Pages

Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tuesday, 3 December 2013

Belajar Bersama Rekan Antarbenua dengan E-Learning

Para siswa belajar di laboratorium komputer (sumber: lenterainsan.com)
"Hai, bagaimana suhu udara di kotamu? Apakah ada perubahan beberapa tahun terakhir?" ujar seorang siswa kelas 6 SD pinggiran kota Jakarta, Indonesia.

"Ada beberapa perubahan, tapi harus menunggu hasil wawancara. Bagaimana dengan kotamu, apa yang kira-kira yang paling banyak mempengaruhi perubahan suhu udara disana? Bagaimana masyarakat menyikapinya?" jawab seorang bocah berambut pirang di sekolah dasar negeri di kota New York, Amerika Serikat.

Percakapan mengenai perubahan suhu tersebut sebagian besar dilakukan siswa dalam bahasa Inggris di bawah pengawasan masing-masing guru kelas. Apakah mereka benar-benar berada bertatap muka? Ya, tentu saja. Mereka bertatap muka tapi dengan  mereka memanfaatkan teknologi internet untuk saling terkait dengan mempelajari perubahan suhu udara di negara masing-masing, mencaritahu penyebabnya sekaligus mengaitkannya dalam pemanasan global.

Para siswa di Jakarta, Indonesia kemudian  memberikan laporan tulisan serta mengambil gambar berupa foto ataupun video mengenai pembangunan gedung-gedung pencakar langit, perumahan dan pabrikan di daerah sekitar Jakarta serta melakukan penelitian mengenai naiknya suhu udara saat ini dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, termasuk melalui wawancara pihak terkait. Sulitkah melakukan wawancara? Jika memang pertemuan langsung sulit, maka siswa dapat melalui email, Twitter ataupun situs web resmi dari pihak yang terkait.

Sementara itu, siswa di Amerika Serikat dapat melakukan hal yang sama. Mereka dapat memberikan laporan bagaimana misalnya kota New York mengalami musim dingin yang lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, atau kota di sekitar mereka, yang mengalami badai hebat dan memakan banyak korba jiwa karena dicurigai berkaitan dengan meningkatnya suhu udara. Bagaimana juga usaha masyarakat serta pihak pemerintah terkait terhadap fenomena tersebut.

Mereka bisa saling bertukar informasi mengenai perkembangan hasil pembelajaran mereka melalui aplikasi online, mulai dari menuliskannya di blog, update melalui Twitter, ataupun melalui jejaring sosial seperti Facebook yang semuanya dapat dilengkapi dengan foto, video serta merekamnya dalam bentuk podcast dan vodcast.

Itulah salah satu impian saya mengenai cara belajar anak-anak menggunakan teknologi internet alias e-learning dalam pendidikan di Indonesia. Dengan berlatar pernah sebagai reporter di halaman keluarga yang sering meliput pendidikan termasuk menulis mengenai sekolah, dan pernah bekerja menjadi di sebuah media online selama beberapa waktu, saya kemudian memiliki impian mengawinkan kedua hal tersebut, yaitu pendidikan dan sarana internet dalam pembelajaran di sekolah.

Sebagai orangtua dari anak yang sudah bersekolah, segala macam hal yang berkaitan dengan pendidikan sangat menarik untuk saya. Dengan tujuan, agar anak-anak Indonesia termasuk anak saya, memperoleh pendidikan yang terbaik.
 

Saya membayangkan betapa satu subjek pembelajaran tersebut dapat memuat beberapa pembelajaran yang sangat penting misalnya riset untuk data pendukung, keterampilan berkomunikasi, kemampuaan bahasa asing, mempelajari kebudayaan dan kebiasaan masyarakat di negara lain, belum lagi pemahaman mengenai hal yang mereka teliti. Sebab, saya sendiri merasakan selama berada di bangku sekolah, apa yang benar-benar saya pelajari adalah yang saya temukan dari hasil berpikir saya sendiri. Tak hanya apa yang dikemukakan oleh guru di depan kelas, ataupun yang ditulis oleh buku.


Sulitkah melakukan itu semua? Memang tidak akan mudah. Sebab, diperlukan kurikulum khusus yang memungkinkan siswa belajar berdasarkan project tertentu, misalnya mengenai pemanasan global diatas, yang membutuhkan waktu panjang dan perlu kontribusi dari berbagai mata pelajaran. Ditambah lagi, kesiapan pengajar, siswa serta sekolah, bersama dengan sarana dan prasarana untuk menunjang itu semua. Bahkan, jaringan yang memungkinkan terjalinnya komunikasi antardua sekolah tersebut yang jaraknya terpisah ribuan kilometer.Mungkinkah hal itu terjadi? Tak ada yang tidak mungkin.

Salah satu contoh yaitu Flat Classroom Project yang digagas oleh dua guru, Vicki Davis dan Julie Lindsay yang menciptakan program antara ssiwa di Bangladesh dengan rekan-rekan di Georgia, Amereka Serikat. Mereka melakukan bertukar wawancara video untuk membahas isu-isu yang berhubungan dengan globalisasi dari buku Tom Friedman, yang berjudul The World is Flat.

Selama enam minggu, para siswa yang terpisah jarak ribuan kilometer itu diminta menganalisa bagaimana dunia terus berubah mengikuti perkembangan dari internet. Podcast, wiki, RSS feed dan pertemuan video secara online untuk bekerjasama. Para siswa melakukan wawancara para ahli di dunia menggunakan alat presentasi multimedia dan diakui oleh panel hakim internasional yang kemudian dikenal sebagai "wawancara refleksi" sebagaimana dapat didengarkan podcast disini

Berbagai alat dan sarana yang dapat dengan mudah ditemui di internet bahkan digunakan oleh para siswa sehari-hari, ternyata dapat menjadi sarana untuk sebuah pengalaman  belajar yang sangat bermanfaat sekaligus mengasyikan. Menurut pandangan saya pribadi, menjadi pengenalan pada para siswa bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat dunia yang semakin mengglobal.

Para guru pun dapat belajar tak kalah banyak dari para siswa-siswa mereka dalam proses pembelajaran semacam ini. Guru dapat belajar memperkenalkan konsep dengan cara kreatif, melihat para siswanya mempelajari keterampilan baru, membuat jaringan dengan sesama pendidik dari berbagai kota dan negara dan sebagainya.

Para siswa klub menulis (dok.pribadi)
Saya pribadi mengajar sebagai seorang guru ekstrakurikuler klub menulis di salah satu sekolah dasar swasta di kawasan Depok. Selain menerbitkan buku self publishing yang memuat hasil karya siswa, saya berusaha mengaitkan pembelajaran menulis dengan teknologi antara lain dengan mengenalkan blog pada para siswa yaitu http://menulissuperkompak.wordpress.com/.

Sayangnya aktivitas nge-blog para siswa seringkali koneksi internet menjadi kendala, meski sarana komputer sudah tersedia. Mungkin kendala ini masih banyak dirasakan oleh sekolah-sekolah lain di seluruh tanah air. Disinilah kami mengundang peran para operator telekomunikasi, seperti XL yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.

Semoga impian saya tak hanya sekedar menjadi mimpi di siang bolong dan kelak kelas-kelas di Indonesia dapat menerapkan pembelajaran e-learning lengkap dengan fasilitas koneksi internet yang didukung berbagai pihak. Tak hanya terbatas pada kota-kota besar, namun juga ke sekolah-sekolah yang berada di pelosok negeri, karena hak para siswa untuk mendapatkan pendidikan sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945.

*Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pendidikan oleh Indonesia Berprestasi, Persembahan XL








Sunday, 1 September 2013

Laos: ASEAN, Please Walk with Us

Saling mendukung untuk ASEAN sebaga Komunitas Tunggal 
(http://cunysps.wordpress.com)

Setelah menghadiri acara parenting di sekolah anak pertama saya pagi tadi, main-main sebentar di salah satu pusat permainan anak-anak, dan sempat mencoba DDR. Nah apakah DDR itu sodara-sodara? Gak lain dan gak bukan adalah Dance Dance Revolution..itu loh yang mainnya kudu diinjek-injek ngikutin musik :D hihihi emak2 penasaran bin nekat, pengen nyobain, hasilnya...sukses ngos2an aja. Hehe makanya baru sekarang punya waktu buat nulis.

Kembali ke laptop, cek punya cek, ternyata tema hari ke-6 lomba blog #10daysforASEAN makin luar biasa, perlu banyak googling data plus analisa..tampak tak sesuai dengan kerja otak akhir pekan ini maaak *_*

Tapii baiklah, mari kita mulai dengan cuplik mencuplik tugas dari panitia aseanblogger, sebagai berikut ya :

Visi ASEAN 2015 adalah menjadi ASEAN komunitas tunggal, baik di bidang ekonomi mau pun politik. Laos, atau Republik Demokratik Laos, meski sudah bergabung dengan ASEAN sejak tahun 1997, namun baru membuka diri seluas-luasnya dengan negara lain pada tahun 2004, dan melakukan kerjasama di berbagai bidang. Peran Republik Demokratik Laos di ASEAN, bisa dikatakan belum banyak berkontribusi, tenggelam di bawah bayang-bayang negara ASEAN lainnya yang semakin maju. Dengan adanya Komunitas ASEAN, diharapkan Laos menjalin kemitraan yang baik dengan  negara ASEAN lainnya
.
Jika posisi Anda adalah negara Laos, investasi diplomatik apa yang diharapkan dengan kemitraan yang terjalin dengan dunia internasional, khususnya negara-negara ASEAN.  Tuliskan pendapatmu di blog tentang hal tersebut. Fokus pada peran Laos sebagai anggota Komunitas ASEAN.


Memang tak dipungkiri, gaung dari negara Laos atau yang secara resmi disebut Republik Demokratik Rakyat Laos ini masih kurang terdengar, bahkan untuk di kawasan ASEAN.Yuuk kita ulik sedikit soal negara ini.

Menurut Wikipedia, Laos awalnya didominasi oleh Kerajaan Nanzhao. Kemudian, kekuasaan atas Laos diteruskan pada abad ke-14 oleh kerajaan lokal Lan Xang, hingga abad ke-18, setelah Thailand menguasai kerajaan tersebut. Pada abad ke-19, ketika Perancis menguasai wilayah ini dan memutuskan untuk menggabungkaan ke dalam Indochina Perancis. Sempat mengalami penjajahan Jepang selama Perang Dunia II, maka tahun 1949 negara ini memerdekakan diri dengan nama Kerajaan Laos di bawah pemerintahan Raja Sisavang Vong.

 Patuxai, monumen perang yang berdiri di pusat Vientiane, Laos.
(bagusseven.blogspot.com)

Rupanya negara yang terkurung di di Asia Tenggara ini, yaitu berbatasan dengan Myanmar dan Republik Rakyat Cina di sebelah barat laut, Vietnam di timur, Kamboja di selatan, dan Thailand di sebelah barat, tak selalu membawa keuntungan. Guncangan politik di negara Vietnam, membuat Laos menghadapi Perang Indochina Kedua atau disebut juga Perang Rahasia,  kemudian menjadi faktor ketidakstabilan yang memicu lahirnya perang saudara dan beberapa kali kudeta.

Duh..duuh..membicarakan sejarah dan kondisi politik suatu negara, memang terkadang bikin kita mengernyitkan dahi. Tapi, memang hal itu harus diketahui. Sebagaimana dikatakan, masa lalu perlu dipelajari dan dihayati agar kita tahu bagaimana merencanakan masa depan kita. Hehehe itu sih kata-kata saya aja, padahal mah :)

Pada tahun 1975, kaum komunis Pathet Lao yang didukung Uni Soviet dan komunis Vietnam akhirnya mengambil alih pemerintahan Raja Savang Vatthana yang didukung Amerika Serikat dan Perancis. Setelah itu, mereka mengganti namanya menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos yang masih berdiri hingga saat ini. Langkah selanjutnya, Laos mempererat hubungannya dengan Vietnam dan mengendurkan larangan ekonominya pada akhir dekade 1980an dan dimasukkan ke dalam ASEAN pada 1997.

Sebagaimana Vietnam yang hanya memiliki satu partai politik, demikian juga dengan Laos. Satu-satunya partai politik yang diakui di Laos adalah Partai Revolusioner Rakyat Laos (LPRP). Kepala negara Laos adalah Presiden yang ditentukan oleh parlemen dengan masa jabatan 5 tahun, sementara Kepala Pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri.

Dari sisi politik, gejolak di Laos sempat muncul dengan adanya sisa-sisa dari kelompok etnis Hmong yang beraliansi dengan Amerika Serikat ketika Perang Vietnam, yang terlibat dalam konflik bersenjata dengan rezim komunis Laos sejak 1975. Namun, syukurlah konflik ini sepertinya sudah agak mereda. Sebagian besar anggota etnis diketahui dapat Hmong berbaur kembali dengan masyarakat secara damai, dan sebagian dari masyarakat etnis tersebut meraih posisi strategis di dalam pemerintahan negara Laos.


Namun, ada satu hal yang sepertinya penting saya kemukakan sejak menulis mengenai negara-negara ASEAN. Saya bersyukur terlahir sebagai orang Indonesia, meskipun ditengah kondisi politik yang tampak carut marut, perekonomian yang tampak labil dan faktor-faktor lain yang masih perlu banyak diperbaiki, namun secara garis besar, penduduk Indonesia dapat hidup dengan aman. Meskipun ada kerusuhan atau ketidakamanan, rasanya tak sampai mengguncang seluruh tanah air. Ditambah lagi, Indonesia merupakan negara yang memiliki ragam kebudayaan dan kekayaan alam yang luar biasa, rasanya penilaian saya tak berlebihan, bukan?
 
Sektor Ekonomi sebagai Sorotan

Ada satu fokus sektor utama yang saya pikir perlu diperhatikan dari negara Laos yaitu sektor ekonomi. Sebagai negara komunis, Laos mulai melepas kontrol ekonomi dan memberi izin perusahaan swasta pada tahun 1986. Nyatanya hal itu jitu melesatkan perekonomian. Namun, sebagaimana negara berkembang, kemajuan ekonomi tersebut baru bisa dinikmati kota-kota besar seperti ibu kota Vientiane, juga kota besar Luang Prabang, Pakxe, dan Savannakhet yang mengalami pertumbuhan signifikan.

Kurangnya sarana infrastruktur di Laos seakan memperlambat laju ekonomi negara ini. Laos masih belum memiliki jaringan rel kereta api, meski ada rencana membangun rel yang menghubungkan Vientiane dengan Thailand yang dikenal dengan Jembatan Persahabatan Thailand-Laos. Sarana jalan-jalan besar yang meghubungkan pusat-pusat perkotaan, disebut Rute 13, telah diperbaiki secara besar-besaran beberapa tahun terakhir, namun pemandangan berbeda ketika kita memasuki desa-desa yang jauh dari jalan-jalan besar, desa tersebut hanya dapat diakses melalui jalan tanah, yang mungkin tidak dapat dilalui sepanjang tahun.

Sebagaimana Indonesia, sektor pertanian masih menyerap sebagian besar tenaga kerja, bahkan mencapai 80%. Untuk kegiatan pertanian, banyak dilakukan di sepanjang Sumgai Mekhong. Hasil utama pertanian Laos adalah padi dan jagung. Sementara, hasil peternakan Laos antara lain sapi, babi, kerbau, dan unggas.

Tampak salah satu pertambangan di Laos (investvine.com)


Selain itu, hasil pertambangan yang menjadi komoditas ekspor adalah timah dan garam batu. Namun, beberapa tahun terakhir, investasi asing yang baru masuk ke Laos yaitu bidang pemrosesan makanan dan pertambangan emas tampak menunjukkan kemajuan.

Kemudian, perindustrian di Laos menghasilkan timah, kayu jati, pemintalan sutera, keramik, kerajinan kulit dan kerajinan perak. Namun, industri pariwisata adalah industri dengan pertumbuhan tercepat di Laos. Tak heran karena budaya Laos seperti kesenian, budaya, tradisi Laos yang mampu menarik wisatawan asing.


Investasi Diplomatik untuk Laos

Sebagaimana Visi ASEAN 2015 adalah menjadi ASEAN komunitas tunggal, baik di bidang ekonomi mau pun politik, maka sudah selayaknya Laos mendapat perhatian. Investasi diplomatik antara negara-negara ASEAN dengan Laos terutama negara yang terlebih dahulu sudah unggul di sektor masing-masing. Dengan visi tersebut, seharusnya mampu mendukung Laos serta negara yang masih kurang beruntung lainnya.

Bagaimana caranya? Yaitu menjalin kerjasama dan dukungan dengan negara-negara ASEAN dengan masing-masing keunggulannya. Misalnya, untuk produksi pertanian, Laos dapat berguru pada Thailand yang disebut-sebut sebagai lumbung padi di Asia Tenggara ataupun Filiphina yang memiliki balai penelitian padi internasional atau Philippines Rice Research Institue. Hiks..Indonesia kemana aja ya :(

Salah seorang peneliti di Philippines Rice Research Institute (Philrice.gov.ph)

Kemudian, untuk industri timah di Laos, mereka dapat meminta dukungan dari Malaysia yang dikenal sebagai penghasil timah terbesar di dunia. Selain, hasil pertambangan Malaysia lainnya seperti bauksit, bijih besi, dan minyak bumi. 

Untuk sarana perhubungan, Laos dapat mencontoh negara Singapura yang merupakan salah satu negara ASEAN dengan sarana perhubungan yang maju. Sementara, untuk industri pariwisata, Laos dapat juga dapat meminta dukungan Thailand yang menjadikan industri itu sebagai penghasil devisa utamanya Thailand. Contoh tempat wisata di Thailand adalah Pantai Pattaya, Chiang May, Ayuttaya, dan Bangkok.

Kemudian, bagaimana dengan keunggulan Indonesia? Tentu sebagai sesama negara anggota ASEAN, bangsa Indonesia yang terkenal dengan keramahannya ini selayaknya tak sungkan bekerjasama dan mendukung Laos dari segi pertambangan, perairan, perindustrian, dan parwisata sebagai sektor utama perekonomian masyarakat Indonesia. Tak bisa dipungkiri, wilayah Indonesia yang paling luas dan penduduk terbesar, memiliki pengaruh yang besar pula terhadap negara-negara ASEAN.

Saya yakin visi ASEAN komunitas tunggal dapat tercapai jika masing-masing negara bersedia membuka diri selebar-lebarnya satu sama lain, demi kemajuan dan kepentingan bersama, tak hanya memikirkan keuntungan sendiri. Bergandeng tangan dan berjalan bersama seiring untuk membuktikan bahwa ASEAN adalah kumpulan negara-negara yang tak kalah penting dengan negara di daratan lainnya di dunia.

Mungkin Laos akan mengatakan, ASEAN marilah berjalan bersama-sama dengan kami.






Friday, 30 August 2013

Perkembangan Telekomunikasi Seluler Pesat, Industri kreatif Digital Melesat

Ilustrasi seorang pria memegang ponsel (© Blue Jean Images/Corbis)

"Duuh..ketinggalan handphone nih, bagaimana donk? Mending ketinggalan dompet deh, daripada ketinggalan handphone. Kalau duit sih kan bisa pinjem temen".

Demikian kira-kira keluhan orang-orang zaman sekarang yang saya sering dengan. Sedemikian penting handphone alias telepon seluler (ponsel) membuat orang lebih merasa bingung ketinggalan ponsel dibandingkan dompet. Betapa tidak, ketinggalan ponsel bisa berarti ketinggalan berbagai kabar, berita dan segala sesuatu yang terjadi di sekitar bahkan di belahan dunia lain.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan perkembangan telekomunikasi seluler yang cukup pesat. Menilik dari sejarahnya yang dikutip dari Wikipedia, kemunculan teknologi  pertama kali diperkenalkan pada tahun 1984. Perkembangan tahun berikutnya 1985 hingga tahun 1992, yaitu diperkenalkannya penggunaan teknologi seluler berbasis analog Generasi 1 (1G).

Saya masih ingat salah seorang saudara saya yang membawa telepon seluler jenis itu ketika saya masih duduk dibangku sekolah dasar (SD). Telepon seluler itu bisa dibilang sangat langka dengan harga yang fantastis saat itu, kalau tidak salah sekitar Rp 10 juta per unit.

Namun, jangan kira dengan harga sedemikian tinggi, Anda dapat memperoleh kenyamanan berkomunikasi dengan telepon seluler (ponsel). Mengapa demikian? Sebab ukurannya besar dan beratnya hampir 0,5 kilogram. Bayangkan, Anda menginginkan kepraktisan berkomunikasi namun harus membawa alat yang kurang lebih besar dan beratnya hampir sama dengan batu bata di samping rumah Anda. Tak terlalu nyaman bukan?


Jika  teknologi telekomunikasi seluler sebelumnya masih berbasis analog, pada tahun berikutnya yaitu tahun 1993, dimulai pengembangan teknologi generasi kedua yaitu 2G atau lebih dikenal dengan Global System for Mobile communications (GSM). Kemudian tahun 1994, muncul operator GSM pertama dengan cakupan terbatas yaitu Jakarta dan sekitarnya.


 
Siemens C-25 sebagai ponsel pertama saya sekitar tahun 1997 (extragsm.com)

Teknologi komunikasi seluler GSM menjadi sangat diminati, antara lain karena penggunaan kartu SIM (Subscriber Identity Module) yang memungkinan pengguna untuk mengganti ponsel tanpa mengubah nomor. Tren peningkatan penggunaan juga terjadi karena semakin meningkatnya teknologi ponsel yang dapat memperkecil ukuran, memperbaiki tampilan serta fungsi ponsel.

Tahun 1996, menjadi tonggak bersejarah bagi PT Excelcomindo Pratama (Exelcom, saat ini XL Axiata) yang berbasis GSM muncul sebagai operator seluler nasional ketiga. Ketika krisis moneter turut berimbas pada perekonomian di Indonesia, para operator telekomunikas seluler berlomba-lomba putar otak untuk tetap memberikan pelayanan terbaik dengan harga terjangkau. Excelcom meluncurkan Pro-XL sebagai jawaban atas tantangan dari para kompetitornya yang terlebih dahulu memperkenalkan produk prabayar.

Krisis Moneter    

Beruntung saat terjadinya krisis moneter tahun 1997, minat masyarakat terhadap telekomunikasi seluler tidak surut semakin meningkat. Padahal harga yang diberikan oleh para operator cukup lumayan. Saya masih ingat, pada tahun 1997, saya harus mengeluarkan uang hampir mencapai Rp 300 ribu untuk pembelian nomor perdana GSM ditambah dengan ponsel yang standar sekitar Rp 1,2 juta. Pengisian ulang pulsa pun sekitar Rp 100 ribu. Tak heran, ponsel kala itu masih menjadi barang eksklusif. Bahkan saya masih ingat rasa bangga saya ketika menggunakannya di kawasan kampus waktu itu.


Tahun 2005 kemudian bisa disebut sebagai awal dari era reformasi pertelekomunikasian Indonesia dengan uji coba jaringan 3G di Jakarta.  Kemudian, pada tahun 2006, PT Excelcomindo Pratama berhasil menjadi salah satu dari tiga operator seluler yang ditetapkan sebagai pemenang untuk memperoleh lisensi layanan 3G bersama dua operator seluler lain setelah melalui proses tender.  Excelcomindo kemudian meluncurkan layanan 3G secara komersial pada akhir tahun tersebut.

Diperkirakan jumlah pengguna seluler di Indonesia hingga bulan Juni 2010, mencapai 180 juta pelanggan. Angka itu hampir mencapai sekitar 80 persen populasi penduduk. Bayangkan perkembangannya yang luar biasa dengan waktu yang cukup singkat, bahkan tak sampai mencapai dua dasawarsa.

Saya jadi berandai-andai, bagaimana jika seseorang tertidur yang kemudian "terselip" dalam ruang waktu, sebelum tahun 1985 dan terbangun pada tahun 2013, apa yang akan ada di pikirannya? Pada tahun 1985, belum dikenal teknologi seluler, komunikasi hanya dapat dilakukan melalui melalui fixed line telephone, tapi kemudian ketika terbangun tahun 2013, hampir semua orang telah  berkomunikasi dengan ponsel. Apalagi di Indonesia, hampir seluruh kalangan dapat mengakses teknologi seluler dengan mudah.

Kemudian, apakah yang dapat kita kaitkan antara perkembangan teknologi seluler dengan industri kreatif? Sebelumnya, apakah yang dimaksud dengan industri kreatif?

Kelahiran Industri Kreatif

Masih menurut Wikipedia, Industri Kreatif dapat diartikan sebagai kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Industri ini juga dikenal dengan nama yang berbeda, misalnya Industri Budaya di Eropa atau Ekonomi Kreatif.

Kementerian Perdagangan Indonesia menyatakan bahwa yang termasuk dalam Industri kreatif adalah industri berasal pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu guna menciptakan kesejahteraan, sekaligus lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Namun, jenis industri kreatif apa yang paling banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi seluler? Dari beberapa jenis industri kreatif, ada satu bidang yang perkembangannya sangat pesat, tentu karena didukung dengan perkembangan teknologi seluler yang tak kalah cepat.

Tak lain tak bukan adalah industri kreatif berbasis Teknologi Informasi (TI) alias industri digital.  Nilai dari industri kreatif berbasis TI dan piranti lunak berdasarkan estimasi data tahun 2011-2012, mencapai Rp 3,9 triliun! Hal itu diungkapMenteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,  Mari Elka Pangestu pada bulan Juni 2013 lalu, Angka ini mengalami peningkatan sekitar 9% dari tahun sebelumnya, dan diperkirakan akan naik lebih dari 10% atau double digit pada tahun berikutnya.

Namun, sebenarnya dari mana asal angka perkembangan yang fantastis tersebut? Dengan semakin luas dan tak terbatasnya informasi didukung dengan layanan perkembangan telekomunikasi, maka industri kreatif berbasis teknologi informasi bisa disebut sebagai pihak yang paling diuntungkan.

Saya ingin mengajak untuk melihat salah satu contoh yang paling menarik di Indonesia. Siapa yang tak kenal Kaskus? Sebagai salah satu situs web forum terbesar di Indonesia yang digawangi oleh tiga mahasiswa Indonesia,  Andrew Darwis, Ronald Stephanus, dan Budi Dharmawan yang tengah meneruskan studi di Amerika Serikat. Awalnya, Kaskus yang didirikan tanggal 6 November 1999 dibuat untuk memenuhi tugas kuliah dan bertujuan untuk mengobati kerinduan mahasiswa Indonesia di luar negeri. Saat itu Kaskus memuat berita-berita Indonesia yang diterjemahkan. 


Screenshot Kaskus.co.id

Pada tahun 2008, pendiri Kaskus Andrew Darwis dan rekannya, Ken Dean Lawadinata memutuskan untuk mengelola Kaskus secara profesional. Situs Kaskus, personel dan infrastuktur yang terkait akhirnya diboyong ke Indonesia. Member Kaskus pada saat itu sudah mencapai 1,2 juta. Perkembangannya yang luar biasa tampak pada penambahan anggota yang mencapai 4,5 juta pada tahun 2012.

Sepert dilansir situs Apakabardunia modal awal Kaskus tahun 1999 yang hanya 7 dolar AS, siapa sangka dalam waktu sekitar 13 tahun yaitu pada tahun 2012, Kaskus dapat menolak pinangan dari perusahaan raksasa Google sebesar 50 juta dolar AS atau setara dengan Rp 475 miliar. Apakah hal itu berarti pemasukan Kaskus jauh lebih besar dari itu?

CEO Kaskus, Andrew Darwis, enggan menyebutkan angka pasti. Namun, bisa dilihat iklan dari brand-brand besar yang mengalir deras. “Yang pasti prosentase nya terus meningkat dari tahun 2009 hingga sekarang. Kenaikan bisa lebih dari 100% per tahun,” klaim Andrew. Kaskus kini berada di peringkat pertama untuk kategori situs komunitas, dan merupakan situs lokal nomor 1 di Indonesia, menurut Alexa.

Kisah sukses yang tak kalah fantastis juga dapat diambil dari situs berita Detik.com. Dilansir Maverick.com, berdasarkan artikel berjudul "Ranah Maya, Duitnya Nyata" yang dimuat di Majalah Trust No. 27/VII, edisi 4-10 Mei 2009, detik.com berada di peringkat ke sembilan di Alexa, dalam daftar situs yang paling sering diklik di Indonesia.

Tak kalah dengan pendapatan iklan Kaskus, demikian juga detik.com. Menurut Budiono Darsono, salah satu pemilik dan pendiri detik.com, dalam tiga bulan pertama tahun 2009, mereka sudah meraup Rp25,1 milyar, atau naik 114% dari kuartal pertama tahun 2008 yang ‘hanya’ Rp11,7 milyar. Sedangkan tahun 2009, target pemasukan iklan dipatok pada angka Rp110 milyar. Tawaran pembelian Detik sebesar Rp 400 miliar saat itu masih dianggap terlalu "kecil".

Akhirnya, setelah melakukan pendekatan selama dua tahun, CT Corp berhasil menundukkan Detik.com dengan mengakuisisi Detikcom (PT Agranet Multicitra Siberkom/Agrakom) pada tanggal 3 Agustus 2011. Mulai pada tanggal itulah secara resmi detikcom berada di bawah Trans Corp. Chairul Tanjung, pemilik CT Corp membeli detikcom secara total (100 persen) dengan nilai US$60 juta atau Rp 521-540 miliar.

Kesuksesan forum Kaskus maupun Detikcom tersebut tentu saja tak bisa terlepas dari pesatnya perkembangan teknologi telekomunikasi, terutama telekomunikasi seluler di tanah air, yang semakin mempermudah akses masyarakat untuk mengakses internet dan mengunjungi serta berinteraksi di situs-situs web favorit mereka. 

Okezone.com melansir Lembaga Survei Nielsen yang mencatat pada tahun 2011, sekira 48 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan ponsel untuk mengakses internet. Managing Director dari Divisi Media Nielsen Indonesia, Irawati Pratignyo mengatakan, tren itu akan terus berlanjut dalam 12 bulan ke depan, yakni 53 persen pengguna internet Indonesia menunjukkan akses internet melalui telepon genggam mereka dan 30 persen melalui perangkat  genggam yang memiliki kapabilitas untuk mengakses internet. Angka yang tidak bisa disebut kecil bukan?

Dukungan Komunitas

Pundi-pundi uang yang tampak semakin besar di industri kreatif digital, tentu saja semakin banyak menarik para wirausaha ataupun calon wirausaha baru untuk mengadu untung. Berbekal kemampuan TI dan kreativitas, industri ini semakin berkembang di tanah air.

Para Startup, lazimnya calon wirausaha baru dikalangan komunitas industri kreatif digital, rupanya sadar bahwa mereka akan semakin kuat dengan saling mendukung. Hal ini mendorong terbentuknya  komunitas yang dapat saling membantu satu sama lain.

Sebut saja, Danny Oei Wirianto. Sebagimana dilansir Tabloidpcplus, pria ini cukup aktif dalam industri startup. Ia turut membidani Kaskus ketika 2008 pindah ke Indonesia sebagai chief marketing officer (CMO). Danny juga aktif di inkubator startup lokal, yaitu Merah Putih Incubator. Ia pun tengah aktif di Mindtalk.com, sebuah jejaring sosial lokal.

Sayangnya, Danny meras pesimis terhadap peran pemerintah untuk dukungan startup lokal,  ““Sebab sekarang ini seperti yang dikatakan John F. Kennedy, ‘Bukan apa yang negara berikan untuk kita, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk negara’,” ujarnya diplomatis.

Ada juga komunitas startuplokal.org yang digawangi oleh tiga orang inisiator yaitu Natali  Ardianto, Nuniek Tirta dan Sanny Gaddafi. Dalam sebuah wawancara dengan salah seorang inisiator, Natali dengan Teknojurnal dipaparkan bahwa startup lokal merupakan  sebuah usaha rintisan, spesifik di industri IT baik web maupun apps. Komunitas ini digunnakan mewadahi para founder, investor, media, developer dan praktisi IT untuk bertemu dan berkolaborasi.

"Awalnya kita sebut startuplokal v.0 . Waktu itu saya bertemu dengan Rama Mamuaya, Dondi Hananto, Sanny Gadaffi, dan Aulia Masna. Dari situ, kita ngobrol sampai jam 00.30, sangat menyenangkan dan informatif. Dari situ kita bilang, bagaimana kalau kita buat ketemuan tiap bulan. Terjadilah #startupLokal informal meetup v.1 di tempat yang sama, di Starbucks FX Plaza," tuturnya.

 Sumber: Teknojurnal.com

Komunitas ini semakin banyak mendapat perhatian dan sponsor untuk meetup yang mereka adakan.  Sejak startuplokal v.3, kami mendapatkan sponsor baik tempat dan snack. Yang menghadiri meetup tersebut mulai dari pemilik startups dan developer, ada juga rekan dari media dan pihak lain, seperti agency, dan ad media.

Menutup wawancaranya, Natali menekankan bahwa startup itu tidak mungkin bisa berdiri sendiri, tanpa dukungan dari pihak-pihak lain seperti media, investor dan rekan-rekan startup lainnya. Ia menyarankan untuk memanfaatkan komunitas semacam ini dengan baik.

"Bertemulah dengan perfect stranger, buatlah network baru. Ikutlah berkontribusi karena waktu yang anda luangkan itu adalah investasi," pungkas Natali sebagai Chief Technology Officer PT. Warato Indonesia, sebuah startup yang mendapat investment dari Jepang.

Beragam komunitas startup lain yang kemudian saling mendukung seperti investor dan media, tak pelak membuktikan bahwa industri digital kini semakin berkembang dan terus meroket.
 
Namun, menurut saya, hal itu tidaklah cukup. Dukungan teknologi komunikasi seluler, baik sebagai penyedia alat komunikasi ataupun koneksi internet, tak kalah penting. Operator seluler tdak hanya berperan penting terhadap kemajuan ini, bahkan menurut saya, memegang peranan yang sangat krusial. Termasuk, XL melalui bendera perusahaan XL Axiata sebagai salah satu operator seluler utama juga memiliki tanggungjawab yang tak sedikit demi kemajuan telekomunikasi seluler dan indutri kreatif pada umumnya, serta industri digital pada khususnya.

Saya pribadi memperkirakan dalam lima tahun ke depan, akan semakin banyak bermunculan industri kreatif digital yang mungkin tak bisa diperkirakan saat ini. Mengingat, generasi muda sekarang yang makin melek teknologi didukung dengan perangkat teknologi maupun komunikasi yang saling mengejar satu sama lain.

*Tulisan ini saya ikutsertakan dalam lomba karya tulis XLAwards sebagai masyarakat umum*










Surga Penikmat Kopi Itu Ada di Dua Negara ASEAN

 Secangkir kopi nikmat (bubblews.com)

Vietnam. Akhirnya nama negara ini muncul dalam tantangan lomba blog #10daysforASEAN yang diadakan aseanblogger. Negara ini seakan memiliki arti khusus dan sangat familiar dengan saya, meskipun saya belum pernah menjejakkan kaki kesana. Loh kok bisa? Eits, tapi apa juga hubungannya Vietnam dengan judul saya diatas tentang kopi?

Kaitannya yaitu tema yang diberikan aseanblogger, berikut cuplikannya :
 
"Sekarang ini, minum kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Hampir di seluruh penjuru kota, tidak hanya di Indonesia tetapi juga ASEAN, banyak tersebar gerai kopi. Di dunia, negara penghasil kopi terbesar adalah pertama: Brazil,  kedua: Vietnam dan ketiga adalah Indonesia.

Kedua negara terakhir adalah anggota ASEAN. Menuju Komunitas ASEAN 2015 ini, mampukah Vietnam dan Indonesia merebut pangsa pasar kopi dunia? Bisakah kedua negara tersebut menjadi partner produksi kopi, bukan menjadi rival atau saling bersaing?  Tuliskan pendapatmu di blog tentang kemampuan Indonesia dan Vietnam merebut pangsa pasar kopi di dunia, berkaitan dengan Komunitas ASEAN 2015. Tidak hanya bersaing tetapi bisa juga menjadi partner bersama."

Nah, kembali ke bahasan awal saya tentang Vietnam, maasih ingat posting saya sebelumnya soal saya mengurus visa untuk pelatihan di salah satu negara di Eropa? *baca kan, kan, kan :D* Nah salah satu negara peserta saat itu adalah Vietnam. Kebetulan mereka mengirimkan dua orang jurnalis yang kemudian menjadi teman terbaik saya selama pelatihan disana yaitu Dieu Nguyen Thuy dan Vu Thi Thu Tra. Dengan nama panggilan, Thuy dan Tra. 

Saya, Tra dan Thuy ditengah musim dingin di Berlin, Jerman
(dokumentasi pribadi)

Salah seorang sudah berkeluarga dan memiliki pengalaman yang hampir serupa dengan saya. Kangen anak dan suami di tanah air, nangis-nangis saat di telepon ataupun curi-curi chatting saat di kelas waktu pelatihan. Sementara yang seorang lagi adalah seorang traveler sejati, sukanya jalan-jalan. Maklum masih single. Usia kami bertiga juga tidak terpaut jauh saat itu.

Dari mereka saya melihat kebudayaan dan kebiasaan orang-orang di Vietnam. Mereka sama-sama makan nasi sebagaimana kita orang Indonesia dan juga penyuka mie. Saat kami bersama-sama, biasanya kami suka mencari restoran Vietnam. Masakan dan bumbunya tak terlalu berbeda jauh dengan Indonesia. Lidah saya dapat menikmati hampir seluruh hidangannya. Hanya saja, sebagian besar mereka beragama Budha dan terbiasa mengonsumsi (maaf) daging babi, sehingga saya harus berhati-hati memperhatikan jenis makanan yang dipilih atau ditawarkan mengingat saya seorang muslim.

Terlepas dari perbedaan, saya justru lebih banyak melihat persamaan diantara kami. Perawakan mereka juga hampir sama dengan saya, hanya saja kulit mereka lebih putih dibandingkan orang Indonesia yang berkulit sawo matang. Sama dengan Indonesia yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa asing, maka percakapan bahasa Inggris kami tak selancar rekan dari Philiphina ataupun dari Afrika yang menggunakan bahasa Inggris sebagai official language, alias semua urusan resmi termasuk di perkantoran wajib menggunakan bahasa inggris.

Kedua orang teman saya tinggal di ibukota Vietnam, Ha noi. Tidak heran, sebab mereka adalah jurnalis yang harus meliput berbagai kegiatan yang terpusat di Ibukota.  Tak terlalu berbeda dengan media di Indonesia yang banyak memusatkan kegiatan peliputan di Ibukota Jakarta.

Sedikit berbicang mengenai kehidupan politik Vietnam, yang secara resmi disebut Republik Sosialis Vietnam, merupakan sebuah negara dengan partai tunggal yaitu Partai Komunis. Itu sebabnya, hanya organisasi politik yang bekerjasama atau memperoleh dukungan dari Partai Komunis diperbolehkan mengikuti pemilihan umum.

Dari sisi kebebasan pers, karena kami sama-sama jurnalis waktu itu, saya mengetahui bahwa para jurnalis disana termasuk pegawai pemerintahan, atau juga disebut pegawai negeri disini mungkin ya. Tak hanya media, bahkan penerbitan buku pun tak sebebas di Indonesia. Ketika saya mengatakan hendak membantu teman menerbitkan buku dan rencana saya untuk melakukannya sendiri nanti, teman saya sempat terkejut. "Wah hebat sekali, di negara kami menerbitkan buku tidak mudah," ujarnya.

Untuk media seperti internet juga saya sempat mendengar setelah kembali ke Indonesia, bahwa jejaring sosial, Facebook sempat diblokir dinegara mereka. Tapi, sepertinya saat ini sudah tidak lagi, karena saya melihat akun Facebook teman saya sudah aktif kembali. Sejak berada bersama dalam pelatihan tahun 2009 silam, memang tak banyak interaksi lagi antara saya dan mereka berdua. Kesibukan kami masing-masing seakan membuat kami terlupa untuk sekedar saling sapa.

Ngopi ala Vietnam

Sayangnya, saya tak banyak bertukar cerita tentang kebiasaan minum kopi para penduduk Vietnam. Padahal Indonesia dan Vietnam adalah dua negara ASEAN yang produsen kopi terbesar di dunia, setelah Brazil. Kopi Vietnam disebut-sebut sebagai produsen kopi nomor dua, sementara Indonesia nomor tiga.

Saya lebih banyak ngopi di kamar apartement sendiri dengan kopi sachet yang saya bawa dari tanah air. Jarang saya melewatkan waktu untuk di Kafe bersama teman-teman. Sehingga pengetahuan mengenai kebiasaan ngopi pun sedikit terlewat oleh saya. Maklum, saya juga harus menghemat uang saku kala itu. Jadi saya membawa dari Indonesia, seperti mie instan, kopi sachet dan teh siap pakai.

Saya justru mengintip dari blog beberapa teman traveller yang pernah mengalami ngopi di Vietnam, mbak venus di blognya yang keren http://venus-to-mars.com/ dan mas Harry Jusdi dalam blog http://harryjusdi.wordpress.com/ .

Dari blog mas Harry saya tahu bahwa kopi disebut Ca Phe dan susu dalam bahasa Vietnam adalah Sua. Kemudian Ca Phe Sua artinya Kopi Susu, Ca Phe Sua Da untuk Kopi Susu Dingin dan Ca Phe Sua Nong artinya Kopi Susu Panas.

Bahasa Vietnam memang unik, kata dalam bahasa mereka sangat singkat, biasa terdiri dari dua huruf sampai empat huruf. Bisa terlihat dari sebutan kopi dan nama teman-teman saya di atas. Itu sebabnya sewaktu kedua teman saya mengobrol, bagi orang asing seperti saya, mereka bicara dengan sangat cepat, mungkin karena tiap katanya memang sangat pendek.

Nah, dari blog mas Harry dan mbak Venus juga saya tahu bahwa penduduk Vietnam punya kebiasaan unik dalam minum kopi yaitu terlebih dahulu menyaring dengan menggunakan coffee drip agar kopi tak berampas dan mencampurnya dengan susu manis.

Vietnam coffee (© MIYOKO KOMINE/amanaimagesRF/amanaimages/Corbis)

Tapi kalimat-kalimat kenikmatan kopi Vietnam mbak Venus yang justru bisa bikin bahkan bukan penggemar kopi pun jadi ngiler ngebayanginnya :

"Bayangin kopi panas (kopi beneran, bukan instan) yang keeeeental banget, peeeeeekat banget, yang pahitnya pol-polan, dipadu dengan susu kental manis dalam takaran besar, kadang hampir sepertiga dari jumlah cairan kopi pekatnya. Campuran (dan takaran) ajaib itu kemudian disajikan dalam gelas kecil, panas-panas, atau super dingin dengan es batu, disruput perlahan-lahan, dinikmati setiap tetesnya, sampai tandas."

Slurrrrppp..panas-panas gini, saya jadi bayangin satu gelas kopi campur susu dingin ada di hadapan saya saat ini juga *tongkat sulap manaaa tongkat sulaaap* :D

Lawan atau Kawan?

Kenikmatan kopi Vietnam memang mengundang banyak pengagum. Produksi kopi yang didominasi dari jenis robusta, merupakan salah satu sumber pendapatan utama Vietnam sejak permulaan abad ke-20 dan kini menjadi menjadi kekuatan ekonomi utama mereka.

Sebagaimana dilansir Indonesia Finance Today mengenai produksi kopi Indonesia dan Vietnam, bahwa satu hektar, kebun kopi di tanah air hanya mampu menghasilkan sekitar 500 kilogram kopi. Sedangkan, Vietnam sudah mampu menghasilkan 2 ton kopi per hektare. Data ini berdasarkan Food Agriculture Organization (FAO) tahun 2012. Perbedaannya cukup besar, sehingga tak heran produksi kita dari sisi kuantitas masih tertinggal jauh.

Tercatat, pada tahun 2012, Indonesia mampu memproduksi sedikitnya 748 ribu ton atau 6,6 persen dari produksi kopi dunia. Sedikt berbeda dengan Vietnam, produksi kopi Indonesia, hampir mencapai 20 persen dari jenis Arabika, dan sisanya kopi robusta. Sementara, produksi kopi di Vietnam masih didominasi oleh kopi robusta. Dari segi harga, kopi Arabika  memiliki harga jual sekitar 3-4 kali lipat dibanding Robusta.

Di pasar kopi internasional, sebenarnya produk kopi Robusta yang menjadi fokus produksi di Vietnam memiliki kualitas yang lebih rendah jika dibandingkan dengan Arabika sebagai komoditas ekspor. 

Jadi bagaimana Indonesia dan Vietnam bisa berjalan beriringan sebagai sesama negara ASEAN meraih pasar kopi dunia?

Menurut pandangan saya, perlu diadakan studi banding antara kedua negara dalam pengembangan kopi. Konon, Vietnam dulu pernah mempelajari mengenai perkebunan dan pengembangan produksi kopi, namun nyatanya saat ini mereka lebih menguasai pasar dari segi kuantitas.

 Kebun kopi di Lampung (republika.co.id)

Lalu apa keuntungan untuk keduanya jika diadakan kerjasama dan bagaimana caranya? Menurut saya, Indonesia memiliki berbagai jenis kopi berkualitas yang sangat spesial, yang terkenal di dunia seperti Gayo Coffee, Mandailing Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toraja Coffee, Bajawa Coffee, Wamena Coffee serta Luwak Coffee. Dari sini Vietnam, dapat mempelajari bagaimana mengembangkan kopi-kopi spesial tersebut.

Sementara Indonesia dapat mempelajari bagaimana memaksimalkan produksi kopi sebagaimana yang dilakukan Vietnam. Tentu saja mereka memiliki budidaya tertentu yang dapat memperkaya pengetahuan para petani kopi di Indonesia.

Mungkinkah hal ini dilakukan? Saya yakin tidak ada yang mustahil, apalagi Indonesia dan Vietnam bagaikan saudara serumpun. Dengan keterlibatan berbagai pihak dan kesungguhan bersama, bukan tak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, Brazil tak lagi berada di posisi teratas di pasar kopi dunia.

Ah, semoga teori dan harapan saya tak terlalu muluk-muluk. Yang pasti saya sangat menikmati hangatnya hubungan persabaatan saya dengan dua warga Vietnam dan menantikan ingin bertemu mereka kembali ketika mereka berkunjung ke Indonesia ataupun saya yang bisa menjejakkan kaki di sana. Doakan ya!







Wednesday, 28 August 2013

Indonesia For Your Unforgettable Moments

Pulau Raja Ampat (www.indonesia.travel)

Setelah dua hari berturut-turut menebarkan pandangan ke negara-negara tetangga, dalam rangka menulis untuk lomba blog #10daysforASEAN yang diadakan aseanblogger.com maka pada hari ke-3 para peserta diminta untuk kembali ke tanah air. Berikut saya cuplik penugasan dari panitia :

"Indonesia kaya dengan beragam budaya, namun di sektor wisata, Malaysia lebih berhasil mem-branding “Truly ASIA”. Kira-kira apa ya branding yang cocok untuk Indonesia? Buat tagline, dan jelaskan kenapa tagline itu cocok untuk Indonesia di kawasan ASEAN".


Pertama membaca ini, saya terdiam sesaat. Ada kebingungan di dalam otak saya. Bingung karena buntu?

Bukan, sama sekali bukan. Di dalam otak saya, tiba-tiba membuncah puluhan bahkan ratusan ide mengenai bagaimana keindahan Indonesia didukung oleh ragam budaya yang sangat kaya. Berbagai pengalaman pribadi sampai dengan hal-hal yang saya dengar, baca dan lihat dari berbagai media tentang Indonesia seakan berlomba-lomba menyeruak dan meminta untuk segera ditulis.

Jujur saja, setiap kali saya melihat iklan wisata Malaysia "Truly ASIA" ada sedikit terasa cubitan di hati. Cuplikan tayangan yang memuat pemandangan matahari terbit, bentangan pegunungan, pantai-pantai indah, harimau dan orang utan, lokasi wisata arung jeram hingga kawasan perbelanjaan modern dan kuliner. Hati saya seakan berteriak "Itu semua juga ada di Indonesia!!!"

Mengapa keindahan Indonesia di mata internasional hingga saat ini masih terbatas pada Bali? Padahal siapa yang dapat mengingkari keindahan pemandangan matahari terbit ketika berdiri di Gunung Bromo, pantai-pantai yang luar biasa di Raja Ampat, Papua, kemudian mengarungi arung jeram Citarik yang menantang, berinteraksi dengan orang utan di pulau Borneo alias Kalimantan dan menikmati pengalaman belanja di Jakarta sebagai "kota sejuta mal". Lalu siapa yang dapat menolak kenikmatan sate ataupun nasi goreng khas Indonesia, yang bahkan dikangeni oleh seorang Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Apakah itu masih kurang? Dimana salahnya?

Tanggungjawab Bersama
 
Saya sendiri enggan terlalu menyalahkan Pemerintah yang kini wewenangnya berada di Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.  Mungkin akan ada pernyataan, "Loh kan memang mereka yang bertanggung jawab, memangnya kita bisa apa sebagai orang biasa?"

Tentu saja bisa! Apakah Anda biasa berbelanja negara tetangga padahal barang yang sama dapat ditemukan di Indonesia? Apakah Anda jauh-jauh mendatangi pantai indah di negara lain, padahal pantai indah menghampar di hampir seluruh pulau di tanah air? Satu pertanyaan yang tak kalah penting, banggakah Anda menjadi seorang warga negara Indonesia?

 "Idih kok jadi kejauhan sih soal wisata sampai ke kebanggan menjadi warga negara segala, lebay deh". Kalau itu yang kemudian jadi tanggapannya, yuk mari saya ulik lagi sudut pandang saya.

Saya ambil satu contoh mudah. Saat ini musim jejaring sosial. Semua rasanya harus dipublikasikan di jejaring sosial, mulai dari bangun tidur sampe berangkat tidur lagi. "Eksis dong". Itu alasan sebagian orang yang saya tanya.

Nah, sebagian besar merasa lebih bangga posting foto-foto ke luar negeri dibandingkan dengan wisata di dalam negeri. Betul atau betul?

Saya sendiri tidak mengingkari hal tersebut, karena foto profil saya di Facebook pakai foto waktu saya di salah satu negara Eropa kok hehehe. Eits, bukan berarti saya kurang nasionalis dan tidak konsisten dengan perkataan saya barusan loh. Pasalnya, foto itu diambil oleh seorang teman dengan menggunakan kamera yang bagus dengan sudut yang pas. Sehingga, menjadi salah satu foto favorit saya.

Kembali ke soal wisata, jadi seharusnya bagaimana dong? Saya sendiri secara pribadi jarang melakukan travelling, karena memang saya orang rumahan dan anak-anak yang masih kecil untuk dibawa bepergian, kesibukan suami sering tidak mengizinkan. Jadi wisata yang saya lakukan, sebagian besar tidak jauh-jauh di sekitar kota kediaman saya.

 Arung jeram di sungai Citarik, Sukabumi, Jawa Barat 
(www.disparbud.jabarprov.go.id)

Namun, saya bercita-cita untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata nasional sebelum melanglang buana ke wisata luar negeri. Saya ingin menikmati  pemandangan matahari terbit di Gunung Bromo, menyelam di pantai-pantai Raja Ampat, Papua, dan mampu mengumpulkan keberanian untuk mengarungi arung jeram Citarik, bahkan mengunjungi orang utan di Kalimantan, tak hanya sekedar melihatnya di Kebun Binatang Ragunan.

Produk Dalam Negeri 
 
Saya sendiri berusaha mulai mencintai produk-produk anak negeri. Saya suka melihat-lihat secara online, kain-kain tradisional Indonesia, seperti batik, tenun, songket dan lain-lain.Kain-kain tersebut kemudian dijadikan baju, peralatan rumah tangga dan bahkan tas sampai sepatu. Betapa saya kagum melihat karya-karya anak bangsa yang luar biasa yang tampak pada hamparan kan-kain cantik tersebut. Terbayang tangan-tangan terampil yang dengan tekun mengerjakannya.

 Sarung bantal dan taplak meja batik (koleksi Ati Soerjo Galeri)

Namun, itu hanyalah sebagian kecil dari produk dalam negeri yang bisa saya gunakan. Ditengah gempuran produk-produk impor di Indonesia, kini rasanya semakin sulit mencari produk-produk tertentu yang merupakan buatan dalam negeri. Peralatan sekolah anak-anak, produk plastik rumah tangga hingga beberapa jenis buah kesukaan anak-anak, masih banyak yang merupakan produk impor.

Tapi, ada satu yang tidak bisa diimpor, lokasi pariwisata! Hehehe ya iya lah, mana bisa pantai dan gunung diimpor. Selagi kita bisa mengunjungi lokasi wisata nusantara yang tak kalah memukau untuk apa jauh-jauh ke luar negeri, demikian juga kalau belanja masih bisa dilakukan di Indonesia, buat apa terbang ke negara tetangga untuk berbelanja. Bukankah demikian?

Kemudian, tugas Pemerintah adalah untuk membuat kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung perkembangan pariwisata Indonesia. Memperbaiki lokasi wisata dengan sarana dan prasarana memadai, mengadakan pelatihan untuk pemandu wisata dan masyarakat sekitar lokasi bahkan mungkin membuat suatu kebijakan yang bekerjasama dengan maskapai penerbangan atau sarana transportasi lain, agar biaya transportasi ke beberapa kawasan wisata nusantara semakin terjangkau. Setuju atau setujuu? Saya sih setuju banget deh.

Tentu saja tulisan saya ini hanyalah sudut pandang yang sangat subyektif dan setiap orang punya pandangan masing-masing. Namun, saya yakin setiap orang mampu untuk berkontribusi dalam memajukan pariwisata nusantara. Lakukan mulai dari hal yang paling mudah dan lakukan sekarang.
 
 Gunung Bromo di Jawa Timur (www.balibackpaker.blogspot.com)

Berkaca dari tulisan saya ini, ada beberapa ide saya untuk menjawab pertanyaan mengenai tagline untuk branding Indonesia yang mudah diingat. Saya sempat terpikir untuk membuat tagline "Indonesia, Unforgettable Asia". Tapi kok rasanya jadi menjiplak tagline dari Malaysia yang sudah banyak dikenal itu. Maka saya mencoba membuat tagline lain. Kemudian, saya memutuskan untuk membuat tagline ini "Indonesia for Your Unforgettable Moments".

Kalau ditanya kenapa harus buat tagline berbahasa Inggris, maka saya akan menjawab karena ini akan diperuntukkan bagi seluruh warga dunia dan kebetulan bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang paling banyak digunakan. Untuk saya, bahasa Indonesia tetap menjadi jati diri dan kebanggan saya, sebagaimana saya bangga dengan kekayaan alam dan budaya Indonesia. Merdeka!!


  






















Tuesday, 25 December 2012

Godaan Duniawi Itu Bernama Batik, Tenun, Songket dll

Assalamualaikum wr.wb. Selamat malam teman-temaaaaan. Kalau saya ditanya kegiatan yang disukai akhir-akhir ini (idiiih siapa jg ya yg mau nanya ;) jawabannya adalah melihat-lihat kain asli Indonesia, tanah airku tercintah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...