Pages

Showing posts with label sakit. Show all posts
Showing posts with label sakit. Show all posts

Tuesday, 29 October 2013

Masih Anak-anak Kok Operasi Usus Buntu?

Ayah dan Aylaa saat infusnya sudah dibuka dan siap-siap pulang dari rumah sakit (dok.pribadi)

Pada awal bulan Oktober lalu, anak sulung saya, Aylaa mengeluh sakit perut. Saya coba membalurkan perutnya dengan minyak kayu putih, juga termasuk punggungnya. "Mungkin masuk angin," kata saya dalam hati mencoba menenangkan diri.

Tapi, rupanya rasa sakit itu semakin menjadi. Menjelang tengah malam, Aylaa mengerang-ngerang kesakitan. Yang kemudian berujung pada ruang UGD (Unit Gawat Darurat) pada rumah sakit langganan kami. Diagnosa sementara adalah maag, lantaran mie instan yang sempat saya berikan *hiks merasa bersalah*. Setelah sempet diomel2in dokter, kami pun pulang dengan membawa obat lambung dan penghilang nyeri.

Tapi, entah mengapa, saya kok masih setengah percaya dengan diagnosis dokter tersebut. Rasanya masih agak mengganjal. Kalau bisa dibilang, saya ini hampir mirip dengan Papa saya, yang tingkat kekhawatirannya lebih dibanding orang lain, yang seringkali disebut suami saya sih, lebay. Saya coba tepis perasaan itu.

Suami saya yang orangnya lebih santai menganggap rasa sakit yang mereda ini sudah selesai. Sehingga ketika saya mengatakan ingin membawanya ke dokter spesialis anak (DSA) yang kebetulan praktik pada hari Sabtu sore, suami sempat menolak. Tapi, saya tetap bersikeras.

Kecurigaan saya diamini oleh dokter spesialis anak yang biasa menangani anak saya sejak berusia tujuh bulan. Sebab, anak saya menunjuk perut dibagian bawah pusar bagian kanan. Sementara kalau sakit pencernaan, biasanya rasa sakit akan terasa di perut bagian kiri. DSA pun kemudian memberikan surat rujukan ke dokter bedah, yang kebetulan praktiknya pada hari Senin. Kami pun pulang.

Tengah malam, Aylaa kembali mengeluh sakit. Seluruh badannya dipenuhi keringat dingin karena menahan sakit. Kami pun kembali ke UGD. Kali ini karena ada diagnosis sementara dari DSA sebagai sakit usus buntu, Aylaa pun kemudian diputuskan untuk rawat inap. Sebenarnya saya pun tidak keberatan, sebab di rumah pun, kami tidak tahu harus berbuat apa saat Aylaa merasa sakit.

Aylaa langsung diinfus di UGD dan dibawa ke ruang rawat inap, setelah suami saya selesai mengurus ke bagian administrasi. Mulailah malam pertama kami di RS.

Pada pagi harinya, dokter jaga datang dan mengatakan menurut hasil tes darah anak saya, diagnosisnya adalah typus karena memang ada virus typus yang terdeteksi. Anehnya, anak saya tidak mengalami demam.  Tapi, saya belum puas dan menunggu DSA kami..

Ketika DSA datang, dia memiliki pikiran yang sama untuk tetap meminta dokter bedah memeriksa Aylaa. Kami pun menunggu hari Senin dengan harap-harap cemas. Dokter bedah yang dalam pikiran saya adalah dokter senior yang super kaku, ternyata dokter yang masih muda dan enak diajak komunikasi. Dia terlebih dahulu bertanya pada Aylaa dimana rasa sakitnya. Aylaa kembali menunjuk perut bawah pusar bagian kanan.

Dokter kemudian meminta anak saya untuk di tes untuk memastikan radang usus buntu. Malamnya Aylaa diminta berpuasa selama 8 jam. Kemudian setelah dilakukan semacam rontgen pada perutnya, ia diminta untuk meminum sejenis cairan putih semacam susu sebanyak satu gelas. Baru boleh makan sekitar dua jam kemudian. Lalu di rontgen ulang pada sore harinya.

Waktu terasa lama saat itu, apalagi saat menunggu hasil tes. Ketika dokter bedah datang hari Selasa menyatakan Aylaa positif terkena usus buntu, saya antara lega dan deg2an. Lega karena penyakitnya sudah ketahuan, tapi juga deg2an membayangkan Aylaa harus menjalani operasi.

Dokter bedah menjelaskan berbagai kemungkinan, risiko operasi serta beberapa gambar dari operasi-operasi yang sudah dilaksanakannya. *tutup mata tp penasaran* syereeem sumpaaah!! Ada yang usus buntunya sudah pecah dan cairannya merembes kemana2 didalam perut, ada yang usus buntunya sudah lebih dari kepalan tangan, padahal normalnya usus buntuk itu tidak lebih besar dari kelingking.

Menurut dokter, Aylaa belum separah itu. Namun, usus buntu Aylaa sensitif sehingga cepat radang jika terkena pemicu. Memang Aylaa buang air besar (BAB) tidak teratur dan sering mengeluh sakit perut tanpa alasan. Mungkin juga sering menahan buang air kecil (BAK) dan BAB di sekolah. Maklum, toilet sekolah seringkali tampak menakutkan untuk anak-anak.

Masih menurut dokter bedah, rasa sakit radang usus buntu pada anak-anak belum tentu di perut bagian kanan, sehingga sering tampak tidak jelas, lantaran syaraf-syaraf yang belum sempurna pertumbuhannya. Apalagi anak-anak yang belum lancar berkomunikasi. Pasien usus buntu sang dokter bedah itu pun usianya beragam mulai dari anak lima tahun, remaja hingga dewasa.

Mengutip dari jaringnews ada beberapa tanda-tanda gangguan pada usus buntu :
  1.  Rasa sakit yang dimulai di sekitar pusar dan sering juga di bagian bawah kanan perut.
  2.  Rasa sakit akan semakin terasa selama beberapa jam.
  3. Rasa sakit akan semakin timbul jika daerah perut bagian kanan bawah ditekan dan kemudian tekanan dengan cepat dilepaskan.
  4. Nyeri yang memburuk ketika sedang batuk, berjalan atau melakukan gerakan lain yang mengguncang tubuh.
  5. Kehilangan nafsu makan.
  6. Mual dan muntah karena adanya hambatan pada usus.
  7. Demam.
  8. Sembelit
  9. Ketidakmampuan untuk membuang gas.
  10. Diare
  11. Perut yang terlihat membengkak

Kondisi Aylaa sendiri disebut dokter sebagai radang usus buntu yang kronis alias kambuhan. Saya jadi ingat, Aylaa terkadang mengeluh sakit perut saat berjalan agak jauh, seringkali mual saat naik kendaraan. Selain itu, air seninya seringkali berbau menyengat. Itu yang membuat saya semakin yakin agar Aylaa menjalani operasi. Meskipun beberapa teman menyarankan untuk memperoleh 2nd opinion dari dokter dan rumah sakit lain.

Alhamdulillah, operasi yang dilaksanakan kemudian pada hari Kamis, berjalan lancar. Meskipun sempat diawali tangis Aylaa, lantaran saya yang duluan menangis saat mengantar ke kamar operasi :'(

Pemulihan pun berjalan cepat. Pada keesokan hari, Aylaa sudah bisa berjalan dan hari Sabtu sudah diperbolehkan pulang. Setelah menghabiskan waktu 7 hari di RS, berbagai kebiasaan di rumah pun serasa jadi sangat menyenangkan. Ini juga saya tulis dalam tulisan Rutinitas itu (Ternyata) Patut Dinikmati

Sayangnya, tak sampai dua minggu, Aylaa harus kembali rawat inap di RS yang sama. Tidak berkaitan dengan operasi usus buntunya, namun kali ini karena typhus. Muntah2 berat sepanjang pagi, membuat dokter memutuskan untuk rawat inap karena dikhawatirkan dehidrasi. Kami pun kembali menginap di RS. Kali ini lima hari.

Hari senin kemarin, Aylaa baru masuk sekolah lagi. Hampir tiga minggu tidak masuk sekolah, banyak pelajaran yang tertinggal. Tapi, tak apa lah. Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan jika nilainya agak turun. Yang penting pemulihannya berjalan lancar. Pekerjaan rumah saya saat ini adalah menjaga asupan makanan Aylaa, mengingatkannya tidak terlalu capek serta banyak memberi sayur dan buah agar pencernaannya lancar.

Hehe untuk itu, saya yang dulu jaraaang masuk dapur, kini jadi lebih sering. Pagi-pagi sudah menyiapkan untuk camilan dan makan siang yang dibawa ke sekolah. Kadang ditambah sarapan. Untuk itu, biasanya saya blogwalking ke blog temen2 yang memuat soal kuliner. Atau, tanya2 Mama soal resep. Namanya juga usaha.

Jadi kalo ditanya tentang operasi usus buntu Aylaa, kalo untuk saya bisa dibilang sebagai langkah tepat. Sekarang setiap naik kendaraan, Aylaa tidak mengeluh mual atau sakit perut. Air seninya pun tidak lagi berbau menyengat dan tidak ada keluhan sakit perut lagi, kecuali kemarin sewaktu sakit typhus.

Doakan Aylaa dan kami sekeluarga sehat selalu yaa. Aamiin. Terimakasih sudah mampir, teman ^_^










Tuesday, 8 October 2013

Rutinitas Itu (Ternyata) Patut Dinikmati


 Aylaa dan Sandya (dok.pribadi)

Menghargai sesuatu yang kita lakukan, alami atau peroleh hampir setiap hari, seperti rutinitas, rasanya seringkali terlupakan. Termasuk saya. Seringkali saya ngomel karena membereskan mainan anak-anak yang hanya dalam hitungan jam, bahkan menit sudah berantakan lagi. Ataupun, merasa "serba kurang" saat terbengong-bengong melihat perkembangan teman-teman seangkatan kerja dulu yang mengumumkan kenaikan jabatan atau jalan-jalannya ke luar negeri *ngiri dot com* :D

Tapiiii, semua itu sia-sia! Hahaha apa pula sih ini. Maksudnya, setelah menemani anak saya, Rachma Aylaa Santoso, yang dirawat di rumah sakit selama satu minggu karena usus buntu dan harus dioperasi, saya tiba-tiba merindukan rutinitas rempong bin ribet saya di rumah.

Selama 7 malam nginep di kamar rumah sakit, saya jadi kangen tidur-tiduran sambil nyusuin adik Sandya. Saya kangen beberes kamar yang gak pernah beres karena anak-anak paling demen loncat-loncat tempat tidur dan ngacak di kamar saya. Apalagi pas lihat kakak Aylaa kesakitan dan masuk ruang operasi, hiks saya sampe nangis dan ngomong dalam hati, "masih mending kakak loncat-loncat tempat tidur dan gangguin Ibu pas ngetik deh biarpun bikin marah, daripada sakit begini" :(

Saya juga kangen antar jemput kakak Aylaa ke sekolah dan bertemu dengan para guru, siswa di sekolah serta ngobrol dengan ibu-ibu yang suka antar jemput.


Intinya, semua yang biasanya merupakan rutinitas yang tampaknya berat dan membosankan di rumah jadi terasa berharga. Semakin juga saya menghargai kesehatan, baik anak, diri saya sendiri, suami, Papa Mama, semua keluarga, bahkan asisten rumah tangga saya.

Alhamdulillah kakak Aylaa sudah semakin sehat dalam masa pemulihan pasca operasi usus buntunya. Makasih untuk yang sudah turut mendoakan. Saya sempat juga menyalahkan diri saya, jangan2 salah satu penyebabnya adalah makanan yang saya berikan yang masih kurang sehat.

Terlepas dari benar atau tidaknya, saya bertekad untuk lebih rajin membuat makanan rumahan dan mengurangi makanan jadi dari luar rumah. Kalaupun iya, dibatasi sesedikit mungkin. Sepertinya saya harus sering-sering blogwalking ke blog2 masak memasak untuk ini.


Tapi, saya tidak terlalu mau banyak berpetuah deh sore-sore gini, lagipula ilmu bijak dan stok sabar saya juga masih seuprit hehehe. Masih sering kesel dibanding bijaknya, lebih banyak ngambek dibanding sabarnya ^_^

Makasih yang udah mampir ya teman-teman, selamat melanjutkan dan menikmati rutinitas.

Tuesday, 3 July 2012

Perlu antibiotik atau nggak sih?

Assalamualaikum. Selamat pagiii! Hehe setidaknya masih pagi untuk saya menulis, menyisipkan sedikit waktu sendiri. Selama dua hari kemarin, kakak Aylaa sakit panas, jadi benar2 tidak ada waktu untuk menulis blog. Janji saya untuk menulis satu hari satu tulisan sepertinya memang sulit ditepati. Maafkaaan ^.^

Oh ya, sedikit mengenai antibiotik saat anak sakit, pernah saya baca. Jadi kalau ke dokter langganan, biasanya saya minta obat tanpa antibiotik untuk anak. Intinya, obat antibiotik bisa menimbulkan gangguan ginjal karena terlalu berat bekerja dan tidak juga selalu efektif mengobati, serta dosis harus dinaikkan seiring dengan bertambahnya umur dan lain sebagainya yang tidak bagus. Dan sependek pengetahuan saya, dokter2 di Indonesia memang biasa menggunakan antibiotik dengan mudah.


Tapi, akhirnya kemarin saya harus menyerah. Lantaran Aylaa panasnya sudah lebih dari 39 sderajat celcius selama dua hari. Pada senin tengah malam jam 3 pagi tepatnya, saat orang2 menonton final Piala Eropa, saya dan suami tergopoh2 membawa Aylaa ke RS. Pasalnya, ia menggigil dan panasnya sudah hampir 39 derajat
Celcius.

Sampai di ruang IGD, Aylaa di periksa dokter dan diberi obat penurun panas sekaligus anti-kejang dari (maaf) pantat. Panasnya lumayan turun. Dokter lalu memberi obat. Tapiiii, selama seharian, panasnya tidak turun berarti. Bahkan senin sore naik lagi bahkan lebih dari 39. Deg2an lah ibu yg panikan ini, dan
sibuk menelpon Ayah yang di kantor.

Akhirnya sore2 langsung ke dokter anak, dan diberikan (hiks) obat antibiotik tingkat tinggi sepertinya. Karena setelah minum obat, panasnya langsung turun. Radang tenggorokan memang seringkali dialami Aylaa. Bahkan dokter bilang, amandelnya mungkin harus dioperasi. Nanti dulu ya, dok. Ibunya harus siap2in
mental dulu kalo yang ini sih.

Jadi, antibiotik perlu atau tidak, memang harus lihat2 kondisi anak. Kalau memang demam masih bisa dikontrol dengan obat penurun panas dari jenis parasetamol dan obat flu, memang asupan antibiotik masih bisa ditahan. Tapi, kalau demamnya tinggi dan dikhawatirkan anak pernah ada riwayat kejang, ya nurut kata dokter aja deh. Hehe maklum saya juga bukan dokter dan tidak ada latar belakang medis. Modalnya, cuma mantan wartawan yang sering nulis kesehatan dan browsing2 artikel kesehatan.

Tapi yang tak kalah penting untuk saya adalah mendengarkan kata hati. Jangan remehkan, perasaan seorang ibu saat anak sakit ataupun menghadapi kondisi apapun. Itu merupakan parameter yang tidak kalah akurat dan merupakan berkah dari Allah SWT.

 Selamat melanjutkan aktivitas, terimakasih sudah mampir ^.^

Tuesday, 26 June 2012

Ibu Waspada atau Terlalu Khawatir?

Selamat siang. Hehe ini saya yang coba curi2 waktu karena anak-anak saya sedang diawasi pengasuhnya. Semalaman saya hampir tidak bisa tidur. Ada apa lagi sih??

Hehe begini risiko bekerja sebagai ibu rumah tangga yang tanggung jawab 24 jam, baik tenaga maupun sisi emosional. Ceritanya, kemarin siang saya menyuruh si kakak melihat adiknya yang baru terbangung tidur dan menangis karena saya masih sibuk di depan komputer. Dasar anak balita, semua gerakan ingin cepat. Akhirnya, dia pun terjatuh dan kepalanya sedikit terbentur lantai. Saya elus2 tanpa berpikir macam2.

Hingga akhirnya saat Ayah datang, kakak cerita pada Ayah bahwa kepalanya sakit lantara jatuh tadi siang. Saya terkaget, waah sakitnya masih ada toh! saya elus2 lagi, sambil ditiup dan saya berdoa ayat kursi sebagai andalan, karena si Kakak tidak suka minyak2an.

Dasar ibu2 era internet, saya langsung browsing mengenai hal2 yang berkaitan dengan kepala terbentur. Alhasil, saya malah semakin deg2an dan berniat mengajak kakak ke dokter. Tapi, suami yang berkepala dingin (hehe kepribadian saya memang berbanding terbalik dengan suami) berkata tidak perlu, apalagi kakak tidak menunjukkan gejala muntah, pusing dll. Hanya sedikit mengeluh sakit saat berjalan.

Tapi, saya belum cukup tenang. Semalaman akhirnya bolak balik kamar kakak hingga siang ini. Saya sudah siap2 kartu berobat dll, kalau tiba2 kakak muntah atau menunjukkan gejala mencurigakan. Masih menurut internet, pengawasan masih harus dilakukan 3x24 jam. Alhamdulillah kakak tidurnya nyenyak, makan lahap dan gak ada perubahan perilaku.

Saya harap saya termasuk golongan yang waspada, bukan ibu2 rempong yang terlalu khawatir. Oh ya, referensi internet memang terkadang perlu dibaca ya ibu2, tp jangan dijadikan satu patokan saja. Bertanya kepada ahli medis seperti dokter langganan atau dokter keluarga mungkin bisa lebih membantu.

Selamat melanjutkan aktivitas yaa ^.^

Sunday, 24 June 2012

Bukan Tawa Biasa :)

Assalamualaikum, selamat pagiii!! Alhamdulillah hari ini saya terbangun dengan tubuh dan pikiran yang segar, setelah beberapa hari merasa tidak enak badan dan tidak tenang. Setelah saya pikir2, mungkin hal itu berhubungan dengan hasil tes jantung alias Echo dari Sandya. Loh kok gitu?

Sebab, jadwal Echo Sandya itu sudah lamaaaa sekali tertunda. Sekitar tiga minggu. Lantaran dokternya yang terbang ke sana sini (maklum dokternya sudah bergelar Prof yang merupakan kepercayaan direktur di RS Harapan KIta). Jadiiii, sulit sekali konsultasi dengan dokter cantik tersebut.


Sabtu minggu lalu saya dan suami sudah siap2 untuk berangkat, ternyata batal. Hingga Rabu kemarin, batal lagi. Saya sendiri tidak menyadari ternyata hal tersebut membebani pikiran saya, mungkin alam bawah sadar dan naluri keibuan saya menyalakan tombol "waspada". Entah lah.

Akhirnyaaa..Sabtu kemarin Sandya berhasil konsultasi dengan Prof dokter yang ditunggu-tunggu. Berangkat dari rumah jam 8 pagi. Dapat nomer antrian 17. Yang kemudian baru ketemu dokter sekitar pukul 1 siang :( Alhamdulillah Sandya bukan seorang bayi rewel yang selalu minta digendong ataupun menyusu. Dia santai saja ketika didudukkan di dalam stroller ataupun sesekali menyusu. Yang kadang bikin kesal, justru kakaknya yang tidak mau diam dan cepat merasa bosan..sabar...sabarrrrr

Saat kita masuk ruangan, Prof cantik yang rambutnya di cat merah itu menyambut dengan senyum khas. Setelah memeriksa sebentar, dia kemudian meminta kami pindah ruangan untuk tes Echo.

Alhamdulillah lagi, selama tes Echo dimana Sandya harus dibuka pakaian bagian atas dan di tes bagian dada, tidak rewel ataupun menangis. Walaupun Ayah dan seorang suster harus memainkan boneka beruang dan kura-kura untuk menarik perhatiannya. Saya sendiri memegang tangannya sepanjang tes.

Dokter sempat bercanda dengan mengomentari pakaian Sandya saat itu. "Sewaktu zaman saya dulu, bayi 7 bulan masih pakai popok, tapi bayi sekarang sudah pakai celana jeans". Hehehehe ^.^

Sejujurnya, saya juga kaget, Sandya bisa tenang saat tes. Saya sampai mengira Sandya harus diberikan obat tidur atau obat sejenis itu agar dia tenang. Minimal, saya menyangka saya harus menyusui Sandya selama tes. Kemudian, kami kembali harus antri ke ruang praktek untuk berbicara dengan dokter mengenai hasil tes tersebut.

Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah SWT. Hasil Echo Sandya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami disuruh kembali enam bulan lagi. Bagi saya, hal itu lebih dari hadiah ataupun prestasi yang pernah saya dapatkan. Senyum dan tawa saya sangat lebar ketika melangkah keluar dari ruang praktek dokter saat itu.

Saya sempat bertemu dengan beberapa orangtua dari anak-anak dan bayi yang menderita penyakit jantung bawaan (PJB) lainnya yang belum dioperasi ataupun yang sedang cek. Ya, saya tahu persis bagaimana perasaan mereka. Semoga semua anak-anak dan bayi mereka dapat cepat kembali sehat dan tumbuh normal sebagaimana anak-anak lain. Doa saya juga, semakin sedikit orangtua dan anak-anak yang harus mengalami hal yang pernah kami alami. Aamiin.

Friday, 22 June 2012

Doakan ya untuk Hasil Terbaik dari Cek-up Sandya Besok

Selamat malam. Janji saya untuk menulis 1 tulisan 1 hari sepertinya harus dirapel hari ini. Sebab besok alias Sabtu (23/6) adalah hari untuk Sandya, anak saya yang ke-2 yang lahir dengan penyakit kelainan jantung (PJB) yaitu TGA untuk cek up ke RS Harapan Kita.

Doakan semoga hasil cek up Sandya besok bagus dan tidak ada masalah lagi dalam perkembangan jantung dan seluruh tubuhnya. Mengutip kalimat Iwa K, anak-anak saya yaitu Aylaa dan Sandya adalah jantung saya. Jika mereka merasa sakit, maka saya akan merasa lebih sakit lagi.

Beneran ya, doa saya tentang kondisi kesehatan Sandya yang akan semakin baik dan baik lagi di-amin-kan? Saya percaya kekuatan doa dari teman-teman semua dapat membantu Sandya. Terimakasih sebelumnya.

Monday, 18 June 2012

Bayi Saya, Guru Saya


Sejak kelahiran anak saya yang kedua, Sandya, yang mengalami penyakit jantung bawaan (PJB) maka bolak-balik rumah sakit merupakan hal yang biasa kami lakoni. Mengapa saya sebut kami? Sebab saat berangkat ke rumah sakit, yang mengantar bisa-bisa serumah. Termasuk saya, suami, anak pertama saya yang bernama Aylaa, pengasuhnya, serta Kakek Jenggot alias papa saya. Itu adalah jumlah pengantar minimal, kalau untuk waktu-waktu tertentu, jumlah pengantar bisa lebih banyak hehehe.

Ya, anak saya yang ke-2 yang lahir tanggal 28 November 2011, lahir dengan kelainan pembuluh darah jantung yang biasa disebut TGA alias Transposition of the Great Arteries. Sebenarnya masih ada kelainan yang mengiringi, tapi saya sendiri kurang paham istilahnya. 

Intinya, pembuluh darah besar yang mengaliri jantung anak saya mengalami kelainan fungsi sehingga darah bersih yang seharusnya dialirkan dari paru-paru dan darah kotor yang dibersihkan di paru-paru. Akibatnya, darah kotor mengalir ke seluruh tubuh dan akibatnya fatal.

Hari ke-3 setelah kelahirannya, Sandya harus menjalani operasi non-bedah yang secara awam disebut dengan balon. Lebih miris lagi, prosesnya dilakukan tengah malam, sekitar jam 1 malam, alatnya pun langsung diambil suami dan papa saya di RS Cipto Mangunkusomo dari RS Harapan Bunda tempat anak kami dirawat waktu itu. 

Untuk mengejar waktu, suami saya menggunakan sepeda motor. Papa saya yang saat itu sudah berumur 71 tahun (kemarin tgl 14 Juni) baru saja berulangtahun ke 72) sangatlah kuat. Ia yang memegang alat tersebut. Dari pihak RSCM wanti-wanti bahwa alat tersebut tidak boleh bengkok atau rusak sedikit pun. Intinya, malam itu adalah malam yang tidak akan pernah saya lupakan.

Kemudian, pada usia pas satu bulan yaitu tgl 28 Desember 2011, Sandya dioperasi bedah jantung. Berbagai rasa dan emosi bercampur selama hampir satu bulan berada di RS Harapan Kita tersebut. Mungkin nanti akan saya tulis secara khusus bagaimana secara detail seingat saya. 

Selama disana, tidak ada satu pun foto yang sama ambil. Tidak ingin rasanya melihat foto ketika anak saya terbaring lemah disana. Oh ya, kisah Sandya sempat dimuat di majalah  Mother and Baby yang terbit bulan Mei lalu. Saya sendiri tidak keberatan berbagi kisah, dengan harapan para orangtua yang bayinya mengalami PJB atau penyakit lain tidak menyerah. Insya Allah akan selalu ada jalan, selama kita berusaha dan berdoa.

Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat Sandya sudah hampir 7 bulan (saat ini sudah 21 bulan). Perkembangannya pun sangat baik, berat badan terakhir pada hari Sabtu (16/6) waktu imunisasi di RS Harapan Bunda yaitu 7,7kg. Bahkan, bisa dibilang beratnya lebih dari standar anak seusianya. Sandya juga sudah bisa guling kanan kiri, tengkurap dan tertawa dengan lepas. Makannya pun lahap.

Saya kerap mendapat pandangan kasihan dari teman atau tetangga yang mengetahui mengenai kondisi Sandya. Padahal, menurut saya, anak saya ataupun anak dengan PJB atau penyakit lain, tidak ingin dikasihani. Simpati boleh saja, bahkan memberi bantuan moril maupun materil tak mengapa. Tapi jangan dikasihani, beri mereka kesempatan sebagaimana anak-anak seusia mereka. Don't feel sorry for their disease but celebrate their life :) 

Itu sebabnya seringkali saya berkata bahwa anak-anak saya adalah guru yang tak kalah penting dalam hidup saya. Mereka juga lah yang membuat hidup saya terasa berharga.Melalui mereka, saya belajar dan menjalani proses pendewasaan. Satu hal yang saya sadari, bahwa tidak hanya mereka yang membutuhkan saya sebagai ibu untuk menyayangi dan merawat mereka, tapi saya juga yang membutuhkan mereka. 

Meskipun ini tulisan lama, tapi saya sengaja mengikutsertakan dalam “Tulisan ini diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway “Blessing in Disguise” karena makna tulisan ini yang sangat dalam untuk saya. Sandya sendiri saya ambil dari bahasa Sansakerta yang berarti Persatuan. Sementara, Daniswara berarti raja yang masyhur dan kaya raya dan Santoso diambil dari nama suami saya, Yanuar Santoso. Harapan kami, Sandya kelak dapat menjadi pemimpin yang makmur dan mempersatukan keluarga, masyarakat seluas-luasnya.

Ternyata, sejak kelahirannya, Sandya sudah berhasil mempersatukan saya, keluarga besar, saudara-saudara, teman-teman bahkan kenalan baru yang bersimpati. Biaya operasi jantung Sandya yang cukup besar dalam waktu singkat ternyata dapat mengetuk hati orang-orang berhati emas untuk membantu kami. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Bahkan dalam perjalanannya saya dapat kembali merajut pertemanan dengan rekan yang sudah lama tak berkomunikasi, mempererat kembali tali persaudaraan dan menjalin pertemanan yang baru. 

Secara pribadi, saya juga merasa mendapatkan "teguran" sekaligus "kasih sayang" dari Allah SWT secara bersamaan. Betapa saya merasa tak berdaya sebagai manusia tanpa berkah dan ridho-Nya. Betapa tak pantasnya manusia untuk sombong, karena Allah yang merupakan pemilik segalanya.

Surat Alam Nasyroh ayat 5 dan 6 seakan mengingatkan saya akan saat-saat itu :

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."


*Tulisan ini dibuat ulang dengan penyesuaian untuk Giveaway “Blessing in Disguise”



 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...