| Komputer, kertas-kertas dan Arjuna di meja kerja saya (dok.pribadi) |
Gak terasa sudah hampir dua bulan saya kembali menjadi ibu bekerja alias working mom, setelah hampir 4 tahun menjadi stay at home mom dan bekerja secara freelance. Rempong, ribet, penuh masa adaptasi hingga saat ini.
Mulai dari masalah antar jemput kakak ke sekolah, siapa yang ngawasin belajar dan bikin PR di rumah, juga adek yang sekarang makin aktif dan bikin repot pengasuhnya di rumah, termasuk badan saya yang mulai sering masuk angin hahahaha :D
Sejak awal, saya sadar sesadar-sadarnya bahwa tempat kerja terdiri dari beragam jenis orang dan pengalaman. Untuk membuatnya menjadi nyaman, tak dapat sepenuhnya bergantung dari orang sekeliling. You just have to find it in your self.
Kalimat dari suami saya mungkin sangat tepat, "Buat apa sih dipikirin, kerja ya kerja aja. Susah amat ya jadi cewek, semua pake perasaan".
Awalnya sih saya juga bete dengernya. Ya, namanya juga kodrat, emang perasaan bisa ditinggal di rumah apa pas kita berangkat kerja?
Tapi, setelah dipikir2 lagi, perkataan suami saya ya ada benernya juga. Mungkin itu juga yang membuat dia bisa bertahan tanpa pernah pindah kerja selama ini.
Jadi gimana donk? Seperti dunia nyata pada umumnya, maka dalam dunia kerja akan selalu ada the good and bad guys. Jika ada yang sangat baik menerima kita, maka ada juga yang sebaliknya. Kalau ada pekerjaan yang mudah, dijamin ada yang perlu perjuangan menyelesaikannya. Instead of complaining, either take it or leave it.
Kalau saat ini, saya sudah berkomitmen maka menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya, maka itu adalah tujuan utama saya bekerja saat ini.
Seorang senior saya di dunia wartawan pernah berkata, kurang lebih seperti ini : "Perusahaan atau media tempat kamu bernaung mungkin akan berubah, tapi kerjakan yang terbaik saat kamu menulis, karena kamu membawa namamu dalam tulisan itu,".
Meskipun ini adalah pengalaman spesifik saya sebagai seorang wartawan, namun tetap saja maknanya dapat diambil untuk seluruh pekerjaan.
Mungkin teman-teman bukan wartawan, penulis ataupun blogger yang namanya tersemat dalam sebuah karya tulisan, namun hasil kerja melalui usaha yang terbaik dan mengetahuinya bermanfaat bagi lingkungan sekitar, luar biasa nikmat melebihi imbalan materi yang kita peroleh.
Jadi untuk menjawab judul diatas, maka bagi saya adalah bekerja dari hati. Kenapa bukan dengan hati? Sebab saya memilih untuk bekerja lebih sebagai wadah saya berekspresi, mengerjakan segala sesuatu dari "dalam". Sementara untuk hal selain pekerjaan, sebagaimana saran suami saya, "jangan diambil hati".
Semoga gak bingung bacanya yak :D Makasih yang udah mampir :)



