Assalamualaikum. Hadeuuuh judul saya serem amat ya di akhir pekan gini. Hehe gak apa2 ya. Harus diakui, salah satu faktor kekhawatiran para ibu2 ngantor yang kemudian beralih ke ibu rumah tangga adalah masalah keuangan. Yang biasanya mau beli ini itu, tinggal mengambil dari uang sendiri (terutama untuk kebutuhan kecil2 atau belanja pribadi), tapi giliran jadi ibu rumah tangga, mau gak mau jadi ngandalin pemasukan dari suami.
Tapi, apa emang bener harus begitu? Sebenarnya gak juga sih. Sekarang banyak juga ibu2 rumah tangga yang berhasil memperoleh pendapatan sendiri. Kalau saya sih, selama ini lebih banyak mengandalkan kemampuan menulis, hehe mau masak gak gape apalagi jahit hahahaha :)
Trus saya ingin mengaitkan dunia maya alias online yang semakin membuka kesempatan luas2 untuk para ibu2 rumah tangga ini. Tenaaang, saya gak akan menuliskan soal MLM yang kini rame mencoba meraih pasar ibu2 muda di dunia maya.
Ceritanya, sehari2 mengamati dunia online baik di Facebook, Multiply dll dari para penjual, saya melihat semakin banyak para ibu2 yang kemudian memiliki kesempatan untuk memperoleh pendapatan sekaligus menyalurkan minatnya. Contohnya apa? Saya lihat ibu2 yang suka menjahit, kemudian ada yang menjual baju hasil jahitannya. TIdak hanya baju, juga ada selimut, bantal, bedding alias peralatan tidur bayi, tas, dll. Bahkan ada yang sampai membuka butik menjahit online. Nah lo kok bisa, gimana caranya? ya bisa aja, customer tinggal memberi data2 ukuran dirinya, jadi deh!
Begitu juga untuk yang hobi masak, mulai dari berbagai kue kering, cake, nugget sampai coklat buatan rumahan memenuhi ruang online dan peminatnya semakin banyak.
Lalu bagaimana yang tidak punya hobi populer seperti itu? Banyak jalan menuju Roma, hehe tapi bukan bang Rhoma (kalo Ridho Rhoma sih boleh..apaaaa siiih??) Ada yang memanfaatkan kemampuan jualan, ada juga yang masuk MLM online, dan segudang cara lainnya. INtinya, ibu masih punya banyak waktu untuk mengurus keluarga dan rumah, tapi juga memiliki kemandirian alias independensi finansial, alias gak tergantung banget sama suami.
Saya sendiri sampai2 kepikiran untuk belajar menjahit, saking ngilernya melihat pasar yang ada. Hehe tapi masih ragu2 mengingat, saya bukan orang yang sabaran dan teliti, judulnya sadar diiriii ;p Tapi, jangan tiru saya ya (GR deh), gak ada kata terlambat untuk belajar sesuatu. Yang penting konsisten dan niat yang kuat.
Anyway, nanti kalau ada pengalaman atau ide lain, saya tulis lagi yaa. Selamat berakhir pekan ^.^
Saturday, 30 June 2012
Independensi Finansial Ibu Rumahan
Thursday, 28 June 2012
Sandya on 7 :)
Assalamualaikum. Alhamdulillah sesuai judul, Sandya hari ini sudah genap 7 bulan. Alhamdulillah lagi sudah pinter guling2, duduk tanpa disanggah, ngoceh pa..pa..ba..baa..dan berhasil menggulingkan diri dari tempat tidur ke lantai yang bikin syok ibunya 2 hari 2 malem.
Perkembangan Sandya terbilang normal, mengingat ia mengalami penyakit jantung bawaan (PJB) dan sudah dioperasi sejak umur 1 bulan. Giginya sudah tumbuh 3 sekarang, sudah mulai bisa gigit2 biskuit sambil nyengir2, sudah mau merangkak, bergerak kemana2, gak bisa diem...pokoknya bikin ibu dan orang rumah kewalahan deh.
Saya sendiri sangat bersyukur kepada Allah SWT melihat kondisi Sandya saat ini, mengingat tidak semua anak yang mengalami kondisi PJB perkembangannya bisa normal. Tapiiii, saya tidak mau takabur dan bermaksud bersombong diri. Jadi apa maksudnya donk nulis2 gini soal Sandya?
Intinya, saya ingin membesarkan hati para orangtua yang anaknya divonis PJB bahwa tidak ada kata tidak mungkin bagi anak2 mereka tumbuh sehat dan normal dengan ridho Allah SWT, pertolongan medis yang tepat dan doa dari orangtua serta orang2 sekitar yang menyayanginya. Jangan pernah putus asa. Jangan juga berpikir mengenai kemungkinan2, katanya anak PJB akan begini atau begitu, yang didengar dari orang sekitar yang kebenarannya masih diragukan. Yakin, berusaha dan berdoa.
Saya sendiri sempat dibilang terlalu bersemangat oleh dokternya Sandya karena saya bertanya apakah ada larangan kegiatan atau olahraga yang mungkin tidak dapat dilakukan anak saya. Dengan setengah bercanda, sang dokter menjawab, "Ibu ini semangat sekali ya, olahraga apa anak seumur ini. JAngan khawatir, anak2 kalau mereka capek, mereka akan berhenti sendiri kok".
Hehehe bukannya saya bersemngat, justru saya ingin berhati2 kalau Sandya melakukan aktivitas tertentu. Tapi, namanya bayi baru belajar duduk dan mau merangkak, mana bisa disuruh diem dan gak boleh capek, hehe emang ibunya :)
Selamat ulang bulan ke-7 anakku, Sandya, semoga menjadi anak yang beriman kepada Allah SWT, berbakti kepada Ayah dan Ibu dan berguna bagi keluarga, nusa bangsa dan Agama.
Ya Allah, semoga Engkau selalu mempertebal iman Sandya, menyehatkan badannya, memperpanjang umurnya, melancarkan rezekinya dan selalu menjaga dan memberikan berkah dan ridho-Mu yang terbaik. Aamiin.
Ibu, Ayah dan Kakak Aylaa sayang adek Sandya...peluk cium ya sayang :)
Perkembangan Sandya terbilang normal, mengingat ia mengalami penyakit jantung bawaan (PJB) dan sudah dioperasi sejak umur 1 bulan. Giginya sudah tumbuh 3 sekarang, sudah mulai bisa gigit2 biskuit sambil nyengir2, sudah mau merangkak, bergerak kemana2, gak bisa diem...pokoknya bikin ibu dan orang rumah kewalahan deh.
Saya sendiri sangat bersyukur kepada Allah SWT melihat kondisi Sandya saat ini, mengingat tidak semua anak yang mengalami kondisi PJB perkembangannya bisa normal. Tapiiii, saya tidak mau takabur dan bermaksud bersombong diri. Jadi apa maksudnya donk nulis2 gini soal Sandya?
Intinya, saya ingin membesarkan hati para orangtua yang anaknya divonis PJB bahwa tidak ada kata tidak mungkin bagi anak2 mereka tumbuh sehat dan normal dengan ridho Allah SWT, pertolongan medis yang tepat dan doa dari orangtua serta orang2 sekitar yang menyayanginya. Jangan pernah putus asa. Jangan juga berpikir mengenai kemungkinan2, katanya anak PJB akan begini atau begitu, yang didengar dari orang sekitar yang kebenarannya masih diragukan. Yakin, berusaha dan berdoa.
Saya sendiri sempat dibilang terlalu bersemangat oleh dokternya Sandya karena saya bertanya apakah ada larangan kegiatan atau olahraga yang mungkin tidak dapat dilakukan anak saya. Dengan setengah bercanda, sang dokter menjawab, "Ibu ini semangat sekali ya, olahraga apa anak seumur ini. JAngan khawatir, anak2 kalau mereka capek, mereka akan berhenti sendiri kok".
Hehehe bukannya saya bersemngat, justru saya ingin berhati2 kalau Sandya melakukan aktivitas tertentu. Tapi, namanya bayi baru belajar duduk dan mau merangkak, mana bisa disuruh diem dan gak boleh capek, hehe emang ibunya :)
Selamat ulang bulan ke-7 anakku, Sandya, semoga menjadi anak yang beriman kepada Allah SWT, berbakti kepada Ayah dan Ibu dan berguna bagi keluarga, nusa bangsa dan Agama.
Ya Allah, semoga Engkau selalu mempertebal iman Sandya, menyehatkan badannya, memperpanjang umurnya, melancarkan rezekinya dan selalu menjaga dan memberikan berkah dan ridho-Mu yang terbaik. Aamiin.
Ibu, Ayah dan Kakak Aylaa sayang adek Sandya...peluk cium ya sayang :)
Wednesday, 27 June 2012
Hidup = Rangkaian Perubahan
Assalamualaikum. Hai, selamat menjelang siang. Nah jam segini adalah waktu saya menyisihkan sedikit waktu untuk menulis alias mengekspresikan pikiran dan perasaan saya, my writing therapy ^.^
Kembali ke judul, hidup adalah rangkaian perubahan. Ya, memang bisa dibilang begitu. Ah masa sih? Ada yang bilang, hidupnya dari dulu tidak berubah, begitu2 saja. Ayo yang pernah ngomong begitu, ditilik2 lagi. Masa iya, hidup tidak pernah berubah. Setiap hari saja menu makanan yang kita makan berbeda, hal2 yang dihadapi juga beda2. Mood juga berubah-ubah, dari seneng, bete, seneng lagi, lebih bete hehehehe
Saya pernah nonton salah satu serial film Touch yang dibintangi Kiefer Sutherland yang beken dalam serial 24. Ceritanya, Kiefer punya seorang anak penyandang autis atau semacamnya, yang memiliki keistimewaan, dia berkomunikasi melalui simbol. Saya sendiri kurang terlalu mengikuti serial tersebut. Yang pasti saat saya menonton, kata-kata pengantarnya berkata tentang perubahan. Betapa manusia takut dengan yang namanya perubahan, padahal dalam sepersekian detik akan terdapat perubahan, betapa masa kini yang kita sebut, akan menjadi masa lalu dalam sekejap. Yaah kira2 begitu deh, pokoknya saya sendiri kagum dengan kalimat2nya yang dalem banget.
Hehe tulisan ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh niat saya untuk mengganti tempat tidur yang tinggi dengan kasur, lantaran Sandya yang sekarang usia 7 bulan sudah bisa gulang guling kemana2 dan kemarin alhasil jatuh dari tempat tidur, yang bikin saya shok sampai sekarang. Buat saya, tempat tidur itu telah menemani saya selama bertahun2, sehingga rasanya ini perubahan yang lumayan berat (melow ceritanya hihihi).
Intinya, hal itu membuat saya berpikir. Hidup akan selalu diiringi dengan perubahan. Tidak ada bedanya untuk ibu rumah tangga, wanita karir, direktur atau kepala negara sekalipun. Perubahan adalah sesuatu yang alami dan tidak bisa ditahan oleh manusia. Jika hari ini belum beruntung, Insya Allah besok lebih beruntung. Sebaliknya, jika hari ini diberi banyak rezeki dan berkah, jangan sombong bahwa besok akan memperoleh hal yang sama.
Ah, jangan2 tulisan ini membuat pembacanya bosen. Hehe jangan ya :) Saya sendiri menulis sesuai dengan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan. Namanya juga mencoba mengekspresikan diri. Terimakasih sudah mampir membaca ^.^
Kembali ke judul, hidup adalah rangkaian perubahan. Ya, memang bisa dibilang begitu. Ah masa sih? Ada yang bilang, hidupnya dari dulu tidak berubah, begitu2 saja. Ayo yang pernah ngomong begitu, ditilik2 lagi. Masa iya, hidup tidak pernah berubah. Setiap hari saja menu makanan yang kita makan berbeda, hal2 yang dihadapi juga beda2. Mood juga berubah-ubah, dari seneng, bete, seneng lagi, lebih bete hehehehe
Saya pernah nonton salah satu serial film Touch yang dibintangi Kiefer Sutherland yang beken dalam serial 24. Ceritanya, Kiefer punya seorang anak penyandang autis atau semacamnya, yang memiliki keistimewaan, dia berkomunikasi melalui simbol. Saya sendiri kurang terlalu mengikuti serial tersebut. Yang pasti saat saya menonton, kata-kata pengantarnya berkata tentang perubahan. Betapa manusia takut dengan yang namanya perubahan, padahal dalam sepersekian detik akan terdapat perubahan, betapa masa kini yang kita sebut, akan menjadi masa lalu dalam sekejap. Yaah kira2 begitu deh, pokoknya saya sendiri kagum dengan kalimat2nya yang dalem banget.
Hehe tulisan ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh niat saya untuk mengganti tempat tidur yang tinggi dengan kasur, lantaran Sandya yang sekarang usia 7 bulan sudah bisa gulang guling kemana2 dan kemarin alhasil jatuh dari tempat tidur, yang bikin saya shok sampai sekarang. Buat saya, tempat tidur itu telah menemani saya selama bertahun2, sehingga rasanya ini perubahan yang lumayan berat (melow ceritanya hihihi).
Intinya, hal itu membuat saya berpikir. Hidup akan selalu diiringi dengan perubahan. Tidak ada bedanya untuk ibu rumah tangga, wanita karir, direktur atau kepala negara sekalipun. Perubahan adalah sesuatu yang alami dan tidak bisa ditahan oleh manusia. Jika hari ini belum beruntung, Insya Allah besok lebih beruntung. Sebaliknya, jika hari ini diberi banyak rezeki dan berkah, jangan sombong bahwa besok akan memperoleh hal yang sama.
Ah, jangan2 tulisan ini membuat pembacanya bosen. Hehe jangan ya :) Saya sendiri menulis sesuai dengan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan. Namanya juga mencoba mengekspresikan diri. Terimakasih sudah mampir membaca ^.^
Tuesday, 26 June 2012
Ibu Waspada atau Terlalu Khawatir?
Selamat siang. Hehe ini saya yang coba curi2 waktu karena anak-anak saya sedang diawasi pengasuhnya. Semalaman saya hampir tidak bisa tidur. Ada apa lagi sih??
Hehe begini risiko bekerja sebagai ibu rumah tangga yang tanggung jawab 24 jam, baik tenaga maupun sisi emosional. Ceritanya, kemarin siang saya menyuruh si kakak melihat adiknya yang baru terbangung tidur dan menangis karena saya masih sibuk di depan komputer. Dasar anak balita, semua gerakan ingin cepat. Akhirnya, dia pun terjatuh dan kepalanya sedikit terbentur lantai. Saya elus2 tanpa berpikir macam2.
Hingga akhirnya saat Ayah datang, kakak cerita pada Ayah bahwa kepalanya sakit lantara jatuh tadi siang. Saya terkaget, waah sakitnya masih ada toh! saya elus2 lagi, sambil ditiup dan saya berdoa ayat kursi sebagai andalan, karena si Kakak tidak suka minyak2an.
Dasar ibu2 era internet, saya langsung browsing mengenai hal2 yang berkaitan dengan kepala terbentur. Alhasil, saya malah semakin deg2an dan berniat mengajak kakak ke dokter. Tapi, suami yang berkepala dingin (hehe kepribadian saya memang berbanding terbalik dengan suami) berkata tidak perlu, apalagi kakak tidak menunjukkan gejala muntah, pusing dll. Hanya sedikit mengeluh sakit saat berjalan.
Tapi, saya belum cukup tenang. Semalaman akhirnya bolak balik kamar kakak hingga siang ini. Saya sudah siap2 kartu berobat dll, kalau tiba2 kakak muntah atau menunjukkan gejala mencurigakan. Masih menurut internet, pengawasan masih harus dilakukan 3x24 jam. Alhamdulillah kakak tidurnya nyenyak, makan lahap dan gak ada perubahan perilaku.
Saya harap saya termasuk golongan yang waspada, bukan ibu2 rempong yang terlalu khawatir. Oh ya, referensi internet memang terkadang perlu dibaca ya ibu2, tp jangan dijadikan satu patokan saja. Bertanya kepada ahli medis seperti dokter langganan atau dokter keluarga mungkin bisa lebih membantu.
Selamat melanjutkan aktivitas yaa ^.^
Hehe begini risiko bekerja sebagai ibu rumah tangga yang tanggung jawab 24 jam, baik tenaga maupun sisi emosional. Ceritanya, kemarin siang saya menyuruh si kakak melihat adiknya yang baru terbangung tidur dan menangis karena saya masih sibuk di depan komputer. Dasar anak balita, semua gerakan ingin cepat. Akhirnya, dia pun terjatuh dan kepalanya sedikit terbentur lantai. Saya elus2 tanpa berpikir macam2.
Hingga akhirnya saat Ayah datang, kakak cerita pada Ayah bahwa kepalanya sakit lantara jatuh tadi siang. Saya terkaget, waah sakitnya masih ada toh! saya elus2 lagi, sambil ditiup dan saya berdoa ayat kursi sebagai andalan, karena si Kakak tidak suka minyak2an.
Dasar ibu2 era internet, saya langsung browsing mengenai hal2 yang berkaitan dengan kepala terbentur. Alhasil, saya malah semakin deg2an dan berniat mengajak kakak ke dokter. Tapi, suami yang berkepala dingin (hehe kepribadian saya memang berbanding terbalik dengan suami) berkata tidak perlu, apalagi kakak tidak menunjukkan gejala muntah, pusing dll. Hanya sedikit mengeluh sakit saat berjalan.
Tapi, saya belum cukup tenang. Semalaman akhirnya bolak balik kamar kakak hingga siang ini. Saya sudah siap2 kartu berobat dll, kalau tiba2 kakak muntah atau menunjukkan gejala mencurigakan. Masih menurut internet, pengawasan masih harus dilakukan 3x24 jam. Alhamdulillah kakak tidurnya nyenyak, makan lahap dan gak ada perubahan perilaku.
Saya harap saya termasuk golongan yang waspada, bukan ibu2 rempong yang terlalu khawatir. Oh ya, referensi internet memang terkadang perlu dibaca ya ibu2, tp jangan dijadikan satu patokan saja. Bertanya kepada ahli medis seperti dokter langganan atau dokter keluarga mungkin bisa lebih membantu.
Selamat melanjutkan aktivitas yaa ^.^
Monday, 25 June 2012
Ibu Ngantor vs Ibu Rumah Tangga
Halo, selamat hari senin! Hari ini seperti biasa hari saya dimulai dengan ribet mengurus dua anak, mulai dari mandi sampai makan pagi. Tidak hanya si bayi yang membuat ribet, si balita pun tidak kalah ruwet ngurusnya. Apalagi sekarang sang kakak sedang libur sekolah, jadi seharian di rumah deh.
Hal ini yang kemudian membuat saya berpikir, mungkinkah hal ini yang membuat para ibu2 terutama yang pernah merasakan menjadi wanita karir menjadi stres ketika harus berjibaku di rumah? Hmm..bisa jadi urusan anak menjadi salah satunya, tapi berdasar pengalaman, ada beberapa hal lain kok. Saya mau bahas aah.
Pertama, urusan anak. Pertama2 harus ingat, bersyukur kepada Allah SWT, sudah diberikan amanah berupa keturunan sehingga harus diurus dan dijaga baik2. Hal itu juga yang kemudian membuat saya memutuskan untuk tetap di rumah, setidaknya bisa bekerja dari rumah. Tapiiiii, terkadang anak memang membuat ibu tidak bisa kemana2, banyak tuntutan ini itu dari mereka. Mulai dari kewajiban memandikan, memberi makan dll, hingga menemani nonton tv, belajar dll. Memang itu sudah kewajiban dari ibu, namun terkadang rutinitas tersebut bisa membuat bosan. Sesekali saya ingin "membebaskan diri" dari rengekan ini dan itu. Jalan keluarnya, saya berikan waktu untuk diri saya sendiri, minimal 30 menit dengan berada di depan komputer, menulis blog ini. Hehehe karena memang kecintaan saya menulis. Kalau ibu2 yang lain senang ke salon ataupun arisan, silakan saja.
Kedua, eksistensi diri. Hadeeuuuh..bukan mau sok iye dengan istilah ini. Tapi, saat saya (dan ibu2 lain yang pernah ngantor kemudian jadi IRT), kita dikenal sebagai diri dan kemampuan kita secara pribadi. Kita dipanggil dengan nama kita sendiri. Tapi, setelah jadi IRT, panggilan terhadap diri kita berubah. Di rumah, dipanggil dengan nama suami, kemudian di sekolah dipanggil dengan sebutan Mama ..... (nama anak). Hal ini seringkali membuat saya merasa kehilangan jati diri. Hehehe beneran loh, kadang hal itu berpengaruh juga terhadap rasa percaya diri. Untuk saya sih, hal ini biasanya disiasati (lagi-lagi) dengan kegiatan menulis. Menulis artikel lepas atau bikin buku bareng2 temen, dll yang menempelkan identitas nama saya. Untuk ibu2 lain, bisa juga melakukan hal sesuai minatnya.
Ketiga, pengakuan suami dan orang sekitar. Intinya, akan lebih sulit bagi ibu rumah tangga mendapatkan pengakuan atau sekedar pujian dari kerja kerasnya seharian berupa anak yang sudah makan atau cukup tidur, dibandingkan ketika bekerja dan memperoleh penghargaan, baik dari orang-orang sekitar, bahkan suami dan keluarga. Ilmu yang saya pakai untuk hal ini adalah ikhlas, karena saya sudah memilih jalur ibu rumah tangga.
Satu lagi yang ingin saya bagi, jujur saja, saya sempat terkejut dengan komentar suami pada suatu hari ketika menjemput saya dari tempat saya membantu penulisan. "Ibu kok kalo di luar seneng banget, mukanya senyum trus ketawa-tawa". Hehehe saya cuma nyengir aja waktu itu. Tapi, saya jadi berpikir, bahwa selama saya di rumah, saya lebih sering cemberut, marah2, ngomel ke anak ataupun asisten di rumah. Aaah pantas saja, suami saya ngomong begitu. MEmang sulit saat berada di rumah yang selalu dihadapkan dengan kondisi macam2, harus terus tersenyum ataupun tidak marah2.Yaah, untuk yang satu ini memang saya masih harus banyak belajar bersabar. Kalau yang ini, saya juga mohon petunjuk untuk yang lebih berpengalaman.
Beneran nih yang punya saran, masukan ataupun bagi pengalaman, saya tunggu ya. Bel saya alias anak-anak sudah rewel, artinya saya harus sudahkan dulu tulisan ini deh. Terimakasih.
Hal ini yang kemudian membuat saya berpikir, mungkinkah hal ini yang membuat para ibu2 terutama yang pernah merasakan menjadi wanita karir menjadi stres ketika harus berjibaku di rumah? Hmm..bisa jadi urusan anak menjadi salah satunya, tapi berdasar pengalaman, ada beberapa hal lain kok. Saya mau bahas aah.
Pertama, urusan anak. Pertama2 harus ingat, bersyukur kepada Allah SWT, sudah diberikan amanah berupa keturunan sehingga harus diurus dan dijaga baik2. Hal itu juga yang kemudian membuat saya memutuskan untuk tetap di rumah, setidaknya bisa bekerja dari rumah. Tapiiiii, terkadang anak memang membuat ibu tidak bisa kemana2, banyak tuntutan ini itu dari mereka. Mulai dari kewajiban memandikan, memberi makan dll, hingga menemani nonton tv, belajar dll. Memang itu sudah kewajiban dari ibu, namun terkadang rutinitas tersebut bisa membuat bosan. Sesekali saya ingin "membebaskan diri" dari rengekan ini dan itu. Jalan keluarnya, saya berikan waktu untuk diri saya sendiri, minimal 30 menit dengan berada di depan komputer, menulis blog ini. Hehehe karena memang kecintaan saya menulis. Kalau ibu2 yang lain senang ke salon ataupun arisan, silakan saja.
Kedua, eksistensi diri. Hadeeuuuh..bukan mau sok iye dengan istilah ini. Tapi, saat saya (dan ibu2 lain yang pernah ngantor kemudian jadi IRT), kita dikenal sebagai diri dan kemampuan kita secara pribadi. Kita dipanggil dengan nama kita sendiri. Tapi, setelah jadi IRT, panggilan terhadap diri kita berubah. Di rumah, dipanggil dengan nama suami, kemudian di sekolah dipanggil dengan sebutan Mama ..... (nama anak). Hal ini seringkali membuat saya merasa kehilangan jati diri. Hehehe beneran loh, kadang hal itu berpengaruh juga terhadap rasa percaya diri. Untuk saya sih, hal ini biasanya disiasati (lagi-lagi) dengan kegiatan menulis. Menulis artikel lepas atau bikin buku bareng2 temen, dll yang menempelkan identitas nama saya. Untuk ibu2 lain, bisa juga melakukan hal sesuai minatnya.
Ketiga, pengakuan suami dan orang sekitar. Intinya, akan lebih sulit bagi ibu rumah tangga mendapatkan pengakuan atau sekedar pujian dari kerja kerasnya seharian berupa anak yang sudah makan atau cukup tidur, dibandingkan ketika bekerja dan memperoleh penghargaan, baik dari orang-orang sekitar, bahkan suami dan keluarga. Ilmu yang saya pakai untuk hal ini adalah ikhlas, karena saya sudah memilih jalur ibu rumah tangga.
Satu lagi yang ingin saya bagi, jujur saja, saya sempat terkejut dengan komentar suami pada suatu hari ketika menjemput saya dari tempat saya membantu penulisan. "Ibu kok kalo di luar seneng banget, mukanya senyum trus ketawa-tawa". Hehehe saya cuma nyengir aja waktu itu. Tapi, saya jadi berpikir, bahwa selama saya di rumah, saya lebih sering cemberut, marah2, ngomel ke anak ataupun asisten di rumah. Aaah pantas saja, suami saya ngomong begitu. MEmang sulit saat berada di rumah yang selalu dihadapkan dengan kondisi macam2, harus terus tersenyum ataupun tidak marah2.Yaah, untuk yang satu ini memang saya masih harus banyak belajar bersabar. Kalau yang ini, saya juga mohon petunjuk untuk yang lebih berpengalaman.
Beneran nih yang punya saran, masukan ataupun bagi pengalaman, saya tunggu ya. Bel saya alias anak-anak sudah rewel, artinya saya harus sudahkan dulu tulisan ini deh. Terimakasih.
Label:
anak,
dilema,
diri,
ibu,
ibu penulis,
IRT,
jati,
kantor,
menulis,
penulis,
penulis perempuan,
pribadi,
rumah,
suami,
tangga
Sunday, 24 June 2012
Bukan Tawa Biasa :)
Assalamualaikum, selamat pagiii!! Alhamdulillah hari ini saya terbangun dengan tubuh dan pikiran yang segar, setelah beberapa hari merasa tidak enak badan dan tidak tenang. Setelah saya pikir2, mungkin hal itu berhubungan dengan hasil tes jantung alias Echo dari Sandya. Loh kok gitu?
Sebab, jadwal Echo Sandya itu sudah lamaaaa sekali tertunda. Sekitar tiga minggu. Lantaran dokternya yang terbang ke sana sini (maklum dokternya sudah bergelar Prof yang merupakan kepercayaan direktur di RS Harapan KIta). Jadiiii, sulit sekali konsultasi dengan dokter cantik tersebut.
Sabtu minggu lalu saya dan suami sudah siap2 untuk berangkat, ternyata batal. Hingga Rabu kemarin, batal lagi. Saya sendiri tidak menyadari ternyata hal tersebut membebani pikiran saya, mungkin alam bawah sadar dan naluri keibuan saya menyalakan tombol "waspada". Entah lah.
Akhirnyaaa..Sabtu kemarin Sandya berhasil konsultasi dengan Prof dokter yang ditunggu-tunggu. Berangkat dari rumah jam 8 pagi. Dapat nomer antrian 17. Yang kemudian baru ketemu dokter sekitar pukul 1 siang :( Alhamdulillah Sandya bukan seorang bayi rewel yang selalu minta digendong ataupun menyusu. Dia santai saja ketika didudukkan di dalam stroller ataupun sesekali menyusu. Yang kadang bikin kesal, justru kakaknya yang tidak mau diam dan cepat merasa bosan..sabar...sabarrrrr
Saat kita masuk ruangan, Prof cantik yang rambutnya di cat merah itu menyambut dengan senyum khas. Setelah memeriksa sebentar, dia kemudian meminta kami pindah ruangan untuk tes Echo.
Alhamdulillah lagi, selama tes Echo dimana Sandya harus dibuka pakaian bagian atas dan di tes bagian dada, tidak rewel ataupun menangis. Walaupun Ayah dan seorang suster harus memainkan boneka beruang dan kura-kura untuk menarik perhatiannya. Saya sendiri memegang tangannya sepanjang tes.
Dokter sempat bercanda dengan mengomentari pakaian Sandya saat itu. "Sewaktu zaman saya dulu, bayi 7 bulan masih pakai popok, tapi bayi sekarang sudah pakai celana jeans". Hehehehe ^.^
Sejujurnya, saya juga kaget, Sandya bisa tenang saat tes. Saya sampai mengira Sandya harus diberikan obat tidur atau obat sejenis itu agar dia tenang. Minimal, saya menyangka saya harus menyusui Sandya selama tes. Kemudian, kami kembali harus antri ke ruang praktek untuk berbicara dengan dokter mengenai hasil tes tersebut.
Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah SWT. Hasil Echo Sandya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami disuruh kembali enam bulan lagi. Bagi saya, hal itu lebih dari hadiah ataupun prestasi yang pernah saya dapatkan. Senyum dan tawa saya sangat lebar ketika melangkah keluar dari ruang praktek dokter saat itu.
Saya sempat bertemu dengan beberapa orangtua dari anak-anak dan bayi yang menderita penyakit jantung bawaan (PJB) lainnya yang belum dioperasi ataupun yang sedang cek. Ya, saya tahu persis bagaimana perasaan mereka. Semoga semua anak-anak dan bayi mereka dapat cepat kembali sehat dan tumbuh normal sebagaimana anak-anak lain. Doa saya juga, semakin sedikit orangtua dan anak-anak yang harus mengalami hal yang pernah kami alami. Aamiin.
Sebab, jadwal Echo Sandya itu sudah lamaaaa sekali tertunda. Sekitar tiga minggu. Lantaran dokternya yang terbang ke sana sini (maklum dokternya sudah bergelar Prof yang merupakan kepercayaan direktur di RS Harapan KIta). Jadiiii, sulit sekali konsultasi dengan dokter cantik tersebut.
Sabtu minggu lalu saya dan suami sudah siap2 untuk berangkat, ternyata batal. Hingga Rabu kemarin, batal lagi. Saya sendiri tidak menyadari ternyata hal tersebut membebani pikiran saya, mungkin alam bawah sadar dan naluri keibuan saya menyalakan tombol "waspada". Entah lah.
Akhirnyaaa..Sabtu kemarin Sandya berhasil konsultasi dengan Prof dokter yang ditunggu-tunggu. Berangkat dari rumah jam 8 pagi. Dapat nomer antrian 17. Yang kemudian baru ketemu dokter sekitar pukul 1 siang :( Alhamdulillah Sandya bukan seorang bayi rewel yang selalu minta digendong ataupun menyusu. Dia santai saja ketika didudukkan di dalam stroller ataupun sesekali menyusu. Yang kadang bikin kesal, justru kakaknya yang tidak mau diam dan cepat merasa bosan..sabar...sabarrrrr
Saat kita masuk ruangan, Prof cantik yang rambutnya di cat merah itu menyambut dengan senyum khas. Setelah memeriksa sebentar, dia kemudian meminta kami pindah ruangan untuk tes Echo.
Alhamdulillah lagi, selama tes Echo dimana Sandya harus dibuka pakaian bagian atas dan di tes bagian dada, tidak rewel ataupun menangis. Walaupun Ayah dan seorang suster harus memainkan boneka beruang dan kura-kura untuk menarik perhatiannya. Saya sendiri memegang tangannya sepanjang tes.
Dokter sempat bercanda dengan mengomentari pakaian Sandya saat itu. "Sewaktu zaman saya dulu, bayi 7 bulan masih pakai popok, tapi bayi sekarang sudah pakai celana jeans". Hehehehe ^.^
Sejujurnya, saya juga kaget, Sandya bisa tenang saat tes. Saya sampai mengira Sandya harus diberikan obat tidur atau obat sejenis itu agar dia tenang. Minimal, saya menyangka saya harus menyusui Sandya selama tes. Kemudian, kami kembali harus antri ke ruang praktek untuk berbicara dengan dokter mengenai hasil tes tersebut.
Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah SWT. Hasil Echo Sandya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami disuruh kembali enam bulan lagi. Bagi saya, hal itu lebih dari hadiah ataupun prestasi yang pernah saya dapatkan. Senyum dan tawa saya sangat lebar ketika melangkah keluar dari ruang praktek dokter saat itu.
Saya sempat bertemu dengan beberapa orangtua dari anak-anak dan bayi yang menderita penyakit jantung bawaan (PJB) lainnya yang belum dioperasi ataupun yang sedang cek. Ya, saya tahu persis bagaimana perasaan mereka. Semoga semua anak-anak dan bayi mereka dapat cepat kembali sehat dan tumbuh normal sebagaimana anak-anak lain. Doa saya juga, semakin sedikit orangtua dan anak-anak yang harus mengalami hal yang pernah kami alami. Aamiin.
Friday, 22 June 2012
Doakan ya untuk Hasil Terbaik dari Cek-up Sandya Besok
Selamat malam. Janji saya untuk menulis 1 tulisan 1 hari sepertinya harus dirapel hari ini. Sebab besok alias Sabtu (23/6) adalah hari untuk Sandya, anak saya yang ke-2 yang lahir dengan penyakit kelainan jantung (PJB) yaitu TGA untuk cek up ke RS Harapan Kita.
Doakan semoga hasil cek up Sandya besok bagus dan tidak ada masalah lagi dalam perkembangan jantung dan seluruh tubuhnya. Mengutip kalimat Iwa K, anak-anak saya yaitu Aylaa dan Sandya adalah jantung saya. Jika mereka merasa sakit, maka saya akan merasa lebih sakit lagi.
Beneran ya, doa saya tentang kondisi kesehatan Sandya yang akan semakin baik dan baik lagi di-amin-kan? Saya percaya kekuatan doa dari teman-teman semua dapat membantu Sandya. Terimakasih sebelumnya.
Doakan semoga hasil cek up Sandya besok bagus dan tidak ada masalah lagi dalam perkembangan jantung dan seluruh tubuhnya. Mengutip kalimat Iwa K, anak-anak saya yaitu Aylaa dan Sandya adalah jantung saya. Jika mereka merasa sakit, maka saya akan merasa lebih sakit lagi.
Beneran ya, doa saya tentang kondisi kesehatan Sandya yang akan semakin baik dan baik lagi di-amin-kan? Saya percaya kekuatan doa dari teman-teman semua dapat membantu Sandya. Terimakasih sebelumnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)