Pages

Wednesday, 9 April 2014

Antara Sindrom Takut Kaya, Pemilu dan Caleg

Bela2in foto di depan TPS padahal panas bgt (dok.pribadi)
Hahaha judul apa pula itu sih, Rin? Ini memang salah satu pemikiran absurd yang saya punya selama ini yang sempat maju mundur saya nulisnya. Tapi akhirnya saya barengi dengan Pemilu dan Caleg, supaya agak nyambung dengan coblos-coblosan hari ini ^_^

Gini loh, saya sendiri gak pernah merasa atau bermimpi untuk kaya beneran. Dalam artian tabungan bermiliar2, mobil mewah berentet di garasi dan bisa pulang pergi luar negeri seenaknya dengan budget belanja sesuka hati.

Kenapa? Karena sebagaimana kesulitan, kemudahan berupa materi yang berlebihan, menurut saya, sangat mungkin menghadirkan "permasalahan baru" dan mengubah kepribadian seseorang.

Apa ada yang masih ingat sindrom OKB alias orang kaya baru? Nah biasanya sebutan itu terutama ditujukan untuk orang-orang yang baru merasakan limpahan materi yang sebelumnya tidak mereka miliki.

Dari yang tadinya biasa aja makan di warteg, tiba-tiba gengsi dan maunya makan di restoran kuliner asal negara Barat. Kalau biasanya beli tas produk lokal dan sudah seneng saat ke Tajur, tahu-tahu pengennya beli tas bermerk internasional ke Singapura, bahkan ke Paris. Apalagi mobil, duuh tinggal pilih ke showroom, males banget deh lihat apalagi ngurusin kendaraan umum.

Nah, sejujurnya saya merupakan salah seorang yang merasa takut menjadi kalangan itu. Saya merasa materi tanpa batas itu sangat mungkin menjerumuskan seseorang pada hal-hal, kejadian dan situasi yang sepertinya menyenangkan, padahal tidak demikian adanya.

Masih ingat mengapa narkoba banyak mengarah pada para selebritas ataupun kalangan petinggi negara ataupun pengusaha, juga anak-anak mereka? Tak lain adalah karena mereka kalangan berada yang dari segi materi sangat memungkinkan. Memang sih, bukan itu satu-satunya penyebab, tapi menjadi hal yang menentukan.

Saya teringat salah satu perkataan dari asisten di rumah saya yang sudah saya anggap sebagai orang tua sendiri karena sudah lebih dari 30 tahun mengurus saya, betapa ia sangat kecewa dengan beberapa orang yang dikenalnya yang sikapnya berubah saat materi mereka sudah bertambah.

Ada tetangga yang tadinya suka menyapa dan bercakap-cakap dengannya, kemudian setelah membeli mobil keluaran terbaru dan merombak rumah menjadi bertingkat, lalu tak mau lagi berbincang dengannya. Menyapa saja tidak.


"Nanti kalau sudah kaya, gak boleh seperti itu. Harta itu kan titipan dari Allah," demikian pesannya pada saya.

Nah, berkaitan dengan Pemilu saat ini, saya pernah mendengar suami saya berkata bahwa saat ini sebagian para caleg tersebut mencalonkan diri, tak ubahnya seseorang yang melamar pekerjaan. Yang dipikirkan jika berhasil menjadi anggota legislatif, bukan berusaha memperjuangkan aspirasi ataupun perubahan yang lebih baik yang, tapi lebih kepada materi, gaji, fasilitas dan lain-lain yang akan diperoleh. Yang saya harap pemikiran itu salah. Aamin..aamiin..aamiin.

Miris saya lagi ketika membaca berita mengenai sebuah rumah sakit jiwa yang menyediakan kamar khusus untuk para caleg yang gagal dan kecewa. Jika memang aspirasi dan perubahan yang lebih baik menjadi tujuan mereka mencalonkan diri, mengapa sampai bisa seperti itu? Bukankah masih banyak cara lain untuk berperan di masyarakat?

Saya melihat salah seorang Capres yang kini masih menjabat sebagai Gubernur yang kondang di masyarakat, salah satu faktor mengapa ia dicintai adalah karena kesederhaannya. Ia mampu berbaur dan mendengarkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat kelas bawah, tanpa segan ia turun ke kampung-kampung, membeli tas untuk istrinya di pasar yang harganya sekitar 100 ribu. Jika lawan politiknya berkata itu sebagai pencitraan, maka saya yakin rakyat saat ini sudah lebih pandai menilai mana yang pencitraan dan yang bukan.

Saya pribadi, sebagaimana sebagian besar rakyat Indonesia, merasa kesulitan saat berada di TPS. Sebagian besar nama tidak dikenal, apalagi kontribusi dan hasil kerja yang mereka sudah tunjukkan sebelum menjadi caleg. Kalaupun ada nama yang dikenal, sebagian hanya melalui layar kaca ataupun media lain, tanpa interaksi langsung. Jadi masih salahkah blusukan ke tengah-tengah masyarakat?

Namun, saya sungguh sangat bersyukur bahwa Pemilu kali ini bisa berjalan lancar tanpa ada kerusuhan ataupun keributan seperti yang dikhawatirkan.

Yang saya dan rakyat Indonesia kini harapkan adalah para anggota legislatif yang terpilih sadar bahwa kini mereka mengemban amanat yang tidak ringan yang akan dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Saya pribadi juga mengharapkan mereka sedikit memiliki sindrom takut kaya, agar tetap mawas diri dan tidak terbuai harta benda. Amin ya rabbal alamin.




 





Monday, 7 April 2014

Menipiskah Empati pada Generasi Muda?

Kakak Aylaa bantu adik Sandya belajar menggambar (dok.pribadi)
Horeee..bisa ngeblog lagiii :) :)

Apa kabar semuanyaaa? Semoga dalam keadaan baik, sehat dan senang ya. Ini saya memanfaatkan jeda deadline di kantor, nunggu rapat budgeting untuk edisi mendatang. Jadi bisa update blog dulu deh sebentar.

Jadi, ceritanya pada suatu malam, saya pulang kerja dari kawasan utama perkantoran di Jakarta. Meskipun udah hampir jam 8 malem, itu namanya belantara macet yang dipenuhi mobil dan motor sungguh luar biasa banyaknya.

Sampai di Jl. Sudirman pas sebelum Plaza Semanggi, kemacetan semakin menggila. Akhirnya suami saya membelokkan motor ke kiri, yaitu jalan agak memutar tapi diharapkan lebih lancar yang tembusnya pas di samping Plaza Semanggi.

Ternyata yang berpikir sama dengan suami saya itu luar biasa banyak hehehe..jadi ya tetep aja ketemu macet :D Nah diantara kemacetan itu saya menemukan sesuatu yang bikin hati saya bertanya-tanya lebih lanjut.

Di sebuah belokan tanpa pembatas, yang namanya motor ke arah Semanggi itu penuh banget, jadi jalur kendaraan dari arah sebaliknya itu hampir ketutup.

Lalu ada sebuah mobil sedan keluaran baru yang dikemudikan oleh seorang perempuan, mungkin usianya 20-an awal, yang saya perkirakan seorang mahasiswa.

Mobilnya bergerak dari arah berlawanan dengan saya, yang hampir tertutup oleh motor-motor yang tidak sabaran untuk terus maju ke depan. Tapi, mobil yang dikemudikan perempuan muda itu juga tidak mengalah, terus merangsak maju. Hingga kemudian mobil itu sangat mepet ke motor dan pinggiran mobilnya mengenai kaki seorang bapak yang mengendarai motor, pas di depan saya.

Tidak terima, si bapak mengetok kaca mobil itu. Si perempuan membuka kaca, sambil berkata "loh ini kan jalan saya". Si bapak tampak berusaha mengendalikan diri untuk tidak terus marah-marah. Kemudian, suami saya berusaha menengahi, dengan berkata "Jalan pak, jalan".

Saya sendiri saat itu sadar bahwa kesalahan tidak hanya pada si perempuan muda, memang si bapak bermotor itu juga harusnya sadar bahwa jalan sempit itu tidak cukup. Tapi, jujur saja saya cukup terkejut dengan perilaku perempuan muda itu.

Kalau saja, saya adalah ibunya dan berada tepat disampingnya, maka ia akan merasakan cubitan di pahanya dengan omelan panjang pendek. Untuk saya, tak peduli apapun kondisinya, sepantasnya perempuan muda itu meminta maaf. Memang tidak ada yang bermaksud sengaja, tapi untuk saya seperti itu idealnya.

Saya kok merasa perempuan muda itu sangat sedikit memiliki empati, tak berpikirkah dia kalau si bapak bermotor itu sudah seharian bekerja dan ingin cepat2 pulang ke rumah karena lelah dan ingin beristirahat di rumah dengan keluarganya?

Sementara, mungkin bagi perempuan muda itu, ekstra 10-15 menit di jalan tidak akan terasa karena ia berada di mobil yang ber-AC lengkap dengan musik favoritnya. Ataukah mungkin anak perempuan itu tak pernah merasakan panasnya Jakarta didalam bus ataupun diatas motor?

Benarkah sudah semakin menipis rasa hormat terhadap yang lebih tua, hanya karena kita tidak mengenal orang tersebut ataupun simply tidak peduli, sehingga keinginan untuk saling mendahului dan egois, lebih mendominasi.

Untuk saya, hal semacam ini bukan sesuatu yang remeh. Sejujurnya, kejadian semacam ini lebih saya pikirkan, karena justru jauh lebih penting dibanding nilai raport ataupun prestasi lainnya.

Sebab, saya pribadi berpikir, sikap dan karakter adalah buah dari pendidikan yang sesungguhnya. Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, adalah salah satu yang saya tekankan.

Ah semoga saja perempuan muda itu tidak mewakili sebagian besar sikap generasi mendatang, dan sikapnya akan berubah seiring dengan bertambah usianya. Amin ya rabbal alamin.

"Jika anda ingin anak anda tetap menjejakkan kaki mereka di tanah, berikan tanggung jawab di pundak mereka," - Abigail Van Buren.



Friday, 4 April 2014

Perbedaan yang Menyenangkan

My new best friend, Mbak D tercintaaah ^^ (dok.pribadi)
Halooo teman-teman semuaaa..semoga dalam keadaan sehat dan bahagia yaa :)

Salah satu hal menyenangkan yang saya sukai ketika memasuki lingkungan baru adalah kesempatan mengenal pribadi-pribadi baru. Sebagaimana warna hitam dan putih, ataupun abu-abu, tentu saja saya menemukan itu di tempat baru, sebagaimana saya temukan di lingkungan lain.

Tapi, ada seseorang yang sangat istimewa untuk saya temui di lingkungan baru ini. Seseorang yang tentu saja akan sangat mempengaruhi kinerja saya, karena kami bekerjasama dalam mengisi redaksional tempat kami bernaung.

Sekilas, kami tak memiliki banyak persamaan. Usianya beberapa tahun diatas saya, berlatar bekerja tanpa pernah pindah di sebuah media mapan ternama di Indonesia, masih single, atletis karena suka olahraga (ini beda bgt kayanya sama sayah ^^), beragama nasrani, suku jawa (bukan bermaksud SARA loh yaah).

Tapi, saat kami mulai ngobrol, anehnya kami bagaikan teman lama yang baru bertemu. Ternyata dibalik perbedaan-perbedaan diatas, kami menemukan bahwa dalam banyak hal kami memiliki persamaan.

Saya dan mbak D, panggilan saya untuknya, sama2 lama meliput kesehatan dan lifestyle. Jadi lingkup pertemanan ataupun bahasan yang kami tulis tak jauh berbeda.  Meski ritme beda, saya biasa kerja di harian dan website, tapi mbak D juga biasa kerja cepat karena majalahnya mingguan dengan deadline lumayan ketat. Jadilah kami seakan2 bagaikan duo pekerja cepat di tempat baru yang memiliki ritme bulanan.

Persamaan lainnya, kami sama2 dibesarkan di tanah sunda. Apalagi saya dibesarkan oleh seorang pengasuh berdarah sunda yang selalu meninabobokan dengan beragam lagu sunda dan juga sering diajak bicara dengan bahasa ibunya tersebut. Membuat saya selalu merasa dekat dengan budaya sunda.

Mbak D, ternyata selama 10 tahun pertama dalam hidupnya, besar di tanah sunda juga. Meski kini tidak lagi mampu berbicara bahasa tersebut, namun ia masih sangat mengerti jika ada yang berbicara. Sempat ia bercerita mengalami dibicarakan oleh pegawai salon dalam bahasa sunda, karena disangka tidak akan memahami bahasa tersebut. Idiiih..males bgt kan.

Pembicaraan kami sehari-hari mulai dari keluarga, travelling hingga tema atau tempat liputan dan lain sebagainya. Yang menarik adalah ketika kami mulai berbicara soal keyakinan. Percayalah, tidak ada baku hantam ataupun saling merasa benar antara kami saat membicarakan itu. Untuk kami,berdua, berlaku prinsip "Bagimu agamamu, bagiku agamaku". Justru pembicaraan kami seringkali memperkuat keyakinan kami masing-masing.

Pernah suatu kali mbak D bercerita mengenai seorang kerabat yang kecelakaan saat naik motor, diyakini oleh seseorang kenalannya itu merupakan ulah dari "makhluk alam lain". Dari cerita itu, mengingatkan saya untuk selalu membaca "Bismillahirrahmanirrahiim" saat akan pergi ataupun naik kendaraan.

Satu lagi cerita mbak D, yang pernah kena semacam guna-guna atau "gendam" dari seseorang yang pura-pura minta dicarikan alamat. Dia mengaku sudah curiga sejak awal dan berdoa, "Ya Tuhan, lindungilah aku,". Tampaknya remeh, namun itu sangatlah ampuh. Disaat temannya tak dapat membaca kertas yang ditunjukkan sebagai sarana guna-guna, mbak D masih bisa membacanya dengan jelas dan berhasil menjauh dari para penipu itu. Dari cerita itu saya jadi tak meragukan lagi keyakinan seseorang sangat berpengaruh, apapun agama yang dianutnya.

Itu sebabnya, tak salah jika saya mengatakan kami sebagai perbedaan yang menyenangkan.

Oh ya, ada satu percakapan kami yang tampaknya menunjukkan perbedaan.

Saya : "Mbak, lo aja yang liputan ***** ya.

Mbak D: Kenapa Rin?

Saya : Kalo bisa milih, mending liputan selain fesyen, mbak'e. Hehe risih kalo liputan disana, wartawannya pada modis.

Mbak D: Loh bukannya udah biasa liputan lifestyle?

Saya : Hehe angkat tangan deh buat fesyen itu.

Mbak D: Loh aku malah pengen mengubah stereotipe wartawan itu kumuh, gak tahu aturan dan sebagainya dengan berdandan rapih.

Saya : Hehe rapih kan beda sama modis mbak :D *tetep nyengir sungkan disuruh dandan modis buat liputan*

Mbak D: Hadeuuuh nih anak *tepok jidat*

Heheheh maapkaan mbak D, ngaku deh, saya ini gak pernah mimpi disebut ataupun berangan2 disebut modis sama orang. Baju apapun yang saya pakai alasannya adalah karena hal itu membuat saya nyaman, tak bermaksud mengundang komentar dari siapa pun.

Ditambah, saya adalah anak wartawan harian yang berawal dari liputan ekonomi, bisnis kemudian beralih ke kesehatan, lifestyle dan sebagainya. Jadi saya biasa berpakaian rapi, bukannya modis. Memakai berbagai aksesoris, selain jam tangan, itu rasanya bukan Ririn bangeeeet. Jilbab yang saya gunakan juga tidak pernah gayanya ikut2an dengan orang lain, I have to find my own style. Hehe saya paling males kalo ikutan "mainstream". Lah wong, saya udah pake jilbab sejak jilbab2 modis itu ada kok.

Nah, kembali ke soal wartawan modis, saya sih salut sama mereka. Bisa liputan dengan tetap bergaya gitu loh. Mbak D juga suka pake dress selutut dipadu dengan stoking hitam, wuuuiiih kereeen!

Tapi, ya itu. Kalo buat saya sih, liputan itu gak perlu lah modis. Rapi dan bersih, rasanya sudah cukup. Karena untuk saya, penampilan itu bukan satu-satunya barometer menilai seseorang. Masih banyak hal yang lebih esensial dari itu.

Maaf ya mbak D kalo kita berbeda juga untuk soal yang satu ini. Tapi, yakin deh, perbedaan kita adalah sesuatu yang menyenangkan :) :)

PS: Oh ya, satu persamaan saya dan mbak D yang menjembatani perbedaan kami adalah sama2 suka jajan :D mulai dari jajan pinggir jalan sampe ke mal yang full AC. Pokoknya saya dan mbak D bareng itu artinya jalan2 (bisa bareng liputan) dan juga jajan2 ^^





Wednesday, 2 April 2014

Bekerja Dari atau Dengan Hati?

Komputer, kertas-kertas dan Arjuna di meja kerja saya (dok.pribadi)
Selamat siaaang!! Sebentar lagi waktu makan siang nih. Hmmm mom yang di rumah, sudah masak apa hari ini? Yang lagi ngantor, hehe sedang merancang mau maksi kemana hari ini ya, lumayan deh masih tanggal muda ^_^

Gak terasa sudah hampir dua bulan saya kembali menjadi ibu bekerja alias working mom, setelah hampir 4 tahun menjadi stay at home mom dan bekerja secara freelance. Rempong, ribet, penuh masa adaptasi hingga saat ini.

Mulai dari masalah antar jemput kakak ke sekolah, siapa yang ngawasin belajar dan bikin PR di rumah, juga adek yang sekarang makin aktif dan bikin repot pengasuhnya di rumah, termasuk badan saya yang mulai sering masuk angin hahahaha :D

Sejak awal, saya sadar sesadar-sadarnya bahwa tempat kerja terdiri dari beragam jenis orang dan pengalaman. Untuk membuatnya menjadi nyaman, tak dapat sepenuhnya bergantung dari orang sekeliling. You just have to find it in your self.

Kalimat dari suami saya mungkin sangat tepat, "Buat apa sih dipikirin, kerja ya kerja aja. Susah amat ya jadi cewek, semua pake perasaan".

Awalnya sih saya juga bete dengernya. Ya, namanya juga kodrat, emang perasaan bisa ditinggal di rumah apa pas kita berangkat kerja?

Tapi, setelah dipikir2 lagi, perkataan suami saya ya ada benernya juga. Mungkin itu juga yang membuat dia bisa bertahan tanpa pernah pindah kerja selama ini.

Jadi gimana donk? Seperti dunia nyata pada umumnya, maka dalam dunia kerja akan selalu ada the good and bad guys. Jika ada yang sangat baik menerima kita, maka ada juga yang sebaliknya. Kalau ada pekerjaan yang mudah, dijamin ada yang perlu perjuangan menyelesaikannya. Instead of complaining, either take it or leave it.

Kalau saat ini, saya sudah berkomitmen maka menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya, maka itu adalah tujuan utama saya bekerja saat ini.

Seorang senior saya di dunia wartawan pernah berkata, kurang lebih seperti ini : "Perusahaan atau media tempat kamu bernaung mungkin akan berubah, tapi kerjakan yang terbaik saat kamu menulis, karena kamu membawa namamu dalam tulisan itu,".

Meskipun ini adalah pengalaman spesifik saya sebagai seorang wartawan, namun tetap saja maknanya dapat diambil untuk seluruh pekerjaan.

Mungkin teman-teman bukan wartawan, penulis ataupun blogger yang namanya tersemat dalam sebuah karya tulisan, namun hasil kerja melalui usaha yang terbaik dan mengetahuinya bermanfaat bagi lingkungan sekitar, luar biasa nikmat melebihi imbalan materi yang kita peroleh.

Jadi untuk menjawab judul diatas, maka bagi saya adalah bekerja dari hati. Kenapa bukan dengan hati? Sebab saya memilih untuk bekerja lebih sebagai wadah saya berekspresi, mengerjakan segala sesuatu dari "dalam". Sementara untuk hal selain pekerjaan, sebagaimana saran suami saya, "jangan diambil hati".

Semoga gak bingung bacanya yak :D Makasih yang udah mampir :)






Wednesday, 26 March 2014

Haruskah Self Publishing?

Buku-buku serius ini kebetulan jadi objek foto saya yang galau.
Percayalah ini bukan buku bacaan saya sebenarnya :D (dok.pribadi)
Assalamualaikum...halo-haloo teman-teman semuanya! Semoga kabarnya sehat dan baik-baik semua ya. Aamiin.

Baru-baru ini saya mendapat kabar bahwa naskah saya ditolak. Sedih? pastinya lah. Putus asa? No way! Trus apa masalahnya?

Sebenernya saya sih santai-santai aja sama naskah itu, tapi kok ya setiap hari buka facebook kok semakin banyak saya menemukan "calon-calon pembaca" yang sekiranya mendapat manfaat dari naskah saya itu. Walaupun saya bukan penulis buku kawakan, saya meyakini tulisan saya setidaknya dapat menginspirasi para calon pembaca tersebut.

Sebagai gambaran, naskah saya itu tak jauh bercerita tentang jungkir balik saya dari seorang working mother yang bertransformasi menjadi stay at home mom. Tentu saja, tidak benar-benar plek sama dengan isi blog, karena juga harus menyesuaikan dengan bahasa buku dan tentunya saya banyak tambahkan berbagai hal yang sekiranya memperkaya naskah.

Alasan dari penerbit yang menolak naskah saya adalah sebagai berikut:

"Naskah ini kurang informatif untuk diterbitkan sebagai buku nonfiksi, padahal temanya menarik."

Yang kemudian menggelitik saya adalah haruskah saya menerbitkannya menjadi buku self publishing dengan berbagai keterbatasan yang saya miliki? Ataukah saya harus mengirimkannya kembali ke penerbit lain yang sekiranya membutuhkan beberapa bulan lagi? Padahal saya gemas untuk segera bisa berbagi dengan sesama perempuan mengenai pengalaman saya dalam naskah.

Sejujurnya, keinginan menerbitkan naskah ini tak melulu saya pikirkan dari segi materi. Namun lebih kepada keinginan saya untuk berbagi.

Jadi, bagaimana keputusannya? Hehehe mungkin bukan rumput yang bergoyang yang tahu jawabannya, tapi sepertinya saya masih harus menunggu kata hati ini lebih lanjut.

Selamat santap siang dan meneruskan aktivitas, terimakasih sudah mampir ^_^

Friday, 21 March 2014

Tiga Kunci Menyikapi Kakak yang Kecewa

kakak Aylaa dan adek Sandya (dok.pribadi)

Selamat siaang semuaaa!!!

Ah setelah menyelesaikan tulisan deadline hampir setengahnya di tempat saya kerja, dapet juga waktu untuk nulis di blog tercinta ini. Lah kan nulis nulis juga, apa bedanya sih? Hehe jelas beda lah. Kalo ini kan blog pribadi, berbeda dengan media tempat saya bekerja.

Nah, saya sekarang mau cerita tentang kakak Aylaa yang tiba-tiba ngambek gak mau sekolah, pas malem2 saya pulang kantor. Haduuuwww..apalagi ini? Udah capek2 menghadapi macetnya belantara jalanan Jakarta, sampe rumah, disuguhin kakak yang cemberut.

Sebenernya sih, ngambeknya pas dia nunjukin nilai latihan ujian matematikanya yang jelek. Sumpah, saya juga kaget. Memang beberapa minggu ini kan saya kembali kerja, jadi sulit membantu kakak belajar ataupun mengerjakan PR.

Sebenernya sebelumnya juga pernah saat soal-soal yang baru dikerjakan. Setelah saya jelaskan dan tunjukkan dengan perlahan-lahan, besok2nya nilainya sudah bagus lagi.

Sehingga, kemarin saya berkesimpulan, terjadi lagi hal yang sama. Pengenalan soal latihan baru, sehingga kakak Aylaa belum terlalu mengerti. Dan soalnyaa, yaaa ampuuuuun, pilihan ganda sekitar 20 soal dengan soal beberapa soal esai yang cukup susah untuk anak kelas 2 SD.

Tapi, berhubung saya ribet jagain adek Sandya yang mondar mandir sana sini, dan bersih-bersih setelah pulang kantor. Capek-capek gitu, mana pula kapasitas otak saya yang memang kemampuan matematikanya standar, bisa sok-sok ngajarin kakak. Akhirnya, suami saya turun tangan. Jadilah kakak Aylaa kursus singkat sama Ayahnya, sementara Sandya nempel sama saya.

Setelah itu, waktunya tidur. Aylaa mulai rewel, cari alasan supaya besok gak masuk sekolah. Mulai saya putar otak sebisa saya yang sejujurnya capek banget malam itu :'(

Pahami, Peluk, Cintai.

Entah disebut insting keibuan ataupun apa, tapi malam itu saya kemudian berusaha menempatkan diri saya pada posisi anak saya.

Lantaran nilainya yang jelek itu, ia merasa mengecewakan saya dan ayahnya. Kecewa terhadap diri sendiri. Dua hal yang cukup berat buat anak saya yang cukup sensitif. Meskipun sudah hampir 8 tahun, kakak Aylaa dari sisi emosionalnya jauh lebih sensitif dibanding adiknya, mungkin juga karena dia perempuan.

Ditambah dengan tantangan berupa ujian besok hari. Saya berusaha memahami bahwa yang sebenarnya tidak kuat adalah tekanan emosionalnya, dibandingkan tantangan matematika itu sendiri. Takut kecewa lagi. Takut gagal lagi.

Setelah berusaha memahami, saya putuskan untuk memeluknya seerat mungkin. Sambil mengatakan, saya dan Ayahnya tidak kecewa lantara nilai jeleknya saat itu. Bahwa kami yakin, setelah ia belajar lebih lanjut, ia akan lebih mampu mengerjakan soal dengan lebih baik.

Saya juga memeluknya sambil berkata saya bangga dengan pencapaiannya saat ini. Termasuk, nilai bahasa Inggrisnya yang hampir selalu 100, kemampuannya bernyanyi bahasa Jepang bermodalkan mendengar dari internet, juga kemampuannya menari di sekolah serta minatnya membaca buku hampir setiap hari.

Bahwa, satu nilai jelek yang diperolehnya hari itu tak akan mempengaruhi rasa sayang dan bangga kami padanya. Akhirnya, tangisnya berhenti.

Sampai akhirnya ia minta saya menceritakan dongeng sebelum tidur, dan saya pun mengarang cerita, Kambing yang Suka Mengeong. Hehehe dongeng spontan pun saya ceritakan, lengkap dengan moral cerita pada akhirannya, yang sempat membuat Ayahnya geleng2 kepala dan tepok jidat :D Sesudah itu, kakak benar-benar bisa tidur nyenyak.

Keesokan paginya, seperti biasa saya sudah sibuk menyiapkan sarapan dengan makan siang yang akan dibawa kakak ke sekolah. Ayahnya yang membantu dia mempersiapkan peralatan sekolah dan lain-lain.

Saya pun sempat bertanya, "Yah, Aylaa masih ngambek gak?"

Ayahnya pun menjawab, "Gak tuh. Ayah udah pancing-pancing soal yang bikin dia ngambek tadi malam. Tapi, dia jawab gak masalah tuh ujian matematika hari ini".

Nah loh, padahal tadi malam sudah ngambek, hampir putus asa dan maksa pengen gak masuk sekolah. Tiba-tiba, semua seperti tertelan bumi, terganti dengan rasa optimis dan senang ke sekolah. Kebetulan saya juga ikut mengantar ke sekolah, karena saya berangkat ke kantor bareng Ayahnya pagi ini.

Jadi, apakah ini berarti tiga kunci yang saya terapkan kepada kakak berhasil? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Maksudnya, bisa jadi besok2 yang akan saya hadapi dari kakak Aylaa akan memerlukan kunci ke 5, 6, dst.

Ah, sepertinya masih banyak yang harus dipelajari oleh saya dan suami agar menjadi orangtua yang baik.











Tuesday, 11 March 2014

Kembali Berubah!


Saya bersama Ultraman saat liputan di salah satu acara Japan Foundation. Berubah! (dok pribadi)
"Hidup adalah rangkaian perubahan".

Duh udah satu bulan lebih gak update blog nih *tiup2 debu*. Apa kabar semuaaaa? semoga baik-baik dan sehat-sehat yaa.

Sebagaimana tulisan saya sebelumnya Hidup = Rangkaian perubahan dan jangan pernah percaya kalo ada yang mengeluh bahwa hidupnya begitu-begitu saja. Perubahan itu tentu ada donk, mulai dari aktivitas, menu makanan, hal yang harus dihadapi, dan lain-lain.

Hanya saja, perubahan-perubahan kecil itu seringkali tidak disadari, sehingga seakan-akan yang dijalani sehari-hari ya itu itu aja.

Sejak Februari kemarin, ada perubahan yang cukup besar untuk saya. Jika dulu saya bisa antar jemput kakak Aylaa ke sekolah, pagi saya dihabiskan dengan memandikan, memberi adek Sandya makan dan kemudian bisa leyeh2 bobo siang di rumah, setelah capek nemenin main seharian, maka sekarang tidak bisa lagi.

Setelah hampir 4 tahun menjadi stay at home mom dengan beragam kerja freelance terkait media yang saya jalani, akhirnya garis takdir membawa saya kembali menjalani karir awal saya yaitu jurnalis alias wartawan.

Perlu beberapa waktu untuk saya memutuskan hal ini. Termasuk minggu-minggu pertama yang agak berat, karena kakak dan adek kebetulan sakit dan sulit sekali meringankan langkah ke luar dari rumah untuk ke tempat kerja. Alhamdulillah kakak dan adek sudah sehat sekarang dan beraktivitas seperti semula, meski sempat diwarnai Ibu melow ini yang sempet nangis di bis dan juga malam pas sampe rumah. Hiks.

Tapi, harus saya akui. Ada sisi diri saya yang rasanya kembali hidup ketika saya kembali menjalani profesi jurnalis. Excitement yang hampir tidak berubah, saat saya memulai profesi ini kembali pada tahun 2002 silam.

Argumentasi-argumentasi yang selama ini banyak terdengar antara working mom vs stay at home mom, rasanya semakin ramai bersliweran kembali di otak saya. Harus saya akui, keduanya bukanlah peran yang mudah.

Menjadi stay at home mom, bukan berarti saya bebas stres. Karena ada saat2 saya merasa kurang dapat mengaktualisasikan diri sebagai pribadi. Sebaliknya, saat bekerja saat ini, tidak mudah mendelegasikan tugas-tugas merawat anak-anak pada asisten di rumah. Ataupun, hati saya terasa sedikit perih ketika mendengar keluhan kakak Aylaa yang meminta Ibu kembali kerja di rumah saja.

Ah tapi saya tidak ingin posting ini menjadi ajang saya mengeluh. Saat ini saya harus konsisten dengan keputusan yang sudah saya buat and make the best out of it. Doakan saya yaa!

Jadi apakah blog saya akan berubah nama, karena kini saya kembali bekerja? hehehe gak juga sih. Soalnya saya kan juga masih suka dasteran di rumah ^_^













Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...