Pages

Friday, 11 October 2013

Hotel Mewah Bernilai Historis Vs Hotel Urban Modern di Singapura

Pemandangan Singapura di malam hari (sumber foto: Fullerton.com)

Sewaktu membuka salah satu situs web favorit saya ketika akan travelling yaitu Voucherhotel.com tanpa sengaja saya membaca adanya kontes blog terbaru. Kalau sebelumnya situs web terdepan sebagai penyedia pemesanan hotel itu mengadakan lomba blog tentang destinasi wisata, maka kali ini adalah hotel blog contest, alias menceritakan tentang hotel.

Menginap di berbagai hotel pernah saya lakukan, baik saat masih bekerja ataupun bersama keluarga. Namun, salah satu pengalaman yang sangat berkesan saya dapatkan saat menginap di  sebuah hotel mewah bintang lima di dekat mulut Sungai Singapura, Downtown Core, Central Area yaitu Hotel Fullerton. Kala itu merupakan pengalaman pertama saya ke Singapura sekitar tahun 2005.

Saya masih ingat saat dijemput di bandara oleh pihak penyelenggara acara yang mengundang dengan menggunakan mobil jenis van yang cukup mewah dan besar. Menyusuri jalanan Singapura yang bebas macet dengan kendaraan tersebut sambil melihat-lihat pemandangan baru, sungguh terasa menyenangkan meskipun saat itu saya bukan dalam suasana berlibur.

Namun, pengalaman pertama saya itu semakin menakjubkan ketika saya menjejakkan kaki di hotel yang disediakan untuk saya dan beberapa rekan dari Indonesia untuk menginap. Hotel Fullerton yang desain arsitekturnya membuat saya berdecak kagum. Setiap sudut dari hotel tersebut tampak ditata sesempurna mungkin.

 Hotel yang sarat dengan catatan historis yang tampil elegan (sumber foto: Fullerton.com)

Demikian pula ketika saya memasuki kamar yang telah disediakan untuk saya tempati selama beberapa hari. Kamar dengan single bed itu tak tampak sesak, meskipun tak terlalu besar. Lengkap dengan berbagai fasilitas yang terbaik.

Pada saat itu, koneksi internet masih sulit diperoleh, tidak seperti sekarang dimana koneksi internet wi-fi dapat ditemukan dimana-mana. Namun, di hotel Fullerton, saya dapat mengakses melalui layar televisi yang penggunaannya dapat diubah layaknya layar komputer yang dihubungkan dengan keyboard khusus.


Tapi, jujur saja karena kemudian banyak kegiatan sejak pagi hingga malam, membuat saya tak banyak berpikir soal Hotel Fullerton dengan sejarahnya yang ternyata saya ketahui kemudian sangatlah menarik.  Sebelum diubah fungsi menjadi hotel, awalnya gedung tersebut dikenal sebagai The Fullerton Building dan General Post Office Building.

Dikutip dari Wikipedia, nama Fullerton diambil dari nama Gubernur pertama Negeri-Negeri Selat (1826–1829) yaitu Robert Fullerton. Pembangunannya merupakan bagian dari perayaan satu abad koloni Inggris pada tahun 1919. Bangunan itu dirancang sebagai gedung kantor oleh sebuah kantor arsitek dari Shanghai, yang memenangi proyek tersebut dalam suatu kompetisi arsitektur yaitu Major P.H. Keys dari Keys & Dowdeswell.

 Nama Fullerton diambil dari nama salah seorang Gubernur yang menjabat pada tahun 1826 
(sumber foto: Fullerton.com)

Awal pembangunan Gedung Fullerton rencananya dilakukan pada tahun 1920. Tetapi lantaran kendala dana, pembangunan baru dimulai bulan Februari 1924 dan dapat diselesaikan pada bulan Juni 1928. Gedung Fullerton kemudian resmi dibuka pada 27 Juni 1928 oleh Gubernur Sir Hugh Clifford yang sekaligus memberikan usul nama gedung itu.

Pada awal peresmian, Fullerton digunakan oleh lima lembaga yaitu General Post Office (kantor pos), The Exchange, Singapore Club, juga ada Departemen Kelautan, dan Departemen Impor dan Ekspor (yang kemudian berganti nama menjadi Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura). Selain itu, disini juga ditempati Kamar Dagang dan berbagai departemen pemerintahan yang terkait dengan pertanian, perikanan dan kehutanan.

Pada masa Perang Dunia II, gedung Fullerton sempat berubah fungsi menjadi rumah sakit juga tempat administrasi militer Jepang di Singapura. Diantara tahun 1970-an sampai 1995, gedung ini digunakan sebagai markas Autoritas Pendapatan Dalam Negeri Singapura. Lalu pada bulan Maret 1996, kantor pos di gedung ini berhenti beroperasi.

Desain menarik untuk saya justru bentuk jendela yang dipertahankan keasliannya (sumber foto: Fullerton.com)
 
Lalu pada tahun 1997, Sino Land (Hong Kong) Company Ltd.  membeli gedung ini dan mengubahnya menjadi sebuah hotel yang proses renovasinya diselesaikan tanggal 8 Desember 2000. Kemudian, The Fullerton Hotel Singapore resmi dibuka oleh Perdana Menteri Goh Chok Tong pada 1 Januari 2001.

Namun, jangan salah, meskipun gedung ini memiliki sejarah panjang, namun para pengunjung tak akan menemukan kesan seram ataupun angker didalamnya. Bagi saya, hanya kekaguman dan kenyamanan yang saya rasakan saat menginap di sana.

Saat sarapan pagi merupakan waktu favorit saya sebab kita bisa memilih aneka hidangan dan menikmatinya di ruang indoor yang nyaman ataupun outdoor dengan tenda-tenda peneduh yang menyajikan pemandangan sekitar yang sangat menakjubkan. Anda dapat menyaksikan sungai yang mengalir diselingi beberapa kapal yang melintas. Jika lebih jauh melayangkan pandang, maka akan tampak kendaraan yang lewat serta warga yang berangkat menuju tempat beraktivitas ataupun tengah berolahraga. Sungguh pagi yang menyenangkan untuk memulai hari.

Namun, lokasi bersantap outdoor ini juga tentu tak kalah menarik untuk makan malam. Apalagi bersama dengan orang-orang istimewa dan dekat di hati. Hmmmm....


 Lokasi bersantap outdoor di Hotel Fullerton yang super keren (sumber foto: Fullerton.com)

Sayang sekali, saya kehilangan foto-foto dokumentasi selama saya berada di sana. Berganti-ganti tempat kerja serta manajemen dokumentasi yang kurang baik menjadi beberapa alasannya. Dulu jejaring sosial juga belum marak seperti sekarang. Kalau tidak salah sempat beberapa foto di upload di Friendster, namun ketika jejaring sosial itu beralih menjadi situs game, saya tidak sempat menyimpan foto-fotonya.

Sebagai gambaran untuk teman-teman yang mungkin penasaran, saya ambil beberapa foto dari situs web asli dari Hotel Fullerton. Kalau gambar di bawah ini adalah salah satu restoran yang dimiliki Hotel Fullerton yaitu The Lighthouse Restaurant & Rooftop Bar yang lokasinya di paling atas gedung. Pemandangannya luar biasa ya? Sayangnya, saya belum sempat menjejakkan kaki di sana.

Nah ini The Lighthouse Restaurant & Rooftop Bar pemandangannya kece (sumber foto: Fullerton.com)

Pengalaman Berbeda

Perjalanan saya ke negara Singapura dua tahun kemudian, kemudian juga mengantarkan saya ke salah satu hotel yang tak kalah menarik yaitu Hotel Furama Riverfront. Meskipun hotel ini termasuk dalam hotel bintang empat, namun saya juga sama terkesannya dengan penginapan ini sebagaimana perjalanan pertama saya. Hanya saja kali ini saya disajikan bagunan hotel dengan desain urban modern yang menawarkan kepraktisan yang sangat sesuai dengan perjalanan bisnis.


Tampilan dari depan Hotel Furama Riverfront (sumber foto: Furama.com)


Desain interior kamar yang saya tempati sangat nyaman, tampak dari detail yang sangat diperhatikan. Salah satu yang masih saya ingat dari kamar hotel yang saya tempati di sini adalah kamar mandi yang unik yaitu berada di tengah ruangan dengan kaca transparan! Kalau tidak salah, kamar Executive Club. Hehehe untung saja saat itu saya menginap sendiri. Kalau bareng-bareng, bakal bingung juga mandinya ^_^

Kamarnya serba minimalis tapi unik. Tuh lihat bathtub ada di sebelah tempat tidur (sumber foto: Furama.com)
 
Oh ya, di sini juga ternyata ada restoran khas Indonesia yaitu Kintamani Indonesian Restaurant yang siap menghidangkan santapan lezat terutama dari kuliner Bali. Sayang sekali kegiatan saya waktu itu tidak menyisakan banyak waktu untuk saya menjelajahi berbagai tempat dan fasilitas di hotel tersebut lebih banyak lagi. Termasuk restoran dibawah ini yang baru saya ketahui dari situs web.

r
Restoran khas pulau Dewata yang siap menyajikan santapan lezat..nyaammm (sumber foto: Furama.com)

Bisa dibilang salah satu keberuntungan saya saat menginap di dua hotel ternama di Singapura adalah keduanya sama-sama memiliki pemandangan aliran sungai yang berada tak jauh dari lokasi. Setelah beberapa tahun kemudian memilki kesempatan untuk mengunjungi negara Eropa, tepatnya Berlin, Jerman, yang memiliki wisata air dalam kota pada awal musim semi, maka pengalaman saya di Singapura merupakan hal yang pertama yang saya ingat.

Mungkin saja nanti saya mendapat kesempatan lagi untuk menyambangi beberapa hotel menarik di Singapura lainnya. Namun, kali ini sepertinya tidak perlu menunggu penugasan, sebab situs web Voucherhotel dapat memudahkan proses memilih dan memesan penginapan untuk saya dan keluarga, serta untuk semua orang yang menginginkan kepraktisan dan diskon harga yang lumayan. Sesuai dengan keunggulan yang dikedepankan Voucherhotel yaitu mudah, murah, lengkap dan aman.

Oh ya, kebetulan untuk Hotel Furama Riverfront yang saya bahas diatas sudah bisa langsung dipesan di Voucherhotel  dengan tawaran harga menarik. Atau, mungkin kalau penasaran ingin menginap di Hotel Fullerton yang untuk pemesanannya belum ada di Voucherhotel, jangan kecil hati dulu, hubungi saja call centernya, siapa tahu mereka bisa membantu. Mudah kok, bisa menghubungi melalui :

SMS 0889-1657-168
Whatsapp 0889-1657-168
Blackberry PIN 326633E9
YM voucherhotelcom@yahoo.com
Email booking@voucherhotel.com


Apakah teman-teman ada rencana ke Singapura? Ingat dua hotel keren dari pengalaman saya menginap deh, dijamin gak bakal rugi. Mau yang klasik penuh kilas historis atau menginginkan yang praktis serba modern? Silakan sesuaikan dengan kebutuhan dan budget. Ssst..jangan lupa menyambangi situs web Voucherhotel ya. Ayo, tunggu apa lagi ^_^







Tuesday, 8 October 2013

Rutinitas Itu (Ternyata) Patut Dinikmati


 Aylaa dan Sandya (dok.pribadi)

Menghargai sesuatu yang kita lakukan, alami atau peroleh hampir setiap hari, seperti rutinitas, rasanya seringkali terlupakan. Termasuk saya. Seringkali saya ngomel karena membereskan mainan anak-anak yang hanya dalam hitungan jam, bahkan menit sudah berantakan lagi. Ataupun, merasa "serba kurang" saat terbengong-bengong melihat perkembangan teman-teman seangkatan kerja dulu yang mengumumkan kenaikan jabatan atau jalan-jalannya ke luar negeri *ngiri dot com* :D

Tapiiii, semua itu sia-sia! Hahaha apa pula sih ini. Maksudnya, setelah menemani anak saya, Rachma Aylaa Santoso, yang dirawat di rumah sakit selama satu minggu karena usus buntu dan harus dioperasi, saya tiba-tiba merindukan rutinitas rempong bin ribet saya di rumah.

Selama 7 malam nginep di kamar rumah sakit, saya jadi kangen tidur-tiduran sambil nyusuin adik Sandya. Saya kangen beberes kamar yang gak pernah beres karena anak-anak paling demen loncat-loncat tempat tidur dan ngacak di kamar saya. Apalagi pas lihat kakak Aylaa kesakitan dan masuk ruang operasi, hiks saya sampe nangis dan ngomong dalam hati, "masih mending kakak loncat-loncat tempat tidur dan gangguin Ibu pas ngetik deh biarpun bikin marah, daripada sakit begini" :(

Saya juga kangen antar jemput kakak Aylaa ke sekolah dan bertemu dengan para guru, siswa di sekolah serta ngobrol dengan ibu-ibu yang suka antar jemput.


Intinya, semua yang biasanya merupakan rutinitas yang tampaknya berat dan membosankan di rumah jadi terasa berharga. Semakin juga saya menghargai kesehatan, baik anak, diri saya sendiri, suami, Papa Mama, semua keluarga, bahkan asisten rumah tangga saya.

Alhamdulillah kakak Aylaa sudah semakin sehat dalam masa pemulihan pasca operasi usus buntunya. Makasih untuk yang sudah turut mendoakan. Saya sempat juga menyalahkan diri saya, jangan2 salah satu penyebabnya adalah makanan yang saya berikan yang masih kurang sehat.

Terlepas dari benar atau tidaknya, saya bertekad untuk lebih rajin membuat makanan rumahan dan mengurangi makanan jadi dari luar rumah. Kalaupun iya, dibatasi sesedikit mungkin. Sepertinya saya harus sering-sering blogwalking ke blog2 masak memasak untuk ini.


Tapi, saya tidak terlalu mau banyak berpetuah deh sore-sore gini, lagipula ilmu bijak dan stok sabar saya juga masih seuprit hehehe. Masih sering kesel dibanding bijaknya, lebih banyak ngambek dibanding sabarnya ^_^

Makasih yang udah mampir ya teman-teman, selamat melanjutkan dan menikmati rutinitas.

Saturday, 28 September 2013

Kepemimpinan si Kecil: Dimulai dari Ibu, Diawali dari Rumah

"Aylaa mau jadi seperti Ibu".

Itu kalimat anak sulung saya, Aylaa (hampir 7 tahun) pada suatu sore. Kalimat yang membuat saya tersenyum sekaligus penasaran. Meskipun secara teori, saya sudah tahu memang kedua orangtua adalah panutan dari anak-anaknya, namun pernyataan sore itu tetap saja mengejutkan saya.
Foto Aylaa lulus TK bersama Ibu dan adik Sandya. Ayah gak ikut soalnya lagi ngantor ^_^ (dok.pribadi)

Friday, 27 September 2013

Pilah-pilih Nama Blog, Antara Kreativitas dan Jati Diri

 (Sumber gambar: digitalareas.blogspot.com)

"Mbak, emang beneran suka pake daster ya?"

Itu pertanyaan salah satu teman saya di Facebook kemarin terkait dengan nama blog saya. Hehehe memang pertanyaan yang wajar sih, tapi tetap saja bikin saya nyengir.

Nah setelah membahas puisi esai yang lumayan berat, sepertinya asik juga kali ini saya bahas soal pemilihan nama blog.

Pernah dibahas kalau gak salah di salah satu artikel dari Kumpulan Emak Blogger atau akun Twitternya mengenai ini. Saya agak lupa. Tapi, yang saya tangkep, ada beberapa pilihan memberi nama blog.

Pertama, menggunakan nama pemilik blog. Pemberian nama blog seperti ini banyak dilakukan oleh blogger. Tapi, saya pribadi belum pernah dan belum pede hehehe :D

Kedua, pemberian blog berdasarkan minat. Misalnya soal travelling, ada kata2 travelnya atau soal masak memasak yang ada kata kuliner atau jajan atau makan, dan lain-lain.

Ketiga, ada juga pemberian nama blog dengan ciri khas atau yang sekiranya gampang diingat oleh pembacanya.Serta beberapaa pilihan pemberian nama blog lainnya.

Bagaimana saya memilih nama blog? Hihihi saya sendiri gak yakin saya pilih nama blog http://fromblazertodaster.blogspot.com/ dan blog berbahasa Inggris milik saya yaitu http://momsaroundglobe.wordpress.com/ tergantung dari pilihan nomor berapa di atas.

Kalau yang berbahasa Inggris saya buat tahun 2009 sewaktu di kelas pelatihan jurnalistik sebagai tugas perseorangan, maka blog saya yang satu lagi, saya buat sewaktu saya tidak bisa tidur dan sangat merindukan proses menulis karena saya sudah tidak lagi berkarir di kantor dan lebih banyak mendedikasikan diri untuk rumah tangga.

Untuk blog pertama memang kudu berbahasa Inggris, judul blog dan isinya. Bisa-bisa bingung mentor dan temen-temen saya yang berasal dari berbagai negara kalo saya pake bahasa Indonesia. Tapi, kok ya saya mikirnya tetep soal mom alias ibu alias emak ya. Disatukan dengan cita-cita luhur, hihihi pengen keliling duniaa, jadilah http://momsaroundglobe.wordpress.com/ soalnya kalo around the world itu pasti udah banyak banget yang pake.

Trus trus kenapa dipakenya moms, bukan mom? Dulu sih saya pengennya blog saya itu bisa sekalian jadi wadah emak2 yang sering jalan keliling dunia, jd bukan cerita saya aja gitu. Jadi saya tetap mempertahankan blog ini dalam bahasa Inggris.

Tapi, entah mengapa blog ini menjadi terlupakan oleh saya beberapa tahun terakhir. Bahkan saat saya membuat blog http://fromblazertodaster.blogspot.com/ saya bener-bener lupa kalau saya udah punya blog sebelumnya. Hehehe maklum awal2 dulu jd full time mother, kerjaan di rumah serta beberapa pekerjaan paruh waktu membuat saya kesulitan menyempatkan waktu menulis untuk kebutuhan pribadi.

Pada suatu malam, saya merasa gelisah, merasa terasing karena jarang bersosialisasi dengan teman sebagaimana dulu masih ngantor, ingin bercerita tapi kok bingung sama siapa. Akhirnya saya terpikir soal blog. Ah ya kenapa tidak saya tuliskan saja semua unek-unek saya.

Waktu itu saya pilih blazer karena saya masih teringat bagaimana saat saya bekerja, dan sebagian orang bekerja menggunakan blazer, meskipun saya sendiri jarang2 sih. Lalu karena terobsesi dengan akhirnya yang serupa yaitu er, saya pikir2, kalo blazer dipadankan dengan apa, dan daster pun jadi pilihan saya.

Ssstt..padahal nih daster saya jg gak banyak2 amat dan sebagian besar daster kaos. Sebab, suami saya tidak terlalu suka dengan penampilan saya pake daster, hehehe padahal pake daster itu rasanya nikmat ya, mak ^_^ Sehingga, jadilah nama blog saya yang dibuat tahun 2012 bernama  http://fromblazertodaster.blogspot.com/ hingga sekarang.

Punya dua blog saja, saya masih sering mangkir untuk update. Jadi belum kepikir tuh buat blog ketiga.

Jadi, apa alasan dibalik nama blog teman-teman?







Thursday, 26 September 2013

Puisi Esai, Kupas Realitas Sosial dalam Bumbu Fiksi

(sumber gambar: corner610.blogspot.com)

Selamat pagi semua!! Assalamualaikum. Semangat kan di hari Kamis? Hehe saya juga semangat, meskipun flu lagi menyerang nih. Kan katanya men sana in corpore sano yang artinya jiwa yang sehat didalam tubuh yang sehat. Eh gak nyambung ya? Hihihi ya begitulah kira-kira. 

Hari ini saya mau berbagi mengenai suatu genre penulisan yang baru saya ketahui, maaf kalo temen2 ada yang sudah lebih dulu tahu, boleh komentar boleh kritik, tapi jangan pedes2 yak.

Yang saya pengen bagi hari ini yaitu puisi esai. Apa bedanya dengan puisi biasa? Nanti saya kasih contoh puisi esai yang super kereeeen.

Sebelumnya, siapa sih yang tak kenal puisi? Sejak jaman Sekolah Dasar dulu sepertinya kita sudah disuguhi puisi dalam pelajaran bahasa Indonesia. Selain puisi ada juga cerita pendek ataupun pantun.

Puisi sendiri biasanya terdiri dari enam unsur, yaitu tema, imajinasi, amanat, nada, suasana, dan perasaan. Dan berdasarkan zamannya, puisi dapat dibagi menjadi puisi lama, puisi baru dan puisi kontemporer.

Tulisan dari Dessy Wahyuni dalam kolom Opini dari Riau Pos yang berjudul "Berburu Fakta dalam Puisi Esai" secara lengkap mengupas mengenai genre baru puisi esai yang digagas oleh Denny Januar Ali  atau lebih dikenal dengan Denny JA.

Menurut Denny, tulis Dessy, puisi seharusnya bisa dinikmati masyarakat luas dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Lantas ia melakukan riset terhadap dua sumber, yaitu pakar puisi dan masyarakat luas dengan menggunakan sampel.

Dua sumber itu sampai pada kesimpulan dan harapan yang sama. Mereka merindukan puisi yang lebih peduli kepada publik luas, di luar dunia para penyair itu sendiri. Mereka juga rindu dengan bahasa puisi yang lebih mudah dipahami (Denny JA, 2013:34).

Puisi esai yang digagas oleh Denny memiliki ciri khas berupa puisi yang sangat panjang, berbabak, dengan catatan kaki, serta bahasa yang mudah mengerti. Sebagaian besar mengangkat isu sosial.

Puisi esai yang ditulis Denny JA merupakan reaksi atas puisi dengan bahasa  rumit, yang membuat puisi semakin terisolasi dari publik luas.

Denny JA menerbitkan sebuah buku puisi esai yang berjudul Atas Nama Cinta (Maret 2012). Buku kumpulan puisi ini menyajikan puisi-puisi dengan bahasa yang mudah dan memberikan tema yang kerap menjadi kegelisahan masyarakat.

Memang keunikan dari puisi esai ini adalah gabungan fiksi dan dan fakta. Dalam hal ini, fakta merupakan permasalahan yang berisi peristiwa-peristiwa sosial, sementara fiksi merupakan sarana pengucapan fakta tesebut yang diramu sedemikian rupa untuk menyentuh hati nurani pembaca.

Karena berpijak pada fakta, pada akhir puisi esai seringkali disertai catatan kaki yang menjelaskan isu sosial yang benar-benar terjadi, bisa berupa rujukan buku, berita, karya ilmiah dan lain sebagainya yang tidak biasa ditemukan pada puisi lainnya.

Saya pribadi sangat tertarik dengan genre yang baru saya kenal ini. Beberapa karya puisi esai yang sudah saya baca dalam situs web puisi-esai.com terasa sangat mengena dan menyentuh. Saya kutip salah satu karya Denny JA, namun karena ciri puisi esai yang panjang, mohon maaf jika bacanya harus sedikit santai. Ataupun, jika ingin membaca karya lainnya silakan ke situs webnya langsung.

Oh ya, sekarang sedang ada lomba penulisan puisi esai juga dari Yayasan Denny JA dengan DL 28 Oktober 2013.

Buat yang penasaran apa sih puisi esai, yuk baca karya Denny JA dibawah ini: 
 

Sapu Tangan Fang Yin
/1/

Ditatapnya sekali lagi sapu tangan itu,
tak lagi putih; tiga belas tahun berlalu.
Korek api di tangan, siap membakarnya
menjadi abu masa lalu.

Namun, sebelum api menjilat, hatinya bergetar;
Ditiupnya api itu – terdiam ia dalam senyap malam.
Dibukanya jendela kamar: kelam langit Los Angeles
Yang dihuninya sejak 13 tahun lalu.

Terlintas ingatan minggu pertama di kamar ini
Ketika setiap malam ia menangis;
Ya, panggil saja ia Fang Yin – hamparan rumput harum artinya.
Nama sebenarnya dirahasiakan, menunggu sampai semua reda.

Waktu itu usianya dua puluh dua
Terpaksa kabur dari Indonesia, negeri kelahirannya
Setelah diperkosa segerombolan orang
Tahun 1998, dalam sebuah huru-hara.

Apa arti Indonesia bagiku? bisik Fang Yin kepada dirinya sendiri.
Ribuan keturunan Tionghoa1 meninggalkan Indonesia:
Setelah Mei yang legam, setelah Mei yang tanpa tatanan
Setelah Mei yang bergelimang kerusuhan.2

/2/

Hari itu negeri berjalan tanpa pemerintah
Hukum ditelantarkan, huru-hara di mana-mana
Yang terdengar hanya teriakan
Kejar Cina! Bunuh Cina! Massa tak terkendalikan.

Langit menghitam oleh kobaran asap
Dari rumah-rumah dan pertokoan –
Semua terkesima, tak ada yang merasa siap
Melindungi diri sendiri dari keganasan.

Ada keluarga yang memilih bunuh diri
Di hadapan para penjarah yang matanya bagai api
Yang siap menerkam; yang siap merampas apa saja
Yang siap memperkosa perempuan tak berdaya.

Apa arti Indonesia bagiku? bisik Fang Yin
Kepada dirinya sendiri, yang hidupnya telah dirampas
Yang tak lagi bisa merasakan sejuknya angin
Sebab kebahagiaannya tinggal ampas.

Waktu itu terdengar anjing melolong panjang
Seperti minta tolong aparat keamanan;
Mereka melemparkan binatang itu ke kolam
Menggelepar-gelepar: airnya pun memerah.



/3/

Fang Yin sekeluarga mengungsi ke Amerika
Bersama sejumlah warga keturunan Tionghoa;
Mereka tinggal berdekatan di New York, Philadelphia,
Los Angeles, New Jersey – bagaikan perkampungan Indonesia.

Minggu-minggu pertama di Amerika
Fang Yin belum sadar apa sebenarnya yang terjadi
Raga dan jiwanya lemah, perlu pemulihan dari dahsyatnya trauma,
Ke mana pun ia pergi, orang tuanya dan seorang psikolog mendampingi.

Setelah tiga bulan hidupnya menjadi normal.
Ia pun ikut kursus bahasa Inggris, ingin meneruskan kuliah.
Namun Fang Yin sudah berubah –
Ia tak lagi ceria, suka menyendiri saja.

Ketika seorang pemuda Korea mendekatinya
Fang Yin malah menjauh, khawatir kalau-kalau tak berbeda
Dengan Kho, pacarnya dulu di Jakarta,
Yang meninggalkannya setelah tahu ia diperkosa.

13 tahun sudah ia di Amerika, tumbuh keinginannya
Untuk pulang ke tanah kelahirannya, Indonesia;
Waktu itu usianya menginjak tiga puluh lima
Ia ingin memulai hidup baru, membangun keluarga.

Ingin punya suami, ingin punya anak
Rindu kampung halaman tempat ia dilahirkan dan dibesarkan
Rindu teman-teman remaja, rindu masa-masa menghabiskan waktu
Jalan-jalan dan bercanda ria di Mal Citraland.

Tapi kemarahannya pada Indonesia masih menyala
Trauma diperkosa masih berujud horor baginya.
Fang Yin membatalkan niatnya untuk kembali
Baginya Indonesia masa silam yang kelam

Kenangan pada Kho membekas di benaknya.
Tak ia ketahui di mana kini pemuda itu berada.
Dibukanya secarik surat yang sejak 12 tahun lalu
Akan dikirimkannya ke pemuda itu, tapi selalu dibatalkannya.

Kho, apa kabarmu
Aku sendiri di sini
Dulu katamu akan menemaniku
Terutama di kala susah
Itu sebabnya kuterima cintamu
Aku sangat susah hati, Kho
Aku ingin dengar suaramu.

Ia sering coba menghubunginya lewat telepon
Tak pernah ada jawaban, bagai raib begitu saja.
Mungkin Kho juga mengungsi, tapi entah ke mana
Fang Yin tidak pernah tahu lagi tentangnya.

Satu-satunya kenangan dari Kho
Yang sampai sekarang masih disimpannya
Adalah selembar sapu tangan
Yang saat ini ia genggam erat-erat, merisaukannya.



/4/

Ingin ia bakar selembar kenangan itu
Saksi satu-satunya, sisa trauma masa lalu
Selama ini disimpannya diam-diam setangan itu
Tak ingin ada orang lain mengganggu.

Ditatapnya kembali sapu tangan itu
Ia sentuh permukaannya, masih terasa
Bekas air mata yang tetes demi tetes membasahinya dulu
Bagian abadi dari hidupnya.

Setahun lalu psikolognya, warga Amerika, bilang
Ia nyaris sembuh. Dan akan lengkap sembuhnya
Jika ia ikhlas menerima masa lalu yang telah hilang
Sebagai bagian dari permainan nasib manusia.

Kepada psikolog itu Fang Yin berhutang nyawa.
Beberapa kali perempuan itu nyaris bunuh diri
Tetapi karena ia menemaninya setiap hari
Jiwa anak keluarga kaya itu pun beranjak sembuh kembali.

Ia ulang-ulang mantra psikolog itu,
Ia coba pahami apa yang ada di balik kata-katanya:
Terimalah kenyataan apa adanya!
Berdamailah dengan masa lalu.

Di bulan ke empat, ia mulai rasakan khasiat
Masa lalu tidak lagi menjadi bom di kepala
Namun kenangan itu bagai tawon yang tak henti menyengat
Tidak dengan mudah minggat.

/5/

Ditatapnya kembali sapu tangan itu:
Tampak tayangan sinema di permukaannya:
Tergambar rumahnya di Kapuk, Jakarta Utara
Sebuah bangunan yang tinggi temboknya.

Berjajar di samping rumah-rumah lain
Yang pagarnya seakan berlomba
Mana yang paling tinggi, mana yang paling kokoh.
Semua dihuni warga keturunan Tionghoa.3

Namun, tembok setinggi apa pun
Ternyata tak mampu mengamankannya
Tak mampu membendung gelombang huru-hara
Yang membakar Jakarta.

Hari itu Selasa 12 Mei 1998.
Fang Yin tidak kuliah, di rumah saja;
Ia hanya menonton televisi
Semuanya menyiarkan berita itu-itu juga.

Mimbar bebas di kampus-kampus
Unjuk rasa di mana-mana
Menuntut Soeharto turun
Dianggap tak mampu pulihkan ekonomi negara.

Perusahaan-perusahaan gulung tikar
Pengangguran merajalela
Harga barang-barang pokok melambung
Nilai rupiah semakin terpuruk.

Gerakan mahasiswa yang mula-mula hanya unjuk rasa
Gerakan Reformasi mula-mula namanya
Segera berubah menjadi gelombang besar demonstrasi
Tak bisa dibendung lagi.

Sore hari, Selasa 12 Mei
Di depan Universitas Trisakti
Empat mahasiswa tewas tertembak:
Malam pun mencekam, gejolak merebak.

Rabu 13 Mei 1998
Ribuan mahasiswa berkumpul
Di Universitas Trisakti
Duka cita berbaur teriakan kerumunan massa.

Tak diketahui dari mana rimbanya
Siang hari semakin dipenuhi massa
Dan, tiba-tiba saja, sekelompok orang
Membakar ban-ban bekas di tengah jalan.

Asap hitam pun membubung tinggi
Truk yang melintas dihentikan massa
Dan teriakan bergema, semakin liar:
Bakar! bakar!

Massa bagai kerumunan semut
Merangsek ke tengah-tengah kota
Turun dari truk-truk yang muncul tiba-tiba
Entah dari mana datangnya.

Teriakan pun berubah arahnya
Dan terdengar Bakar Cina! Bakar Cina!
Gerombolan yang tegap dan gagah
Menyisir toko, kantor, dan pemukiman Tionghoa.

Mereka memasuki rumah-rumah kaum sipit mata
Menyeret para penghuninya, menghajar para pria
Memperkosa perempuannya. Dan semakin siang
Semakin tak terbilang jumlahnya.

Ditemani seorang pembantu, Fang Yin menyaksikan
Adegan demi adegan horor itu di televisi. Ketakutan menyergapnya!
Ia telepon ayahnya di kantor, tak bisa pulang
Jalanan dipenuhi massa, tak terbilang.



/6/

Hantu yang ditakutinya pun menjelma –
Didengarnya suara-suara memekakkan telinga
Segerombolan orang merusak pagar rumahnya
Mereka masuk dan membunuh anjing herdernya.

Pembantunya sempat berteriak, lalu terkapar
Oleh para berandal itu ia dihajar.
Fang Yin lari mengunci diri di dalam kamar
Berteriak, melolong, meminta tolong.

Tak ada yang mendengar. Mungkin tetangganya
Juga tengah menghadapi ketakutan yang sama.
Pintu kamar Fang Yin didobrak, masuklah lima pria
Bertubuh tegap – ke ranjang mereka menyeretnya.

Rambutnya dijambak
Pakaiannya dikoyak-moyak
Dan dengan kasar
Mereka pun memukul, menampar.

Fang Yin pun menjerit, mohon ampun,
Jangan…Jangan…
Saya punya uang.
Ampun. Jangan.

Bagai sekawanan serigala mereka:
Seseorang memegang kaki kirinya
Seorang lagi merentang kaki kanannya
Yang lain menindih tubuhnya.

Wahai, terenggut sudah kehormatannya!
Yang lain bersiap menunggu giliran
Ganas seringainya, tak ada belas
Bagi seorang perawan.

Fang Yin meronta sebisa-bisanya
Berteriak sekuat-kuatnya
Bergerak-gerak mempertahankan kehormatannya
Memukul, menjambak sekenanya.

Di antara sakit dan cemas yang tiada taranya
Sempat didengarnya para berandal tertawa
Melahapnya: Hihihihi, hahahaha –
Fang Yin pun kehilangan kesadarannya.

/7/

Fang Yin, ya, Fang Yin yang malang –
Ketika dibukanya mata
Didapatinya dirinya terbaring
Di rumah sakit.

Saat itu Kho, pacarnya, datang menjenguk
Memberinya sapu tangan;
Fang Yin menghapus tetes air matanya –
Sapu tangan itulah yang setia menyertainya.

Tersimpan di sapu tangan itu tetes air matanya yang pertama
Tetes air matanya yang kedua
Tetes air matanya yang kesepuluh
Tetes air matanya yang keseribu

Tersimpan pula di sana malam-malamnya yang sepi
Ketika ia meminta Tuhan membuatnya mati saja
Ketika ia merasa diri lunglai, tak lagi bertulang
Sapu tangan itu merekam seperti buku diary.

Rina, sahabat dekatnya, membelainya
Yang menyertai Kho menjenguknya.
Rina sangat memahaminya,
Rina banyak membantunya.

Infus mengalir di sebelah tangannya
Ayah dan ibunya menangis memeluknya;
Fang Yin mengingat-ingat apa yang terjadi
Membayangkan apa yang telah dialami.

Memar tersebar di sekujur tubuh
Dan teringatlah: ia telah diperkosa!4
Fang Yin menjerit kuat sekali
Seisi rumah sakit mendengarnya,

Tolong…tolong…
Ampun, ya Tuhan
Tolong aku
Ampun, ampun…



/8/

Jakarta lautan api! Di mana pula aparat keamanan?
Tak tampak sama sekali.
Kerusuhan pun menjalar liar
Bagaikan api, bagaikan ular.

Warga Jakarta terkesima.
Begitu banyak orang-orang datang
Begitu saja, entah dari mana
Tak ada yang kenal mereka.

Didrop truk di lokasi tertentu
Mereka kekar dan tegap –
Mereka merusak, mereka membakar,
Mereka menjarah – dan massa pun terpancing.

Dan ketika kerumunan semakin banyak
Dan ketika tak ada lagi aturan yang tegak
Para penjarah meninggalkan lokasi –
Massa pun mengamuk tanpa sebab yang pasti.

Mereka berebut menjarah, saling mendahului
Tunggang-langgang, tindih-menindih terjebak api
Dalam bangunan yang menyala-nyala
Terpanggang hidup-hidup – dan tewas sia-sia.5



/9/

Fang Yin dan keluarga tidak paham politik
Apa lagi masalah militer.6
Mereka cari nafkah berdagang saja
Dan ketika bingung, tak tahu harus mengadu ke mana.

Bumi Indonesia gonjang-ganjing, langit berkilat-kilat
Sedangkan Presiden Soeharto berada di Mesir sana;
Situasi menjadi semakin parah
Menanti Sang Presiden kembali.

Tahun 1998, tanggal 15 Mei
Pukul 4.30 dini hari
Soeharto menyatakan tak bersedia mundur;
Ketegangan memuncak, ketenteraman pun hancur.

Warga Tionghoa yang mulai tenang
Kembali khawatir kalau huru-hara kembali datang;
Mereka jual barang-barang mereka, banting harga
Bersiap-siap hengkang ke mancanegara.

Di rumah sakit, Fang Yin masih terbaring lemah.
Ia menduga kerusuhan akan kembali terjadi
Dan orang-orang tegap yang brangasan
Akan memperkosanya lagi.

Papi, apa salah saya? Kenapa saya diperkosa?
Apa salah saya, Papi?
Ayahnya tak menjawab,
Dipeluknya anaknya erat-erat.

Kho, pacarnya, terdiam dan mulai dingin sikapnya.
Fang Yin menjerit-jerit –
Seorang guru spiritual coba menghentikannya
Mengajarkan keikhlasan Konghucu.

Disampaikannya hakikat shio;
Fang Yin adalah gadis Naga, dan 1998 adalah Macan –
Naga kurang beruntung di tahun itu
Dan harus menerima dengan dada terbuka.

Diuraikannya prinsip Ren Dao
Ajaran tentang hubungan antarmanusia;
Ya, sebuah kitab kecil, Kitab Meng Zi:
Dan dibacakannya,

Dengarkan:
Yang tidak susila jangan dilihat
Yang tidak susila jangan didengar
Yang tidak susila jangan dibicarakan.

Dengan penuh kasih dipegangnya kening Fang Yin
Ia tatap matanya, dialirkannya enerji,
Ditumbuhkannya semangat hidup,
Dan dengan tenang dikatakannya,

Fang Yin, Ini bencana sudah terjadi
Lupakan saja. Mulailah hidup baru –
Keikhlasan akan mengalahkan kemalangan
Keyakinan akan mengalahkan derita.

Di televisi rumah sakit, Fang Yin mendengar diskusi:
Dalam sejarah Indonesia, warga Tionghoa
Acap jadi korban amuk massa.7
Uhhhh… Fang Yin tidak paham sejarah.

/10/

Demikianlah seminggu setelah peristiwa
Fang Yin dan keluarga terbang ke Amerika;
Bukan karena tidak cinta Indonesia, kata ayahnya,
Tetapi keadaanlah yang telah memaksa.

Ayah bercerita tentang kerabat kakek buyut mereka
Pejuang kemerdekaan, sahabat Bung Karno;
Sie Kok Liong namanya
Pemilik Gedung Kramat 106.

Di gedung itu dulu diselenggarakan Kongres Pemuda
Yang melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928;
Apa gerangan arti Indonesia bagi Fang Yin dan keluarganya?
Mereka harus hengkang demi keselamatan jiwa.



/11/

Kini 13 tahun setelah musibah itu
Fang Yin mendengar Indonesia sudah stabil kembali;
Beberapa warga keturunan Tionghoa menjadi menteri
Tradisi Imlek diberi hak hidup seperti dulu lagi.

Barongsai bebas melanggak-lenggok,
Koran berbahasa Cina sudah boleh beredar
Program berbahasa Cina ditayangkan di televisi.
Agama Konghucu sudah diakui.8

Komunitas Tionghoa Indonesia di manca negara
Kadang jumpa, berbagi cerita tentang Imlek dan segala rupa;
Sudah banyak yang ganti negeri
Menjadi warga Amerika, Singapura, dan lain-lainnya.

Tampaknya, bagi mereka Indonesia adalah masa silam
Yang kelam hitam;
Namun, Imlek masih tetap menyatukan mereka
Walau berbeda agama dan negara.

Ayah Fang Yin teguh pendirian
Pantang jadi warga negara lain;
Kepada Fang Yin ayahnya sering berpesan
Dan mewanti-wanti,

Fang Yin, kau anak Indonesia sejati
Jangan pindah menjadi warga lain negeri.
Ayahnya mendapatkan rezeki di Indonesia
Pada waktunya harus kembali ke sana.

Dan ia tentu saja marah ketika diketahuinya
Fang Yin sudah pindah warga negara;
Paspor Amerika Serikat sudah di tangannya,
Prosesnya dibantu oleh seorang pengacara.

Fang Yin banyak diberi tahu ayahnya tentang Indonesia
Agar tumbuh kembali cinta tanah airnya
Negeri yang sejak dulu mereka bela –
Sejak zaman pergerakan yang melibatkan buyutnya.

Fang Yin adalah gadis yang rajin membaca:
Perpustakaan menyediakan segala macam buku,
Buku menyediakan segala macam ilmu,
Dan ilmu akan bisa mengubah manusia.

Tetapi gadis itu sudah pasti dengan dirinya
Tak ingin melihat Indonesia lagi;
Ayahnya sudah putus asa
Meyakinkan Fang Yin untuk kembali.

Dan ketika Ayah pulang ke Indonesia
Fang Yin tetap berkeras hati
Untuk tinggal di Amerika Serikat sendiri –
Budaya modern pegangannya, kebebasan sandarannya.

Fang Yin suka perlindungan hukum
Itu sebabnya ia marah kepada Indonesia;
Fang Yin tak suka kekerasan
Itu perkara ia benci Indonesia.

Namun, karang pun bisa goyah oleh ombak besar:
Samudra bisa menjadi padang pasir
Apa yang tak berubah di bawah Matahari?
Nasihat ayahnya sudah begitu dalam berakar.

Amerika hanyalah tempat sementara untuk singgah
Tapi kita lahir di Indonesia, jadi mati sebaiknya di sana –
Luka masa silam harus dilawan
Cinta Ibu Pertiwi harus ditumbuhkan.

Dan selangkah demi selangkah, dengan susah payah
Kemarahan Fang Yin pun mulai reda
Walau kesedihan atas huru-hara itu
Masih membayang seperti hantu.

Fang Yin mulai tumbuh jati diri
Bertahun buku filsafat, sastra, agama, politik dilahapnya;
Ilmu pengetahuan memahatnya
Derita panjang masa silam justru melezatkan sikap hidupnya.

Dan sesudah tiga belas tahun berlalu
Fang Yin mulai merasakan rindu.
Terkenang kampung halaman, masa remaja di Jakarta;
Tak sadar, disebutnya nama Albert Kho, cinta pertamanya.

Di manakah engkau kini, pujaan hatiku?
Sejak kepindahannya ke Amerika,
Mereka tak pernah lagi menjalin hubungan;
Hanya sapu tangan itu yang kini tersisa.

Selentingan ia dengar kabar, Kho sudah berkeluarga
Rina nama istrinya, dulu sahabat kental Fang Yin –
Ia juga seorang keturunan Tionghoa;
Keduanya telah menjadi Muslim dan Muslimah.

Terbayang olehnya saat Kho dan Rina
Menjenguknya di rumah sakit dulu;
Fang Yin hanya bisa diam, menyimpan kepedihan
Ditinggal orang yang sudah sangat lekat di hati.

/12/

Fang Yin kembali berlutut di hadapan sapu tangan,
Korek api ia nyalakan –
Ingin dibakarnya sisa kenangan pacarnya dulu:
Masa silam harus segera dihapus dari ingatan.

Albert Kho harus pula aku lupakan, katanya.
Tangan yang memegang korek kembali gemetar;
Ia ketakutan, seolah api itu akan menghanguskan dirinya;
Dan api pun tak jadi berkobar.

Fang Yin menangis.
Mula-mula perlahan, lama-lama semakin mengiris –
Ditahan-tahankannya
Agar tak ada orang lain mendengar.

Ia nyalakan lagi korek api –
Dan tanpa pikir panjang, ia bakar sapu tangan itu;
Api menyala, sapu tangan terbakar
Ia melihat seluruh dirinya yang lama menjadi abu.

Masa silam terbakar,
Derita panjang ikut terbakar,
Cinta pada Kho terbakar
Cemburu pada Rina pun lenyap terbakar.

Dan kemarahannya pada Indonesia?
Terbakar sudah, bagai ritus penyucian diri;
Semesta seolah berhenti
Waktu senyap – lama sekali.

Dan sapu tangan pun jadi seonggok abu.
Fang Yin merasa lahir kembali
Jadi perempuan yang sama sekali baru
Bersih dari kengerian masa lalu.

Air mata menetes mengiringi api,
Sapu tangan tak ada lagi.
Ia kini berhasil berdamai dengan masa silam
Ia kini berhasil menjadi Fang Yin yang baru.

Khusyuk ia berdoa: Ya Tuhan, tumbuhkan keberanian
Aku berniat kembali ke Ibu Pertiwi
Ijinkan kuhabiskan sisa hidup di sana
Tanah yang melahirkanku, jadikan juga tanah yang nanti menguburku.



/13/

Apa arti Indonesia bagi Fang Yin?
Lahir di sana tak ia minta
Ketika trauma masih menganga
Indonesia hanya kubangan luka.

Kini ia melihat Indonesia dengan mata berbeda
Negeri itu menjadi cermin dirinya yang terus berubah
Ia ingin seperti buyutnya
Lahir, cari nafkah, berjuang lalu mati di sana.

Indonesia masuk lagi dalam kalbunya
Seperti nyiur yang melambai-lambai
Mengimbaunya untuk segera pulang!
Fang Yin merasakan rindu, menitikkan air mata.

Menurut kalender Cina, 2012 adalah Shio Naga
Akan baik peruntungannya;
Ia rindu masa remaja,
Ia rindu tempat dulu menghabiskan senja di Jakarta.

13 tahun lalu, ia datang ke Amerika
Membawa kemarahan yang sangat
Membawa dendam kesumat
Kepada Indonesia.

Kini ia ingin pulang, rindunya membara
Ia ingin Indonesia seperti dirinya: menang melawan masa lalu
Musibah dan bencana datang tak terduga
Yang penting harus tetap punya mimpi.

Ini Indonesia baru, katanya, kata mereka.
Ya, ya – niatnya pun teguh: Aku segera kembali ke sana!
Aku segera pulang ke sana!
Aku segera hidup di sana!

***

  1. Dalam puisi ini, kata Tionghoa dan Cina merujuk pada kelompok etnis yang sama. Tionghoa diekspresikan sebagai ucapan netral. Sedangkan Cina lebih merupakan “umpatan negatif” yang dilontarkan massa dalam kisah huru-hara.
  2. Tercatat sekitar 70.000 warga keturunan etnis Cina meninggalkan Indonesia pascakerusuhan Mei 1998 itu. Lihat, Ivan Wibowo (ed.), COKIN: So What Gitu Lho! (Jakarta: Komunitas Bambu-Jaringan Tionghoa Muda, 2008), h. viii.
  3. Kawasan-kawasan eksklusif yang menjadi hunian warga keturunan Cina mirip dengan kebijakan penjajah Belanda di masa lalu. Mereka sengaja ingin memisahkan orang-orang Cina supaya tidak berinteraksi dengan pribumi. Sebab kalau itu dibiarkan, ia bisa menjadi kekuatan sosial yang besar dan membahayakan penjajah. Kebijakan ini disebut Wijkenstelsel di mana Belanda menciptakan pemukiman etnis Cina atau pecinan di sejumlah kota besar di Hindia Belanda. Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia, Era Kolonial. Anehnya, model pemukiman seperti itu tetap dilanjutkan sampai sekarang.
  4. Pada 13-14 Mei itu, banyak gadis Cina yang bernasib sama dengan Fang Yin. Bukan hanya di Jakarta, tapi juga di Bandung, Solo, Medan, Makassar dan kota-kota lain. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) mencatat 78 orang perempuan Cina menjadi korban perkosaan, 85 orang mengalami kekerasan seksual, disiksa alat kelaminnya dengan benda tajam. Korban yang meninggal dunia tercatat sekitar 1.217 orang (1.190 orang di antaranya meninggal akibat terbakar), luka-luka 91 orang, dan hilang 31 orang. Lihat dalam Ester Indahyani Jusuf, Hotma Timbul, Olisias Gultom, Sondang Frishka, Kerusuhan Mei 1998 Fakta, Data dan Analisa: Mengungkap Kerusuhan Mei 1998 Sebagai Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (Jakarta: SNB dan APHI, 2007), h. 177.
  5. Sehari setelah pecah kerusuhan 13 Mei, para jenderal pergi ke Malang untuk menghadiri upacara komando pengendalian (Kodal) Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dari divisi I ke divisi II. Huru-hara masih berlangsung, korban masih bergelimpangan. Ketika kerusuhan itu terjadi, Presiden Soeharto sedang berada di Kairo, Mesir, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-15. Ia dengan penuh percaya diri meninggalkan tanah air pada 9 Mei 1998 karena yakin tak akan terjadi peristiwa besar seperti kerusuhan atau kudeta tentara, karena pada saat itu demonstrasi sering terjadi dan menjadi kegiatan rutin. Lihat, misalnya, Tjipta Lesmana, Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa (Jakarta: Gramedia, 2009), h. 120.
  6. Para pengamat menyebutkan, saat itu sedang terjadi rivalitas Prabowo dan Wiranto. Letjen TNI Prabowo yang pada saat itu menjabat Pangkostrad ingin mengalahkan seniornya Panglima ABRI Wiranto. Peristiwa Trisakti dituduhkan kepada Prabowo. Tapi pihak Prabowo membantahnya. Prabowo juga dituding terlalu dekat dengan tokoh-tokoh reformasi, dan ditengarai menyetujui tuntutan Soeharto mundur. Katanya, ia sedang mematangkan situasi untuk ambil alih kekuasaan. Sementara itu, Wiranto dianggap tetap menginginkan Soeharto bertahan. Maka ketika Ketua MPR Harmoko menuntut Soeharto mundur, Wiranto mengatakan bahwa itu pendapat pribadi Harmoko yang sama sekali tidak konstitusional. Begitu banyak kabar burung yang beredar. Kajian menarik menyangkut hal ini lihat, misalnya, Dian Andika Winda dan Efantino Febriana, Rivalitas Wiranto-Prabowo : Dari Reformasi 1998 hingga Perebutan RI-1 (Yogyakarta: Bio Pustaka, 2009).
  7. Beberapa kasus kerusuhan anti-Cina yang pernah terjadi yaitu: (dikutip dari http://sosbud.kompasiana.com/2011/05/11/ riwayat-kerusahan-rasial-di-indonesia/… Lihat juga, Karta Raharja Ucu, “Tionghoa dan Sejarah Kelam Kerusuhan di Indonesia”, http://m.today.co.id/index.php?kategori=nasional&sub=nasional&detail=8182) Bandung, 10 Mei 1963. Kerusuhan anti-Cina terbesar di Jawa Barat. Awalnya, terjadi keributan di kampus Institut Teknologi Bandung antara mahasiswa pribumi dan non-pribumi. Keributan berubah menjadi kerusuhan yang menjalar ke mana-mana, bahkan ke kota-kota lain seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Medan.    Pekalongan, 31 Desember 1972. Terjadi keributan antara orang-orang Arab dan keturunan Cina. Awalnya, perkelahian yang berujung terbunuhnya seorang pemuda Cina. Keributan terjadi saat acara pemakaman. Palu, 27 Juni 1973. Sekelompok pemuda menghancurkan toko Cina. Kerusuhan muncul karena pemilik toko itu memakai kertas yang bertuliskan huruf Arab sebagai pembungkus dagangan. Bandung, 5 Agustus 1973. Kasus serempetan gerobak dengan mobil berbuntut perkelahian. Kebetulan penumpang mobil orang-orang Cina. Akhirnya, kerusuhan meledak di mana-mana. Ujungpandang, April 1980. Suharti, seorang pembantu rumah-tangga meninggal mendadak. Kemudian beredar desas-desus: Ia mati karena dianiaya majikannya Cina-nya. Kerusuhan rasial meledak. Ratusan rumah dan toko milik warga keturunan Cina dirusak. Medan, 12 April 1980. Sekelompok mahasiswa USU (Universitas Sumatera Utara) bersepeda motor keliling kota, sambil memekikkan teriakan anti-Cina. Kerusuhan itu bermula dari perkelahian. Solo, 20 November 1980. Kerusuhan melanda kota Solo dan merembet ke kota-kota lain di Jawa Tengah. Bermula dari perkelahian pelajar Sekolah Guru Olahraga, antara Pipit Supriyadi dan Kicak, seorang pemuda keturunan Tionghoa. Perkelahian itu berubah menjadi perusakan dan pembakaran toko-toko milik orang-orang Cina. Surabaya, September 1986. Pembantu rumah tangga dianiaya majikannya yang keturunan Cina. Kejadian itu memancing kemarahan masyarakat Surabaya. Mereka melempari mobil dan toko-toko milik orang-orang Cina. Pekalongan, 24 November 1995. Yoe Sing Yung, pedagang kelontong, menyobek kitab suci al-Quran. Akibat ulah penderita gangguan jiwa itu, masyarakat marah dan menghancurkan toko-toko milik orang-orang Cina. Bandung, 14 Januari 1996. Massa mengamuk seusai pertunjukan musik Iwan Fals. Mereka melempari toko-toko milik orang-orang Cina. Pemicunya, mereka kecewa tak bisa masuk pertunjukan karena tak punya karcis.Rengasdengklok, 30 Januari 1997. Mula-mula ada seorang keturunan Cina yang merasa terganggu suara beduk Subuh. Percekcokan terjadi. Masyarakat mengamuk, menghancurkan rumah dan toko Cina. Ujungpandang, 15 September 1997 Benny Karre, seorang keturunan Tionghoa dan pengidap penyakit jiwa, membacok seorang anak pribumi, kerusuhan meledak, toko-toko Tionghoa dibakar dan dihancurkan. Februari 1998 Kraksaan, Donggala, Sumbawa, Flores, Jatiwangi, Losari, Gebang, Pamanukan, Lombok, Rantauprapat, Aeknabara: Januari – Anti Tionghoa. Kerusuhan Mei 1998 Salah satu contoh kerusuhan rasial yang paling dikenang masyarakat Tionghoa Indonesia yaitu Kerusuhan Mei 1998. 5-8 Mei 1998 Medan, Belawan, Pulobrayan, Lubuk-Pakam, Perbaungan, Tebing-Tinggi, Pematang-Siantar, Tanjungmorawa, Pantailabu, Galang, Pagarmerbau, Beringin, Batangkuis, Percut Sei Tuan: Ketidakpuasan politik yang berkembang jadi anti Tionghoa. Jakarta, 13-14 Mei 1998. Kemarahan massa akibat penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang dikembangkan oleh kelompok politik tertentu jadi kerusuhan anti-Cina. Peristiwa ini merupakan peristiwa anti-Cina terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Sejumlah perempuan keturunan Tionghoa diperkosa. Solo, 14 Mei 1998. Ketidakpuasan politik yang kemudian digerakkan oleh kelompok politik tertentu menjadi kerusuhan anti Tionghoa.
  8.  Salah satu pencapaian penting ialah keluarnya UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia di mana dalam Pasal 2 disebutkan: “Yang menjadi warga negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.” Itu berarti eksistensi warga keturunan Cina semakin terlindungi secara hukum dan konstitusi.



Tuesday, 24 September 2013

Pekerja Serba Bisa, Efisiensi atau Ilusi?

(Image by © Jon Feingersh/Blend Images/Corbis)

Selamat siang menjelang sore, semuanya! Itu yang ngantuk, coba bikin teh atau kopi gitu. Ssstt..kalo yang di kantor, jangan sampe ketahuan bos itu pas lagi merem hehehe ^_^

Sebuah tawaran pekerjaan yang saya lihat baru saja, mengingatkan saya terhadap fenomena yang sempat saya tangkap sudah agak lama. Sesuai dengan judul saya, pekerja serba bisa, apakah ini dilakukan demi efisiensi ataukah hanya berupa harapan yang tak nyata dari para pemberi kerja.

Bukannya saya sok tahu bahwa perusahaan itu butuh efisiensi atau menutup mata dari kenyataan bahwa ada pekerja yang dapat melakukan hampir semuanya, alias serba bisa. Tapi, saya sendiri percaya profesionalitas tidak diperoleh dalam satu malam. Sebagaimana artikel saya sebelumnya "Berapa Waktu yang Dibutuhkan untuk Jadi Ahli?" yang antara lain memaparkan bahwa dibutuhkan sekitar 10 ribu jam untuk seseorang dapat menguasai satu bidang tertentu. Untuk lebih jelasnya, mungkin bisa di klik judul artikelnya ya.

Nah, jadi saya sendiri agak kurang setuju ketika melihat sebuah tawaran kerja dari pemberi kerja yang seakan-akan menginginkan satu orang pekerjanya dapat mengerjakan segalanya.

Misalnya, saya membaca sebuah majalah baru yang membuka lowongan untuk posisi desain gambar, sekaligus membuat tulisan dari hasil wawancara, menyusun rubrik, sekaligus memahami marketing.

Maaf ya, bukan bermaksud menyinggung pihak tertentu dalam hal ini? But, are you serious? Get real, babe!

Minimal ada tiga jalur profesional disana yaitu desain, jurnalistik dan marketing. Bagaimana bisa mengharapkan satu orang memiliki tiga keahlian tersebut dalam arti profesional?

Maksud saya, bisa saja, seorang yang memiliki kemampuan jurnalistik memiliki kemampuan mendesain ataupun marketing? Tapi, kalau itu sebatas hobi ataupun sampingan, seberapa profesional ia bisa berlaku?

Sebagaimana salah satu media besar di Indonesia, mereka sangat menjaga agar para jurnalisnya bekerja dengan profesional, caranya dengan sebisa mungkin memisahkan antara jurnalis dan marketing. Namun, dalam prakteknya, masih ada media yang tidak terlalu saklek memisahkan ini. Taruhannya? Tentu saja profesionalitas dan netralitas dari sang jurnalis, yang kemudian berbuntut pada redaksional secara keseluruhan.

Yang saya lihat fenomena semacam ini semakin banyak terjadi. Tidak hanya dari profesi diatas yang saya ceritakan. Pekerja diharapkan bekerja sebanyak mungkin dalam berbagai bidang. Saya mungkin lebih setuju dengan proses rolling yaitu ketika seorang pekerja dipindahkan dari bidang yang biasa ia kerjakan, namun tetap dengan mempertimbangkan latar belakangnya.

Jika seorang karyawan di bidang Legal atau Hukum, kemudian dipindahkan ke bagian Sumber Daya Manusia (SDM), mungkin masih nyambung. Tapi, kalau kemudian ia dipindahkan ke bagian keuangan, hehehe saya ragu pekerja tersebut bisa langsung berfungsi secara profesional.

Memang melakukan efisiensi di kantor bukan sesuatu yang tabu, namun sebaiknya tetaplah berpijak pada kenyataan bahwa rangkap kerja itu tidak selamanya baik. Jika memang perusahaan beruntung menemukan pekerja ideal tersebut, janganlah disia-siakan dan ada baiknya jika kemudian membantunya menemukan jalur profesional sejatinya, yang pada akhirnya keuntungan akan kembali ke perusahaan tempatnya bekerja.


Monday, 23 September 2013

Trik Menjaring Inspirasi Menulis

Tak hanya ikan, inspirasi pun harus pintar-pintar menjaringnya (sumber: emilwe.wordpress.com)

Assalamualaikum teman-teman. Hari Senin, gak lengkap rasanya kalo belum ngeblog. Iya kan, kan, kan..hehehe

Kalau di kalangan penulis di kenal writer's block, seharusnya sebagai blogger juga bisa aja kena sindrom yang sama, kan kita juga sama-sama nulis.Tapiii, seharusnya blogger itu gak perlu ngalamin itu. Looh emangnya kenapa?

Kalau penulis lain, bisa kena hambatan nulis, misalnya karena tema yang sudah ditentukan. Seperti seorang penulis novel, yang tiba-tiba dalam bab tertentu mengalami kesulitan mengembangkan alur. Padahal, dia sudah membuat kerangka yang jelas sebelumnya.

Ataupun, seorang jurnalis yang bingung mau mengangkat tema apa lagi yang sekiranya disukai pembaca untuk edisi bulan depan. Mungkin karena terlalu banyak liputan sehingga tidak fokus.

Nah, seharusnya faktor-faktor seperti diiatas tidak berlaku untuk blogger bukan? Kecuali untuk tulisan tertentu yang membutuhkan tema seperti lomba atau giveaway, rasanya blogger bisa lebih bebas menentukan tulisannya. Tak hanya tema, cara penulisan dari blogger pun lebih longgar dibandingkan penulisan di media publik, sebagaimana yang saya alami sewaktu menjadi jurnalis.

Misalnya, saya hari ini sedang menghadapi anak yang mogok sekolah. Kalau saya jurnalis sih, apalagi jurnalis ekonomi, hal itu kan tidak bisa serta merta saya tulis di media saya, hehe bisa-bisa diomelin redaktur siang malam selama satu bulan penuh. Tapi, beda lagi kan kalau saya tulis di blog pribadi, saya mau tulis tentang penyebab anak saya mogok sekolah, ataupun juga cara saya mengatasi atau segala hal yang mungkin saya rasakan, tidak masalah.

Ingin menulis kisah fiksi di blog? sah-sah saja. Hanya saja untuk saya pribadi, merasa belum mampu. Tapi, untuk teman-teman yang punya kemampuan untuk menulis fiksi, teruslah berlatih di blog. Keuntungannya, bisa dapat masukan ataupun kritik dari para rekan blogger yang lebih berpengalaman ataupun pembaca lain.

Namun, bukan berarti menulis dengan tema tertentu seperti lomba atau giveaway itu tidak mengasah kemampuan menulis loh ya. Apalagi lomba yang diikuti oleh ratusan orang, kita harus kreatif mencari sudut pandang yang berbeda dari penulis lain, sekaligus tetap mematuhi tema agar dilirik oleh para juri.

Saya sendiri kerap menulis tema yang terlintas di pikiran saya di ponsel. Kadang saya tulis hanya draft sms, agar saya tidak lupa. Kalau adanya pulpen dan kertas, ya boleh juga. Bahkan, nota pembayaran dari minimarket sering saya gunakan bagian belakangnya untuk sekedar menulis sebuah ide yang terlintas.

Catatan saya juga pendek-pendek kok. Misalnya, saat saya mendengar keluhan teman yang merasa pendidikan anaknya di sekolah kurang dari segi akademis, saya tulis "seberapa penting nilai akademik di sekolah" yang kemudian jadi sebuah tulisan Pendidikan atau Pembelajaran

Ataupun, ketika saya terinspirasi menulis dari kejutan lumpia dari suami, saya tulis dalam draft "kejutan lumpia dari ayah". Yang kemudian hasil tulisannya Cinta dalam Sebungkus Lumpia Basah

Menurut pengalaman saya pribadi, menulis dengan tema apa pun dalam bentuk apa pun tetap saja mengasah kemampuan kita menulis. Dapat membantu kita mengenali kelebihan cara penulisan kita, sekaligus terus memperbaiki kelemahan yang sekiranya kita miliki.

Biasanya, saat menulis satu topik, tak jarang kita menjadi terpikir tema lain yang berkaitan ataupun tidak berkaitan yang terpicu dari ingatakan jangka panjang kita. Yang penting terus menulis dan menulis yaa.Jadi, gak sulit lagi kan untuk mengisi blog.

Hmm besok saya nulis apaan lagi yaa? ^_^





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...