Pages

Saturday, 21 September 2013

Rasanya Baru Kemarin...

I love you, my baby

Assalamualaikum. Selamat malam. Hari ini rasanya pengen nulis, tapi kok otak rasanya sedang tidak bisa konsentrasi. Akhirnya, browsing sana sini, blogwalking ke mana-mana. Lihat-lihat akun Facebook, dan akhirnya ngecek akun Facebook sendiri, iseng lihat notes.

Ternyata ada beberapa puisi yang pernah di-upload. Ada yang dibuat sendiri, ada juga yang merupakan copas dari pujanggan kenamaan atau bahkan copas yang tidak lagi diketahui sumbernya karena sudah saking lamanya ^_^

Dan, ketemu salah satu puisi untuk sulungku, Rachma Aylaa Santoso. Waktu itu tahun Januari 2009, usia Aylaa baru dua tahun lebih tiga bulan. Saat itu, saya sedang melow lantaran akan terbang ke Eropa selama dua bulan. Makin dipikir, makin galau. Rasanya pengen batalin, tapi kok ya sayang. Tapi, juga ngerasa gak sanggup ninggalin suami dan anak selama itu. Jangankan dua bulan, sebelumnya saya pernah liputan nginep semalem aja, perasaan udah gak jelas. Apalagi dua bulan, mak.

Meskipun akhirnya jadi berangkat, tapi sebagaimana diperkirakan, perasaan saya galau berlarut-larut disana dan berhasil membuat tagihan ponsel melesat hingga menghabiskan sebagian uang saku. Gimana nggak, tiap kangen langsung nelpon, gak peduli apa2, padahal tarifnya luar biasa hihihi.

Nah, begini nih curahan hati saya waktu itu.

Rasanya baru kemarin...

Rasanya baru kemarin... Ibu menggendong aylaa yang mungil karena berat badan lahir cuma 2,6 kilogram.
Rasanya baru kemarin... menggendong Aylaa yang bangun hampir dua jam sekali untuk disusui.
Rasanya baru kemarin...mendengar kalimat babling Aylaa yang lucu.
Rasanya baru kemarin... tertawa senang melihat langkah pertama Aylaa.

Sekarang di usia 2 tahun, Aylaa sudah semakin besar dan mandiri.
Makan maunya sendiri, gak mau disuapin lagi.
Digendong seperti bayi, udah bisa protes. "Aylaa udah gede, bu".
Aylaa udah makin pinter ngomong. Semua perkataan orang diikutin.
Bahkan udah bisa niruin kalimat dari televisi "Aku punya ide".

Bahagia, bangga sekaligus terharu. Bayiku sudah beranjak besar. Dia bukan bayi lagi yang membutuhkan ibunya 24 jam.

Siapa bilang orangtua tidak perlu ikut mendewasakan diri menghadapi anak-anaknya?
Proses itu harus terus berkembang, jika orangtua ingin "bayi-bayi" mereka bisa mencapai yang terbaik.
I love you, my baby. You are one of the reason my life so beautiful.


Sekarang Aylaa sudah hampir 7 tahun, kelas 2 SD, dan ada saat-saat dimana dia bersikap lebih dewasa dibanding ibunya ^_^ Kadang masih malu-malu, tapi tak pernah gentar saat menapakkan kaki mengikuti lomba menari, sesekali masih bingung saat mengerjakan PR, namun kerap mengejutkan dengan nilai akhirnya yang luar biasa. Sering merasa cemburu dan galak sama adik, tapi khawatir jika adik jatuh dan siap menggendongnya. I love you, Aylaa.

Aylaa, Ibu dan adik Sandya

Thursday, 19 September 2013

Surat untuk Ayah: Keluarga Kita Perlu Perlindungan Kesehatan

 Saya sedang menulis surat untuk suami terkasih (dok.pribadi)

Kepada:

Suami Terkasih


Assalamualaikum wr.wb.

Semoga Ayah senantiasa sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Surat ini sengaja Ibu buat untuk mengajak Ayah berasuransi. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu Ibu berusaha mengajak Ayah untuk ikut, tapi sepertinya pintu hati Ayah belum kunjung terbuka.

Kalau memang Ayah masih ragu, izinkan Ibu mengulas beberapa fakta tentang asuransi. Memang asuransi memang bukan sesuatu yang baru di Indonesia, namun bukan juga sebagai sesuatu yang umum dimiliki masyarakat. Ibu sendiri baru mengenal asuransi setelah masuk di dunia kerja, karena pihak kantor memberikan fasilitas asuransi kesehatan pada karyawannya.

Nah, menurut sejarah, asuransi masuk ke Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda yang disebut dengan Nederlands Indie. Asuransi diperlukan untuk menjamin kelangsungan usaha di sektor perkebunan dan perdagangan Belanda.

Tapi, jenis asuransi yang diperkenalkan pada saat itu sebagian besar terdiri dari asuransi kebakaran dan pengangkutan sebagai bagian asuransi kerugian pada kegiatan dagang dan untuk kepentingan bangsa Belanda, Inggris, dan bangsa Eropa lainnya. Belum ada jenis asuransi kesehatan, apalagi untuk pribumi.

Untuk lebih jelasnya, Ibu kutip definisi asuransi terlebih dahulu deh untuk Ayah.  

"Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1992, yang dimaksud dengan asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri pada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian pada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan."

Secara singkatnya sih, usaha untuk mengalihkan risiko antara pihak tertanggung yaitu nasabah seperti kita kepada pihak penanggung, dimana pihak penanggung menyediakan pengamanan finansial bagi tertanggung. Untuk itu, tertanggung membayarkan premi dalam jumlah tertentu dihitung dari potensi kerugian.

Sejalan dengan perkembangannya, asuransi saat ini juga banyak jenisnya yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern, seperti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi pendidikan, asuransi pensiun, asuransi rumah, asuransi kendaraan bermotor dan lain-lain. Oh ya, ada juga asuransi unit link yaitu gabungan antara asuransi dan invenstasi.  Selain itu, ada asuransi syariah yang diperuntukkan terutama bagi umat muslim yang menginginkan perhitungan secara islami.

Tapi, sudah dulu belajar sejarah asuransinya deh, yah. Secara pribadi, Ibu merasa keluarga kita sangat membutuhkan PERLINDUNGAN KESEHATAN, yang dapat diperoleh dari ASURANSI KESEHATAN KELUARGA. Memangnya kenapa, bu? Kalau itu pertanyaan Ayah, maka akan ibu jawab, karena sebagaimana kata pepatah "Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak", sakit itu tidak dapat diperkirakan kapan dan pada siapa.

Seperti temen Ibu yang kemarin, tiba-tiba aja kena sakit ginjal padahal sebelumnya kelihatan sehat-sehat saja. Kalau sudah gitu, selain rasa sakit yang harus ditanggung juga harus memikrkan biaya yang dikeluarkan yang tak kalah luar biasa.

Memang, sekilas saat membayar premi asuransi tampak jumlah nominalnya terbilang lumayan, tapi kalau kita bandingkan dengan kasus seperti temen Ibu di atas, sepertinya hal itu bisa menjadi penawarnya. Hati menjadi lebih tenang tatkala kita beraktivitas, apalagi Ayah kan kerjanya berat dari pagi dan baru sampai di rumah malam hari. Meskipun Ibu beraktivitas terbatas di rumah dan sekitarnya, tapi juga tidak kalah berat dan stres loh yah. Pekerjaan di rumah yang bisa berlangsung 24 jam dengan dua anak yang sedang lincah-lincahnya, terkadang rasanya bisa lebih berat dibandingkan Ibu bekerja di kantor dulu.

Mempercayakan diri pada asuransi tapi juga tidak boleh sembarangan kan, yah. Tenang yah, Ibu sudah melakukan pekerjaan rumah ini untuk Ayah. Ibu jadi rajin cari informasi mengenai perlindungan kesehatan mana yang kira-kira cocok dan terbaik untuk keluarga kita. Kan, banyak tuh cerita mengenai pihak asuransi yang tidak mau membayar klaim dari nasabah karena alasan macem-macem. Ih jangan sampe kita ngalamain deh, yah.

Setelah cari info ke sana ke mari, Ibu menemukan situs web SUN LIFE FINANCIAL. Mulai deh baca-baca dari awal sampe akhir, sampe-sampe cucian dan setrikaan dicuekin hehehe.

Rajin cari info di situs web Sun Life Financial (dok.pribadi)

Ternyata SUN LIFE sudah berdiri sejak 1865, meskipun di Indonesia baru berdiri sekitar tahun 1995. Wah kalau begitu, produk-produk dan layanannya sudah teruji oleh waktu donk ya. Berhubung kita tinggal di Indonesia, ya Ibu cari informasi produk yang ada disini aja. Ternyata produk-produknya macam-macam yah, mulai dari Proteksi, Simpanan dan Investasi, Bancassuransce serta Sun Life Syariah.

Tapi, yang jadi perhatian Ibu sih tentu saja produk-produk Proteksi. Setelah Ibu lihat ternyata produk Proteksi Sun Life Financial ada tiga, ini nih :

  1. Sun Medicash, yaitu program asuransi dengan sejumlah manfaat tunai. Misalnya, saat kita sebagai sebagai Tertanggung menjalani rawat inap di rumah sakit, bisa karena karena sakit atau kecelakaan.
  2. Term Life dengan tagline menyongsong hari depan dengan perlindungan yang lebih pasti. Kalau Ibu tidak salah sih, asuransi ini memiliki jangka waktu. Pembayaran preminya disesuaikan dengan berapa lama kita mau memanfaatkan produk asuransi ini disesuaikan juga dengan usia Tertanggung. Tapi, nanti Ibu cari-cari informasi lagi deh.
  3. Sun Golden Life. Nah ini program asuransi khusus ini untuk yang membutuhkan Proteksi Jangka Pendek. Ditulis di situs, dana yang tersedia dari program ini dapat dimanfaatkan oleh keluarga untuk membantu memenuhi kebutuhan keuangan keluarga apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan terhadap Tertanggung.
Eh, Ayah masih dibaca kan surat Ibu? Hehehe jangan-jangan malah tambah pusing soal asuransi ini. Jangan dong! Kita belajar bareng-bareng ya, Yah. Masih banyak produk-produk lain menarik dan mungkin cocok untuk keluarga kita, seperti produk Simpanan dan Investasi atau produk Sun Life Syariah. Jujur aja, Ibu juga masih banyak nyontek di situs webnya SUN LIFE FINANCIAL pas nulis surat ini hehehe.

Setelah baca surat Ibu ini nanti, kita ketemu lagi ya sama Mbak Vivien, itu loh agen Sun Life Financial yang pernah ketemu Ayah beberapa bulan lalu. Moga-moga pertemuan nanti, Ayah sudah benar-benar setuju dan menggunakan proteksi perlindungan kesehatan dari Sun Life. Ibu yakin tidak salah pilih kok, yah.

Sudah dulu suratnya ya, anak-anak sudah pada bangun dari tidur siang nih. Wassalamualaikum wr.wb.

Salam sayang,

Istrimu tercinta
 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis Blogger Sun Life 2013 *














Tuesday, 17 September 2013

Berapa Waktu yang Dibutuhkan untuk jadi Ahli?


sumber gambar: blog.garanimals.com

Selamat pagi. Assalamualaikum. Seneng deh banyak temen-temen yang berkunjung ke sini sejak kemarin. Makasih yaa.

Nah, untuk yang bertanya soal bagaimana cara saya menulis ataupun ingin belajar menulis dari saya, bukannya saya gak ingin ngajarin atau bagi-bagi ilmu. Tapi, jujur aja saya belum terlalu paham melakukannya. Kenapa? Karena saya adalah salah seorang penulis yang ditempa oleh latihan, tanpa terlalu banyak teori.

Maklum saya memulai karir menulis dengan menulis di diary, gak pernah berani ikut nulis di mading sekolah sampe akhirnya berani ikut majalah kampus, yang justru disuruh nyari dana buat nerbitin (hiiks), dilarang kuliah di Fakultas Komunikasi dan diterima di Fakultas Hukum Universitas negeri di Bandung, sampe akhirnya diterima jadi wartawan dan berlatih menulis sendiri. Intinya, kemampuan saya menulis ya karena menulis.

Hal ini mengingatkan saya pada salah satu buku yang pernah saya baca, judulnya "DNA Sukses Mulia" yang ditulis oleh praktisi dari Kubik Leadership. Dalam salah satu topik pembahasan, mereka menulis tentang bagaimana cara menjadi seorang ahli. Berikut kutipannya: 

"Pada tahun 1993, tiga orang pakar bernama K. Anders Ericsson, Ralf Th. Krampe, dan Clemens Tesch-Romer melakukan penelitian di Berlin Academy of Music. Mereka berusaha menemukan jawaban, bagaimana seseorang bisa menjadi pakar dalam bidangnya atau dengan kata lain, menjadi seorang expert.
 

Dibantu seorang profesor, mereka mengelompokkan mahasiswa tingkat akhir ke dalam tiga kategori: 1) calon guru musik 2) calon pemusik profesional 3) calon maestro musik dunia. Pertanyaan mereka adalah: Semua mahasiswa yang diterima dan belajar di akademi tersebut, pastilah orang-orang berbakat. Lalu kenapa akhirnya ‘nasib’ mereka berbeda? Ada yang sekadar menjadi musisi biasa, dan ada yang bisa menjadi expert. 

Untuk memperkuat hasilnya, mereka ulang penelitiannya dengan model pengkategorian yang sama, namun menggunakan sample profesi yang beragam, mulai dari musisi, pemain catur, sampai dengan olahragawan. Akhirnya, mereka berhasil membuat kesimpulan luar biasa. 

Ternyata yang membedakan ketiga kategori itu adalah berapa lama waktu yang telah mereka alokasikan untuk berlatih menjadi yang terbaik dalam profesi pilihannya. Mereka yang berhasil menjadi expert telah mengalokasikan waktu untuk berlatih selama 10,000 jam. Kesimpulan itu, kini dikenal sebagai 10.000 hours rule (peraturan 10.000 jam). 

Banyaknya waktu yang diinvestasikan untuk berlatih, dan cara berlatihnya, akan sangat menentukan hasilnya. Apakah Anda bisa menjadi yang terbaik, atau Anda hanya menjadi orang biasa.  Yakinlah, tidak ada jalan pintas untuk bisa menjadi seorang expert."

Peraturan 10.000 jam itu dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell dalam buku The Outliers. Namun, sebenarnya berapa lama waktu 10.000 jam itu? Taruhlah, kita menyisihkan waktu 3 jam setiap hari, berarti dibutuhkan 10 tahun untuk bisa menjadi seorang ahli.  Galdwell dalam bukunya lebih lanjut mencontohkan, The Beatles, band populer asal Inggris yang membuktikan ‘kebenaran’ peraturan 10,000 jam.

The Beatles didirikan tahun 1957, ketika Paul McCartney bertemu John Lenon. Mereka kemudian pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1963, yang kemudian terkenal dengan istilah The British Invasion. Tahun 1967, The Beatless melahirkan sebuah album yang menjadikan mereka sebagai legenda yang mendunia. Album itulah yang membuat mereka diakui sebagai orang-orang terbaik di bidang musik, atau menjadi ahli Ternyata, The Beatless butuh 10 tahun untuk bisa sukses.

Kemudian, contoh kedua yang dikemukakan Galdwell adalah Bill Gates. Ia mulai menekuni programming komputer di tahun 1968 ketika dia berumur 13 tahun. Hanya dalam waktu 7 tahun yaitu pada usia 20 tahun, Gates mendirikan Microsoft yang tidak lama kemudian dipercaya sebuah perusahaan raksasa, untuk membuat sistem operasi IBM PC sebagai produk komputernya yang terbaru saat itu. Hal itu menandakan bahwa Gates sudah dianggap sebagai ahli.

Tapi mengapa "hanya" 7 tahun, bukan 10 tahun? Sebab, Bill Gates menginvestasikan waktu untuk berlatih lebih dari 3 jam sehari. Di dalam tulisan autobiografi dikatakan Gates biasa berlatih 7-8 jam sehari, bahkan tidur di lab komputer. Tak heran, ketika usianya baru 20 tahun, dia sudah menyisihkan waktunya lebih dari 10.000 jam.

Jadi, tidak bingung  lagi kan, mengapa tulisan yang berasal dari seorang penulis dengan jam terbang 5 tahun, berbeda dengan yang 10 tahun. Atau, alasan mengapa meskipun Mama saya yang sudah memasak di dapur puluhan tahun, meski "hanya" membuat tempe goreng tapi rasanya jauh lebih lezat dibandingkan ayam goreng bikinan saya yang kurang akrab dengan dapur *uhuk curcol mak*

Kalau saya boleh menyimpulkan, jika teman-teman berniat menjadi ahli apapun, mulailah berlatih dari sekarang. Suka menulis, mulailah menyisihkan waktu lebih banyak untuk menulis. Gemar masak? Perbanyaklah memasak dan jangan segan dan sungkan untuk kirim-kirim ke rumah saya hehehehe :D






Monday, 16 September 2013

Menang Luar Biasa, Belum Menang Terus Berusaha

sumber: bandarlampungkota.go.id

Alhamdulillah. Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas segalanya hari ini, terutama dinobatkannya saya sebagai pemenang ke-2 dari lomba blog #10daysforASEAN yang diumumkan Aseanblogger hari ini (16/9). Tak ada kata yang rasanya mampu saya katakan lebih dari itu.

Untuk saya pribadi, kemenangan ini bagaikan pendongkrak semangat untuk menulis. Saya semakin menyadari, menulis adalah passion saya sebenarnya, menulis adalah dunia saya dan yang paling penting, menulis adalah bagian penting dalam hidup saya yang sangat dibutuhkan oleh jiwa saya.

Menulis untuk kepentingan orang lain (pembaca) merupakan salah satu hal yang sudah biasa saya lakukan, sejak saya memulai karir sebagai seorang jurnalis. Menulis berita dari hasil liputan yang kadang mulai dari pagi buta hingga tengah malam, kadang diawali perjalanan berjam-jam lamanya, diderai peluh karena sinar matahari yang menyengat, namun tak jarang diseling tawa bersama rekan-rekan seperjuangan dan senyum puas tatkala dapat memperoleh hasil wawancara dengan baik.

Kemudian, ketika anak-anak dan urusan rumah tangga semakin menuntut waktu dan perhatian, saya memutuskan untuk tak lagi bekerja di kantor dan melepas karir jurnalistik. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk mengerjakan tulisan ataupun terjemahan secara paruh waktu. Yang perlu saya akui, bekerja dari rumah bukanlah sesuatu yang mudah.

Sebagaimana pembaca media ataupun redaktur saya dulu, tentu klien tidak ingin tahu betapa sulitnya saya menyediakan waktu beberapa jam untuk menulis ditengah rengekan si bungsu yang terus-terusan ingin menyusu ataupun ketika si Kakak ngambek karena ibunya dinilai tidak sayang lagi karena tidak punya waktu untuk dia, ataupun keluhan suami yang bilang, "Ibu sekarang sibuk ya?". Semua pekerjaan harus selesai dengan sempurna, tepat pada waktunya.

Demikian pula saat saya menulis untuk lomba blog #10daysforASEAN. Jika kemudian tulisan saya dianggap masuk kriteria sebagai pemenang, saya sangat bersyukur. Sebab, di balik tulisan tersebut, ada berbagai hal yang melatarinya, yang kadang membuat saya sempat ingin menyerah di tengah perjalanan penulisan selama 10 hari.

Jangan juga dikira saya selalu menjadi pemenang. Jauh dari itu. Sebelum pengumuman ini, saya sempat kecewa karena sama sekali tidak masuk finalis, apalagi menang di lomba penulisan blog salah satu kopi instan. Padahal saya sudah sangat berharap :( Tapi, nyatanya hal itu membawa manfaat. Saya menjadi terasah dan belajar dari blog-blog pemenangnya.

Memang saya sudah tidak asing dengan lomba-lomba penulisan semenjak jadi wartawan, beberapa kali juga saya berhasil menang. Awalnya, saya juga tidak menang. Kemudian, saya mencoba mempelajari teknik penulisan para pemenang. Mungkin karena tulisan saya dinilai memenuhi kriteria, ataupun lantaran media tempat saya bekerja. Entahlah.

Itu yang membuat partisipasi saya sebagai peserta lomba dengan membawa nama pribadi dalam blog, sungguh memiliki kesan yang berbeda.Kali ini tidak ada embel-embel nama media yang membuat saya memenuhi kriteria sebagai pemenang. Hanya nama saya, tulisan saya dan blog pribadi saya. Itu yang membuatnya semakin istimewa.

Saya masih ingat hadiah-hadiah yang saya peroleh dulu memang sudah ditentukan Allah SWT yang tepat  pada waktunya. Misalnya, sebuah lomba penulisan yang berhadiah uang tunai, sekitar satu bulan dari saat jatuh tempo saya harus membayar kontrak rumah dengan jumlah yang sama.

Kemenangan saya di lomba blog #10daysforASEAN yang diadakan Aseanblogger juga mungkin menandakan saya sudah harus mengganti ponsel yang sudah mulai dimakan umur ^_^

Jadi untuk rekan-rekan penulis, blogger dan siapa pun juga yang mengikuti kompetisi, lomba dalam bentuk apapun, jangan pernah menyerah. Saya jadi semakin memahami pepatah "Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda".

Jadi, siap untuk lomba berikutnya?







Sunday, 8 September 2013

Nikmatnya Menulis Artikel ASEAN dalam Ranah Blogger

Saya saat mengikuti sebuah pelatihan jurnalistik di Berlin saat masih menjadi wartawan (dok.pribadi)

Sejak menjadi wartawan akhir tahun 2002, hingga akhirnya meninggalkan karir tersebut pada tahun 2010, tentu menyisakan beragam pengalaman, suka duka dan kesan yang tidak bisa dibilang sedikit.

Saya ingat pada suatu hari saya "dipaksa" ikut oleh teman-teman di tempat liputan untuk pergi dalam suatu acara peliputan ke luar kota. Saya sendiri tidak ditugaskan saat itu, karena ada teman saya yang lain yang ditugaskan. Namun, sebagai seorang wartawan muda yang penuh dengan keingintahuan serta penasaran, akhirnya jadilah saya ikut. Berusaha mendapatkan berita dengan menelpon narasumber sana-sini. Meskipun kemudian tidak maksimal. Saat itu, teknologi telepon seluler belum secanggih sekarang, sulit mendapatkan data dari ponsel.

Yang ada kemudian, saya mendapat sanksi dari kantor dan mendapat "masukan" yang lumayan pedas dari redaktur saya saat itu. Saya sendiri lupa kalimat tepatnya, namun yang saya ingat, beliau menekankan bahwa saya saat itu dihargai bukan sebagai diri saya pribadi namun sebagai perwakilan institusi media tempat saya bekerja.

Entah mengapa, batin saya menggeliat saat itu. Ada sepercik rasa tak setuju dalam hati saya. Namun, apa daya saya saat itu selain hanya diam, menerima konsekuensi perbuatan saya yang memang seharusnya tidak ditiru wartawan muda manapun hehehe.

Seiring waktu berjalan, saya kemudian sempat berbincang dengan wartawan-wartawawan lain. Dalam suatu waktu, saya mendengar salah seorang senior yang mengatakan kurang lebih sebagai berikut, "Ketika menulis berita, lakukan dengan semaksimal mungkin, karena didalam berita itu yang ada adalah nama penulisnya, bukan redaktur, editor atau bahkan pemimpin redaksi. Pada akhirnya, penulis berita lah yang akan dikenal oleh pembacanya".

Saya sempat termangu. Ya, memang benar. Meskipun ada sebagian surat kabar atau media apapun yang menyamarkan nama penulis berita dengan berupa kode (tapi sekarang sudah semakin jarang).

Hingga kemudian saya berkenalan dengan blog, saya seakan kembali mendapatkan media untuk menulis. Kali ini ada yang berbeda.

Jika sebagai wartawan, saya diharapkan netral, menyampaikan sebatas fakta, namun sebagai blogger, menyuarakan pendapat pribadi, sah-sah saja. Bahkan merangkum sebuah artikel serius dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi justru dapat memperkaya tulisan tersebut di blog.

Pengalaman yang cukup unik ketika saya mengikuti lomba blog #10daysforASEAN yang diadakan aseanblogger. Bayangkan sebuah tema yang cukup serius seperti kedatangan tenaga kerja luar negeri ke Indonesia, visa, brand sebuah negara hingga problematika batas negara dan badan persatuan ASEAN, dapat saya tulis dengan bumbu mengulik pengalaman pribadi!

Menulis semacam itu sungguh luar biasa dan tak terbayangkan oleh saya sebelumnya. Sebab, saat menjadi wartawan, jangankan pengalaman pribadi, opini pribadi pun sebaiknya tak boleh dimasukkan. Kecuali, laporan pandangan mata atau beritanya terkait dengan pengalaman pribadi yang memang menjadi topik artikel, misalnya bercerita tentang perjalanan. Tapi, artikel mengenai ASEAN dengan pengalaman/opini pribadi? Hehehe it's beyond my imagination :) Khusus untuk panitia lomba blog #10daysforASEAN saya ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya karena pengalaman ini membuat saya tersadar bahwa masih banyak yang dapat saya lakukan sebagai penulis dalam ranah blogger

Intinya, baik wartawan ataupun blogger sebagai bagian dari jurnalisme warga memiliki porsinya masing-masing yang saya hormati. Namun, satu kesamaannya yaitu sebagai penyuara dalam masyarakat. Jika pers disebut-sebut sebagai pilar keempat dalam demokrasi, maka tak salah rasanya jika jurnalisme warga termasuk blogger ataupun jejaring sosial kemudian menjadi pilar demokrasi selanjutnya. 


Thursday, 5 September 2013

Satu Suara untuk Jakarta sebagai Kota Penghubung Antarnegara ASEAN


Gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta Selatan (news.liputan6.com)

"Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri". Sebuah peribahasa Melayu yang berarti, bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri. Arti dari peribahasa itu tak pernah saya hayati sebelumnya, hingga saya berkesempatan untuk tinggal di negeri orang.

Eitss, tapi sebelum cerita lebih lanjut soal Indonesia dan Jakarta sebagai ibukota tercinta, izinkan saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada aseanblogger yang sudah mengadakan lomba blog #10daysforASEAN yang super keren dan edukatif. Saya sendiri awalnya mengikuti lomba ini lantaran penasaran, dan ternyata banyak manfaat yang saya peroleh. Mulai dari mengenal berbagai hal dari negara-negara ASEAN hingga belajar mempertajam analisa. Satu masukan saya, hadiahnya kurang banyak dibandingkan pesertanya hehehe :)

Oh ya, di hari ke-10 alias hari terakhir lomba blog #10daysforASEAN ini berkisar soal Jakarta yang dipercaya sebagai lokasi markas ASEAN Secretary. Yuk dibaca dulu tema lengkapnya :


Tema : Jakarta, Diplomatic City of ASEAN

Indonesia adalah negara terakhir yang dijadikan tema dalam lomba Blog #10DaysforASEAN yang diadakan oleh ASEAN Blogger Chapter Indonesia bersama dengan beberapa sponsor di antaranya US Mission.

Untuk tema kali ini dipilih Jakarta, ibukota negara Indonesia, yang juga menjadi markas ASEAN Secretary bertempat di Jalan Sisingamangaraja 70 A, Jakarta Selatan.  Keberadaan markas ASEAN Secretary di Jakarta merupakan suatu kepercayaan bahwa Indonesia bisa menjadi penghubung antar negara-negara anggota ASEAN atau Diplomatic City of ASEAN.

Menurut teman-teman blogger mengapa Jakarta bisa terpilih sebagai Diplomatic City of ASEAN? Apa dampak positif dan negatifnya bagi Indonesia khususnya Jakarta? Kesiapan apa saja yang perlu dilakukan oleh Jakarta sebagai tuan rumah dari Perhimpunan Bangsa-bangsa ASEAN?

Berbicara soal Jakarta, seakan waktu tak pernah cukup lantaran berbagai realita dan problematikanya. Saya sendiri baru benar-benar menetap di Jakarta, ketika mulai bekerja sebagi jurnalis di salah satu harian ekonomi, yang kala itu berada di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, sekitar akhir tahun 2002.

Sebelumnya, saya hanya sering berkunjung ke Jakarta saat berlebaran ke rumah saudara-saudara saja. Atau, ketika diajak Papa saya berlibur ke tempat wisata Jakarta seperti Ancol, kebun binatang Ragunan dan lain-lain.

Kesan saya pertama kali harus menetap di Jakarta adalah segala sesuatu berjalan dengan cepat. Setiap orang seakan-akan tak sabar untuk bergerak dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Saya yang berasal dari kota kecil, yang sebenarnya tak terlalu jauh dari Jakarta, sempat terseok-seok mengikuti ritme khas Jakarta. Namun, seiring waktu dan tuntutan kerja, kemudian saya dapat menyesuaikan diri dan menikmati segala sesuatunya di Jakarta.

Mengapa Jakarta?


Kembali ke tema hari terakhir lomba blog #10daysforASEAN yang mempertanyakan, mengapa Jakarta bisa terpilih sebagai penghubung antar negara-negara anggota ASEAN atau Diplomatic City of ASEAN? Maka jawaban awal saya adalah mengapa tidak? Jakarta sebagai ibukota negara bisa dibilang mampu memenuhi hampir seluruh sisi kehidupan orang-orang yang ada didalamnya.

                    Gedung perkantoran di sekitar Jalan Sudirman, Jakarta Pusat (neketa0824.wordpress.com)

Apakah Anda ingin melihat kawasan perkantoran yang penuh dengan gedung bertingkat? Ada, silakan susuri jalanan Sudirman, Thamrin dan kawasan Mega Kuningan di Jakarta Pusat. Apakah Anda ingin berbelanja di pertokoan modern yang serba ada alias mal? Bisa ditemukan hampir di seluruh kawasan Jakarta, mulai dari ujung Jakarta sampai ujungnya lagi. Hingga tak salah jika Jakarta kini memiliki julukan Kota Sejuta Mal.

Apakah masih belum cukup, Anda ingin menikmati waktu bersantai bersama keluarga? Lokasi wisata Ancol, Dunia Fantasi, Kebun binatang Ragunan, Taman Mini Indonesia Indah dan lain-lain, siap menghibur Anda. Oh apakah Anda menginginkan hiburan malam khusus orang dewasa? Saya kira kafe, tempat karaoke serta bar yang bertebaran di Jakarta, mampu memenuhi ekspektasi Anda.

Bagaimana untuk para pelancong yang ingin menikmati sejarah Indonesia? Silakan kunjungi museum Nasional atau Museum Sumpah Pemuda di Jakarta, Museum Bahari di Jakarta Utara, Museum Tekstil ataupun Museum Wayang di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, serta museum-museum lain di seluruh kawasan Jakarta siap memberikan informasi seluas-luasnya untuk Anda.

Tak salah rasanya, Jakarta sebagai kota dengan kultur yang majemuk ini dipercaya menjadi Diplomatic City of ASEAN yang juga terdiri dari berbagai negara dengan latar belakang kultur yang berbeda.

Pertanyaan berikutnya, apa dampak positif dan negatifnya bagi Indonesia khususnya Jakarta? Dampak positifnya, tentu saja semakin meningkatnya kepercayaan terhadap kota Jakarta, lebih luas lagi sebagai negara Indonesia. Ketika kepercayaan sudah tertanam, maka berbagai keuntungan yang bisa didapat tidak hanya dari sisi politis yang strategis, namun juga sebagai potensi wisata dan bisnis.

Pengibaran bendera ASEAN di Gedung Sekretariat ASEAN 
di Jakarta Selatan (screenshot Ahok.org)

Lebih jauh lagi, saya ingin mengutip pernyataan dari Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama alias Ahok usai menghadiri peringatan terbentuknya Asean ke-46 di Gedung Sekretariat Asean di Jakarta Selatan, Agustus 2013 silam. Ia mengatakan bahwa Jakarta sebagai kota yang beruntung.


“Kita bisa jadi ibukota negara negara  ASEAN. Kita bisa bayangkan kantor mantan Wali Kota Jakarta Selatan jadi headquarter-nya ASEAN. Seperti di New York yang menjadi ibukota PBB. Kantor ASEAN bisa jadi ikon baru Jakarta,” ujarnya.

Nah, jika ada dampak positif, maka sewajarnya ada dampak negatif. Tapi, apa kemungkinannya? Menurut saya, hal ini berkaitan dengan kesiapan kota Jakarta menyambut wajah-wajah pendatang yang baru menapakkan kaki di Jakarta. Dapatkah Anda bayangkan kemacetan Jakarta yang akan segera mereka temui ketika memasuki Jakarta? Atau, bahkan para pendatang dari luar negeri harus melihat semrawutnya bandara Soekarno Hatta yang seharusnya menjadi cerminan dari gerbang penyambutan?

Ah, tak tega rasanya saya membayangkan. Bahkan jika tamu harus melalui jalanan menuju rumah saya yang terganggu galian kabel atau pengerjaan jalan, ataupun ketika ruang tamu saya berantakan, saya merasa sangat malu pada tamu saya. Namun, mengapa Jakarta tidak? Ini merupakan salah satu pekerjaan rumah dalam persiapan yang perlu dilakukan oleh Jakarta sebagai tuan rumah dari Perhimpunan Bangsa-bangsa ASEAN.


Tetap Dicinta

Betapa kemacetan Jakarta yang menggila, panasnya matahari Jakarta yang menyengat, ataupun para penjual makanan yang sering tak tahu aturan dengan berjualan seenaknya, tetap saja membuat saya rindu ketika harus menetap di sebuah negara di Eropa.

Waktu dua bulan kala itu terasa jauh lebih lama. Ditengah udara yang menggigil, saya rindu hangatnya matahari di Jakarta. Ketika saya merasa lapar di malam hari, ingin rasanya mendengar tukang nasi goreng langganan dan melahapnya hangat-hangat, tanpa harus pergi ke sebuah kedai dengan makanan yang asing di lidah saya. Ajaibnya, sekembalinya saya dari sana setelah dua bulan, selama beberapa hari pertama kembali ke kemacetan Jakarta, saya sungguh menikmatinya.

Tak salah rasanya, peribahasa Melayu yang saya tuliskan pada awal tulisan ini, "Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri". Bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri.

Ingin bukti? Silakan Anda tanyakan kepada para warga Indonesia yang tinggal di luar negeri. Kira-kira seberapa banyak yang benar-benar tak pernah rindu untuk kembali ke tanah air?

Satu catatan lagi, sekembalinya saya dari sana, saya melihat nasionalisme yang dimiliki oleh para warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri, tak lebih sedikit dari warga tanah air, jika tidak bisa dibilang lebih. Rasa persaudaraan antar WNI juga sangat kental.

Untuk saya pribadi dan saya yakin sebagian besar warga Indonesia, bepergian dan melanglang buana ke negara mana pun di luar negeri, bukan berarti akan menyurutkan nasionalisme ataupun cinta tanah air. Justru semakin luasnya pandangan dan wawasan akan membuka mata kita untuk berusaha memajukan Indonesia tercinta.

Agar Jakarta dapat sukses menjadi kota penghubung antarnegara ASEAN, yang tak kalah penting adalah peranserta serta kepedulian, tak hanya dari para pejabat pemerintahan DKI Jakarta, namun juga para warga Jakarta, termasuk seluruh penduduk Indonesia karena Jakarta adalah ibukota negara kita yang harus dijaga.



 


Tuesday, 3 September 2013

Tiga Kunci untuk Aktifkan Tiga Pilar Badan Persatuan ASEAN

10 Negara menuju Komunitas ASEAN 2015 (voworld.vn)


Sekitar pukul 9 pagi, sebagai peserta lomba blog #10daysforASEAN yang diselenggarakan aseanblogger , mulai donk cek update tema hari ke-9. "Ah belum ada. Sepertinya panitia sibuk, deadline pun dimundurkan sekitar jam 10," ujar saya dalam hati.

Urusan mondar-mandir ala ibu rumah tangga, membuat saya sempat terlupa akan hal tersebut. Hingga sekitar pukul 11. "Sepertinya update tema hari ke-9 sudah ada nih," kata saya dengan yakin. Kemarin peserta memang sudah menebak-nebak Brunei Darussalam sebagai negara fokus tema. Mungkin sudah ada yang browsing soal negara ini, namun saya yakin tak akan ada yang menyangka tema yang diberikan panitia kali ini.

"Sejuta topan badai!" Mungkin itu yang akan saya katakan jika saya adalah Kapten Haddock, sahabat dari tokoh kartun petualang Tintin. Pasalnya tema kali ini benar-benar bikin saya tertegun. Pertama saya baca sekilas. Lalu saya harus segera menghampiri anak saya. Blasss...tidak masuk otak. Kemudian, saat ada kesempatan, saya baca lagi. Apa yang terjadi sodara-sodara? Saya tetep bengong tuh *kemudian garuk meja*

Berikut cuplikan tema hari ke-9 dari #10daysforASEAN yang sempet bikin saya baca, bengong, baca, bengooooong...ampuun deh. Ini nih silakan dibaca (dan ikut bengong) :

"Sudah bisa menduga kan kalau negara yang akan dibahas kali ini adalah negara yang beribukota Bandar Seri Begawan, yang juga juga menjadi negara penyelenggara KTT ASEAN ke-22 pada bulan April 2013 lalu. 

Dalam KTT ke-22 di Brunei Darussalam itu,  tema yang diangkat adalah “Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan”, dengan pokok perundingan pembangunan badan persatuan ASEAN, dengan tiga pilar yaitu Persatuan Keamanan, Persatuan Ekonomi dan Persatuan Sosial dan Kebudayaan. Pembangunan Badan Persatuan ASEAN itu harus dirampungkan sebelum 31 Desember 2015.
 

Tema: Dengan ketiga pilar tersebut, bagaimana mencapai tujuan pembangunan badan persatuan ASEAN? Mampukah negara-negara ASEAN mewujudkan Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan?"
  
Jujur saja ya, saya pernah bersentuhan dengan mata kuliah Hukum Internasional saat masih kuliah dulu, kemudian berusaha menghindar lebih jauh dengan memutuskan untuk mengambil jurusan Hukum Perdata. Bahkan setelah bekerja jadi jurnalis pun, tak terpikir untuk masuk bidang internasional. Namun, siapa duga justru ketika menjadi seorang blogger dan mengikuti lomba blog #10daysforASEAN, saya justru harus nyemplung dan mengubek-ubek soal hubungan internasional ini hahahaha.

Memang kenapa sih? Kalau bisa diklasifikasikan, saya ini termasuk orang yang lebih kepada pelaku alias doers, sementara ada sebagian lagi orang yang termasuk pemikir alias thinkers yang mampu memikirkan dan menggodok sesuatu yang tampak abstrak bagi orang lain. Nah, jangan heran kalau kemudian saya agak-agak dipaksa untuk memikirkan tema dari tugas hari ke-9 ini. Oleh karena itu, saya coba mendefinisikannya sesuai dengan pemahaman saya pribadi.

Sandya Berarti Persatuan

"Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Itu adalah kalimat favorit yang paling sering didengungkan mengenai persatuan.

Sedemikian pentingnya persatuan dalam sebuah masyarakat. Tak terbatas, mulai dari masyarakat terkecil yaitu keluarga, kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi, negara, kumpulan negara-negara di kawasan tertentu seperti ASEAN, Uni Eropa dan juga persatuan sebagai sesama penduduk bumi.

Sedemikian pentingnya persatuan, sehingga saat putra kedua saya lahir saya menamakannya, Sandya, yang dalam bahasa Sansakerta artinya persatuan. Harapan saya dan suami agar Sandya dapat menjadi perekat dalam keluarga kecil kami.

Nyatanya, Sandya mampu melakukan lebih dari itu. Ketika ia divonis memiliki kelainan jantung dan harus segera dilakukan tindakan operasi, Sandya mampu menyatukan keluarga, saudara-saudara dalam keluarga besar, teman-teman dan rekan-rekan, bahkan teman-teman baru yang seakan menjadi saudara untuk kami. Berbagai uluran tangan dan doa, mengalir tak terputus bagi keluarga kami. Alhamdulillah segala sesuatu berjalan lancar. Saat ini, Sandya tumbuh dan beraktivitas layaknya anak seusianya, tanpa gangguan berarti di usia 22 bulan. Doakan agar terus dan makin sehat ya!

Nah, peristiwa itu yang menyisakan makna persatuan paling mendalam yang pernah saya alami.
 
Saya memangku Sandya, kakak Aylaa dan kakak-kakak sepupunya. (dok pribadi)
Berkaca dari pengalaman saya, baru saya menyadari bahwa ada tiga kunci yang perlu dilakukan untuk memperkuat persatuan. "Ah masa sih, pengalaman pribadi semacam itu bisa dijadikan cerminan dan digunakan untuk persatuan negara-negara? Emang apa aja sih?"

Kalau itu pertanyaan Anda saat membacanya, yuk teruskan membaca supaya tahu lebih dalam kunci persatuan yang saya maksud. Tapi dengan catatan ya, ini berdasarkan logika saya pribadi dan sama sekali tidak memaksakan Anda sebagai pembaca untuk menelannya bulat-bulat, nanti keselek lagi hehehe ^_^

Pembangunan Persatuan


Pada bulan April 2013 lalu, digelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-22 di Bandar Seri Begawan, ibukota Brunei. KTT akan menfokuskan pada pembangunan persatuan ASEAN dan pencapaian perkembangan negara-negara ASEAN dalam rangka merampungkan Piagam ASEAN. Tema yang diangkat adalah "Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan".

Dalam KTT sebelumnya di Kamboja, para pemimpin negara anggota ASEAN telah berkomitmen membangun badan persatuan sebelum 31 Desember 2015. Oleh karena itu KTT kali ini akan khusus merundingkan mengenai pembangunan badan persatuan ASEAN.

Nantinya, Badan Persatuan ASEAN itu akan terdiri dari tiga pilar utama yaitu Persatuan Keamanan, Persatuan Ekonomi dan Persatuan Sosial dan Kebudayaan. Para pemimpin delegasi berembuk mengenai pembahasan tiga pilar tersebut, tantangan serta solusinya. Juga akan diadakan tukar pendapat mengenai masalah internasional dan regional, juga peranan yang mungkin dilakukan ASEAN dalam kerangka regional yang lebih luas.

Yang kemudian menjadi pertanyaan, dengan ketiga pilar tersebut, bagaimana mencapai tujuan pembangunan badan persatuan ASEAN? Mampukah negara-negara ASEAN mewujudkan Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan?

Jawaban saya adalah belum cukup. Masih diperlukan tiga hal utama sebagai kunci yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan persatuan yang dilembagakan menjadi Badan Persatuaan ASEAN. Hehe sok tahu deh.

Kisah Persatuan

Begini, karena saya punya prinsip, menulis apa yang saya pahami dan berusaha memahami apa yang satu tulis, lebih baik saya ambil pengandaian saja untuk tiga pilar dan kemudian tiga kunci yang saya maksud diatas.

Tiga pilar ASEAN yaitu persatuan keamanan, persatuan ekonomi dan sosial budaya. Untuk mudahnya saya andaikan sebuah keluarga yang terdiri dari tiga kakak beradik. Kakak yang pertama adalah anak yang memiliki kemampuan berupa kekuatan dan kepemimpinan sehingga ditakuti orang di sekitarnya, kemudian anak kedua alias anak tengah adalah seorang yang jago soal hitung menghitung uang dan yang ketiga alias si bungu sangat pandai bersosialisasi dan memiliki pemahaman budaya setempat.

Pada suatu hari, Ayah mereka meninggal dunia, sementara Ibu mereka dalam keadaan sakit. Tentu saja mereka membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ada sebuah toko peninggalan sang Ayah. Namun, ketiganya seringkali bertengkar mengenai tanggungjawab siapa dan siapa yang berhak memperoleh keuntungan terbanyak. Dapat diduga, keluarga pun goyah.

Tentu saja, itu membuat ibu mereka yang sakit-sakitan merasa sedih dan akhirnya memanggil mereka bertiga. "Anak-anakku sebenarnya apa masalah yang kalian hadapi hingga mengurus sebuah toko saja membuat kalian ribut, jangankan memperoleh keuntungan, menjaga perdamaian saja sulit?"

"Saya merasa wewenang saya selalu diambil oleh adik-adik," ujar anak sulung. "Keuntungan tidak cukup jika dibagi untuk bertiga," jawab anak tengah. "Saya tidak punya waktu untuk bersosialisasi karena banyak menjaga toko," keluh anak bungsu.

Kepingan-kepingan puzzle yang saling melengkapi (© Corbis)

Sang ibu hanya tersenyum. Sebenarnya kalian bertiga bisa mencapai sukses dengan menyatukan tiga kekuatan yang kalian masing-masing miliki.

"Anak pertamaku, kekuatan yang kamu miliki, seharusnya bukan menjadi alasan bertengkar. Pergunakan dengan bijak, janganlah sewenang-wenang. Jagalah keamanan toko dan wilayah sekitarnya, niscaya kau akan dipercaya menjadi pemimpin yang baik," ujar Ibu tersebut.

"Anak tengahku, bagikan hasil keuntungannya secara adil. Jangan pernah merasa engkau bekerja lebih berat dari kakak dan adikmu sehingga kau merasa berhak mendapatkan lebih banyak lagi," tutur sang Ibu.

"Bungsuku, jalinlah sebanyak-banyaknya pertemanan dan pertebal rasa persaudaraan niscaya Engkau akan mendapatkan manfaatnya. Tapi, jangan lupakan kewajibanmu terhadap toko kita," pungkas Ibu ketiga anak tersebut.

Sekelumit cerita soal tiga kakak beradik tersebut mewakili masing-masing-pilar yaitu keamanan, ekonomi dan sosial budaya. Ketiganya merupakan unsur yang sangat penting, dengan perannya masing-masing.Namun, bagaimana caranya agar ketiga hal tersebut dapat merekat erat demi persatuan?

Merekat Persatuan

Dari kisah fiktif yang saya buat sebagai pengandaian di atas, maka saya akan meneruskan mengenai cara agar ketiga hal tersebut dapat merekat erat. Khusus untuk hal ini, maka saya mengambil pengandaian dari pengalaman pribadi saya berkaitan dengan putra saya, Sandya.
  1. Menetapkan tujuan. Jangan pernah sepelekan tujuan. Dalam organisasi, mungkin lebih dikenal sebagai visi. Mengapa hal itu sangat penting? Karena hal ini adalah sebagai fundamental dari setiap aktivitas. Contohnya, saat anak saya menjelang operasi, semua hal terfokus pada kesembuhannya. Tujuannya jelas, melakukan segala upaya agar Sandya dapat melewati masa-masa sulit tersebut. Saya masih ingat, ketika diperlukan donor darah yang mengharuskan pendonor stand-by di rumah sakit karena donor harus dilakukan seketika saat dibutuhkan, tak kurang dari 4-5 orang pendonor siap. Ajaibnya, saya hanya mengenal satu orang rekan suami saya. Selebihnya, orang-orang yang belum pernah saya temui,namun rela menunggui operasi yang tak kurang dari delapan jam itu. Demikian juga untuk Badan Persatuan ASEAN, dibutuhkan tujuan yang jelas yang mewakili semua negara.
  2. Menjalin kebersamaan. Bagaimana mengharapkan sekelompok orang dari latar belakang yang berbeda merasakan persatuan jika mereka tak pernah saling mengenal dan mengetahui bahwa mereka memiliki persamaan dalam kebersamaan? Saat Sandya berada di rumah sakit, maka teman-teman terbaik saya adalah orangtua-orangtua yang mengalami hal yang sama dengan saya, selain keluarga. Rasa sepenanggungan dapat membuat kami merasakan kebersamaan secara mendalam. Tak berbeda dengan Badan Persatuan ASEAN, interaksi antarnegara harus lebih sering dilakukan untuk menjalin rasa kebersamaan tersebut.
  3. Kesungguhan bertindak. Tak ada yang lebih mengesalkan selain dari rencana-rencana yang hanya sekedar tertulis di atas kertas. Jika tujuan sudah ada, demikian juga rasa kebersamaan, namun jika tidak ada yang sungguh-sungguh melakukan tindakan dengan konkrit. Bagaimana mungkin pendonor saat operasi Sandya dapat mendonorkan darahnya, jika ia tidak bertindak konkrit dengan berangkat dari rumah, naik kendaraan menuju rumah sakit dan menemui kami. Tak berbeda dengan Badan Pesatuan ASEAN yang dirancang akan sia-sia jika negara-negara yang ada didalamnya tidak bertindak konkrit dengan melakukan rencana strategis, menyelesaikan sengketa antarnegara tetangga dan lain sebagainya?
Kembali pada pertanyaan, mampukah negara-negara ASEAN mewujudkan "Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan"? Saya akan katakan, mampu. Sangat mampu. Jika tiga pilar itu dapat disatukan oleh tujuan, dipupuk oleh kebersamaan dan diaplikasikan dalam tindakan nyata.















Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...