kurang sesuatu apapun. Juga bebas banjir dan bencana-bencana lainnya. Aamiin.

Stilo, tahu lirik lagu "I knew I love you before I met you" dari Savage Garden? Nah, itu mungkin ungkapan yang paling tepat mewakili perasaanku terhadap Stilo. Loh kok gitu?

Aku ngaku deh, selama ini belum pernah baca buku Stiletto books, tapi membaca resensi-resensi bukunya mah lebih dari sering. Rasanya sreg banget sama hampir semua buku-bukunya yang aku bangetttt!

Itu sebabnya, saat aku merasa punya konsep naskah buku, aku pede aja ngajuin ke Stilo. Hehehe over pede ya padahal baca bukunya aja belom pernah. Tapi, aku yakin, buku Stillo pasti nggak ada yang mengecewakan. *sumpah deh, tapi nggak pake pocong*
 
Tapi tahu nggak Stilo, ini bisa dibilang tulisan pertamaku lagi di bulan Januari. Cek deh, isi blog terakhirku tanggal 3 Januari 2014. Bukan karena males. Tapi karena sejak mertuaku meninggal dunia tanggal 7 Januari lalu, kok rasanya keinginan menulis turun drastis.

Entah mengapa. Ternyata pengaruhnya lebih dari yang aku kira, mungkin karena mendadak juga kali ya. Aku menulis yang bener-bener menjadi tugasku yang tidak bisa dibatalkan serta update status di Facebook beberapa kali, tapi di luar itu, rasanya kok nggak bisa.

Sampai kemarin, aku membaca pengumuman soal menulis surat untuk Stilo. Kok rasanya pengen nulis lagi ya. Kalau kata orang Sunda mah muncul yang namanya "kereteg hate",  artinya kurang lebih perasaan yang timbul di dalam hati. Mohon koreksi kalo salah ya, maklum cuma numpang lahir di tanah Sunda ^_^

Beneran, rasanya ada dorongan dalam hati untuk menulis surat ini untuk Stilo. Rasa yang tak bisa dipungkiri atau dibendung...*tsaaaaah* Meski sebenernya kepala agak pusing, hidung mampet dan badan meriang akibat kehujanan terus beberapa hari. Eh iya, kata Mama sih kalo surat nggak boleh banyak cerita yang sedih-sedih, harus lebih banyak cerita menyenangkan.

Oh ya, kalo dari sisi interaksi dengan pembaca, Stilo bisa dibilang salah satu yang terbaik deh. Paling cepat tanggap dan asik, terutama admin Twitter. Sampe tengah malem aja, masih sering dijawab itu pertanyaan yang masuk *acung jempol*

Tiga buku terbitan Stiletto Book yang saya pengen seperti yang dimuat dalam foto adalah A Tea Cup For Writer yang bisa jadi disebut sebagai salah satu buku “wajib” untuk para penulis. Buku non fiksi lain yang bikin aku penasaran adalah Don’t Worry to be a Mommy. Dari resensi yang aku baca sih, ini juga salah satu buku yang harus dimiliki para ibu setanah air.

Nah kalo untuk yang buku fiksi, Geek in High Heels membuat aku pengen buru-buru baca. Meski novel yang lain juga nggak kalah menarik, tapi judulnya ini aja sudah bikin aku loncat ke toko buku hehehe *lebay*

Asal Stilo tahu aja, aku nulis daftar tiga buku yang diinginkan ini setelah menyortir berjam-jam, lantaran banyak sebenernya yang mau aku pilih. Coba kalo nggak dibatesin, bisa-bisa daftarnya nyaingin daftar belanja bulanan ibu-ibu :D
 
Tapi, aku punya masukan nih. Coba deh Stilo pikir, anak sekolah bagi raport aja setahun dua kali, di perusahaan ada yang namanya laporan tiap kwartal, tapi kok Stilo bikin paket diskon buku cuma pas akhir tahun huhuhu.. :( Semoga dengan ini, paket diskon buku bakal lebih sering diadain. Aamiin.

Akhir kata, semoga Stiletto Book tambah sukses menghadirkan penulis-penulis perempuan yang hebat untuk para pembaca perempuan yang tak kalah luar biasa. Aku harap hubunganku dengan Stilo bisa terus berlanjut, baik sebagai pembaca, syukur-syukur bisa dipercaya sebagai penulis.

Keep up the good work ladies!


Wassalamu'alaikum wr.wb.

Ririn Sjafriani
riens1979@yahoo.com

PS: Surat ini sungguh dibuat berdasarkan keinginan dari lubuk hati yang terdalam, dan berusaha keras tak terlihat mengiba.  

Stilooo, aku mauuuu bukuuunyaaaaa doooonk!!!!! ^_^

*Tulisan ini diikutsertakan dalam WRITING CONTEST: Surat untuk Stiletto Book

Aku dan tiga buku impian dari Stiletto Book















Tuesday, 17 September 2013

Berapa Waktu yang Dibutuhkan untuk jadi Ahli?


sumber gambar: blog.garanimals.com

Selamat pagi. Assalamualaikum. Seneng deh banyak temen-temen yang berkunjung ke sini sejak kemarin. Makasih yaa.

Nah, untuk yang bertanya soal bagaimana cara saya menulis ataupun ingin belajar menulis dari saya, bukannya saya gak ingin ngajarin atau bagi-bagi ilmu. Tapi, jujur aja saya belum terlalu paham melakukannya. Kenapa? Karena saya adalah salah seorang penulis yang ditempa oleh latihan, tanpa terlalu banyak teori.

Maklum saya memulai karir menulis dengan menulis di diary, gak pernah berani ikut nulis di mading sekolah sampe akhirnya berani ikut majalah kampus, yang justru disuruh nyari dana buat nerbitin (hiiks), dilarang kuliah di Fakultas Komunikasi dan diterima di Fakultas Hukum Universitas negeri di Bandung, sampe akhirnya diterima jadi wartawan dan berlatih menulis sendiri. Intinya, kemampuan saya menulis ya karena menulis.

Hal ini mengingatkan saya pada salah satu buku yang pernah saya baca, judulnya "DNA Sukses Mulia" yang ditulis oleh praktisi dari Kubik Leadership. Dalam salah satu topik pembahasan, mereka menulis tentang bagaimana cara menjadi seorang ahli. Berikut kutipannya: 

"Pada tahun 1993, tiga orang pakar bernama K. Anders Ericsson, Ralf Th. Krampe, dan Clemens Tesch-Romer melakukan penelitian di Berlin Academy of Music. Mereka berusaha menemukan jawaban, bagaimana seseorang bisa menjadi pakar dalam bidangnya atau dengan kata lain, menjadi seorang expert.
 

Dibantu seorang profesor, mereka mengelompokkan mahasiswa tingkat akhir ke dalam tiga kategori: 1) calon guru musik 2) calon pemusik profesional 3) calon maestro musik dunia. Pertanyaan mereka adalah: Semua mahasiswa yang diterima dan belajar di akademi tersebut, pastilah orang-orang berbakat. Lalu kenapa akhirnya ‘nasib’ mereka berbeda? Ada yang sekadar menjadi musisi biasa, dan ada yang bisa menjadi expert. 

Untuk memperkuat hasilnya, mereka ulang penelitiannya dengan model pengkategorian yang sama, namun menggunakan sample profesi yang beragam, mulai dari musisi, pemain catur, sampai dengan olahragawan. Akhirnya, mereka berhasil membuat kesimpulan luar biasa. 

Ternyata yang membedakan ketiga kategori itu adalah berapa lama waktu yang telah mereka alokasikan untuk berlatih menjadi yang terbaik dalam profesi pilihannya. Mereka yang berhasil menjadi expert telah mengalokasikan waktu untuk berlatih selama 10,000 jam. Kesimpulan itu, kini dikenal sebagai 10.000 hours rule (peraturan 10.000 jam). 

Banyaknya waktu yang diinvestasikan untuk berlatih, dan cara berlatihnya, akan sangat menentukan hasilnya. Apakah Anda bisa menjadi yang terbaik, atau Anda hanya menjadi orang biasa.  Yakinlah, tidak ada jalan pintas untuk bisa menjadi seorang expert."

Peraturan 10.000 jam itu dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell dalam buku The Outliers. Namun, sebenarnya berapa lama waktu 10.000 jam itu? Taruhlah, kita menyisihkan waktu 3 jam setiap hari, berarti dibutuhkan 10 tahun untuk bisa menjadi seorang ahli.  Galdwell dalam bukunya lebih lanjut mencontohkan, The Beatles, band populer asal Inggris yang membuktikan ‘kebenaran’ peraturan 10,000 jam.

The Beatles didirikan tahun 1957, ketika Paul McCartney bertemu John Lenon. Mereka kemudian pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1963, yang kemudian terkenal dengan istilah The British Invasion. Tahun 1967, The Beatless melahirkan sebuah album yang menjadikan mereka sebagai legenda yang mendunia. Album itulah yang membuat mereka diakui sebagai orang-orang terbaik di bidang musik, atau menjadi ahli Ternyata, The Beatless butuh 10 tahun untuk bisa sukses.

Kemudian, contoh kedua yang dikemukakan Galdwell adalah Bill Gates. Ia mulai menekuni programming komputer di tahun 1968 ketika dia berumur 13 tahun. Hanya dalam waktu 7 tahun yaitu pada usia 20 tahun, Gates mendirikan Microsoft yang tidak lama kemudian dipercaya sebuah perusahaan raksasa, untuk membuat sistem operasi IBM PC sebagai produk komputernya yang terbaru saat itu. Hal itu menandakan bahwa Gates sudah dianggap sebagai ahli.

Tapi mengapa "hanya" 7 tahun, bukan 10 tahun? Sebab, Bill Gates menginvestasikan waktu untuk berlatih lebih dari 3 jam sehari. Di dalam tulisan autobiografi dikatakan Gates biasa berlatih 7-8 jam sehari, bahkan tidur di lab komputer. Tak heran, ketika usianya baru 20 tahun, dia sudah menyisihkan waktunya lebih dari 10.000 jam.

Jadi, tidak bingung  lagi kan, mengapa tulisan yang berasal dari seorang penulis dengan jam terbang 5 tahun, berbeda dengan yang 10 tahun. Atau, alasan mengapa meskipun Mama saya yang sudah memasak di dapur puluhan tahun, meski "hanya" membuat tempe goreng tapi rasanya jauh lebih lezat dibandingkan ayam goreng bikinan saya yang kurang akrab dengan dapur *uhuk curcol mak*

Kalau saya boleh menyimpulkan, jika teman-teman berniat menjadi ahli apapun, mulailah berlatih dari sekarang. Suka menulis, mulailah menyisihkan waktu lebih banyak untuk menulis. Gemar masak? Perbanyaklah memasak dan jangan segan dan sungkan untuk kirim-kirim ke rumah saya hehehehe :D






Tuesday, 1 January 2013

Wahai Penulis, tugasmu menulis (bukan mengedit :)

Assalamualaikum. Ahayy apa kabarnya 30 Days Project yang sudah sayah umumkan ke seluruh penjuru nusantara :D Alhamdulillah di hari ke-3 ini sudah hampir 12 halaman, eeh 11 lebih dikit sih :)

Tapi selama menulis, saya memperoleh sebuah renungan (ini makanya nulisnya dikit, kebanyakan merenung soalnya hihiihi asik2 ngeles ajaah). Ternyata, yang sering jd ganjelan para penulis yang juga terbiasa berperan sebagai editor adalah sibuk membuat editan..looh looh.

Thursday, 22 November 2012

Tambah Umur Tambah Pintar?

Assalamualaikum wr. wb. Selamaaat malaam *sambil dinyanyiin ala Evi Tamala* :) Malam-malam bisa nulis blog, alhamdulillah bener pemiirsa.

Baiklah, kembali ke judul yang sengaja saya buat dengan tanda tanya. Apa iya sih tambah umur kita tambah pintar? Saya jd ingat idiom yang sering saya baca (atau dengar ya), tua itu pasti tapi dewasa itu pilihan hehehe.

Nah, kemaren saya berkontemplasi (cieee bahasanya gaya, padahal gak ngerti artinya), yang intinya, saya kok gak ngerasa ilmu saya bertambah selama beberapa tahun belakangan, terutama setelah menjadi full time mother yang bahasa kerennya alias ibu rumah tangga. Padahal sebenernya kalau dipikir2 lagi sih, ilmu saya nambah cuma beda fokusnya aja.

Misalnya, dulu waktu mulai kerja, saya belajar nulis berita, wawancara dll, mulai dari yg gak ngerti sama sekali, sampe dipercaya ngedit tulisan orang. Sekarang, belajarnya beda fokus. Sekitar 3 tahun yg lalu, saya boro2 ngerti yg namanya bikin ayam lapis tepung, sekarang alhamdulillah udah lumayan karena harus bawain bekal makan siang untuk si kakak (kesannya terpaksa gitu, aaah gak kok, dikit sih, dikiiiit aja ;)

Kalo saya inget2 lagi, duluuuuu waktu jaman SMU (beneran deh waktu jaman saya disebutnya bukan SMA), pelajaran matematika itu rasanya cihuuuuy benerrrr susahnya. Tapi, waktu saya kelas 2, pas beres2 buku kelas 1, jd mikir loh kan ini sebenernya gampang. Jadi sebenernya siapa yg salah? Ya tetep pelajarannya *teteeeeup ogah disalahinn hahahahaa*

Dari situ saya berkesimpulan, sebenernya saat ilmu kita bertambah, maka hal yang awalnya terasa sulit, jd lebih mudah. dan ilmu itu diperoleh sejalan dengan bertambahnya usia. Jadi harusnya sih memang tambah umur ya tambah pintar, harusnya siiiiiih ^.^

Tapiiii, defisini pintarnya itu yang harus diperluas, mungkin lebih bijak atau bisa juga disebut punya pandangan yang lebih luas untuk tepatnya kali yaa.

Aaaaah saya jadi inget naskah buku saya yang gak selesai-selesai 2-3 tahun kemaren, dan beberapa rencana yang belum terlaksana. Kalau saya lihat2 sekarang, kali2 aja otak saya udah lebih banyak isinya dibanding tahun2 kemaren, meskipun naskah saya sama sekali gak ada hubungannya dengan menggoreng ayam dan mengganti popok sebagai keahlian baru saya ;p

Selamaaaat malaaam, met istirahat semuaaaa :)

Friday, 6 July 2012

Free Flow Writing :)

Assalamualaikum. Selamat siang. Senangnya bisa kembali menulis. Untuk saya, menulis adalah ruang paling menyenangkan untuk berbagi kepada orang lain. Kesan yang dirasakan berbeda ketika saya berbagi melalui percakapan.

Trus apalagi nih Free flow writing? Hehehe ini adalah istilah saya yang ingin menulis dengan bebas dan mengalir (free flow). Saya sendiri adalah mantan pekerja media yang terbiasa memiliki pakem2 tertentu dalam menulis. Nyatanya, tidak semua dunia penulisan membutuhkan hal semacam itu. Misalnya, saat membuat buku. Apalagi untuk buku yang nge-pop. Bahasa yang akrab digunakan sehari-hari, sangat pas digunakan untuk penulisan tersebut.

Intinya, terbiasa menulis dengan pakem2 formal membuat saya "terbelenggu" dan berpikir terlalu rumit saat menulis. Saya pernah membuat blog mengenai kesehatan sebelumnya, tapi ternyata tidak dapat saya teruskan karena penulisannya membutuhkan riset dan editing bahasa yang lumayan memakan waktu.

Intinya, saya ingin menyebarkan ke masyarakat luas (cieeee gayanya) bahwa menulis itu mudah. Bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan dengan gaya bahasa masing-masing. Tidak ada kata benar atau salah untuk gaya bahasa setiap orang. Bisa saja dari sisi bahasa, sebuah buku populer sangatlah tidak memenuhi syarat, tapi bagaimana bisa dipersalahkan jika buku itu ternyata laku dan mendapat tempat di hati pembacanya.

Yang penting untuk saya adalah menulis harus dimulai dari hati. Kalimat yang paling tepat untuk mengutarakan maksud saya adalah kalimat bijak yang saya lupa siapa penulisnya yaitu "What comes from the heart, touches the heart".

Menulis adalah proses rumit yang dapat menyederhanakan (ahaaa keren juga kan). Dimulai dari niat menulis dalam hati, kemudian otak menentukan tema, memilah pemilihan kata, merangkai menjadi kalimat sehingga menjadi tulisan yang dapat menyederhanakan pemikiran sang penulisnya.

Jadiiii, jangan takut menulis. Untuk istilah saya, free flow writing, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja sesuai dengan hati dan pikiran dari setiap orang. Selamat menulis ^.^

Thursday, 21 June 2012

Bahas "Penulis Hantu" alias Ghostwriter yuk!

Haiiiiiiiii!! Senangnya mengetahui orang-orang mau membaca tulisan saya di blog yang sederhana ini. Terimakasiiih :) Ok, kembali ke judul. Mau sharing ah, soal pengalaman saya yang terkini dalam dunia tulis menulis yaitu ghostwriter. Hehe jangan salah sangka ya, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan horor, dunia mistik dll.

Jadi apa sebenarnya sih ghostwiter itu? Sedikit penjelasan saya yang masih minim pengalaman, ghostwriter itu adalah penulis yang hasil karyanya diatasnamakan orang lain. Jadi si "penulis hantu" itu hanya bertugas menulis (bisa juga sekaligus mengumpulkan bahan wawancara, data, dsb tergantung kesepakatan) tanpa namanya tercantum.

Yang unik, ghostwriter ini tidak hanya untuk buku saja, tapi juga untuk bahan pidato, artikel dll, selama berkaitan dengan dunia tulis menulis. Ghostwriter ini bisa bekerja sendirian ataupun dalam tim. Lalu apa untungnya bagi penulis? Dari materi, tentu saja keahlian menulis tersebut biasanya dibayar sesuai perjanjian. Selain itu, ada juga penulis yang dalam kesepakatan diberi jatah copyright, yang berarti memperoleh hasil dari jumlah penjualan terutama untuk buku.


Untuk ghostwriter ini juga tidak bisa menampilkan hasil karya di CV mereka sembarangan, karena mereka terikat perjanjian dengan pihak yang telah menyewa mereka untuk tidak melakukan hal tersebut.

Rugi donk nama mereka tidak ditampilkan dan tidak bisa bangga2in karyanya? Sebenarnya tidak juga sih. Ada beberapa penulis yang merasa nyaman, namanya tidak tampak. Melihat hasil karya mereka dibaca orang lain saja sudah cukup memuaskan, disamping imbalan materi yang diperoleh.

Trus, saya jadi ghostwriter untuk siapa? Sssstttt..kan aturan jadi ghostwriter gak boleh bilang-bilang. Jadi maaf gak bisa kasih bocoran. Hehehe saya sendiri menikmati menjalani proses penulisan buku dimana saya menjadi ghostwriter bersama beberapa teman. Sebagai mantan penulis di media cetak terutama harian, menulis buku ternyata prosesnya bisa memakan waktu yang menurut saya lumayan cukup panjaaanggg dan lamaaaaaa ^.^ Maklum saya terbiasa dengan garis mati alias deadline yang datang tiap hari.

Untuk memperoleh order ghostwriter ini saya peroleh dari relasi saya semasa masih menjadi wartawan. Jadi untuk yang tertarik jadi ghostwriter, kuncinya ya perluas relasi dan asah kemampuan menulis. Tidak terlalu banyak berbeda kok dengan profesi penulis lainnya.

Segitu dulu yaa sharing saya soal ghostwriter ini, monggo kalau ada pendapat, masukan, ataupun order buat saya, gaya bahasa bisa disesuaikan kok ^.^ Hehehe jadi sekalian mengiklankan diri gini sih. Makasih ya sudah mau mampir.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...