Assalamualaikum wr.wb...Selamat malem man teman semuanya, semoga sehat wal afiat di bulan suci Ramadhan ini yaa :) Alhamdulillah saya dan keluarga juga demikian, kecuali si kecil Sandya yang idungnya udah mulai meler dan bersin2 bikin ibunya bersiap2 menghadang flu.
Ceritanya, hari Sabtu kemaren itu saya diundang tuh sebagai perwakilan orangtua siswa kelas 2 (yeaay si Kakak udah kelas 2 looh :D) di SD tempat anak saya sekolah. Pikir punya pikir, saya pun gak habis pikir ngapain aja ya ntar di rapat itu.
Saking semangatnya, saya sengaja tuh gak tidur lagi dari sahur trus milih ngerjain beberapa kerjaan freelance saya di depan leptop. Tapi, jam 7-an, alarm saya alias Sandya yang nangis minta nyusu berbunyi *hehe berasa lonceng ya* Sebagai ibu yang baik dan benar, maka saya pun nyamperin anak saya donk, masa iya nyamperin ayahnya :D
Nah, singkat cerita, saya pun menyusui dengan gaya favorit adek (atau ibunya yak) dengan tiduran, jd dia bisa langsung tidur lagi. Ternyata oooopps olalaa, saya juga ikut ketiduraaan. Rapat yang mulai jam 9 itu pun sukses terlewatkan, karena saya bangun jam 9.30.
Alhasil, orang-orang rumah kemudian jadi sasaran kesel saya. hehe padahal emang salah saya sendiri, gak pesen minta dibangunin. Dengan bermodalkan kebiasaan persiapan kilat jaman jadi wartawan dulu, dalam waktu gak lebih dari 15 menit, saya sudah lengkap mandi dan pakaian lengkap dengan jilbab *cepet kaan, makanya suami saya sih jarang komplain kalo pas saya siap2 mau berangkat, paling bete aja hihihi*
Minta dianterin suami, saya pun berangkat ke sekolahnya Kakak. Wussss hanya kurang dari 10 menit, sudah sampe deh. Setelah cium tangan suami, maka saya pun menuju ruang rapat. Sebenernya tetep aja bertanya2 bakal seperti apakah rapat dari Pengurus PTSG, kalo gak salah Parent Teacher Support Group, yaitu kelompok orangtua murid yang terlibat dalam kegiatan di sekolah, termasuk kegiatan belajar mengajar dan lain-lain.
Sebenernya, saya sendiri sudah tidak asing bagi guru2 karena memang sering nongol nganter jemput Kakak plus saya juga instruktur Klub Menulis disana. Oh ya, saya juga membantu menulis dan mengedit di website sekolah. Jadi waktu biicara di forum itu, yaa saya beraasa bermuka dua deh, antara pendapat sebagai orangtua murid tp juga sebagai instruktur Klub Menulis *yang udah berhasil menerbitkan self publishing book, bukan sombong bukan sihir sodara-sodara* :D
Ndilalah rapat itu pas saya masuk kok ya pas ngomongin school club alias sejenis kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Jadi saya bisa langsung on, walaopun telat 1 jam itu *sungkem2*
Baku pendapat *bukan hantam ya* terjadi seputar school club mana yang mau diteruskan atau tidak, menimbang berbagai hal seperti kesesuaian dengan tujuan sekolah, berpotensi membawa nama sekolah ke luar, juga dari segi pengajar. Wuuiih pokoknya seru deh, ngalah2in acara debat di stasiun tv hahahaha
Klub menulis yang saya instrukturi *ini nulisnya bener gak ya* dianggap unik dan mau dimajukan sebagai unggulan..ehem..ehemm. Antara bangga sama deg2an juga ini, ternyata pekerjaan saya bekerjasama dengan tim dari sekolah, dihargai orangtua, tp juga berarti saya harus meningkatkan mutu diri sekaligus membuat bahan pengajaran yang lebih baik lagi dibanding tahun kemarin *komat-kamit* *doa loh ya, bukan yang lain*
Kemudian tibalah saatnya pemilihan pengurus PTSG. Sebenernya sudah ada tiga pengurus inti sebagai Ketua, Sekretaris dan Bendara. Kemudian tinggal memilih anggota untuk bidang2 yang disepakati. awalnya usulan bidang dari sekolah, terlalu njlimet, akhirnya ada tiga bidang umum dengan beberapa anggota.
Saya kemudian dimasukkan ke bidang pengawasan alias sebagai koordinator kelas perwakilan kelas 2. Ya oke lah, ngawasin kan kerjaannya? hehe ngawasin anak sendiri juga udah biasa kok *beda kaliiii, riin* :D
Pemilihan anggota bidang ini gak kalah serunya dengan penentuan anggota bidang di rapat pemerintahan di gedung Gubernur *sook tauu*. Hehe apalagi kan gak semua orangtua juga mau ikut diidalamnya. Alhasil, seruu deh. Apalagi ketika Ketua PTSG merasa ada kebutuhan perwakilan PTSG yang stand by untuk mengurus berbagai keperluan. Sayangnya, guru dan staf sekolah sudah tidak bisa membantu itu.
Kemudian diputuskan untuk menggunakan media seperti Facebook ataupun BB grup atau apalah itu, maklum saya pan dari dulu gak pernah punya dan pake BB, jadi ya emang gak ngerti. Saya dan suami memang milih gak pake BB, agar gak menguras waktu sekaligus isi rekening hehehehe :D
Kebetulan, dari kelas dua ternyata ada dua orangtua murid, saya dan seorang lagi. Setelah utak atik nama anggota beberapa waktu, tiba-tiba ketika saya lagi bolak-balik lihat tas karena denger Hp yang bunyi2 tanda lowbat dan bikin saya mikir, gimana nanti nelp suami untuk minta jemput, muncul usulan saya jadi sekretaris. Heeee...afa-afaan inih.
Saya langsung berkelit bak pesilat tangguh, "Jangan deh, saya kan gak pake BB", *itu alasan nyambung gak sih* dan langsung disambut jawaban "gak apa2, kan banyak media lain". Saya belum nyerah, "kan sudah ada Sekretaris yang dipilih," kata saya. "Biarin, kalau Sekretarisnya dua kan lebih bagus".
Huks saya bagaikan kena smash! Glek..seumur2 saya juga gak pengalaman ikut organisasi serupa seperti ini. Jaman anak saya TK deket rumah apalagi, muridnya aja cuma seuprit, boro2 bikin PTSG.
Akhirnya dengan penuh wibawa *ihiik* saya jawab bersedia. Job desk juga akan kembali dirapatkan. Saya masih mengira-ngira sih apa aja yang bisa saya kerjakan, ditengah berbagai kegiatan saya yang (kesannya) seabrek ini.
Tapi, tenaang saya masih merasa punya kesempatan, besok Senin akan saya konfirmasi lagi sama Ketua dan sekolah, kali2 aja mereka sadar dari kekhilafan ini hihihii ;) Doakaan saya yaaa man temaaan :)
Showing posts with label guru. Show all posts
Showing posts with label guru. Show all posts
Sunday, 28 July 2013
Monday, 18 June 2012
Bayi Saya, Guru Saya
Sejak kelahiran anak saya yang kedua, Sandya, yang mengalami penyakit jantung bawaan (PJB) maka bolak-balik rumah sakit merupakan hal yang biasa kami lakoni. Mengapa saya sebut kami? Sebab saat berangkat ke rumah sakit, yang mengantar bisa-bisa serumah. Termasuk saya, suami, anak pertama saya yang bernama Aylaa, pengasuhnya, serta Kakek Jenggot alias papa saya. Itu adalah jumlah pengantar minimal, kalau untuk waktu-waktu tertentu, jumlah pengantar bisa lebih banyak hehehe.
Ya, anak saya yang ke-2 yang lahir tanggal 28 November 2011, lahir dengan kelainan pembuluh darah jantung yang biasa disebut TGA alias Transposition of the Great Arteries. Sebenarnya masih ada kelainan yang mengiringi, tapi saya sendiri kurang paham istilahnya.
Intinya, pembuluh darah besar yang mengaliri jantung anak saya mengalami kelainan fungsi sehingga darah bersih yang seharusnya dialirkan dari paru-paru dan darah kotor yang dibersihkan di paru-paru. Akibatnya, darah kotor mengalir ke seluruh tubuh dan akibatnya fatal.
Hari ke-3 setelah kelahirannya, Sandya harus menjalani operasi non-bedah yang secara awam disebut dengan balon. Lebih miris lagi, prosesnya dilakukan tengah malam, sekitar jam 1 malam, alatnya pun langsung diambil suami dan papa saya di RS Cipto Mangunkusomo dari RS Harapan Bunda tempat anak kami dirawat waktu itu.
Untuk mengejar waktu, suami saya menggunakan sepeda motor. Papa saya yang saat itu sudah berumur 71 tahun (kemarin tgl 14 Juni) baru saja berulangtahun ke 72) sangatlah kuat. Ia yang memegang alat tersebut. Dari pihak RSCM wanti-wanti bahwa alat tersebut tidak boleh bengkok atau rusak sedikit pun. Intinya, malam itu adalah malam yang tidak akan pernah saya lupakan.
Kemudian, pada usia pas satu bulan yaitu tgl 28 Desember 2011, Sandya dioperasi bedah jantung. Berbagai rasa dan emosi bercampur selama hampir satu bulan berada di RS Harapan Kita tersebut. Mungkin nanti akan saya tulis secara khusus bagaimana secara detail seingat saya.
Selama disana, tidak ada satu pun foto yang sama ambil. Tidak ingin rasanya melihat foto ketika anak saya terbaring lemah disana. Oh ya, kisah Sandya sempat dimuat di majalah Mother and Baby yang terbit bulan Mei lalu. Saya sendiri tidak keberatan berbagi kisah, dengan harapan para orangtua yang bayinya mengalami PJB atau penyakit lain tidak menyerah. Insya Allah akan selalu ada jalan, selama kita berusaha dan berdoa.
Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat Sandya sudah hampir 7 bulan (saat ini sudah 21 bulan). Perkembangannya pun sangat baik, berat badan terakhir pada hari Sabtu (16/6) waktu imunisasi di RS Harapan Bunda yaitu 7,7kg. Bahkan, bisa dibilang beratnya lebih dari standar anak seusianya. Sandya juga sudah bisa guling kanan kiri, tengkurap dan tertawa dengan lepas. Makannya pun lahap.
Saya kerap mendapat pandangan kasihan dari teman atau tetangga yang mengetahui mengenai kondisi Sandya. Padahal, menurut saya, anak saya ataupun anak dengan PJB atau penyakit lain, tidak ingin dikasihani. Simpati boleh saja, bahkan memberi bantuan moril maupun materil tak mengapa. Tapi jangan dikasihani, beri mereka kesempatan sebagaimana anak-anak seusia mereka. Don't feel sorry for their disease but celebrate their life :)
Itu sebabnya seringkali saya berkata bahwa anak-anak saya adalah guru yang tak kalah penting dalam hidup saya. Mereka juga lah yang membuat hidup saya terasa berharga.Melalui mereka, saya belajar dan menjalani proses pendewasaan. Satu hal yang saya sadari, bahwa tidak hanya mereka yang membutuhkan saya sebagai ibu untuk menyayangi dan merawat mereka, tapi saya juga yang membutuhkan mereka.
Meskipun ini tulisan lama, tapi saya sengaja mengikutsertakan dalam “Tulisan ini diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway “Blessing in Disguise” karena makna tulisan ini yang sangat dalam untuk saya. Sandya sendiri saya ambil dari bahasa Sansakerta yang berarti Persatuan. Sementara, Daniswara berarti raja yang masyhur dan kaya raya dan Santoso diambil dari nama suami saya, Yanuar Santoso. Harapan kami, Sandya kelak dapat menjadi pemimpin yang makmur dan mempersatukan keluarga, masyarakat seluas-luasnya.
Ternyata, sejak kelahirannya, Sandya sudah berhasil mempersatukan saya, keluarga besar, saudara-saudara, teman-teman bahkan kenalan baru yang bersimpati. Biaya operasi jantung Sandya yang cukup besar dalam waktu singkat ternyata dapat mengetuk hati orang-orang berhati emas untuk membantu kami. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Bahkan dalam perjalanannya saya dapat kembali merajut pertemanan dengan rekan yang sudah lama tak berkomunikasi, mempererat kembali tali persaudaraan dan menjalin pertemanan yang baru.
Secara pribadi, saya juga merasa mendapatkan "teguran" sekaligus "kasih sayang" dari Allah SWT secara bersamaan. Betapa saya merasa tak berdaya sebagai manusia tanpa berkah dan ridho-Nya. Betapa tak pantasnya manusia untuk sombong, karena Allah yang merupakan pemilik segalanya.
Surat Alam Nasyroh ayat 5 dan 6 seakan mengingatkan saya akan saat-saat itu :
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."
*Tulisan ini dibuat ulang dengan penyesuaian untuk Giveaway “Blessing in Disguise”
Subscribe to:
Posts (Atom)
