![]() |
| Membuat puding tambah seru dengan Oatbits Raisin favorit keluarga (dok.pribadi) |
Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts
Tuesday, 5 July 2016
Serunya Membuat Puding Mozaik Bersama Anak, Sambil Menunggu Waktu Berbuka Puasa
Sunday, 6 March 2016
Mengambil Manfaat Anak Melakukan Tugas Rumah Tangga, Bonus Dapur Bersih
Jika saya membandingkan saat saya masih kecil dulu dengan anak-anak zaman sekarang pada umumnya, ada satu pembeda yang sering saya lihat. Dulu saat saya kecil, melihat anak-anak mengerjakan segala keperluan sendiri bahkan membantu tugas rumah merupakan hal biasa. Namun, saat ini saya lebih banyak melihat anak-anak yang setiap keperluannya dibantu oleh pengasuh atau asisten rumah tangga.
Jujur saja, ternyata menerapkan apa yang dilakukan orangtua saya dulu pada anak-anaknya tidaklah mudah. Anak sulung saya, Aylaa, yang kini berusia 9 tahun masih saja kesulitan untuk benar-benar mandiri menyiapkan segala sesuatu keperluannya. Seringkali ia masih membutuhkan bantuan.
Salah satu trik yang kemudian saya terapkan adalah memanfaatkan keingintahuannya. Kebetulan setiap kali saya ke dapur, dia seringkali mengikuti sambil bertanya-tanya ini dan itu. Tak ingin kehilangan kesempatan, maka saya manfaatkan momen mengajaknya ke sana untuk memperkenalkan berbagai tugas rumah tangga yang ada di dapur. Sssttt..biasanya sih adeknya juga akan ikut-ikutan karena tidak mau kalah.
Jujur saja, ternyata menerapkan apa yang dilakukan orangtua saya dulu pada anak-anaknya tidaklah mudah. Anak sulung saya, Aylaa, yang kini berusia 9 tahun masih saja kesulitan untuk benar-benar mandiri menyiapkan segala sesuatu keperluannya. Seringkali ia masih membutuhkan bantuan.
Salah satu trik yang kemudian saya terapkan adalah memanfaatkan keingintahuannya. Kebetulan setiap kali saya ke dapur, dia seringkali mengikuti sambil bertanya-tanya ini dan itu. Tak ingin kehilangan kesempatan, maka saya manfaatkan momen mengajaknya ke sana untuk memperkenalkan berbagai tugas rumah tangga yang ada di dapur. Sssttt..biasanya sih adeknya juga akan ikut-ikutan karena tidak mau kalah.
![]() |
| Anak-anak ibu rajin membantu cuci piring ya. Terimakasih sayang. (dok.pribadi) |
Monday, 25 January 2016
Fitur Kids Center Menjadikan Acer Liquid Z320 Sebagai Ponsel Aman untuk Anak
Gadget or no gadget untuk anak? Sepertinya ini akan menjadi perdebatan sepanjang masa dari kubu kontra dan pro. Memang perlu diakui, gadget termasuk telepon seluler (ponsel) untuk anak, bagaikan dua sisi mata uang. Ada keuntungan dan juga risiko kerugiannya.
Beberapa ahli, sebagaimana saya kutip dari situs web parenting terkemuka, mengungkap beberapa risiko dari gadget terhadap anak. Seperti obesitas, kesulitan memusatkan perhatikan dan bersosialisasi, kurang berimajinasi, lebih agresif hingga rendahnya nilai akademik.
Disisi lain, gadget bermanfaat membuat proses belajar menyenangkan, membantu bereksplorasi dan mencari solusi permasalahan. Studi yang dilakukan terhadap anak usia pra-sekolah yang diberikan tontonan edukasi dengan jumlah terbatas, lebih banyak kemajuan pembelajaran, membaca lebih banyak buku dan meraih nilai akademik yang lebih tinggi.
Tapi jangan bingung ya. Kini sudah ada fitur pendukung ponsel yang dapat meminimalisir risiko, agar si kecil dapat meraih manfaat maksimal dari ponsel.
Beberapa ahli, sebagaimana saya kutip dari situs web parenting terkemuka, mengungkap beberapa risiko dari gadget terhadap anak. Seperti obesitas, kesulitan memusatkan perhatikan dan bersosialisasi, kurang berimajinasi, lebih agresif hingga rendahnya nilai akademik.
Disisi lain, gadget bermanfaat membuat proses belajar menyenangkan, membantu bereksplorasi dan mencari solusi permasalahan. Studi yang dilakukan terhadap anak usia pra-sekolah yang diberikan tontonan edukasi dengan jumlah terbatas, lebih banyak kemajuan pembelajaran, membaca lebih banyak buku dan meraih nilai akademik yang lebih tinggi.
Tapi jangan bingung ya. Kini sudah ada fitur pendukung ponsel yang dapat meminimalisir risiko, agar si kecil dapat meraih manfaat maksimal dari ponsel.
![]() |
| Paling seru bertiga kalau memainkan game baru (dok.pribadi) |
Saturday, 5 December 2015
Aturan Aman Menggunakan Handphone untuk Anak
Assalamualaikum. Sudah beberapa waktu ini saya tidak update blog nih *tiup-tiup debu*. Sering beralasan karena kesibukan di kantor, padahal sebenarnya semua tergantung niat kan hehe :)
Nah teman-teman adakah yang pernah bingung dengan rengekan anak yang minta handphone alias ponsel? Saya salah satunya. Anak perempuan saya sudah sejak kelas 3 SD meminta hp sendiri. Beragam cara sudah dia lakukan, tapi saya dan suami belum memberikan. Kakak hanya memegang hp saya atau Ayahnya. Hingga akhirnya ulang tahun ke-9 kemarin, akhirnya kakak dihadiahi hp oleh kakeknya. Mau gimana lagi, masa iya saya larang.
Nah teman-teman adakah yang pernah bingung dengan rengekan anak yang minta handphone alias ponsel? Saya salah satunya. Anak perempuan saya sudah sejak kelas 3 SD meminta hp sendiri. Beragam cara sudah dia lakukan, tapi saya dan suami belum memberikan. Kakak hanya memegang hp saya atau Ayahnya. Hingga akhirnya ulang tahun ke-9 kemarin, akhirnya kakak dihadiahi hp oleh kakeknya. Mau gimana lagi, masa iya saya larang.
![]() |
| Kakak dan hp pemberian kakek (dok.pribadi) |
Sunday, 26 April 2015
#BeraniLebih Optimis untuk Ican
Anak kedua saya, Sandya, mengawali hari-hari pertama kehidupannya, dengan cara yang tidak bisa dibilang mudah.
Hari ke-3 setelah kelahirannya ia harus menjalani operasi ballon pada jantung untuk menyelamatkan nyawanya. Tepat usia satu bulan, ia kembali melewati ujian yang tak ringan yaitu operasi bedah jantung untuk mengoreksi pembuluh darah jantungnya.
Namun, bukan tetes air mata yang ingin saya bagi dari pengalaman ini. Saya belajar untuk #BeraniLebih optimis untuk Sandya.
Hari ke-3 setelah kelahirannya ia harus menjalani operasi ballon pada jantung untuk menyelamatkan nyawanya. Tepat usia satu bulan, ia kembali melewati ujian yang tak ringan yaitu operasi bedah jantung untuk mengoreksi pembuluh darah jantungnya.
Namun, bukan tetes air mata yang ingin saya bagi dari pengalaman ini. Saya belajar untuk #BeraniLebih optimis untuk Sandya.
![]() |
| Berbagi kisah Sandya di salah satu majalah (dok.pribadi) |
Saturday, 25 April 2015
#BeraniLebih Cantik demi Cinta
#BeraniLebih Cantik demi cinta untuk putri kecil saya. Mungkin terdengar aneh ya. Tapi itulah yang saya alami.
Sejak saya kecil, Mama lebih suka memakaikan celana panjang dan kaos atau kemeja untuk saya dan kakak perempuan saya. Bahkan saat hari Lebaran pun, Mama segan membelikan kami rok atau model baju perempuan lain. "Ribet," begitu alasan Mama.
Sejak saya kecil, Mama lebih suka memakaikan celana panjang dan kaos atau kemeja untuk saya dan kakak perempuan saya. Bahkan saat hari Lebaran pun, Mama segan membelikan kami rok atau model baju perempuan lain. "Ribet," begitu alasan Mama.
![]() |
| Ibu dan Aylaa saat ikut lomba tari (dok.pribadi) |
Wednesday, 4 February 2015
Bukan Sekedar Hasil Akhir
Assalamualaikum..semoga teman2 sehat-sehat semua ya, cuaca sedang kurang bersahabat nih. Jadi pinter2 jaga kondisi badan yaa.
Buat teman-teman yang sudah jadi orangtua, bagaimana sih menganggap kemajuan anak dalam belajar? Yang sudah pasti jelas dari nilai donk yaa. Pasti bangga kalo anak kita bisa punya nilai bagus dan lebih dari yang lain. Oleh karena itu, banyak orangtua yang kemudian memfasilitasi anak-anaknya untuk les sana sini.
Buat teman-teman yang sudah jadi orangtua, bagaimana sih menganggap kemajuan anak dalam belajar? Yang sudah pasti jelas dari nilai donk yaa. Pasti bangga kalo anak kita bisa punya nilai bagus dan lebih dari yang lain. Oleh karena itu, banyak orangtua yang kemudian memfasilitasi anak-anaknya untuk les sana sini.
![]() |
| Ibu dan Aylaa, si kakak yang bisa lebih manja dari adiknya (dok.pribadi) |
Label:
anak,
anak belajar,
les anak,
orangtua mengajar
Sunday, 23 November 2014
ELC Ultah ke-40,Tiup Lilin Bersama Lebih dari 40 Anak
![]() |
| Berdoa sebelum tiup lilin (foto: dok.pribadi) |
Merayakan ulangtahun tak lengkap rasanya jika tak berbagi kebahagiaan bersama keluarga dan orang lain. Nah, dalam perayaan puncak ulangtahun ke-40, ELC Indonesia mengajak lebih dari 40 anak untuk tiup lilin bersama pada tanggal 1 November 2014, di Grand Indonesia. Wuiiiih seruuuu!!!
Kebetulan saya berkesempatan hadir disana. Suasana meriah sudah terasa seketika saya keluar dari lift. Saya saat itu datang bersama anak-anak. Langsung terasa antusiasme disana.
![]() |
| Persiapan menjelang tiup lilin (foto: Dok.ELC) |
Sudah tampak puluhan anak bersama orangtua bersiap-siap sebelum pucak perayaan dimulai. Para anak yang berulangtahun itu kompak pakai baju hijau. Duuh cantik-cantik dan ganteng-ganteng deh.
Karena saya datang agak awal, maka saya mengajak anak-anak berkeliling dulu. Oh ya, sebelumnya saya mendatangi Mbak Diana di flagship store ELC di Grand Indonesia untuk konfirmasi kehadiran. Waah sudah banyak juga anak-anak yang ada disana. Anak-anak saya juga langsung donk lirik lirik sana sini, lihat mainan keren.
![]() |
| Sandya, Aylaa dan Nenek ikut menikmati seru acaranya ultah ELC (dok.pribadi) |
Tiap anak diberi satu cup cake dengan satu lilin diatasnya. Setelah masing-masing lilin dinyalakan, mulai deh semua bernyanyi. Namanya anak-anak reaksinya lucu-lucu, ada yang sudah tiup lilin duluan, ada yang colek-colek kuenya. Tapi saya menangkap reaksi seorang anak yang tampak khusyu sambil memejamkan mata di depan cupcake dengan lilin yang sudah dinyalakan, sepertinya sih sedang berdoa. Good boy :)
![]() |
| Marketing Manager ELC Indonesia, Abi Shihab dan VP ELC Indonesia, Lina Paulina semangat meniup lilin (foto: Dok.ELC) |
Akhirnya ditemani dengan boneka Edward, Om Abi dan Tante Lina meniup lilin kue ultah ELC yang berwarna kuning hijau yang tampak lezat.
Satu dua tiga...hup hup hup! Horeeee...semua anak ikut tiup lilin :) Selamat ulangtahun ELC, selamat ulangtahun anak-anak. Semoga semakin lebih baik di masa depan nanti. Aamiin.
![]() |
| Senangnya ultah dapet hadiah banyak dari ELC (foto: Dok.ELC) |
Untuk yang hadir, ELC juga menyediakan es krim, cotton candy dan pop corn untuk dinikmati. Ada juga photobooth bersama Edward yang superrr besar. Sayang sekali, saya tidak sempat foto disana, sebab penuh sekali orang-orang yang datang diacara.
Oh ya, untuk yang penasaran tentang mainan ELC, sekarang di Indonesia, sudah ada 29 toko ELC yang tersebar di 6 kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Bali dan Makasar. Hingga 2025 nanti, rencananya ELC akan terus mengembangkan bisnisnya di Indonesia dengan membuka hingga 150 toko, ke kota-kota lain seperti Manado, Palembang, Solo dll.
Info lengkap mengenai toko ELC terdekat, produk ataupun ingin belanja online, bisa kunjungi www.elc.co.id. yaa.
Sekali lagi, saya ingin mengucapkan selamat ulangtahun ke-40 untuk ELC. Semoga semakin banyak anak-anak yang memperoleh manfaat dari mainan-mainan berkualitas dan edukatif dari ELC.
*Tulisan mengenai kriteria mainan ELC dapat dibaca di "Bicara tentang 4 Kriteria Mainan Jelang 40 Tahun ELC"
![]() |
| Seru merayakan ulang tahun bareng ELC. Tahun depan lagi yaa ^^ (foto: Dok.ELC) |
Thursday, 20 November 2014
Desember
Menjelang Desember, senantiasa membuat hati saya tak karuan.
Bukan, sama sekali bukan karena kebingungan liburan tahun baru ataupun galau karena target tahunan masih jauuuh.
Tapi, bulan Desember berarti anak saya, Sandya harus cek tahunan ke RS Harapan Kita.
Masih segar di ingatan saya, tanggal 28 Desember 2011, mengantar Sandya ke ruang operasi. Sandya mengalami penyakit jantung bawaan (PJB) jenis TGA atau Transposition of Great Arteries yang kondisinya membuat ia harus segera di operasi. Paling lambat dalam usia 2 bulan.
Setelah berbagai upaya dan drama yang mengiringi, operasi itu berhasil dilakukan tepat usia Sandya satu bulan setelah lahir tanggal 28 November 2011.
Percayalah, saat itu rasanya sudah habis air mata saya, lutut lemas ketika Sandya harus saya serahkan ke tangan perawat yang akan membawanya ke ruang operasi. Sebab, sebelumnya dokter sudah mengatakan, operasi ini bukan sesuatu yang ringan.
Bahkan, ada beberapa kasus gagal. Tidak, saya tidak berani marah pada dokter2 hebat yang mengatakan hal2 buruk sebelum operasi. Saya tahu mereka hanya mencoba menyiapkan mental orangtua untuk bersiap menghadapi hal terburuk.
Saat menulis ini, hampir tiga tahun kemudian setelah operasi, percayalah saya masih menitikkan air mata. Masih terasa perihnya di hati ini.
Alhamdulillah operasi yang berlangsung sekitar 8 jam, mulai dari pukul 8 pagi hingga 4 sore itu berjalan lancar. Jangan juga ditanya perasaan saya ketika menunggu 8 jam tersebut. Tidak ada yang saya lakukan, selain berdoa kepada Maha Pemilik Semesta, Allah SWT,
Beberapa hari setelah operasi, yaitu pada malam tahun baru 2012, saya dan suami beserta para orangtua lain duduk di beranda di RS Harapan Kita sambil mendengarkan petasan dan melihat kembang api. Kami harus terus berada disana karena anak-anak kami masih berada di ruang ICU, yang tidak boleh ditunggui orangtua, namun harus terus siaga jika diperlukan. Jadi tiap kali ada nama anak yang dipanggil, mulailah hati saya deg2an. Kabar baik atau sebaliknya? Ah sepertinya tak perlu lagi saya gambarkan perasaan saya.
Alhamdulillah, Sandya dapat pulang ke rumah sekitar tiga minggu setelah operasi. Cek up dilakukan sekitar seminggu kemudian, lalu satu bulan kemudian. Berkat doa semua keluarga besar, teman, rekan dan semuanya, Alhamdulillah kondisi Sandya bisa cepat pulih. Cek up terus dilakukan secara berkala. Terakhir, pada bulan Desember 2013 lalu. Alhamdulillah semua bagus.
Sekilas Sandya tidak berbeda dengan anak-anak lain. Sangat lincah, bawel dan tidak mau diam seperti anak 3 tahun pada umumnya. Hanya saja saat dadanya terbuka, barulah tampak bekas jahitan operasinya.
Saya dan suami berusaha tidak membedakan sikap kepada kakak Aylaa dan Sandya. Tidak ada yang lebih dibela ataupun disayang. Siapa pun yang salah, maka harus bertanggung jawab dan meminta maaf.
Jujur saja, saya seringkali sedih tatkala mendengar ada orangtua yang mengeluh satu kelemahan anaknya. You don't know your trully gift. Jangan mengeluh, terus berusaha membantunya agar menjadi lebih baik.
Semoga hasil cek Sandya ke RS Harapan Kita pada bulan Desember mendatang lancar dan hasilnya baik, Semoga Sandya dapat menjadi anak yang beriman, sehat. panjang umur, banyak rezeki dan bahagia. Amin ya robbal alamiin.
Bukan, sama sekali bukan karena kebingungan liburan tahun baru ataupun galau karena target tahunan masih jauuuh.
![]() |
| Sandya bareng Ibu (dok.pribadi) |
Masih segar di ingatan saya, tanggal 28 Desember 2011, mengantar Sandya ke ruang operasi. Sandya mengalami penyakit jantung bawaan (PJB) jenis TGA atau Transposition of Great Arteries yang kondisinya membuat ia harus segera di operasi. Paling lambat dalam usia 2 bulan.
Setelah berbagai upaya dan drama yang mengiringi, operasi itu berhasil dilakukan tepat usia Sandya satu bulan setelah lahir tanggal 28 November 2011.
Percayalah, saat itu rasanya sudah habis air mata saya, lutut lemas ketika Sandya harus saya serahkan ke tangan perawat yang akan membawanya ke ruang operasi. Sebab, sebelumnya dokter sudah mengatakan, operasi ini bukan sesuatu yang ringan.
Bahkan, ada beberapa kasus gagal. Tidak, saya tidak berani marah pada dokter2 hebat yang mengatakan hal2 buruk sebelum operasi. Saya tahu mereka hanya mencoba menyiapkan mental orangtua untuk bersiap menghadapi hal terburuk.
![]() |
| Gaya andalan Sandya saat difoto (dok.pribadi) |
Alhamdulillah operasi yang berlangsung sekitar 8 jam, mulai dari pukul 8 pagi hingga 4 sore itu berjalan lancar. Jangan juga ditanya perasaan saya ketika menunggu 8 jam tersebut. Tidak ada yang saya lakukan, selain berdoa kepada Maha Pemilik Semesta, Allah SWT,
Beberapa hari setelah operasi, yaitu pada malam tahun baru 2012, saya dan suami beserta para orangtua lain duduk di beranda di RS Harapan Kita sambil mendengarkan petasan dan melihat kembang api. Kami harus terus berada disana karena anak-anak kami masih berada di ruang ICU, yang tidak boleh ditunggui orangtua, namun harus terus siaga jika diperlukan. Jadi tiap kali ada nama anak yang dipanggil, mulailah hati saya deg2an. Kabar baik atau sebaliknya? Ah sepertinya tak perlu lagi saya gambarkan perasaan saya.
Alhamdulillah, Sandya dapat pulang ke rumah sekitar tiga minggu setelah operasi. Cek up dilakukan sekitar seminggu kemudian, lalu satu bulan kemudian. Berkat doa semua keluarga besar, teman, rekan dan semuanya, Alhamdulillah kondisi Sandya bisa cepat pulih. Cek up terus dilakukan secara berkala. Terakhir, pada bulan Desember 2013 lalu. Alhamdulillah semua bagus.
![]() |
| Sandya bareng Ayah waktu naik kereta (dok.pribadi) |
Saya dan suami berusaha tidak membedakan sikap kepada kakak Aylaa dan Sandya. Tidak ada yang lebih dibela ataupun disayang. Siapa pun yang salah, maka harus bertanggung jawab dan meminta maaf.
![]() |
| Fantastic four dari Jl Cemara ^_^ (dok.pribadi) |
Semoga hasil cek Sandya ke RS Harapan Kita pada bulan Desember mendatang lancar dan hasilnya baik, Semoga Sandya dapat menjadi anak yang beriman, sehat. panjang umur, banyak rezeki dan bahagia. Amin ya robbal alamiin.
Wednesday, 22 October 2014
Bicara tentang 4 Kriteria Mainan Jelang 40 Tahun ELC
![]() |
| Selamat Ulang Tahun ELC yang ke-40 ^_^ (dok.pribadi) |
Pembahasan soal mainan mulai dari permainan fisik seperti galahsin, petak umpet, main bentengan, lompat tali. Hingga permainan yang melibatkan alat-alat seadanya seperti masak-masakan dengan tanaman dan pisau yang ada di gunting kuku ataupun pisau beneran, juga memanfaatkan kulit jeruk bali untuk mobil-mobilan. Ya, memang masa bermain kami saat itu dibilang luar biasa penuh kreativitas karena keterbatasan alat.
Tapi, apakah anak-anak saat ini harus merasakan hal yang benar-benar sama dengan saya dan suami dulu? Hmmm..mungkin jawabannya akan beragam. Ada berbagai hal yang dipertimbangkan soal mainan.
![]() |
| Pemandangan dari lokasi acara ELC, kereeen yaa (dok.pribadi) |
Demikian juga mengenai keamanan yang menjadi perhatian saya dan suami. Saat ini banyak mainan menggunakan bahan atau pewarna yang berbahaya. Sementara kualitas harus tetap terjaga, dan juga harga yang tetap terjangkau.
Rupanya empat prinsip saya dalam memilih mainan tersebut sejalan dengan produk-produk dari Early Learning Center (ELC). Semakin jelas saat saya mengikuti "Media & Blogger Gathering Ulang Tahun Early Learning Center (ELC) ke-40", di Jakarta, bertempat di Cloude Lounge & Living Room, The Plaza 46th floor, beberapa waktu lalu
![]() |
| Disambut goody bag berisi teddy bear Edward ^_^ (dok.pribadi) |
Ada empat core benefit yang digaungkan oleh produk-produk ELC yang menarik perhatian saya yaitu:
- Play value atau nilai bermain. Semua produk ELC selalu menyenangkan dan mendorong anak untuk belajar sambil bermain.
- Keamanan (safety). Setiap produk ELC selalu diuji secara komprehensif oleh pihak internal ELC atau laboratorium independen sebelum dipasarkan, sehingga telah lolos dan melampaui uji keamanan di Inggris dan Eropa. Standar keamanan ini mencakup fisik, mekanik, symbol, ketahanan terhadap api, peringatan usia, bahan kimia yang digunakan, keamanan maninan elektronik, petunjuk penggunaan, ukuran dan berat produk.
- Kualitas (quality). Dalam pembuatan produk ELC, selalu digunakan material (plastic, kain dan kayu) dengan kualitas terbaik serta memastikan produk memiliki spesifikasi yang tepat bagi anak yang memainkannya.
- Harga yang pantas (value for money). Kebijakan harga yang ditetapkan ELC selalu menawarkan harga yang terbaik bagi pelanggan dengan gabungan semua core benefit.
![]() |
| Anak lucu ini eksis sekali deh *cubit pipi aah* (dok.pribadi) |
Manfaat Bermain
Tak salah jika dunia anak disebut dengan dunia bermain. Banyak proses pembelajaran yang dapat diperoleh anak saat mereka melakukan permainan.
Hadir dalam acara Media Gathering ELC sebagai narasumber, yaitu dr. Markus Danusantoso, Sp.A. Dokter berpostur tinggi tersebut memberikan presentasi mengenai "Peran bermain untuk meningkatkan perkembangan dan kecerdasan anak".
"Bermain merupakan sarana belajar dan menambah pengalaman untuk anak," ujar dr. Markus.
![]() |
| dr. Markus menjelaskan ttg manfaat bermain (dok.pribadi) |
"Bermain juga akan meningkatkan ketajaman panca indera," terangnya.
Kriteria alat permainan yang baik menurut dr. Markus antara lain tidak jauh berbeda dengan empat kriteria ELC yaitu:
- Tidak berbahaya & terbuat dari bahan bermutu
- Sesuai usia bayi/anak
- Menarik/menyenangkan
- Memiliki nilai belajar
- Sederhana (tidak rumit) & harga pantas
Kemudian, dr. Markus memaparkan beberapa alat permainan berikut manfaatnya. Silakan disimak ya bu-ibu :)
*Stacking rings
![]() |
| Stacking rings ELC (mothercare.com) |
Menurut dr. Markus dari permainan ini anak dapat belajar mengenai :
- Memegang, memutar
- Melatih jari tangan
- Melatih konsentrasi
- Mengenal dan melatih memori warna, urutan kecil-besar / besar-kecil
- Berbagi peran main bersama
*Shape sorting bus
![]() |
| Shape sorting bus dari ELC (dok.pribadi) |
- Membantu belajar merangkak
- Koordinasi mata-tangan untuk masuk-dorong mainan
- Melatih jari tangan
- Mengenal bentuk benda sesuai tempatnya
- Konsep “benda hilang dan ada kembali” (object permanence)
- Melatih akurasi-presisi
- Berbagi peran main bersama
Warna warni dan berbagai bentuk, sekaligus pengenalan huruf secara tidak langsung sangat menarik. Mulai dari anak saya tidak bisa mencocokkan bentuk sama sekali, hingga akhirnya mereka berhasil menjadi proses yang menyenangkan tidak hanya untuk anak-anak, namun juga bagi saya sebagai orangtuanya.
* Light & sound walker
![]() |
| Anak sedang bermain light & sound walker ELC (dok.pribadi) |
Untuk anak dengan usia >9 bulan.
- Berjalan, mendorong, duduk, jongkok
- Melatih jari tangan
- Memasukkan, memutar
Dengan warna warni cerah dan tombol-tombol menarik, sangat menarik bagi anak.
*Funky footprint
Untuk anak dengan usia > 12 bulan
![]() |
| Funky footprint yang seru (mothercare.co.id) |
- Koordinasi mata & kaki saat berjalan
- Keseimbangan
- Melompat, melangkah
- Memori & konsentrasi
- Mengenal angka
*Learn to dress
Untuk anak dengan usia >18 bulan
- Ketrampilan jari tangan untuk kemandirian: buka-tutup tali sepatu/kancing/seleting (zipper)
- Koordinasi mata & tangan
- Mengenal berpakaian lengkap
- Melatih imajinasi dan bercerita
*Happyland
![]() |
| Salah satu seri happyland ELC (mothercare.co.id) |
- Konsep ruang: didalam/luar, diatas/bawah, pojok, samping masuk/keluar
- Melatih majinasi dan bercerita
- Mengenal rumah & perabotan, hewan peliharaan, mobil, orang dalam rumah
- Berbagi peran main bersama
Saat saya kecil dulu permainan jenis ini biasa dilakukan dengan berbagai peralatan sederhana. Saya yakin jika anak-anak difasilitasi lebih baik, maka manfaatnya akan jauh lebih baik lagi.
Sand & water table
![]() |
| Sand and Water Table dari ELC (mothercare.co.id) |
Untuk anak dengan usia > 18 bulan–8 tahun
- Eksperimen dengan pasir: bentuk gunung, lubang, melihat efek dari menjatuhkan pasir ke corong
- Peralatan sesuai fungsi: serokan, sekop, garukan
- Imajinasi dan bercerita
- Berbagi peran main bersama
Jika Anda tidak memiliki banyak waktu untuk ke pantai dan memperkenalkan permainan pasir, maka Sand and water ini bisa mengawali.
Anak-anak saya memang jarang bermain di luar ruangan, sepertinya mainan ini akan segera jadi favorit mereka.
Anak-anak saya memang jarang bermain di luar ruangan, sepertinya mainan ini akan segera jadi favorit mereka.
Untuk anak dengan usia usia 3-6 tahun.
- Mengenal magnet, menempel, melepaskan benda
- Belajar huruf, angka, simbol hitungan
- Belajar baca, tulis, gambar
- Konsep benar-salah, hapus jika salah dan ganti yg benar
- Berbagi peran main bersama
Percayalah ibu-ibu, permainan ini sungguh membantu. Apalagi warna warni dan bentuknya yang menarik untuk belajar, dibandingkan hanya mengandalkan alat tulis saja.
*Key-boom-board
![]() |
| Mainan alat musik produk ELC (dok.pribadi) |
- Mengenal alat musik, variasi irama, nada, dan suara lagu
- Melatih jari tangan
- Koordinasi mata, telinga, dan tangan saat bermain/nyanyi
- Berbagi peran main bersama
Saat ia berhasil menekan tuts-tuts alat musik mainan miliknya, maka ia akan tertawa dan mencoba dengan variasi lain. Ia juga senang berpura-pura menyanyi dengan mike, menggunakan sisir atau apapun yang ada di sekitarnya. Saat ini sudah lebih dari 10 lagu sudah dikuasainya, meski kata-katanya seringkali banyak salah yang justru mengundang tawa orang di rumah.
ELC di Indonesia
ELC hadir pertama kali di Indonesia tahun 2008 di Jakarta dibawah bendera Kanmo Retail Group. ELC selalu mempertahankan kontrol melalui aspek kualitas produk, pengembangan isi dan terutama keamanan.
![]() |
| Boneka ELC dengan bulu lembut dan kualitas yang terjamin (dok.pribadi) |
Selama bertahun-tahun, ELC telah menambah koleksi mainan yang unik, seperti HappyLand, rangkaian koleksi mainan bangunan yang brilian, karakter-karakter unik, binatang lucu, dan kendaraan warna-warni.
Tak ketinggalan Rosebud Village, koleksi boneka-boneka kayu lengkap dengan rumah, karakter dan aksesorisnya, serta Toybox, koleksi karakter click-clack yang penuh warna dan menyenangkan serta kendaraan yang diperkenalkan pada tahun 2013.
![]() |
| VP ELC Indonesia, Lina Paulina dan Marketing Manager ELC, Abi Shihab dan Diana |
“Untuk merayakan ulangtahun ke-40, ELC Indonesia telah menyiapkan serangkaian aktivitas yang serba 40,” ujar Lina Paulina, Vice President ELC Indonesia.
Kegiatan pra-acara dimulai dengan menampulkan kartu ucapan ulangtahun yang unik dari 40 sekolah di Jakarta. Kartu ucapan ini akan dipasang di jendela toko ELC Grand Indonesia.
![]() |
| Ada satu lagi nih anak lucu yang ikut Mamanya (dok.pribadi) |
Ditemani oleh Edward, si Teddy Bear, ELC akan mengundang 40 anak yang merayakan ulangtahun bersama tanggal 28 oktober, yang juga bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
Pada acara ini nantinya ke-40 anak tersebut akan mendapat topi ulangtahun dengan gambar Edward, balon dan tentunya, kue ulang tahun. *Idiiih bikin pengen deh ya :D
Untuk peserta lainnya yang hadir, ELC menyiapkan es krim, cotton candy dan pop corn untuk dinikmati. Tersedia juga photobooth untuk mengabadikan foto bersama Edward. Selain itu, disiapkan juga berbagai aktivitas seperti face painting dan area bermain.
Waaah..sepertinya seru maksimal ini acara ulangtahun ELC!!
(Reportasenya bisa baca di "ELC Ultah ke-40, Tiup Lilin Bersama Lebih dari 40 Anak" )
Siap Buka 150 Toko
![]() |
| Yuhuuu mainannya memang menggiurkan ya :D (dok.pribadi) |
![]() Saya dan Edward dari ELC yang super empuk dan halus (dok.pribadi) |
ELC Indonesia merencanakan akan memiliki 150 toko di tahun 2025 dengan ekspansi ke kota-kota lain seperti Manado, Palembang, Solo,dll. Namun demikian, saat ini ELC menyediakan fasilitas bagi pelanggan yang berada di kota yang belum terdapat toko ELC dengan layanan e-commerce yaitu di situs web www.elc.co.id.
Jadi tunggu apa lagi, yuuk serbu ELC untuk mendapatkan mainan bermutu, bermanfaat dan aman untuk anak-anak kita. Apalagi menjelang ultah ke-40 ini, banyak acara dan diskon loooh ^_^
![]() |
| Kumpul bareng Kumpulan Emak Blogger yang super kereeen (dok.pribadi) |
Tuesday, 7 October 2014
Batita Juga Bisa Ngobrol Seru
![]() |
| Sandya bercakap-cakap dengan sepupunya Fira (dok.pribadi) |
Tingkah Aylaa dan Fatya yang berusia hampir 8 dan 9 tahun tak terlalu menarik perhatian saya. Berbeda ketika saya melihat dua batita yang menarik-narik kursi dan mulai berbicang. Sandya (2 tahun 10 bulan) dan sepupunya Fira (3 tahun 2 bulan) ini bercakap-cakap layaknya kami orang dewasa dan kakak-kakaknya.
Tapi, yang bikin adegan perbincangan ini lucu adalah bahasa yang mereka gunakan. Sekilas terdengar seperti perbincangan umumnya, tapi kalau didengar lebih seksama, bahasa mereka itu unik sekali. Bahkan sebagian besar yang saya dengar, tidak bisa saya mengerti. Tapi, ajaibnya perbincangan mereka itu seru dan lancar sekali, saling menimpali satu sama lain hihihihihi :)
Saya teringat sebuah cerita tentang anak-anak balita dari berbagai latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda. Mereka dapat dengan mudah berkomunikasi dan bermain bersama, meski mereka tidak mengenal ataupun menggunakan bahasa yang sama.
Mengapa demikian ya?
Sandya dan Fira, keduanya adalah anak yang cerewet di rumah.
Mama saya sendiri sering bilang, "Biasanya anak laki-laki, kemampuan bicaranya lambat. Tapi Sandya gak tuh".
Memang perlu saya akui, Sandya itu cukup mahir untuk kemampuan berbicara. Bahkan kalau kata suami saya, "Sandya jangankan ngomong, nyela aja udah jago". Hehehe maksudnya anak itu sering becanda dengan kata-kata.
Dari Wikipedia, saya mendapat informasi bahwa kemampuan bahasa termasuk pada perkembangan kognitif. Pada periode awal balita, usia dua tahun kosa kata rata-rata balita adalah 50 kata, Bertambah pada usia lima tahun,, diatas 1000 kosa kata.
Pada usia tiga tahun balita mulai berbicara dengan kalimat sederhana berisi tiga kata dan mulai mempelajari tata bahasa dari bahasa ibunya. Misalnya :
Usia 24 bulan: "Haus, minum"
Usia 36 bulan:"Aku haus minta minum"
![]() |
| Para batita yang super aktif (dok.pribadi) |
Kepribadian Sandya sendiri memang lebih supel dibandingkan kakak Aylaa yang agak pemalu. Tiap kali ditanya orang, Sandya akan menjawab, berbeda dengan Aylaa yang biasanya ngumpet karena malu. Tapi, semoga nanti, kakak Aylaa bisa lebih berani seiring perkembangan usia dan percaya dirinya.
Memang semua anak itu unik dan memiliki perkembangan yang tidak sama satu sama lain. Pengalaman saya yang punya dua anak saja, sudah luar biasa.
Bagaimana dengan teman-teman yang punya anak lebih banyak, pasti lebih seru ya ^_^
Label:
anak,
anak batita,
anak bawah tiga tahun,
anak ngobrol,
bahasa anak,
balita,
batita,
kemampuan bahasa anak,
parenting,
perbincangan anak,
perkembangan bahasa,
perkembangan batita
Tuesday, 9 September 2014
Sekolah Impian Itu Kini Sudah Memiliki Nama
![]() |
| Kakak Aylaa dan teman-teman seru-seruan di bis saat field trip (Foto: Hikmalia Prihatin) |
Demikianlah yang saya rasakan saat melihat sebuah sekolah di kawasan Kelapa Dua, Depok sekitar tahun 2005 silam. Saat itu saya bekerja di sebuah harian nasional, terutama di halaman keluarga yang salah satunya mengulas sekolah-sekolah.
Mulai dari ujung Jakarta barat hingga kawasan Jakarta Timur, Depok dan sekitarnya, saya jalani untuk mencari sekolah-sekolah yang saya rasa memiliki sistem pendidikan yang baik untuk anak-anak. Turun naik bis, kesulitan mendapatkan waktu wawancara hingga manajemen sekolah yang tertutup, semua saya alami saat itu. Namun, tak ada yang saya tak jalani, jika hati ini menjadi penuntunnya.
Salah satu misi saya saat itu adalah menimba ilmu sebanyak-banyaknya mengenai sistem pendidikan usia dini. Apalagi saat itu saya juga baru menikah dan berencana segera memiliki anak, sehingga bagi saya, manfaatnya juga untuk pribadi. Nyatanya memang ilmu saya soal parenting, masih benar-benar seujung kuku. Semakin saya menyelami, maka semakin sedikit rasanya yang saya sudah ketahui.
![]() |
| Para siswa yang super ceria (Foto: Azizah) |
Pencarian saya kemudian bertumpu pada sebuah sekolah yang dari depan tidak terlalu menyolok. Gerbangnya yang agak menjorok ke dalam, membuat sulit untuk melihat ke dalam sekolah lebih jauh. Dari nomor telepon yang tertera di depan sekolah, maka saya menghubungi dan membuat janji wawancara lebih lanjut.
Singkat cerita, saya berkesempatan dengan pendiri sekolah tersebut yaitu sepasang suami istri. Ternyata sekolah ini adalah sekolah yang mereka dirikan dengan idealisme yang agak berbeda dengan sekolah lain. Kebetulan, sang istri adalah seorang Psikolog sekaligus pengajar yang sangat mencintai anak-anak.
Sekolah inklusif. Kebalikan dari sekolah eksklusif hanya untuk kalangan tertentu. Sekolah ini menerima semua anak, kecuali kekurangan mereka tidak dapat diatasi pengajar.
Disini saya bertemu dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Anak-anak yang sulit berkonsentrasi namun masih dibimbing dengan kasih sayang. Disini saya melihat ketulusan dan kesabaran para pengajar.
Begitu terkesannya saya dengan sekolah ini, hingga saya berniat untuk memasukkan anak saya ke sini nanti. Seingat saya, waktu itu saya tengah mengadung anak pertama saya.
Pengajar Berhati Mulia
Ketika anak saya, Aylaa, sudah sudah cukup umur untuk pendidikan usia dini, saya kembali teringat dengan sekolah yang pernah saya impikan mendidik anak saya kelak. Namun, karena satu dan lain hal, rupanya anak saya belum berjodoh sekolah disana. Jaraknya lumayan jauh, sulit untuk saya mengantarkan ke sana.
![]() |
| Ibu-ibu guru yang luar biasa (Foto: Azizah) |
Alhamdulillah, setelah beragam proses penerimaan, anak saya berhasil masuk sekolah tersebut. Sekolah dengan program pengajaran yang menomorsatukan kenyamanan anak, tidak mendorong anak secara akademik berlebihan dan terutama para pengajar yang penuh cinta.
![]() |
| Salah seorang siswa sedang diajarkan berwudhu (Foto: Azizah) |
![]() |
| Seorang siswa dengan kebutuhan khusus bercakap-cakap dengan guru pendampingnya (Foto: Azizah) |
![]() |
| Seorang guru pendamping mengajarkan wudhu anak kelas 1 (Foto: Azizah) |
Program dan sistem pendidikan memang sangat penting, tapi hubungan antarmanusia tidak kalah krusial. Apalagi guru adalah salah satu role model yang dilihat anak-anak setiap hari, bisa dibilang mereka adalah sosok "pengganti" orangtua saat di sekolah. Tentu saja, saya menginginkan guru-guru terbaik untuk anak saya.
![]() |
| Mendidik tak hanya mengajar pelajaran namun juga termasuk membesarkan hati (Foto: Azizah) |
Jika mereka butuh orang yang bisa menulis, maka saya ada. Saat mereka perlu narasumber yang bisa saya kontak, tentu saya bantu. Atau, saat butuh moderator dengan kemampuan pas-pasan, saya siap. Tapi, asal jangan butuh koki atau penjahit deh, pasti saya nggak bisa hehehehe :D
![]() |
| Trio keren ini bukan artis loh, tapi para bapak guru yang jempolan (Foto: Azizah) |
![]() |
| Saya bersama dengan ibu-ibu sesama orangtua siswa |
Oh ya, sekilas tentang misi mereka yang dicantumkan di website yaitu mengoptimalkan perkembangan anak melalui berbagai kegiatan dan sarana yang dibutuhkan dengan mengintegrasikan nilai – nilai Islam dalam setiap aktivitas.
Sekolah ini tidak melulu mengenai materi pelajaran, namun kegiatan ekstra kurikulernya yang beragam mulai dari tari tradisional, klub menulis, vokal, futsal dan lain-lain, juga berhasil mengambil hati saya.
Untuk saya, sekolah yang selama ini ada dalam impian saya sudah berhasil saya temukan. Seakan saya menemukan yang saya tidak peroleh saat saya bersekolah dulu.
![]() |
| Kakak Aylaa di depan sekolah (dok.pribadi) |
Selamat belajar dan menimba ilmu yang seluas-luasnya ya, kakak Aylaa :)
*Tulisan ini diikutsertakan dalam "Give Away Sekolah Impian"
Monday, 25 August 2014
Asyik Manfaatkan Barang Bekas, Bonus Kedekatan dengan Anak
![]() |
| Hiasan dinding dari tangkai es krim ala Ibu dan Aylaa (dok.pribadi) |
Selamat sore teman-teman semua J
Semoga hari seninnya lancar dan bahagia, meski badan saya hari ini
sendi-sendinya berasa teriak-teriak karena kemaren saya ajak jogging, untuk pertama
kali setelah bertahun-tahun gak olahraga :D
Anyway, saya mau cerita tentang craft aja deh hari
ini. Awalnya, saya tertantang sebuah lomba. Sebenarnya itu lomba untuk Ayah dan
anak tentang memanfaatkan barang bekas. Tapi, Ayah dan anak itu anteng-anteng
aja, jadilah emaknya yang rempong. Entah kenapa saya kok semangat gini ya.
Nah akhirnya, dapatlah ide hiasan dinding dari
piring kertas bekas ulang tahun. Itu tuh piring yang biasa untuk kue ultah atau
cake kecil. Hihihi untuk mulai project itu seru deh. Saya ajak anak saya
lihat-lihat gambar, beli bahan-bahan tambahan ke toko dan akhirnya ngerjain
bareng-bareng. Meski pas sesi foto, agak-agak malu, tapi akhirnya saya
berhasil foto sesuai persyaratan yaitu foto ayah anak saat mengerjakan craft
sampai foto dengan hasil akhirnya. Legaaa..beres..kirim deh.
Lomba itu membangkitkan rasa penasaran saya. Minggu
depannya, saya coba membuat yang lain. Kali ini saya coba ngubek-ngubek bahan
bekas atau benda tidak terpakai apa yang bisa digunakan. Saya nemu pasir pantai
warna putih yang pernah saya beli untuk ngisi pot. Saya kemudian bikin pigura
foto dan hiasan dinding kamar mandi dari papan puzzle anak-anak yang tidak
dipakai. Pinggir-pinggirnya saya beri lem dan taburi pasir pantai tadi. Case
closed! *gambar menyusul bagi yang penasaran* ^_^
Tapi ternyata, kemudian terpancing tidak hanya
saya. Kemarin malam kakak, bawa kardus bekas ke hadapan saya, sambil ngomomg “Bu,
ini bisa dibikin apa ya?”. Nah lo, saya yang seharian sudah kecapean, kaget
sendiri.
Namun, saya juga tidak mau kehilangan kesempatan
menumbuhkan kreativitas kakak. Memang pasti repot, tapi jujur saja, saya sangat
menikmati.
Akhirnya saya bawa kakak browsing sana-sini tentang
craft dari barang bekas. Pandangannya tertuju pada craft dari tangkai es krim.
Kebetulan di rumah masih ada beberapa. Akhirnya, project dadakan malam itu
dimulai.
Anak saya yang pertama ini, sebenarnya sangat suka
menggambar. Tapi, jika ia sudah berhadapan dengan craft, dia sering tampak
gugup, tidak percaya diri dan takut salah. Jika sudah begini, biasanya saya
akan bilang, “Tidak ada yang salah atau benar disini, kak. Dinikmati saja
setiap prosesnya. Kan gambar yang kita lihat cuma ide awal, hasil akhirnya ya
kita buat tergantung kita”.
Memang harus saya akui, membuat craft semacam ini
membuat otak saya merasa rileks sekaligus kreatif. Mulai stres hanya ketika
adik Sandya mulai ikutan dan mengacak-acak segala sesuatu yang saya pakai.
Mulai dari ikutan menggunting, oles lem dimana-mana, dan akan makin stress kalau
kakak sudah teriak-teriak marahin adiknya.
Meski repot karena direcoki adik Sandya, taraaaaa....sebuah hiasan dinding bawah laut dari
tangkai es krim jadi deh. Kakak membuat ikan dan ubur-ubur serta rumput laut
dari kertas. Sementara saya bertugas menempelkan tangkai es krim. Senangnya
melihat binar senang di mata kakak.
Secara keseluruhan, meski sekilas tampak menyusahhkan dan kadang ribet
karena direcoki adik, saya dan kakak tidak kapok kok mengerjakan project
berikutnya. Manfaatnya, bisa memanfaatkan barang bekas sekaligus mendekatkan
hubungan saya dengan kakak. Beneran loh, dari kegiatan itu saya bisa
mengajarkan kakak kreatif, juga sabar dan menikmati tiap proses. Pokoknya seru
deh.
Jadi, project berikutnya apa lagi ya, kak?
Tuesday, 24 June 2014
Cita-cita, Milik Orangtua atau Anak?
![]() |
| Screenshot facebook page komunitas ayah edy |
Isi postingannya sebagai berikut:
MEREKA SEMUA SUDAH JELAS MAU JADI APA ?
Sudahkah anak-anak kita jelas mau jadi apa ?
Jangan hanya sekedar sekolah
Jangan hanya sekedar lulus
Jangan hanya sekedar ikut tes agar di terima di perti
Jangan hanya sekedar ikut-ikutan teman pilih jurusan di perti
TAPI HARUS JELAS DULU MAU JADI APA
baru cari jenis pendidikan yang mendukungnya secara penuh
Sebagian besar postingan dari Komunitas Ayah Edy tersebut biasanya sangat saya sukai, bahkan seringkali saya share, tapi untuk kali ini, saya sempat mengernyitkan dahi.
Jika demikian yang dilakukan orangtua, bisa-bisa orangtua yang terlalu banyak berperan dalam menentukan cita-cita anak untuk masa depan. Mengapa demikian, dan dimana salahnya? Bukankah Orangtua paling tahu yang terbaik untuk anak-anaknya?
Berkaca pada pengalaman saya, yang "diminta" oleh Papa saya untuk kuliah di Fakultas Hukum karena menurut beliau adalah pilihan terbaik, sementara minat saya sebenarnya adalah Fakultas Komunikasi. Hasilnya, saya berhasil menyelesaikan pendidikan itu, tapi apakah saya kemudian dengan senang hati berkecimpung didalamnya, itu lain cerita.
Hehe kalau teman-teman saya pastinya tahu, selama berkarir sejak akhir tahun 2002, tak pernah sekali pun saya menyentuh ranah hukum sebagai pekerjaan. Meski saya lulusan hukum, ternyata hati saya tak bisa dibohongi, untuk berkarir di bidang komunikasi, sehingga kemudian saya diterima sebagai reporter di sebuah harian ekonomi. Meski orangtua saya sempat keberatan dengan keputusan saya tersebut, tapi tak ada yang dapat menghalangi saya.
Pengalaman itu yang kemudian membuat saya berpikir lebih jauh mengenai postingan diatas. Mungkin, zaman sudah berubah dan anak-anak mampu memutuskan lebih cepat dibandingkan saya dulu? Tapi, saya kira, perkembangan anak sejak dulu hingga sekarang tak banyak berubah. Anak baru belajar berguling sekitar 3 bulan, merangkak beberapa bulan kemudian, lalu belajar berjalan sekitar usia 1 tahun,
Saya pribadi sangat khawatir orangtua terjebak dengan ambisi pribadi yang diturunkan kepada anak-anaknya.
Kekhawatiran saya juga kepada orangtua yang seakan-akan berlomba mencari sekolah-sekolah yang dianggap prestisius yang dapat memberikan pendidikan terbaik dari sisi akademik. Bukankah diatas langit ada langit? Jika satu sekolah dirasa tidak cocok oleh orangtua, kemudian anak diminta pindah, maka kepentingan siapa yang sebenarnya dibela? Cocokkah keputusan itu ditangan orangtua sepenuhnya?
Demikian pula ketika saya pening mendengar ada orangtua yang resah karena anaknya tidak bisa masuk jurusan IPA yang dianggap lebih prestisius dibanding IPS dengan alasan-alasan stereotipe yang belum tentu kebenarannya. Kalau ditanyakan pada para pekerja, saya yakin yang benar-benar bisa dimanfaatkan dari bangku sekolah hingga kuliah dalam dunia kerja itu sangatlah sedikit.
Saya pribadi memang memiliki harapan tertentu pada anak-anak saya, layaknya orangtua lain. Tapi, tak ada niat saya untuk benar-benar memutuskan kelak mereka akan bekerja menjadi apa. Saya tahu, kelebihan kakak Aylaa adalah bahasa.
Apakah lantas saya tak bangga karena ia tak jago matematika? Sama sekali tidak. Sebaliknya, saya justru sangat merasa bangga. Saya punya rencana untuk memasukkannya ke les bahasa asing yang dia sukai, yaitu bahasa Jepang selain bahasa Inggris. Tapi, dengan catatan, semua harus disetujui secara pribadi olehnya.
Yang saya pikir adalah saya membekalinya sebanyak dan semampu saya dan suami sebagai orangtua. Mengenai profesi yang kelak akan dipilihnya, saya tak akan banyak ikut campur, selama pekerjaan itu halal dan tidak bertentangan dengan agama dan keyakinan.
Hmmm..mungkin ada yang punya pendapat lain? Saya tunggu komentarnya yaa ^_^
Subscribe to:
Posts (Atom)








%2BELC%2B-Birthday%2B40th%2B-%2B01112014%2B-%2B291.jpg)

%2BELC%2B-Birthday%2B40th%2B-%2B01112014%2B-%2B209.jpg)
%2BELC%2B-Birthday%2B40th%2B-%2B01112014%2B-%2B304.jpg)
%2BELC%2B-Birthday%2B40th%2B-%2B01112014%2B-%2B342.jpg)




































