Pages

Showing posts with label anak-anak. Show all posts
Showing posts with label anak-anak. Show all posts

Wednesday, 2 April 2014

Bekerja Dari atau Dengan Hati?

Komputer, kertas-kertas dan Arjuna di meja kerja saya (dok.pribadi)
Selamat siaaang!! Sebentar lagi waktu makan siang nih. Hmmm mom yang di rumah, sudah masak apa hari ini? Yang lagi ngantor, hehe sedang merancang mau maksi kemana hari ini ya, lumayan deh masih tanggal muda ^_^

Gak terasa sudah hampir dua bulan saya kembali menjadi ibu bekerja alias working mom, setelah hampir 4 tahun menjadi stay at home mom dan bekerja secara freelance. Rempong, ribet, penuh masa adaptasi hingga saat ini.

Mulai dari masalah antar jemput kakak ke sekolah, siapa yang ngawasin belajar dan bikin PR di rumah, juga adek yang sekarang makin aktif dan bikin repot pengasuhnya di rumah, termasuk badan saya yang mulai sering masuk angin hahahaha :D

Sejak awal, saya sadar sesadar-sadarnya bahwa tempat kerja terdiri dari beragam jenis orang dan pengalaman. Untuk membuatnya menjadi nyaman, tak dapat sepenuhnya bergantung dari orang sekeliling. You just have to find it in your self.

Kalimat dari suami saya mungkin sangat tepat, "Buat apa sih dipikirin, kerja ya kerja aja. Susah amat ya jadi cewek, semua pake perasaan".

Awalnya sih saya juga bete dengernya. Ya, namanya juga kodrat, emang perasaan bisa ditinggal di rumah apa pas kita berangkat kerja?

Tapi, setelah dipikir2 lagi, perkataan suami saya ya ada benernya juga. Mungkin itu juga yang membuat dia bisa bertahan tanpa pernah pindah kerja selama ini.

Jadi gimana donk? Seperti dunia nyata pada umumnya, maka dalam dunia kerja akan selalu ada the good and bad guys. Jika ada yang sangat baik menerima kita, maka ada juga yang sebaliknya. Kalau ada pekerjaan yang mudah, dijamin ada yang perlu perjuangan menyelesaikannya. Instead of complaining, either take it or leave it.

Kalau saat ini, saya sudah berkomitmen maka menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya, maka itu adalah tujuan utama saya bekerja saat ini.

Seorang senior saya di dunia wartawan pernah berkata, kurang lebih seperti ini : "Perusahaan atau media tempat kamu bernaung mungkin akan berubah, tapi kerjakan yang terbaik saat kamu menulis, karena kamu membawa namamu dalam tulisan itu,".

Meskipun ini adalah pengalaman spesifik saya sebagai seorang wartawan, namun tetap saja maknanya dapat diambil untuk seluruh pekerjaan.

Mungkin teman-teman bukan wartawan, penulis ataupun blogger yang namanya tersemat dalam sebuah karya tulisan, namun hasil kerja melalui usaha yang terbaik dan mengetahuinya bermanfaat bagi lingkungan sekitar, luar biasa nikmat melebihi imbalan materi yang kita peroleh.

Jadi untuk menjawab judul diatas, maka bagi saya adalah bekerja dari hati. Kenapa bukan dengan hati? Sebab saya memilih untuk bekerja lebih sebagai wadah saya berekspresi, mengerjakan segala sesuatu dari "dalam". Sementara untuk hal selain pekerjaan, sebagaimana saran suami saya, "jangan diambil hati".

Semoga gak bingung bacanya yak :D Makasih yang udah mampir :)






Monday, 23 December 2013

Ibu, Panggilan yang Kutunggu

Ibu dan Aylaa, masih manja biarpun sudah gede (dok.pribadi)

Anakku Aylaa,
Butuh sekitar satu tahun sejak kelahiranmu untuk mendengarmu memanggil Ibu
Tak terhitung berapa malam kurang tidur
Tak terhitung berapa cucian popok kotor
Tak terhitung tangan ini menampung muntah dari mulut mungilmu
Belum lagi beberapa malam di kamar rumah sakit
Saat usiamu tujuh bulan karena terkena demam berdarah
Tak terhitung lagi butir air mata yang jatuh
Kadang menetes, tak jarang keluar dengan deras
Kadang saat Ibu sendiri, juga ketika saat bersama Ayah atau Nenek dan Kakek

Ibu kadang menyesali tak terlalu ngotot saat Aylaa tidak mau lagi menyusu
Menyerah karena memang sulit menyusui diantara selang oksigen saat itu

Alhamdulillah dirimu kuat, nak
Tumbuh jadi anak yang pintar dan cantik
Dengan kulit yang halus dan putih, sebagaimana Ayah
Mata bulat dan bulu mata lentik
Alis mata sudah terbentuk indah.
Ibu baru tahu arti dari istilah alis bagaikan semut beriring dari situ
Hingga suatu hari Aylaa menyebut "Obi"
Semua orang bingung, apa artinya
Ternyata itu adalah panggilanmu terhadap Ibu
Hingga usiamu 7 tahun saat ini, Ibu masih mengingat panggilan pertamamu

Sandya, jagoan Ibu (dok.pribadi)

Anakku Sandya,
Mungkin Allah sedang menguji Ibu atau menganggap Ibu sudah lebih kuat
Sebab, perjuangan Ibu untuk mendengar celotehmu ternyata lebih berat lagi nak
Baru satu malam, Ibu memeluk dan menyusuimu
Malam kedua, Sandya harus bermalam di ruang perawatan khusus tanpa ditemani Ibu
Malam ketiga, tubuh kecilmu harus melalui tindakan medis yang membuatmu menjerit-jerit tengah malam
Lagi, tanpa Ibu disisimu
Hanya Ayah dan Kakek yang ada disana
Karena Ibu tidak akan sanggup mendengarnya

Hingga kemudian Sandya pulang ke rumah, Ibu bisa menggendongmu lagi sayang
Ragu dan kaku sekali Ibu saat itu
Amanah terbesar bagi Ibu akhirnya ada didekapan
Namun, itu hanya sementara
Tepat usia satu bulan, Ibu harus merelakan dirimu menjalani tindakan medis yang lebih besar lagi
Tak terhitung lagi air mata yang mengalir siang dan malam
Hari-hari tanpa tidur, hanya sekedar beristirahat memejamkan mata pun terkadang tak sempat
Karena Ibu bertekad tidak lagi menyerah untuk memberikan susu Ibu
Tetes demi tetes ASI Ibu kumpulkan agar Sandya semakin kuat
Kita sama-sama berjuang ya, sayang. 
Kalimat itu yang Ibu ulang-ulang dalam pikiran saat Ibu merasa lelah.
Ibu harus yakin. Harus.

Alhamdulillah Sandya diperbolehkan pulang ke rumah
Tak terkira rasa bahagia Ibu, Ayah dan semua keluarga saat itu
Terutama Ibu.
Rasanya melebihi berbagai kemenangan yang pernah Ibu alami
Melampaui berbagai rasa senang yang mungkin ditawarkan cincin berlian puluhan karat
Hingga kemudian usia 1,5 tahun akhirnya panggilan Ibu keluar dari mulut mungil Sandya
Rasanya mungkin melebihi dapat hadiah mobil mewah

Perjuangan setiap Ibu berbeda
Namun, Ibu yakin tak ada yang ringan
Kadang memang terasa lelah
Saat mendengar rengek dan tangis
Harus berjuang dengan emosi dan air mata
Semua terbayar ketika melihat binar dari bola mata kalian berdua

Kepada seluruh Ibu di dunia
Yang dipanggil dengan sebutan Mama, Umi, Bunda, Emak, Mimi dan lain-lain
Yakinlah itu sebagai sebentuk harta tak ternilai
Tak semua wanita dianugerahi amanah tersebut
Nikmati betapa polosnya canda tawa mereka
Mereka tak hanya sekedar berharap limpahan materi
Melainkan peluk cium dan dekapan penuh kasih

Selamat Hari Ibu.
Untuk para Ibu, yang akan selalu mencintai Ibu dan yang senantiasa mendoakan Ibu.


 
Love is all about you two, my babies (dok.pribadi)





Tuesday, 26 November 2013

Masa Kecil Tak Akan Terulang, Jadikan Semua Patut Dikenang

Aylaa, Sandya dan saudara-saudara sepupunya dengan masing2 kepribadian yg unik (dok.pribadi)
Selamat jelang siang. Hari Selasa ini mendung sejak pagi. Meski mendung tak berarti hujan, seperti lagu lama itu, tapi kok ya mendung itu suka bikin hati sendu dan perut lapar hehehe ^_^

Oh ya, siapa yang suka nonton film detektif? Apalagi di televisi berlangganan sekarang, wuiiih film2 detektif keren2. Mulai dari CSI, Law and Order, Criminal Minds dan lain-lain.

Tapi, kenapa saya bahas film detektif ini, terkait dengan artikel yang saya baca pagi ini yang di-share temen saya di Facebook yaitu "Psikolog: Koruptor Biasanya Memiliki Masa Lalu yang Buruk" yang dimuat di Tribunnews.com

Trus, itu apa hubungannya juga film detektif sama koruptor riin? Hahaha tenang, sabar, kontrol emosi. Kalo baca tautan yang saya share tadi pasti ngerti deh. Ini nih saya kutip, beberapa alinea awal.

"Perilaku saat dewasa sangat dipengaruhi masa kecilnya. Pola asuh anak-anak di masa keemasannya sangat memengaruhi seperti apa kelak dia terbentuk.

Psikolog anak dan keluarga, Tika Bisono mengatakan, orangtua yang baik saat ini dulunya pasti  sukses masa lalunya baik. Sebaliknya, mereka yang terbiasa melakukan kejahatan seperti melakukan korupsi masa lalunya jelek.

"Biasanya koruptor memiliki  masa lalu kehidupan buruk.  Saat berusia  3-6 tahun, mereka  gagal dalam fisik psikososial."
 

Nah, udah agak jelas belom? Hehehe jadi berasa teka-teki. Gini loh maksudnya, saya sering banget kalo nonton film detektif, terutama Criminal Minds, yang suka agak2 nyeremin itu, menemukan bahwa pembunuh atau pemerkosa ataupun penjahat kelas kakap yang seakan-akan tak bermoral tanpa belas kasih itu berasal dari keluarga yang berantakan.

Jujur aja, saya itu sering ganti-ganti channel kalo nonton filmnya. Sebab, kadang gak tega, tapi kok ya penasaran. Yang paling saya inget adalah kisah mengenai seorang penjahat yang membunuh sepasang orangtua dan meninggalkan anak2nya hidup2. Beberapa puluh tahun kemudian, dia kembali meneror adik kakak tersebut dan berhasil membunuh sang kakak yang padahal sudah menjadi polisi. Penjahat itu lantas menculik adik perempuan dan anak dari sang kakak yang sudah dibunuh tadi. Akhirnya tim dari Criminal Minds bisa menyelamatkan mereka. Tamat.

Tapi, yang paling membuat saya mengingat film itu adalah sosok penjahatnya. Bisa dibilang ia adalah seorang penyendiri. Lahir dari seorang ibu yang suka mabuk-mabukan, berganti-ganti pasangan dan contoh buruk lainnya. Ia mencari makna hidup sendirian, belajar bertahan dengan keras. Hingga akhirnya ia menemukan keluarga bahagia yang diintainya berhari-hari dan seakan tak rela dengan kebahagiaan orang lain, kemudian merenggut nyawa kedua orangtua tersebut agar anak-anak itu merasakan penderitaannya. Syereem banget yak!

Saya sampai berdoa dalam hati bahwa tidak ada anak-anak yang mengalami pengalaman masa kecil sebagaimana sosok penjahat itu. Saya pribadi sebagaimana ibu-ibu di seluruh dunia lainnya, berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tapi, apakah sudah cukup?

Alhamdulillah jika sebagian besar dari kita masih terhindar dari pengaruh minuman keras yang memabukkan, tapi bagaimana dengan candu kita terhadap hal lain seperti pekerjaan atau gadget? Sudahkah anak mendapatkan perhatian sebagaimana yang dibutuhkannya ataupun sekedar memiliki porsi waktu yang sama dengan pekerjaan yang selalu menyedot fokus kita ataupun gadget yang rela kita pelototi berjam2 lantaran tidak mau rugi karena sudah kita keluarkan uang besar untuk membelinya?

Sudahkah kita menjawab seluruh rasa penasarannya terhadap kehidupan dengan lemah lembut dan kasih sayang, ataukah kata-kata kasar seakan-akan anak mengganggu seluruh aktivitas kita dan menganggap sudah seharusnya dia tahu sendiri?

Saya pribadi menjadi semakin berkaca dengan pola asuh yang selama ini saya jalankan. Sudah cukupkah agar membentuk anak-anak saya menjadi pribadi utuh dengan segala kecakapan akademik, sosial dan emosional? Kelak, mampukah mereka membedakan mana yang benar dan yang salah? Memilih menolak harta yang diperoleh dengan mudah hasil korupsi dan mau bersusah payah mengumpulkan harta halal? Rasanya, masih banyak PR dan perbaikan yang perlu saya lakukan.

Saya juga merasa tak berkompeten memberikan kalimat-kalimat penuh nasihat dan kata-kata berbunga lain mengenai parenting atau pengasuhan, sebab saya juga masih sangat perlu belajar. Tak jarang saya, sebaimana orangtua lain, melakukan kesalahan. Sebab, tak ada buku panduan khusus yang diberikan ketika seorang anak lahir. Dan setiap anak membutuhkan perlakuan yang tidak sama, karena keunikan pribadi mereka masing-masing.

Semoga anak-anak kita kelak menjadi pribadi-pribadi terbaik yang tidak hanya beriman kepada Tuhan YME dan berbakti kepada orangtua dan menyanyangi keluarga, namun juga kelembutan hati dan kepekaan sosial terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya. Aamiin.

Oh ya, satu lagi referensi bacaan yang sangat bagus dari Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono yang berjudul "Moral Manusia Indonesia" yang dimuat di Koran Sindo. Sangat bermanfaat dibaca, jika ada waktu luang.  Terimakasih sudah mampir disini ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...