Assalamualaikum. Selamat sore, temans. Aiih sepertinya saya gak tahan juga untuk gak ber-blogging ria seperti kalimat saya di posting sebelumnyah :D Jadi, apa pula hasil perenungan saya kali ini? Nyatanya tulisan saya hari ini gak berbau perenungan. Jadi apa donk, hasil semedi? idiiih amit-amit deh.
Begini ceritanya *gelar tiker*, sore-sore gini sekalian cari inspirasi buat novel (teteeeup alesan), saya blogwalking ke berbagai blog terkait (hehe bahasanya gak nyambung ciyn). Nah, hinggaplah pada beberapa blog orang Indonesia yang berbahasa Asing, eh maksudnya bahasa Inggris, bukan bahasa makhluk asing gitu donk ah.
Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts
Wednesday, 2 January 2013
Thursday, 4 October 2012
Proses Pembelajaran Itu Bernama Mengajar
Hai apa kabar semua? Semoga sehat dan baik-baik saja. Syukur alhamdulillah saya dan keluarga juga begitu. Oh ya, sejak bulan September kemarin saya dipercaya sebagai instruktur Klub Menulis di salah satu sekolah di Depok. Tepatnya, di SDIT Lentera Insan.
Kok bisa sih? Kebetulan saya kenal dengan pendiri sekolah tersebut karena pernah saya wawancarai sewaktu masih menjadi wartawan di harian Seputar Indonesia. Kemudian, anak saya juga baru masuk di SD tersebut, jadi hubungan silaturahimnya lumayan dekat.
Judul saya diatas memang benar-benar apa yang saya rasakan. Setiap kali akan mengajar, menyiapkan materi dan berada di kelas dengan para siswa klub menulis, saya merasakan saya juga belajar. Saya belajar lagi mengenai berbagai penulisan, saya belajar memahami masing-masing siswa dan saya juga belajar tentang diri saya sendiri sebagai seseorang yang suka menulis.
Menulis bagi saya layaknya mencurahkan apa yang ada dalam otak sekaligus dari dalam hati. Seperti yang selalu saya ingatkan kepada para siswa di klub menulis saya, tulisan yang baik adalah yang berasal dari hati.
Menulis bagaikan mengambil intisari dari berbagai pemikiran yang sliweran di otak, menyaringnya dengan rasa yang dimiliki oleh hati untuk dikomunikasikan oleh jemari menjadi kata-kata yang dapat dipahami. Sungguh, menulis sebenarnya merupakan sebuah proses yang tidak sederhana namun tidak sulit. Sebagaimana moto saya dan anak-anak klub menulis tiap kali memulai dan mengakhiri pertemuan di kelas, "Menulis itu mudah dan menyenangkan". Ya, hal itu yang ingin saya tanamkan kepada anak-anak.
Anak saya sendiri, Rachma Aylaa Santoso saat ini masih duduk di kelas 1. Berdasarkan tes kecerdasan yang dilakukan di sekolah berdasar pada beberapa jenis kecerdasan, hasilnya kecerdasan tertingginya yaitu cerdas bahasa, diikuti cerdas gerak dan cerdas matematika dan ruang. Padahal saya sebagaimana ibu2 yang lain, hanya membantunya belajar membaca dan menulis, gak terlalu istimewa. Ibu2 yang lain bilang, "Dasar anak wartawan, ya anaknya juga gak jauh2. Buah memang jatuh gak jauh dari pohon". Hehe mungkin sejak dari perut, Aylaa sering denger ibunya wawancara dan nemenin ibu nulis berita kali yaa :)
Anyway, saya jadi teringat kedua kakek saya. Keduanya adalah guru. Mungkin juga ada bakat jadi guru dalam diri saya. Yang pasti adalah saya merasakan setiap kali mengajar sebagai proses pembelajaran untuk saya, waktu berlalu tanpa terasa saat sedang bersama anak-anak di klub menulis. Itu tandanya saya sangat menikmati waktu tersebut bukan? Hehe semacam kalau kita sedang bersama orang yang kita sayangi gitu.
Wah sudah tengah malam nih, seperti halnya mengajar, menulis seringkali membuat saya lupa waktu, termasuk saat ini. Selamat malam.
Kok bisa sih? Kebetulan saya kenal dengan pendiri sekolah tersebut karena pernah saya wawancarai sewaktu masih menjadi wartawan di harian Seputar Indonesia. Kemudian, anak saya juga baru masuk di SD tersebut, jadi hubungan silaturahimnya lumayan dekat.
Judul saya diatas memang benar-benar apa yang saya rasakan. Setiap kali akan mengajar, menyiapkan materi dan berada di kelas dengan para siswa klub menulis, saya merasakan saya juga belajar. Saya belajar lagi mengenai berbagai penulisan, saya belajar memahami masing-masing siswa dan saya juga belajar tentang diri saya sendiri sebagai seseorang yang suka menulis.
Menulis bagi saya layaknya mencurahkan apa yang ada dalam otak sekaligus dari dalam hati. Seperti yang selalu saya ingatkan kepada para siswa di klub menulis saya, tulisan yang baik adalah yang berasal dari hati.
Menulis bagaikan mengambil intisari dari berbagai pemikiran yang sliweran di otak, menyaringnya dengan rasa yang dimiliki oleh hati untuk dikomunikasikan oleh jemari menjadi kata-kata yang dapat dipahami. Sungguh, menulis sebenarnya merupakan sebuah proses yang tidak sederhana namun tidak sulit. Sebagaimana moto saya dan anak-anak klub menulis tiap kali memulai dan mengakhiri pertemuan di kelas, "Menulis itu mudah dan menyenangkan". Ya, hal itu yang ingin saya tanamkan kepada anak-anak.
Anak saya sendiri, Rachma Aylaa Santoso saat ini masih duduk di kelas 1. Berdasarkan tes kecerdasan yang dilakukan di sekolah berdasar pada beberapa jenis kecerdasan, hasilnya kecerdasan tertingginya yaitu cerdas bahasa, diikuti cerdas gerak dan cerdas matematika dan ruang. Padahal saya sebagaimana ibu2 yang lain, hanya membantunya belajar membaca dan menulis, gak terlalu istimewa. Ibu2 yang lain bilang, "Dasar anak wartawan, ya anaknya juga gak jauh2. Buah memang jatuh gak jauh dari pohon". Hehe mungkin sejak dari perut, Aylaa sering denger ibunya wawancara dan nemenin ibu nulis berita kali yaa :)
Anyway, saya jadi teringat kedua kakek saya. Keduanya adalah guru. Mungkin juga ada bakat jadi guru dalam diri saya. Yang pasti adalah saya merasakan setiap kali mengajar sebagai proses pembelajaran untuk saya, waktu berlalu tanpa terasa saat sedang bersama anak-anak di klub menulis. Itu tandanya saya sangat menikmati waktu tersebut bukan? Hehe semacam kalau kita sedang bersama orang yang kita sayangi gitu.
Wah sudah tengah malam nih, seperti halnya mengajar, menulis seringkali membuat saya lupa waktu, termasuk saat ini. Selamat malam.
Friday, 6 July 2012
Free Flow Writing :)
Assalamualaikum. Selamat siang. Senangnya bisa kembali menulis. Untuk saya, menulis adalah ruang paling menyenangkan untuk berbagi kepada orang lain. Kesan yang dirasakan berbeda ketika saya berbagi melalui percakapan.
Trus apalagi nih Free flow writing? Hehehe ini adalah istilah saya yang ingin menulis dengan bebas dan mengalir (free flow). Saya sendiri adalah mantan pekerja media yang terbiasa memiliki pakem2 tertentu dalam menulis. Nyatanya, tidak semua dunia penulisan membutuhkan hal semacam itu. Misalnya, saat membuat buku. Apalagi untuk buku yang nge-pop. Bahasa yang akrab digunakan sehari-hari, sangat pas digunakan untuk penulisan tersebut.
Intinya, terbiasa menulis dengan pakem2 formal membuat saya "terbelenggu" dan berpikir terlalu rumit saat menulis. Saya pernah membuat blog mengenai kesehatan sebelumnya, tapi ternyata tidak dapat saya teruskan karena penulisannya membutuhkan riset dan editing bahasa yang lumayan memakan waktu.
Intinya, saya ingin menyebarkan ke masyarakat luas (cieeee gayanya) bahwa menulis itu mudah. Bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan dengan gaya bahasa masing-masing. Tidak ada kata benar atau salah untuk gaya bahasa setiap orang. Bisa saja dari sisi bahasa, sebuah buku populer sangatlah tidak memenuhi syarat, tapi bagaimana bisa dipersalahkan jika buku itu ternyata laku dan mendapat tempat di hati pembacanya.
Yang penting untuk saya adalah menulis harus dimulai dari hati. Kalimat yang paling tepat untuk mengutarakan maksud saya adalah kalimat bijak yang saya lupa siapa penulisnya yaitu "What comes from the heart, touches the heart".
Menulis adalah proses rumit yang dapat menyederhanakan (ahaaa keren juga kan). Dimulai dari niat menulis dalam hati, kemudian otak menentukan tema, memilah pemilihan kata, merangkai menjadi kalimat sehingga menjadi tulisan yang dapat menyederhanakan pemikiran sang penulisnya.
Jadiiii, jangan takut menulis. Untuk istilah saya, free flow writing, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja sesuai dengan hati dan pikiran dari setiap orang. Selamat menulis ^.^
Trus apalagi nih Free flow writing? Hehehe ini adalah istilah saya yang ingin menulis dengan bebas dan mengalir (free flow). Saya sendiri adalah mantan pekerja media yang terbiasa memiliki pakem2 tertentu dalam menulis. Nyatanya, tidak semua dunia penulisan membutuhkan hal semacam itu. Misalnya, saat membuat buku. Apalagi untuk buku yang nge-pop. Bahasa yang akrab digunakan sehari-hari, sangat pas digunakan untuk penulisan tersebut.
Intinya, terbiasa menulis dengan pakem2 formal membuat saya "terbelenggu" dan berpikir terlalu rumit saat menulis. Saya pernah membuat blog mengenai kesehatan sebelumnya, tapi ternyata tidak dapat saya teruskan karena penulisannya membutuhkan riset dan editing bahasa yang lumayan memakan waktu.
Intinya, saya ingin menyebarkan ke masyarakat luas (cieeee gayanya) bahwa menulis itu mudah. Bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan dengan gaya bahasa masing-masing. Tidak ada kata benar atau salah untuk gaya bahasa setiap orang. Bisa saja dari sisi bahasa, sebuah buku populer sangatlah tidak memenuhi syarat, tapi bagaimana bisa dipersalahkan jika buku itu ternyata laku dan mendapat tempat di hati pembacanya.
Yang penting untuk saya adalah menulis harus dimulai dari hati. Kalimat yang paling tepat untuk mengutarakan maksud saya adalah kalimat bijak yang saya lupa siapa penulisnya yaitu "What comes from the heart, touches the heart".
Menulis adalah proses rumit yang dapat menyederhanakan (ahaaa keren juga kan). Dimulai dari niat menulis dalam hati, kemudian otak menentukan tema, memilah pemilihan kata, merangkai menjadi kalimat sehingga menjadi tulisan yang dapat menyederhanakan pemikiran sang penulisnya.
Jadiiii, jangan takut menulis. Untuk istilah saya, free flow writing, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja sesuai dengan hati dan pikiran dari setiap orang. Selamat menulis ^.^
Subscribe to:
Posts (Atom)