Assalamualaikum wr. wb. Selamaaat malaam *sambil dinyanyiin ala Evi Tamala* :) Malam-malam bisa nulis blog, alhamdulillah bener pemiirsa.
Baiklah, kembali ke judul yang sengaja saya buat dengan tanda tanya. Apa iya sih tambah umur kita tambah pintar? Saya jd ingat idiom yang sering saya baca (atau dengar ya), tua itu pasti tapi dewasa itu pilihan hehehe.
Nah, kemaren saya berkontemplasi (cieee bahasanya gaya, padahal gak ngerti artinya), yang intinya, saya kok gak ngerasa ilmu saya bertambah selama beberapa tahun belakangan, terutama setelah menjadi full time mother yang bahasa kerennya alias ibu rumah tangga. Padahal sebenernya kalau dipikir2 lagi sih, ilmu saya nambah cuma beda fokusnya aja.
Misalnya, dulu waktu mulai kerja, saya belajar nulis berita, wawancara dll, mulai dari yg gak ngerti sama sekali, sampe dipercaya ngedit tulisan orang. Sekarang, belajarnya beda fokus. Sekitar 3 tahun yg lalu, saya boro2 ngerti yg namanya bikin ayam lapis tepung, sekarang alhamdulillah udah lumayan karena harus bawain bekal makan siang untuk si kakak (kesannya terpaksa gitu, aaah gak kok, dikit sih, dikiiiit aja ;)
Kalo saya inget2 lagi, duluuuuu waktu jaman SMU (beneran deh waktu jaman saya disebutnya bukan SMA), pelajaran matematika itu rasanya cihuuuuy benerrrr susahnya. Tapi, waktu saya kelas 2, pas beres2 buku kelas 1, jd mikir loh kan ini sebenernya gampang. Jadi sebenernya siapa yg salah? Ya tetep pelajarannya *teteeeeup ogah disalahinn hahahahaa*
Dari situ saya berkesimpulan, sebenernya saat ilmu kita bertambah, maka hal yang awalnya terasa sulit, jd lebih mudah. dan ilmu itu diperoleh sejalan dengan bertambahnya usia. Jadi harusnya sih memang tambah umur ya tambah pintar, harusnya siiiiiih ^.^
Tapiiii, defisini pintarnya itu yang harus diperluas, mungkin lebih bijak atau bisa juga disebut punya pandangan yang lebih luas untuk tepatnya kali yaa.
Aaaaah saya jadi inget naskah buku saya yang gak selesai-selesai 2-3 tahun kemaren, dan beberapa rencana yang belum terlaksana. Kalau saya lihat2 sekarang, kali2 aja otak saya udah lebih banyak isinya dibanding tahun2 kemaren, meskipun naskah saya sama sekali gak ada hubungannya dengan menggoreng ayam dan mengganti popok sebagai keahlian baru saya ;p
Selamaaaat malaaam, met istirahat semuaaaa :)
Thursday, 22 November 2012
Tuesday, 20 November 2012
Ego oooh Ego
Assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi yang mendung dan sariawan (hehe harusnya berawan ya:). Maklum saya lagi terganggu sariawan selama dua hari kemaren, jadi sekalian deh ^.^
Anyway, saya pengen bahas soal si ego nih. Ego sebenarnya asal kata dari egosentris. yang menurut kamus bahasa Indonesia yaitu menjadikan diri sendiri sbg titik pusat pemikiran (perbuatan); berpusat pd diri sendiri (menilai segalanya dr sudut diri sendiri). Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/ego/mirip#ixzz2Cj5LC1zG
Nah kalau kata sifat dari egosentris ini (belajar bahasa Indonesia dikit ya), biasa disebut egois. Jadi kalau lihat dua sejoli pacaran, sambil teriak "Kamu egois, gak mau mikirin perasaan aku!" Hehe itu artinya, salah seorang bersikap mementingkan diri sendiri. Kalau suamii istri sih sepertinya malu ngomong2 gitu, langsung aja ngacir (hehe bukan kisah pribadi loh, ya dikit2 deh).
Kembali ke ego, nah sesuai dengan tema blog saya (tumben nyambung), yaitu ibu bekerja yang kemudian jadi full time mother alias ibu2 yg di rumah, masalah ego ini bisa jadi sangat menjadi masalah (apaaa sssiiiih). Alias kalau tidak bisa ditekan atau disalurkan dengan baik dan benar, bisa menyebabkan susah tidur, depresi dll (menurut saya yg bukan ilmuwan dan tanpa penelitian loooh).
Kenapa bisa begitu? Ini nih penting dibaca untuk para suami (termasuk suami saya ^.^). Para wanita alias ibu yg sebelumnya bekerja kemudian menjadi ibu rumah tangga, memiliki ego pribadi yang lebih tinggi. Pasalnya, kami terbiasa memiliki identitas sebagai seseorang secara pribadi, memiliki penghasilan sendiri dan yg jelas waktu untuk diri sendiri (kalo kerja di kantor gak mungkin bawa2 anak kan hehe) dll.
Nah, ketika jd ibu rumah tangga, yg biasa dihadapi adalah diri pribadi menjadi kurang dihargai. aaah masa sih? di lingkungan rumah, maka ibu akan dipanggil dengan nama suami, di sekolah anak2, dipanggil berdasarkan nama anak2nya. Hal yg mungkin terlihat sepele, namun jg sangat krusial. Kemerdekaan finansial dan jalan2 juga berubah. Mau belanja atau jalan2, inget itu uang suami atau inget anak2 gak ada yg jaga, eh cucian numpuk hehehe
Ssssttt..buat bapak2, saya kasih bocoran ya, kalau sering2 jalan atau dinas luar kota, ini jg yg sering bikin ibu2 bete. Selain gak ada yg nemenin jaga anak, para ibu2 ini jd inget jaman dia kerja dan sering jalan2 ke luar kota/negeri. Hiks :(
Si ego ini yg kemudiian harus bisa ditekan. Ya si ibu harus inget lagi komitmennya saat memutuskan jd ibu RT dan yg pasti kepentingan anak2. Bukan berarti bapak2nya gak bisa partisipasi loh, ajak2 donk istri dan anakk2 libur ke luar kota (curhaat dweh), atau beri ruang dan waktu untuk istri menikmati waktunya sendirian, kasih voucher ke salon atau butik gitu...maunyaa kaan?!
Yang pasti, setiap pilihan disertai dengan konsekuensi. kalau milih jadi ibu RT ya ada konsekuensinya, begitu jg saat memutuskan bekerja. Jadi konsisten aja kali ya. Hehe udah dulu deh tulisan saya yang penuh dgn curhat di pagi hari yg mendung ini. Maap kalau ada salah2 kata, namanya juga manusia biasa. Komentar ataupun saran sangat ditunggu (hiiks abis jarang yg komen sih).... Sampai jumpa...
Anyway, saya pengen bahas soal si ego nih. Ego sebenarnya asal kata dari egosentris. yang menurut kamus bahasa Indonesia yaitu menjadikan diri sendiri sbg titik pusat pemikiran (perbuatan); berpusat pd diri sendiri (menilai segalanya dr sudut diri sendiri). Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/ego/mirip#ixzz2Cj5LC1zG
Nah kalau kata sifat dari egosentris ini (belajar bahasa Indonesia dikit ya), biasa disebut egois. Jadi kalau lihat dua sejoli pacaran, sambil teriak "Kamu egois, gak mau mikirin perasaan aku!" Hehe itu artinya, salah seorang bersikap mementingkan diri sendiri. Kalau suamii istri sih sepertinya malu ngomong2 gitu, langsung aja ngacir (hehe bukan kisah pribadi loh, ya dikit2 deh).
Kembali ke ego, nah sesuai dengan tema blog saya (tumben nyambung), yaitu ibu bekerja yang kemudian jadi full time mother alias ibu2 yg di rumah, masalah ego ini bisa jadi sangat menjadi masalah (apaaa sssiiiih). Alias kalau tidak bisa ditekan atau disalurkan dengan baik dan benar, bisa menyebabkan susah tidur, depresi dll (menurut saya yg bukan ilmuwan dan tanpa penelitian loooh).
Kenapa bisa begitu? Ini nih penting dibaca untuk para suami (termasuk suami saya ^.^). Para wanita alias ibu yg sebelumnya bekerja kemudian menjadi ibu rumah tangga, memiliki ego pribadi yang lebih tinggi. Pasalnya, kami terbiasa memiliki identitas sebagai seseorang secara pribadi, memiliki penghasilan sendiri dan yg jelas waktu untuk diri sendiri (kalo kerja di kantor gak mungkin bawa2 anak kan hehe) dll.
Nah, ketika jd ibu rumah tangga, yg biasa dihadapi adalah diri pribadi menjadi kurang dihargai. aaah masa sih? di lingkungan rumah, maka ibu akan dipanggil dengan nama suami, di sekolah anak2, dipanggil berdasarkan nama anak2nya. Hal yg mungkin terlihat sepele, namun jg sangat krusial. Kemerdekaan finansial dan jalan2 juga berubah. Mau belanja atau jalan2, inget itu uang suami atau inget anak2 gak ada yg jaga, eh cucian numpuk hehehe
Ssssttt..buat bapak2, saya kasih bocoran ya, kalau sering2 jalan atau dinas luar kota, ini jg yg sering bikin ibu2 bete. Selain gak ada yg nemenin jaga anak, para ibu2 ini jd inget jaman dia kerja dan sering jalan2 ke luar kota/negeri. Hiks :(
Si ego ini yg kemudiian harus bisa ditekan. Ya si ibu harus inget lagi komitmennya saat memutuskan jd ibu RT dan yg pasti kepentingan anak2. Bukan berarti bapak2nya gak bisa partisipasi loh, ajak2 donk istri dan anakk2 libur ke luar kota (curhaat dweh), atau beri ruang dan waktu untuk istri menikmati waktunya sendirian, kasih voucher ke salon atau butik gitu...maunyaa kaan?!
Yang pasti, setiap pilihan disertai dengan konsekuensi. kalau milih jadi ibu RT ya ada konsekuensinya, begitu jg saat memutuskan bekerja. Jadi konsisten aja kali ya. Hehe udah dulu deh tulisan saya yang penuh dgn curhat di pagi hari yg mendung ini. Maap kalau ada salah2 kata, namanya juga manusia biasa. Komentar ataupun saran sangat ditunggu (hiiks abis jarang yg komen sih).... Sampai jumpa...
Saturday, 27 October 2012
Posting (gak) penting di Hari Blogger Nasional
Assalamualaikum. Selamat sore di hari Sabtu yang hujan rintik-rintik dan suara teriakan anak2 saya yang sedang main dengan Ayahnya. Apa kabar pemirsa? hehe bukan ikut2an Tukul tapi tiap saya masuk blog, ada tulisan Pemirsa untuk tahu pembaca dari mana aja.
Oh ya, untuk para blogger tgl 27 oktober ini diperingati sebagai Hari Blogger Nasional, selamat yaa :) Semoga semakin rajin menulis dan update, gak males2an dan semoga panjang umur dan bahagia (macam ucapan ultah ya).
Sesorean ini saya habis blogwalking ke blog temen2 terutama yang soal masak memasak (cieeeeee...sok rajin). Ini lantaran saya sering kehabisan ide untuk bawa bekal makan siang anak saya yang di sekolahnya gak punya kantin, dan niatnya sih pengen lebih sehat.
Baca punya baca, ternyata giveaway alias bagi hadiah untuk para pembaca eh pemirsa itu bikin seneng ya. Apalagi kalau topiknya dan masukannya bisa berguna bagi nusa dan bangsa :D Sejak saat ini, saya jadi mikir, bikin giveaway apaan ya? Baiklah sementara saya mikir, mendingan saya ikutan dulu giveaway dan lomba blog yang ada (hihihii alesan pembenar, biar gak disebut pecinta gratisan).
Saya juga jadi pengen melengkapi blog saya dengan foto2 aah, biar keyeen kaya blog orang gituuu. Mohon doa dan dukungannya yaa :)
Oh ya, untuk para blogger tgl 27 oktober ini diperingati sebagai Hari Blogger Nasional, selamat yaa :) Semoga semakin rajin menulis dan update, gak males2an dan semoga panjang umur dan bahagia (macam ucapan ultah ya).
Sesorean ini saya habis blogwalking ke blog temen2 terutama yang soal masak memasak (cieeeeee...sok rajin). Ini lantaran saya sering kehabisan ide untuk bawa bekal makan siang anak saya yang di sekolahnya gak punya kantin, dan niatnya sih pengen lebih sehat.
Baca punya baca, ternyata giveaway alias bagi hadiah untuk para pembaca eh pemirsa itu bikin seneng ya. Apalagi kalau topiknya dan masukannya bisa berguna bagi nusa dan bangsa :D Sejak saat ini, saya jadi mikir, bikin giveaway apaan ya? Baiklah sementara saya mikir, mendingan saya ikutan dulu giveaway dan lomba blog yang ada (hihihii alesan pembenar, biar gak disebut pecinta gratisan).
Saya juga jadi pengen melengkapi blog saya dengan foto2 aah, biar keyeen kaya blog orang gituuu. Mohon doa dan dukungannya yaa :)
Tuesday, 23 October 2012
Kenapa sih Ortu Harus Peduli Sistem Pendidikan?
Assalamualaikum. Selamat siang. Apa kabar teman-teman semua? Semoga baik, sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Siang ini saya ingin mengajak teman-teman, terutama yang sudah jadi orangtua, mengenai sistem pendidikan untuk anak2nya.
Saya sendiri baru bener2 ngeh soal sulitnya mencari sekolah dengan sistem pendidikan ideal untuk anak saya, Aylaa. Pada waktu TK, saya tidak terlalu ribet, asalkan tidak terlalu memaksa belajar berlebihan dan anak saya senang berangkat ke sekolah, sudah cukup.
Lain halnya ketika Aylaa sudah lulus TK dan hendak masuk SD. Pusing tujuh keliling. Terutama, soal umurnya yang baru akan menginjak 5 tahun 8 bulan saat tahun ajaran baru. Jangankan sekolah negeri, sekolah swasta saja banyak yang nolak :( Jadilah saya putar otak.
Ingat punya ingat. Saya pernah mewawancarai seorang Psikolog yang mendirikan sekolah berdasarkan idealismenya yaitu sekolah inklusif. Apa sih sekolah inklusif? Gampangnya, inklusif itu lawan kata dari eksklusif. Kalau eksklusif itu terbatas untuk sebagian orang maka, inklusif itu ya sebaliknya, diperuntukkan untuk semua orang. Meskipun pada prakteknya, memang gak untuk semua orang banget sih.
Penjajakan saya untuk memasukkan anak saya sekolah ke sana juga tidaklah sebentar. Tes untuk anak saya juga sekitar 3 kali untuk uji kematangan psikologi dan lain2.
Nyatanya, saya merasa sangat sreg dengan sistem pendidikan inklusif yang diberlakukan tersebut. Memang didalam kelas anak saya bersama dengan teman2nya yang berkebutuhan khusus (ABK). Tapi, hal tersebut justru dapat menguntungkan anak2 dari kedua belah pihak. Anak2 normal dapat terasah empatinya dan anak2 berkebutuhan khusus dapat terpacu untuk menjadi lebih baik sebagaimana teman2nya yang normal.
Aahh kalau saya ceritakan, bakalan paanjaaaang dan lamaaaa (hehe kaya iklan ya). Kebetulan sekolah tersebut yaitu SDIT Lentera Insan sudah membuat buku mengenai sistem pendidikan inklusifnya. Ada juga resensinya di link berikut http://plazabuku.wordpress.com/2012/10/22/pendidikan-yang-membebaskan/
Yang tertarik, silakan cekidot. Untuk yang tertarik beli buku atau mencari tahu tentang sekolah ataupun sistem pendidikannya bisa langsung ke link berikut http://www.lenterainsan.com/
Terimakasih sudah mampir dan baca yaa :)
Saya sendiri baru bener2 ngeh soal sulitnya mencari sekolah dengan sistem pendidikan ideal untuk anak saya, Aylaa. Pada waktu TK, saya tidak terlalu ribet, asalkan tidak terlalu memaksa belajar berlebihan dan anak saya senang berangkat ke sekolah, sudah cukup.
Lain halnya ketika Aylaa sudah lulus TK dan hendak masuk SD. Pusing tujuh keliling. Terutama, soal umurnya yang baru akan menginjak 5 tahun 8 bulan saat tahun ajaran baru. Jangankan sekolah negeri, sekolah swasta saja banyak yang nolak :( Jadilah saya putar otak.
Ingat punya ingat. Saya pernah mewawancarai seorang Psikolog yang mendirikan sekolah berdasarkan idealismenya yaitu sekolah inklusif. Apa sih sekolah inklusif? Gampangnya, inklusif itu lawan kata dari eksklusif. Kalau eksklusif itu terbatas untuk sebagian orang maka, inklusif itu ya sebaliknya, diperuntukkan untuk semua orang. Meskipun pada prakteknya, memang gak untuk semua orang banget sih.
Penjajakan saya untuk memasukkan anak saya sekolah ke sana juga tidaklah sebentar. Tes untuk anak saya juga sekitar 3 kali untuk uji kematangan psikologi dan lain2.
Nyatanya, saya merasa sangat sreg dengan sistem pendidikan inklusif yang diberlakukan tersebut. Memang didalam kelas anak saya bersama dengan teman2nya yang berkebutuhan khusus (ABK). Tapi, hal tersebut justru dapat menguntungkan anak2 dari kedua belah pihak. Anak2 normal dapat terasah empatinya dan anak2 berkebutuhan khusus dapat terpacu untuk menjadi lebih baik sebagaimana teman2nya yang normal.
Aahh kalau saya ceritakan, bakalan paanjaaaang dan lamaaaa (hehe kaya iklan ya). Kebetulan sekolah tersebut yaitu SDIT Lentera Insan sudah membuat buku mengenai sistem pendidikan inklusifnya. Ada juga resensinya di link berikut http://plazabuku.wordpress.com/2012/10/22/pendidikan-yang-membebaskan/
Yang tertarik, silakan cekidot. Untuk yang tertarik beli buku atau mencari tahu tentang sekolah ataupun sistem pendidikannya bisa langsung ke link berikut http://www.lenterainsan.com/
Terimakasih sudah mampir dan baca yaa :)
Label:
ABK,
anak,
berkebutuhan,
fitriani,
inklusif,
Insan,
khusus,
Lentera,
mencari,
pendidikan,
SD,
sekolah
Thursday, 4 October 2012
Proses Pembelajaran Itu Bernama Mengajar
Hai apa kabar semua? Semoga sehat dan baik-baik saja. Syukur alhamdulillah saya dan keluarga juga begitu. Oh ya, sejak bulan September kemarin saya dipercaya sebagai instruktur Klub Menulis di salah satu sekolah di Depok. Tepatnya, di SDIT Lentera Insan.
Kok bisa sih? Kebetulan saya kenal dengan pendiri sekolah tersebut karena pernah saya wawancarai sewaktu masih menjadi wartawan di harian Seputar Indonesia. Kemudian, anak saya juga baru masuk di SD tersebut, jadi hubungan silaturahimnya lumayan dekat.
Judul saya diatas memang benar-benar apa yang saya rasakan. Setiap kali akan mengajar, menyiapkan materi dan berada di kelas dengan para siswa klub menulis, saya merasakan saya juga belajar. Saya belajar lagi mengenai berbagai penulisan, saya belajar memahami masing-masing siswa dan saya juga belajar tentang diri saya sendiri sebagai seseorang yang suka menulis.
Menulis bagi saya layaknya mencurahkan apa yang ada dalam otak sekaligus dari dalam hati. Seperti yang selalu saya ingatkan kepada para siswa di klub menulis saya, tulisan yang baik adalah yang berasal dari hati.
Menulis bagaikan mengambil intisari dari berbagai pemikiran yang sliweran di otak, menyaringnya dengan rasa yang dimiliki oleh hati untuk dikomunikasikan oleh jemari menjadi kata-kata yang dapat dipahami. Sungguh, menulis sebenarnya merupakan sebuah proses yang tidak sederhana namun tidak sulit. Sebagaimana moto saya dan anak-anak klub menulis tiap kali memulai dan mengakhiri pertemuan di kelas, "Menulis itu mudah dan menyenangkan". Ya, hal itu yang ingin saya tanamkan kepada anak-anak.
Anak saya sendiri, Rachma Aylaa Santoso saat ini masih duduk di kelas 1. Berdasarkan tes kecerdasan yang dilakukan di sekolah berdasar pada beberapa jenis kecerdasan, hasilnya kecerdasan tertingginya yaitu cerdas bahasa, diikuti cerdas gerak dan cerdas matematika dan ruang. Padahal saya sebagaimana ibu2 yang lain, hanya membantunya belajar membaca dan menulis, gak terlalu istimewa. Ibu2 yang lain bilang, "Dasar anak wartawan, ya anaknya juga gak jauh2. Buah memang jatuh gak jauh dari pohon". Hehe mungkin sejak dari perut, Aylaa sering denger ibunya wawancara dan nemenin ibu nulis berita kali yaa :)
Anyway, saya jadi teringat kedua kakek saya. Keduanya adalah guru. Mungkin juga ada bakat jadi guru dalam diri saya. Yang pasti adalah saya merasakan setiap kali mengajar sebagai proses pembelajaran untuk saya, waktu berlalu tanpa terasa saat sedang bersama anak-anak di klub menulis. Itu tandanya saya sangat menikmati waktu tersebut bukan? Hehe semacam kalau kita sedang bersama orang yang kita sayangi gitu.
Wah sudah tengah malam nih, seperti halnya mengajar, menulis seringkali membuat saya lupa waktu, termasuk saat ini. Selamat malam.
Kok bisa sih? Kebetulan saya kenal dengan pendiri sekolah tersebut karena pernah saya wawancarai sewaktu masih menjadi wartawan di harian Seputar Indonesia. Kemudian, anak saya juga baru masuk di SD tersebut, jadi hubungan silaturahimnya lumayan dekat.
Judul saya diatas memang benar-benar apa yang saya rasakan. Setiap kali akan mengajar, menyiapkan materi dan berada di kelas dengan para siswa klub menulis, saya merasakan saya juga belajar. Saya belajar lagi mengenai berbagai penulisan, saya belajar memahami masing-masing siswa dan saya juga belajar tentang diri saya sendiri sebagai seseorang yang suka menulis.
Menulis bagi saya layaknya mencurahkan apa yang ada dalam otak sekaligus dari dalam hati. Seperti yang selalu saya ingatkan kepada para siswa di klub menulis saya, tulisan yang baik adalah yang berasal dari hati.
Menulis bagaikan mengambil intisari dari berbagai pemikiran yang sliweran di otak, menyaringnya dengan rasa yang dimiliki oleh hati untuk dikomunikasikan oleh jemari menjadi kata-kata yang dapat dipahami. Sungguh, menulis sebenarnya merupakan sebuah proses yang tidak sederhana namun tidak sulit. Sebagaimana moto saya dan anak-anak klub menulis tiap kali memulai dan mengakhiri pertemuan di kelas, "Menulis itu mudah dan menyenangkan". Ya, hal itu yang ingin saya tanamkan kepada anak-anak.
Anak saya sendiri, Rachma Aylaa Santoso saat ini masih duduk di kelas 1. Berdasarkan tes kecerdasan yang dilakukan di sekolah berdasar pada beberapa jenis kecerdasan, hasilnya kecerdasan tertingginya yaitu cerdas bahasa, diikuti cerdas gerak dan cerdas matematika dan ruang. Padahal saya sebagaimana ibu2 yang lain, hanya membantunya belajar membaca dan menulis, gak terlalu istimewa. Ibu2 yang lain bilang, "Dasar anak wartawan, ya anaknya juga gak jauh2. Buah memang jatuh gak jauh dari pohon". Hehe mungkin sejak dari perut, Aylaa sering denger ibunya wawancara dan nemenin ibu nulis berita kali yaa :)
Anyway, saya jadi teringat kedua kakek saya. Keduanya adalah guru. Mungkin juga ada bakat jadi guru dalam diri saya. Yang pasti adalah saya merasakan setiap kali mengajar sebagai proses pembelajaran untuk saya, waktu berlalu tanpa terasa saat sedang bersama anak-anak di klub menulis. Itu tandanya saya sangat menikmati waktu tersebut bukan? Hehe semacam kalau kita sedang bersama orang yang kita sayangi gitu.
Wah sudah tengah malam nih, seperti halnya mengajar, menulis seringkali membuat saya lupa waktu, termasuk saat ini. Selamat malam.
Saturday, 15 September 2012
Kekuatan Alam Bawah Sadar
Assalamualaikum..hehehe judul saya kesannya agak mistis dan lebih serem lagi kayanya ya? Eitss, jangan khawatir, tulisan saya gak akan jauh dari kehidupan sehari-hari dan gak akan juga mistis donk aah :)
Jadi, pertanyaannya kemudian apa maksud dari judul itu? Hihi sabaarr..maksud saya menulis itu, saya baru menyadari bahwa ada kesadaran lain yang juga berpengaruh dalam hidup kita, selain perilaku dan tindakan yang kita lakukan secara sadar.
Ah masa sih? Memang sih saya belum banyak mencaritahu lagi tentang hal ini, tapi saya sendiri merasakannya. Menjabarkan contohnya memang agak sulit nih, tapi saya coba menyederhanakannya deh. Begini, saya pernah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak mengambil pekerjaan kantoran ataupun yang terlalu banyak menyita waktu hingga anak saya yang ke-2, Sandya menginjak usia 1 tahun.
Beberapa kali kesempatan yang datang, akhirnya seringkali mental, mungkin dari pihak sana yang kurang cocok dengan saya ataupun sebaliknya. Tapi, yang terakhir kali yang baru saya sadari yaitu sekitar 2-3 hari yang lalu, saya mendapatkan wawancara via telpon. Entah karena saya juga baru terbangun dari tidur dan ingin segera berangkat menjemput kakak Aylaa dari sekolah, saya merasa saya secara tidak sadar "menolak" tawaran tersebut.
Padahal, jujur saja, sering kali terbetik niat untuk kembali bekerja di luar rumah, untuk mengekspresikan dan mengasah kemampuan sekaligus membantu memperlancar arus cash flow di rumah ;) Tapiiii, kembali ke alam bawah sadar itu tadi, mungkin saya masih terpaku pada janji saya dan belum benar2 siap.
Jadi, saat ini yang saya lakukan adalah mencantumkan availability saya untuk kembali bekerja sekitar bulan November 2012 yaitu ketika Sandya sudah menginjak usia 1 tahun. Semoga pada saat itu semua bisa berjalan dengan baik. Insya Allah diberikan jalan yang terbaik. Aamiin.
Jadi, jika ada teman-teman yang merasa karir macet, jodoh tak kunjung datang ataupun rejeki yang tak sebesar diharapkan, bisa bertanya pada diri sendiri, kiranya apakah ada "penghalang" dari diri Anda sendiri??
Jadi, pertanyaannya kemudian apa maksud dari judul itu? Hihi sabaarr..maksud saya menulis itu, saya baru menyadari bahwa ada kesadaran lain yang juga berpengaruh dalam hidup kita, selain perilaku dan tindakan yang kita lakukan secara sadar.
Ah masa sih? Memang sih saya belum banyak mencaritahu lagi tentang hal ini, tapi saya sendiri merasakannya. Menjabarkan contohnya memang agak sulit nih, tapi saya coba menyederhanakannya deh. Begini, saya pernah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak mengambil pekerjaan kantoran ataupun yang terlalu banyak menyita waktu hingga anak saya yang ke-2, Sandya menginjak usia 1 tahun.
Beberapa kali kesempatan yang datang, akhirnya seringkali mental, mungkin dari pihak sana yang kurang cocok dengan saya ataupun sebaliknya. Tapi, yang terakhir kali yang baru saya sadari yaitu sekitar 2-3 hari yang lalu, saya mendapatkan wawancara via telpon. Entah karena saya juga baru terbangun dari tidur dan ingin segera berangkat menjemput kakak Aylaa dari sekolah, saya merasa saya secara tidak sadar "menolak" tawaran tersebut.
Padahal, jujur saja, sering kali terbetik niat untuk kembali bekerja di luar rumah, untuk mengekspresikan dan mengasah kemampuan sekaligus membantu memperlancar arus cash flow di rumah ;) Tapiiii, kembali ke alam bawah sadar itu tadi, mungkin saya masih terpaku pada janji saya dan belum benar2 siap.
Jadi, saat ini yang saya lakukan adalah mencantumkan availability saya untuk kembali bekerja sekitar bulan November 2012 yaitu ketika Sandya sudah menginjak usia 1 tahun. Semoga pada saat itu semua bisa berjalan dengan baik. Insya Allah diberikan jalan yang terbaik. Aamiin.
Jadi, jika ada teman-teman yang merasa karir macet, jodoh tak kunjung datang ataupun rejeki yang tak sebesar diharapkan, bisa bertanya pada diri sendiri, kiranya apakah ada "penghalang" dari diri Anda sendiri??
Label:
alam,
bawah,
kantor,
karir,
kekuatan,
kesempatan,
menolak,
pekerjaan,
sadar,
tawaran,
wawancara
Thursday, 13 September 2012
Trauma..Jauh-jauh sana!
Halooooo... akhirnya bisa dapet suasana tenang, saat anak-anak tidur dan mood menulis tiba! hehe sudah berbulan-bulan sejak terakhir menulis disini.
Apa kabar semuanya? Semoga baik-baik saja yaa. Alhamdulillah juga baik, hanya sedikit batuk-batuk, doakan semoga cepat sembuh donk. Aamiin.
Judul saya memang agak "serem". Trauma. Sebenernya apa sih trauma itu? Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi akibat peristiwa yang dialami seseorang. Para Psikolog menyatakan trauma dalam istilah psikologi berarti suatu benturan atau suatu kejadian yang dialami seseorang dan meninggalkan bekas. Biasanya bersifat negative, dalam istilah psikologit disebut post-traumatic syndrome disorder.
Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2031323-pengertian-trauma/#ixzz26L6ZB5Py
Tapi apa sih urusannya sama kehidupan kita sehari-hari? Kesannya kan gak mungkin lah orang yg hhidupnya normal mengalami hal seperti ini. Sama sekali gak benar! Saya sendiri merasakan dua hal traumatis yang membekas, entah seberapa dalam.
Pertama adalah rasa trauma saya terhadap pengkhianatan. Bukan terhadap pasangan loh,tapi rekan kerja di kantor saya terdahulu. Bukan rasa sakit hati yang saya sesali, tetapi betapa hal itu sangat membekas di pikiran saya.
Yang kedua adalah trauma akibat kelainan bawaan jantung anak saya yang kedua. Hehehe membuat saya deg2an kalau "tamu" bulanan terlambat. Rasanya hamil dan melahirkan lagi masih jauh dari rencana saya selanjutnya.
Intinya, trauma adalah hal yang wajar dan manusiawi, semua orang mungkin akan mengalami. Yang penting adalah cara kita menghadapinya. Bagi saya, berdoa serta dukungan suami, orangtua, keluarga dan orang-orang terdekat adalah yang terbaik.
Tapi, bagi Anda yang merasa orang-orang terdekat tidak dapat membantu, jangan sungkan untuk meminta bantuan profesional. Jangan merasa menjadi orang ajaib atau aneh. Kalau dibiarkan berlarut-larut trauma bisa merugikan loh. Misalnya, ada orang yang trauma saat tersedak makan nasi, trus gak mau makan nasi lagi, repot kan?
Pokoknya, jangan anggap remeh trauma dan juga jangan takut mengakui dan mencari bantuan kalau merasa perlu. Jangan biarkan si trauma mengganggu kualitas hidup kita, setuju??
Apa kabar semuanya? Semoga baik-baik saja yaa. Alhamdulillah juga baik, hanya sedikit batuk-batuk, doakan semoga cepat sembuh donk. Aamiin.
Judul saya memang agak "serem". Trauma. Sebenernya apa sih trauma itu? Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi akibat peristiwa yang dialami seseorang. Para Psikolog menyatakan trauma dalam istilah psikologi berarti suatu benturan atau suatu kejadian yang dialami seseorang dan meninggalkan bekas. Biasanya bersifat negative, dalam istilah psikologit disebut post-traumatic syndrome disorder.
Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2031323-pengertian-trauma/#ixzz26L6ZB5Py
Tapi apa sih urusannya sama kehidupan kita sehari-hari? Kesannya kan gak mungkin lah orang yg hhidupnya normal mengalami hal seperti ini. Sama sekali gak benar! Saya sendiri merasakan dua hal traumatis yang membekas, entah seberapa dalam.
Pertama adalah rasa trauma saya terhadap pengkhianatan. Bukan terhadap pasangan loh,tapi rekan kerja di kantor saya terdahulu. Bukan rasa sakit hati yang saya sesali, tetapi betapa hal itu sangat membekas di pikiran saya.
Yang kedua adalah trauma akibat kelainan bawaan jantung anak saya yang kedua. Hehehe membuat saya deg2an kalau "tamu" bulanan terlambat. Rasanya hamil dan melahirkan lagi masih jauh dari rencana saya selanjutnya.
Intinya, trauma adalah hal yang wajar dan manusiawi, semua orang mungkin akan mengalami. Yang penting adalah cara kita menghadapinya. Bagi saya, berdoa serta dukungan suami, orangtua, keluarga dan orang-orang terdekat adalah yang terbaik.
Tapi, bagi Anda yang merasa orang-orang terdekat tidak dapat membantu, jangan sungkan untuk meminta bantuan profesional. Jangan merasa menjadi orang ajaib atau aneh. Kalau dibiarkan berlarut-larut trauma bisa merugikan loh. Misalnya, ada orang yang trauma saat tersedak makan nasi, trus gak mau makan nasi lagi, repot kan?
Pokoknya, jangan anggap remeh trauma dan juga jangan takut mengakui dan mencari bantuan kalau merasa perlu. Jangan biarkan si trauma mengganggu kualitas hidup kita, setuju??
Subscribe to:
Posts (Atom)