Pages

Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Tuesday, 3 September 2013

Tiga Kunci untuk Aktifkan Tiga Pilar Badan Persatuan ASEAN

10 Negara menuju Komunitas ASEAN 2015 (voworld.vn)


Sekitar pukul 9 pagi, sebagai peserta lomba blog #10daysforASEAN yang diselenggarakan aseanblogger , mulai donk cek update tema hari ke-9. "Ah belum ada. Sepertinya panitia sibuk, deadline pun dimundurkan sekitar jam 10," ujar saya dalam hati.

Urusan mondar-mandir ala ibu rumah tangga, membuat saya sempat terlupa akan hal tersebut. Hingga sekitar pukul 11. "Sepertinya update tema hari ke-9 sudah ada nih," kata saya dengan yakin. Kemarin peserta memang sudah menebak-nebak Brunei Darussalam sebagai negara fokus tema. Mungkin sudah ada yang browsing soal negara ini, namun saya yakin tak akan ada yang menyangka tema yang diberikan panitia kali ini.

"Sejuta topan badai!" Mungkin itu yang akan saya katakan jika saya adalah Kapten Haddock, sahabat dari tokoh kartun petualang Tintin. Pasalnya tema kali ini benar-benar bikin saya tertegun. Pertama saya baca sekilas. Lalu saya harus segera menghampiri anak saya. Blasss...tidak masuk otak. Kemudian, saat ada kesempatan, saya baca lagi. Apa yang terjadi sodara-sodara? Saya tetep bengong tuh *kemudian garuk meja*

Berikut cuplikan tema hari ke-9 dari #10daysforASEAN yang sempet bikin saya baca, bengong, baca, bengooooong...ampuun deh. Ini nih silakan dibaca (dan ikut bengong) :

"Sudah bisa menduga kan kalau negara yang akan dibahas kali ini adalah negara yang beribukota Bandar Seri Begawan, yang juga juga menjadi negara penyelenggara KTT ASEAN ke-22 pada bulan April 2013 lalu. 

Dalam KTT ke-22 di Brunei Darussalam itu,  tema yang diangkat adalah “Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan”, dengan pokok perundingan pembangunan badan persatuan ASEAN, dengan tiga pilar yaitu Persatuan Keamanan, Persatuan Ekonomi dan Persatuan Sosial dan Kebudayaan. Pembangunan Badan Persatuan ASEAN itu harus dirampungkan sebelum 31 Desember 2015.
 

Tema: Dengan ketiga pilar tersebut, bagaimana mencapai tujuan pembangunan badan persatuan ASEAN? Mampukah negara-negara ASEAN mewujudkan Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan?"
  
Jujur saja ya, saya pernah bersentuhan dengan mata kuliah Hukum Internasional saat masih kuliah dulu, kemudian berusaha menghindar lebih jauh dengan memutuskan untuk mengambil jurusan Hukum Perdata. Bahkan setelah bekerja jadi jurnalis pun, tak terpikir untuk masuk bidang internasional. Namun, siapa duga justru ketika menjadi seorang blogger dan mengikuti lomba blog #10daysforASEAN, saya justru harus nyemplung dan mengubek-ubek soal hubungan internasional ini hahahaha.

Memang kenapa sih? Kalau bisa diklasifikasikan, saya ini termasuk orang yang lebih kepada pelaku alias doers, sementara ada sebagian lagi orang yang termasuk pemikir alias thinkers yang mampu memikirkan dan menggodok sesuatu yang tampak abstrak bagi orang lain. Nah, jangan heran kalau kemudian saya agak-agak dipaksa untuk memikirkan tema dari tugas hari ke-9 ini. Oleh karena itu, saya coba mendefinisikannya sesuai dengan pemahaman saya pribadi.

Sandya Berarti Persatuan

"Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Itu adalah kalimat favorit yang paling sering didengungkan mengenai persatuan.

Sedemikian pentingnya persatuan dalam sebuah masyarakat. Tak terbatas, mulai dari masyarakat terkecil yaitu keluarga, kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi, negara, kumpulan negara-negara di kawasan tertentu seperti ASEAN, Uni Eropa dan juga persatuan sebagai sesama penduduk bumi.

Sedemikian pentingnya persatuan, sehingga saat putra kedua saya lahir saya menamakannya, Sandya, yang dalam bahasa Sansakerta artinya persatuan. Harapan saya dan suami agar Sandya dapat menjadi perekat dalam keluarga kecil kami.

Nyatanya, Sandya mampu melakukan lebih dari itu. Ketika ia divonis memiliki kelainan jantung dan harus segera dilakukan tindakan operasi, Sandya mampu menyatukan keluarga, saudara-saudara dalam keluarga besar, teman-teman dan rekan-rekan, bahkan teman-teman baru yang seakan menjadi saudara untuk kami. Berbagai uluran tangan dan doa, mengalir tak terputus bagi keluarga kami. Alhamdulillah segala sesuatu berjalan lancar. Saat ini, Sandya tumbuh dan beraktivitas layaknya anak seusianya, tanpa gangguan berarti di usia 22 bulan. Doakan agar terus dan makin sehat ya!

Nah, peristiwa itu yang menyisakan makna persatuan paling mendalam yang pernah saya alami.
 
Saya memangku Sandya, kakak Aylaa dan kakak-kakak sepupunya. (dok pribadi)
Berkaca dari pengalaman saya, baru saya menyadari bahwa ada tiga kunci yang perlu dilakukan untuk memperkuat persatuan. "Ah masa sih, pengalaman pribadi semacam itu bisa dijadikan cerminan dan digunakan untuk persatuan negara-negara? Emang apa aja sih?"

Kalau itu pertanyaan Anda saat membacanya, yuk teruskan membaca supaya tahu lebih dalam kunci persatuan yang saya maksud. Tapi dengan catatan ya, ini berdasarkan logika saya pribadi dan sama sekali tidak memaksakan Anda sebagai pembaca untuk menelannya bulat-bulat, nanti keselek lagi hehehe ^_^

Pembangunan Persatuan


Pada bulan April 2013 lalu, digelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-22 di Bandar Seri Begawan, ibukota Brunei. KTT akan menfokuskan pada pembangunan persatuan ASEAN dan pencapaian perkembangan negara-negara ASEAN dalam rangka merampungkan Piagam ASEAN. Tema yang diangkat adalah "Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan".

Dalam KTT sebelumnya di Kamboja, para pemimpin negara anggota ASEAN telah berkomitmen membangun badan persatuan sebelum 31 Desember 2015. Oleh karena itu KTT kali ini akan khusus merundingkan mengenai pembangunan badan persatuan ASEAN.

Nantinya, Badan Persatuan ASEAN itu akan terdiri dari tiga pilar utama yaitu Persatuan Keamanan, Persatuan Ekonomi dan Persatuan Sosial dan Kebudayaan. Para pemimpin delegasi berembuk mengenai pembahasan tiga pilar tersebut, tantangan serta solusinya. Juga akan diadakan tukar pendapat mengenai masalah internasional dan regional, juga peranan yang mungkin dilakukan ASEAN dalam kerangka regional yang lebih luas.

Yang kemudian menjadi pertanyaan, dengan ketiga pilar tersebut, bagaimana mencapai tujuan pembangunan badan persatuan ASEAN? Mampukah negara-negara ASEAN mewujudkan Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan?

Jawaban saya adalah belum cukup. Masih diperlukan tiga hal utama sebagai kunci yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan persatuan yang dilembagakan menjadi Badan Persatuaan ASEAN. Hehe sok tahu deh.

Kisah Persatuan

Begini, karena saya punya prinsip, menulis apa yang saya pahami dan berusaha memahami apa yang satu tulis, lebih baik saya ambil pengandaian saja untuk tiga pilar dan kemudian tiga kunci yang saya maksud diatas.

Tiga pilar ASEAN yaitu persatuan keamanan, persatuan ekonomi dan sosial budaya. Untuk mudahnya saya andaikan sebuah keluarga yang terdiri dari tiga kakak beradik. Kakak yang pertama adalah anak yang memiliki kemampuan berupa kekuatan dan kepemimpinan sehingga ditakuti orang di sekitarnya, kemudian anak kedua alias anak tengah adalah seorang yang jago soal hitung menghitung uang dan yang ketiga alias si bungu sangat pandai bersosialisasi dan memiliki pemahaman budaya setempat.

Pada suatu hari, Ayah mereka meninggal dunia, sementara Ibu mereka dalam keadaan sakit. Tentu saja mereka membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ada sebuah toko peninggalan sang Ayah. Namun, ketiganya seringkali bertengkar mengenai tanggungjawab siapa dan siapa yang berhak memperoleh keuntungan terbanyak. Dapat diduga, keluarga pun goyah.

Tentu saja, itu membuat ibu mereka yang sakit-sakitan merasa sedih dan akhirnya memanggil mereka bertiga. "Anak-anakku sebenarnya apa masalah yang kalian hadapi hingga mengurus sebuah toko saja membuat kalian ribut, jangankan memperoleh keuntungan, menjaga perdamaian saja sulit?"

"Saya merasa wewenang saya selalu diambil oleh adik-adik," ujar anak sulung. "Keuntungan tidak cukup jika dibagi untuk bertiga," jawab anak tengah. "Saya tidak punya waktu untuk bersosialisasi karena banyak menjaga toko," keluh anak bungsu.

Kepingan-kepingan puzzle yang saling melengkapi (© Corbis)

Sang ibu hanya tersenyum. Sebenarnya kalian bertiga bisa mencapai sukses dengan menyatukan tiga kekuatan yang kalian masing-masing miliki.

"Anak pertamaku, kekuatan yang kamu miliki, seharusnya bukan menjadi alasan bertengkar. Pergunakan dengan bijak, janganlah sewenang-wenang. Jagalah keamanan toko dan wilayah sekitarnya, niscaya kau akan dipercaya menjadi pemimpin yang baik," ujar Ibu tersebut.

"Anak tengahku, bagikan hasil keuntungannya secara adil. Jangan pernah merasa engkau bekerja lebih berat dari kakak dan adikmu sehingga kau merasa berhak mendapatkan lebih banyak lagi," tutur sang Ibu.

"Bungsuku, jalinlah sebanyak-banyaknya pertemanan dan pertebal rasa persaudaraan niscaya Engkau akan mendapatkan manfaatnya. Tapi, jangan lupakan kewajibanmu terhadap toko kita," pungkas Ibu ketiga anak tersebut.

Sekelumit cerita soal tiga kakak beradik tersebut mewakili masing-masing-pilar yaitu keamanan, ekonomi dan sosial budaya. Ketiganya merupakan unsur yang sangat penting, dengan perannya masing-masing.Namun, bagaimana caranya agar ketiga hal tersebut dapat merekat erat demi persatuan?

Merekat Persatuan

Dari kisah fiktif yang saya buat sebagai pengandaian di atas, maka saya akan meneruskan mengenai cara agar ketiga hal tersebut dapat merekat erat. Khusus untuk hal ini, maka saya mengambil pengandaian dari pengalaman pribadi saya berkaitan dengan putra saya, Sandya.
  1. Menetapkan tujuan. Jangan pernah sepelekan tujuan. Dalam organisasi, mungkin lebih dikenal sebagai visi. Mengapa hal itu sangat penting? Karena hal ini adalah sebagai fundamental dari setiap aktivitas. Contohnya, saat anak saya menjelang operasi, semua hal terfokus pada kesembuhannya. Tujuannya jelas, melakukan segala upaya agar Sandya dapat melewati masa-masa sulit tersebut. Saya masih ingat, ketika diperlukan donor darah yang mengharuskan pendonor stand-by di rumah sakit karena donor harus dilakukan seketika saat dibutuhkan, tak kurang dari 4-5 orang pendonor siap. Ajaibnya, saya hanya mengenal satu orang rekan suami saya. Selebihnya, orang-orang yang belum pernah saya temui,namun rela menunggui operasi yang tak kurang dari delapan jam itu. Demikian juga untuk Badan Persatuan ASEAN, dibutuhkan tujuan yang jelas yang mewakili semua negara.
  2. Menjalin kebersamaan. Bagaimana mengharapkan sekelompok orang dari latar belakang yang berbeda merasakan persatuan jika mereka tak pernah saling mengenal dan mengetahui bahwa mereka memiliki persamaan dalam kebersamaan? Saat Sandya berada di rumah sakit, maka teman-teman terbaik saya adalah orangtua-orangtua yang mengalami hal yang sama dengan saya, selain keluarga. Rasa sepenanggungan dapat membuat kami merasakan kebersamaan secara mendalam. Tak berbeda dengan Badan Persatuan ASEAN, interaksi antarnegara harus lebih sering dilakukan untuk menjalin rasa kebersamaan tersebut.
  3. Kesungguhan bertindak. Tak ada yang lebih mengesalkan selain dari rencana-rencana yang hanya sekedar tertulis di atas kertas. Jika tujuan sudah ada, demikian juga rasa kebersamaan, namun jika tidak ada yang sungguh-sungguh melakukan tindakan dengan konkrit. Bagaimana mungkin pendonor saat operasi Sandya dapat mendonorkan darahnya, jika ia tidak bertindak konkrit dengan berangkat dari rumah, naik kendaraan menuju rumah sakit dan menemui kami. Tak berbeda dengan Badan Pesatuan ASEAN yang dirancang akan sia-sia jika negara-negara yang ada didalamnya tidak bertindak konkrit dengan melakukan rencana strategis, menyelesaikan sengketa antarnegara tetangga dan lain sebagainya?
Kembali pada pertanyaan, mampukah negara-negara ASEAN mewujudkan "Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan"? Saya akan katakan, mampu. Sangat mampu. Jika tiga pilar itu dapat disatukan oleh tujuan, dipupuk oleh kebersamaan dan diaplikasikan dalam tindakan nyata.















Wednesday, 28 August 2013

Indonesia For Your Unforgettable Moments

Pulau Raja Ampat (www.indonesia.travel)

Setelah dua hari berturut-turut menebarkan pandangan ke negara-negara tetangga, dalam rangka menulis untuk lomba blog #10daysforASEAN yang diadakan aseanblogger.com maka pada hari ke-3 para peserta diminta untuk kembali ke tanah air. Berikut saya cuplik penugasan dari panitia :

"Indonesia kaya dengan beragam budaya, namun di sektor wisata, Malaysia lebih berhasil mem-branding “Truly ASIA”. Kira-kira apa ya branding yang cocok untuk Indonesia? Buat tagline, dan jelaskan kenapa tagline itu cocok untuk Indonesia di kawasan ASEAN".


Pertama membaca ini, saya terdiam sesaat. Ada kebingungan di dalam otak saya. Bingung karena buntu?

Bukan, sama sekali bukan. Di dalam otak saya, tiba-tiba membuncah puluhan bahkan ratusan ide mengenai bagaimana keindahan Indonesia didukung oleh ragam budaya yang sangat kaya. Berbagai pengalaman pribadi sampai dengan hal-hal yang saya dengar, baca dan lihat dari berbagai media tentang Indonesia seakan berlomba-lomba menyeruak dan meminta untuk segera ditulis.

Jujur saja, setiap kali saya melihat iklan wisata Malaysia "Truly ASIA" ada sedikit terasa cubitan di hati. Cuplikan tayangan yang memuat pemandangan matahari terbit, bentangan pegunungan, pantai-pantai indah, harimau dan orang utan, lokasi wisata arung jeram hingga kawasan perbelanjaan modern dan kuliner. Hati saya seakan berteriak "Itu semua juga ada di Indonesia!!!"

Mengapa keindahan Indonesia di mata internasional hingga saat ini masih terbatas pada Bali? Padahal siapa yang dapat mengingkari keindahan pemandangan matahari terbit ketika berdiri di Gunung Bromo, pantai-pantai yang luar biasa di Raja Ampat, Papua, kemudian mengarungi arung jeram Citarik yang menantang, berinteraksi dengan orang utan di pulau Borneo alias Kalimantan dan menikmati pengalaman belanja di Jakarta sebagai "kota sejuta mal". Lalu siapa yang dapat menolak kenikmatan sate ataupun nasi goreng khas Indonesia, yang bahkan dikangeni oleh seorang Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Apakah itu masih kurang? Dimana salahnya?

Tanggungjawab Bersama
 
Saya sendiri enggan terlalu menyalahkan Pemerintah yang kini wewenangnya berada di Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.  Mungkin akan ada pernyataan, "Loh kan memang mereka yang bertanggung jawab, memangnya kita bisa apa sebagai orang biasa?"

Tentu saja bisa! Apakah Anda biasa berbelanja negara tetangga padahal barang yang sama dapat ditemukan di Indonesia? Apakah Anda jauh-jauh mendatangi pantai indah di negara lain, padahal pantai indah menghampar di hampir seluruh pulau di tanah air? Satu pertanyaan yang tak kalah penting, banggakah Anda menjadi seorang warga negara Indonesia?

 "Idih kok jadi kejauhan sih soal wisata sampai ke kebanggan menjadi warga negara segala, lebay deh". Kalau itu yang kemudian jadi tanggapannya, yuk mari saya ulik lagi sudut pandang saya.

Saya ambil satu contoh mudah. Saat ini musim jejaring sosial. Semua rasanya harus dipublikasikan di jejaring sosial, mulai dari bangun tidur sampe berangkat tidur lagi. "Eksis dong". Itu alasan sebagian orang yang saya tanya.

Nah, sebagian besar merasa lebih bangga posting foto-foto ke luar negeri dibandingkan dengan wisata di dalam negeri. Betul atau betul?

Saya sendiri tidak mengingkari hal tersebut, karena foto profil saya di Facebook pakai foto waktu saya di salah satu negara Eropa kok hehehe. Eits, bukan berarti saya kurang nasionalis dan tidak konsisten dengan perkataan saya barusan loh. Pasalnya, foto itu diambil oleh seorang teman dengan menggunakan kamera yang bagus dengan sudut yang pas. Sehingga, menjadi salah satu foto favorit saya.

Kembali ke soal wisata, jadi seharusnya bagaimana dong? Saya sendiri secara pribadi jarang melakukan travelling, karena memang saya orang rumahan dan anak-anak yang masih kecil untuk dibawa bepergian, kesibukan suami sering tidak mengizinkan. Jadi wisata yang saya lakukan, sebagian besar tidak jauh-jauh di sekitar kota kediaman saya.

 Arung jeram di sungai Citarik, Sukabumi, Jawa Barat 
(www.disparbud.jabarprov.go.id)

Namun, saya bercita-cita untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata nasional sebelum melanglang buana ke wisata luar negeri. Saya ingin menikmati  pemandangan matahari terbit di Gunung Bromo, menyelam di pantai-pantai Raja Ampat, Papua, dan mampu mengumpulkan keberanian untuk mengarungi arung jeram Citarik, bahkan mengunjungi orang utan di Kalimantan, tak hanya sekedar melihatnya di Kebun Binatang Ragunan.

Produk Dalam Negeri 
 
Saya sendiri berusaha mulai mencintai produk-produk anak negeri. Saya suka melihat-lihat secara online, kain-kain tradisional Indonesia, seperti batik, tenun, songket dan lain-lain.Kain-kain tersebut kemudian dijadikan baju, peralatan rumah tangga dan bahkan tas sampai sepatu. Betapa saya kagum melihat karya-karya anak bangsa yang luar biasa yang tampak pada hamparan kan-kain cantik tersebut. Terbayang tangan-tangan terampil yang dengan tekun mengerjakannya.

 Sarung bantal dan taplak meja batik (koleksi Ati Soerjo Galeri)

Namun, itu hanyalah sebagian kecil dari produk dalam negeri yang bisa saya gunakan. Ditengah gempuran produk-produk impor di Indonesia, kini rasanya semakin sulit mencari produk-produk tertentu yang merupakan buatan dalam negeri. Peralatan sekolah anak-anak, produk plastik rumah tangga hingga beberapa jenis buah kesukaan anak-anak, masih banyak yang merupakan produk impor.

Tapi, ada satu yang tidak bisa diimpor, lokasi pariwisata! Hehehe ya iya lah, mana bisa pantai dan gunung diimpor. Selagi kita bisa mengunjungi lokasi wisata nusantara yang tak kalah memukau untuk apa jauh-jauh ke luar negeri, demikian juga kalau belanja masih bisa dilakukan di Indonesia, buat apa terbang ke negara tetangga untuk berbelanja. Bukankah demikian?

Kemudian, tugas Pemerintah adalah untuk membuat kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung perkembangan pariwisata Indonesia. Memperbaiki lokasi wisata dengan sarana dan prasarana memadai, mengadakan pelatihan untuk pemandu wisata dan masyarakat sekitar lokasi bahkan mungkin membuat suatu kebijakan yang bekerjasama dengan maskapai penerbangan atau sarana transportasi lain, agar biaya transportasi ke beberapa kawasan wisata nusantara semakin terjangkau. Setuju atau setujuu? Saya sih setuju banget deh.

Tentu saja tulisan saya ini hanyalah sudut pandang yang sangat subyektif dan setiap orang punya pandangan masing-masing. Namun, saya yakin setiap orang mampu untuk berkontribusi dalam memajukan pariwisata nusantara. Lakukan mulai dari hal yang paling mudah dan lakukan sekarang.
 
 Gunung Bromo di Jawa Timur (www.balibackpaker.blogspot.com)

Berkaca dari tulisan saya ini, ada beberapa ide saya untuk menjawab pertanyaan mengenai tagline untuk branding Indonesia yang mudah diingat. Saya sempat terpikir untuk membuat tagline "Indonesia, Unforgettable Asia". Tapi kok rasanya jadi menjiplak tagline dari Malaysia yang sudah banyak dikenal itu. Maka saya mencoba membuat tagline lain. Kemudian, saya memutuskan untuk membuat tagline ini "Indonesia for Your Unforgettable Moments".

Kalau ditanya kenapa harus buat tagline berbahasa Inggris, maka saya akan menjawab karena ini akan diperuntukkan bagi seluruh warga dunia dan kebetulan bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang paling banyak digunakan. Untuk saya, bahasa Indonesia tetap menjadi jati diri dan kebanggan saya, sebagaimana saya bangga dengan kekayaan alam dan budaya Indonesia. Merdeka!!


  






















Thursday, 24 January 2013

Perlukah Anak-anak Diajarkan Nge-blog?

Jawaban saya, pasti iya! Sebagaimana berbagai hal perlu diajarkan oleh orangtua atau guru atau orang yang lebih berpengalaman, ngeblog lebih baik dilakukan anak dibawah pengawasan.

Oh ya, maap saking semangatnya jadi lupa nyapa. Assalamualaikum wr wb. Apa kabar semuanya? Semoga sehat-sehat aja yee. Alhamdulillah saya sekeluarga juga begitu.

Jadi gini nih, ceritanya saya mau ajak anak-anak di Klub Menulis SDI Lentera Insan membuat blog besok. Hal ini juga gak sembarangan saya putuskan. Saya terlebih dahulu cari tahu mengenai plus minus anak-anak ngeblog.

Saya sendiri sih belum pernah ngenalin anak-anak saya ngeblog, si Kakak baru lancar baca sekarang setelah kelas 1 SD dan si adek, hehe ngomong aja masih bahasa planet, apalagi baca tulis. Jadi si Kakak belum bisa saya ajak ngeblog, hobi nulis (baca:nyoret-nyoret) masih di buku atau diary, dan si Adek hobinya masih nyusu ASI sama banting2 barang, termasuk benda-benda berharga di rumah yg udah banyak jd korban huhuhuu :'(

Anyway, Setelah baca sana sini, salah satunya kisah seorang blogger yang saya baca dari akun Twitternya @bukik mengenai plus minus serta pengalaman pribadinya saat memperkenalkan anaknya ngeblog dalam artikelnya berjudul Mengapa saya membolehkan anak saya ngeblog?


Mengutip mas @bukik dalam blognya yang menyebutkan perkataan dari Thomas Friedmandalam bukunya The World is Flat bahwa ada 3 gelombang globalisasi. Globalisasi 1.0 ketika negara mengglobal. Globalisasi 2.0 ketika perusahaan mengglobal. Globalisasi 3.0 ketika individu mengglobal.

Individu mengglobal itu terjadi ketika karya seseorang dapat dikenal di seluruh penjuru dunia hanya melalui bantuan internet. Media sosial kemudian menjadi alat yang sangat ampuh dalam menyebarkannya *serius, kening mengernyit, mulut terbuka* :D

Haduuh bahasa saya jd serius gini ya, intinya anak-anak zaman sekarang tidak bisa dipungkiri sebagai generasi digital. Lihat saja, anak 2-3 tahun sudah sangat hebat mengoperasikan ponsel ataupun tablet milik Ayah bundanya. Seakan mereka punya kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan teknologi yang tidak dimiliki generasi2 sebelumnya.

Kembali mengutip @bukik, generasi digital  senang belajar, senang memproduksi dan menampilkan pengetahuan yang dimilikinya.Jadi, ngeblog adalah keharusan bagi generasi digital. Pilihannya, orang tua terlibat atau sepenuhnya diajari oleh lingkungan.

Sebagaimana @bukik, saya juga memutuskan lebih baik saya melibatkan diri dibandingkan anak-anak saya dan termasuk anak-anak didik saya mengetahui dari lingkungan yang mungkin tidak sepenuhnya benar ataupun sesuai dengan usia mereka.

Namun, jika ingin mengajarkan anak-anak menulis di blog, ada baiknya teman-teman juga ikut memiliki dan menulis blog terlebih dahulu. Tidak perlu berpikir bikin blog harus bagus ataupun tulisan bermutu, tulisan dari pengalaman sehari-hari teman-teman, bukan mustahil menjadi pelajaran ataupun pengalaman yang penting bagi orang lain.

Ingat, seperti judul posting saya sebelumnya dan moto klub menulis saya, "menulis itu mudah dan menyenangkan" :))

Oh ya, catatan tambahan dari blog @bukik mengenai blog anak yang patut dicermati:

Catatan tambahan untuk keselamatan anak: ulang dan ulang kembali upaya mengingatkan anak untuk tidak menyebutkan alamat rumah, alamat sekolah dan no telepon di blog. Sebelum mempublikasikan, orang tua perlu membaca terlebih dahulu tulisan anak. Pastikan tidak ada pengalaman yang akan memalukan anak pada saat ini atau dikemudian hari.

Selamat menulis bersama anak :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...