Pages

Tuesday, 27 August 2013

Indonesia-Kamboja: Satu Rumpun, Dua Budaya, Satu Hati


Bendera Indonesia dan Kamboja

Hai..haiii hari Selasa ini buat saya berarti hari ke-2 sebagai peserta lomba blog #10daysforASEAN yang diadakan aseanblogger.com Yuuk semangat!

Nah, kalimat pertama yang diberikan panitia untuk tema hari ini adalah pertanyaan "Sudah pernah berwisata ke Candi Borobudur?". Alhamdulillah udah pernah, meskipun cuma satu kali, kalo gak mau ditaro kemana ini muka :D

Perjalanan saya ke Candi Borobudur yang berada di Magelang, Jawa Tengah, waktu saya masih pake rok abu-abu dan masih chubby-chubby imut, alias karya wisata bareng sekolah. Duuh itu udah sekitar belasan tahun yang lalu. Maklum saya itu bukan tipe manusia travelling, kecuali ada tugas negara dan perintah suami untuk jalan-jalan *mauunyaaa*.Yang saya inget candi Borobudur itu luaaas dan tangganya banyaaaaak sekali. Perjuangan banget deh mau mencapai ke atas. Hahaha jaman saya gadis remaja aja udah ngos2an, gimana sekarang ya.

Kabarnya, Candi Borobudur yang merupakan candi Buddha dan Angkor Wat, sebuah kuil Hindu yang berada di kota Siem Reap, kota kecil di bagian utara Kamboja, memiliki kemiripan. Itu bukan kata saya loh ya, lha wong saya belum pernah ke Angkor wat, tapi  menurut penjelasan ahli sejarah.

Candi Borobudur dan Kuil Angkor wat 
(foto-foto: world-visits.blogspot.com dan commons.wikipedia.org)

Kata para ahli lagi, keduanya terpisah jarak waktu pembangunan sekitar tiga abad.Candi Borobudur diperkirakan dibangun sekitar 824 Masehi oleh Raja Mataram, sementara Angkor Wat dibangun oleh Raja Suryavarman sekitar tahun 1112-1152 M.Kalau ditelusuri lagi, kemiripan itu juga agak aneh sebab dilihat dari latar belakang agamanya saja sudah beda ya.

Yang kemudian menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah hal ini  menandakan bahwa negara-negara di ASEAN itu serumpun? Saya sendiri tertarik menjawab pertanyaan ini dengan mempelajari lebih lanjut kemiripan masyarakat Kamboja dan Indonesia dari segi kebudayaan, tak sekedar Borobudur dan Angkor Wat.

Sebenarnya, hubungan politis antara Indonesia dengan Kamboja secara historis juga sangat menarik. Bahkan hubungan ini masih terjalin dengan baik sampai saat ini. Pada gelaran Pemilihan umum (pemilu) di Kamboja pada bulan Juli 2013 lalu, mereka mengundang Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla ke Phnom Penh, sebagai Chairman Centrist Asia Pacific Democrats International (CAPDI) untuk memantau pelaksanaan pemilihan tersebut.

Menurut Wikipedia, jauh sebelum kemerdekaan Kamboja, Negara Kesatuan Republik Indonesia banyak membantu negara ini. Beberapa buku taktik perang yang dibuat oleh perwira militer Indonesia digunakan oleh militer Kamboja. Tak heran, jika pada saat itu, para calon perwira di militer Kamboja diwajibkan belajar dan dapat berbahasa Indonesia.

Namun, saya sendiri bukanlah pengamat politik dan tidak memiliki kapasitas untuk itu. Apalagi Kamboja merupakan salah satu negara dengan perkembangan politik dan konflik yang agak rumit dan menuai beberapa gejolak dalam negeri, yang tak terlalu saya pahami.  Saya lebih tertarik untuk membahas lebih lanjut dari sisi sosial budaya dari negeri Kamboja ini.

Beras Wangi Hingga Delman


Meskipun Indonesia kini mayoritas penduduknya beragama Islam, sementara penduduk Kamboja mayoritas beragama Buddha, namun tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia juga memiliki sejarah agama Buddha serta Hindu pada awal abad Masehi. Sampai akhirnya, agama Islam kemudian dibawa melalui para pedagang yang menyebar ke seluruh nusantara.

Namun, ini bisa jadi menjadi satu poin penting, akar budaya yang sama antar Indonesia dan Kamboja, mengingat agama merupakan hal prinsip dan identitas dari seseorang dan sebuah komunitas. Yang bukan tak mungkin, hal ini yang melatari kemiripan antara Borobudur dan Angkor Wat.

Persamaan berikutnya, Indonesia dan Kamboja juga sama-sama mengedepankan agrikultur, yang masih menjadi andalan utama kehidupan ekonomi masyarakat, terutama untuk masyarakat desa. Ini juga yang membuat nasi, sama-sama menjadi makanan pokok di Indonesia, maupun Kamboja.

Jika di Indonesia kita mengenal beras pandan wangi asal Cianjur atau beras wangi Rajalele maka di Kamboja juga dikenal beras wangi. Selain itu, beras ketan juga menjadi salah satu hidangan yang umum ditemukan di Kamboja, sebagaimana di Indonesia. Di sana, beras ketan biasa dijadikan hidangan penutup atau dimakan bersama durian. Hehehe ini mengingatkan saya akan kebiasaan Papa saya yang berasal dari Sumatera Barat. Beliau biasa makan beras ketan dengan durian, yang kemudian menular kepada anak-anaknya. Nyam..nyaam..mak nyos loh beneran *duren manaaa dureen*

Semakin jauh mencari tahu tentang Kamboja, terutama para penduduknya, seakan-akan sedang melihat saudara-saudara se-tanah air. Lihat saja penggunaan sarung atau biasa disebut sampot di Kamboja, serta kain-kain tenun tradisional asal Kamboja lainnya, yang sekilas hampir mirip dengan tenun asal Indonesia.

Tampak beberapa persamaan antara tari khas asal Kamboja dan tari Bali
(foto-foto: trololoblogg.blogspot.com dan metro-bali.com)

Yang tak kalah menarik adalah persamaan dari kendaraan tradisional Kamboja, Tuk-tuk. Semacam delman di Indonesia, hanya saja Tuk-tuk menggunakan sepeda motor. Sementara itu, di Indonesia sebagian besar masih menggunakan kuda.

Oh ya, kabarnya rakyat Kamboja juga sangat menyukai sepak bola. Tak terlalu banyak berbeda dengan kita di Indonesia, bukan?

Ah membicarakan negara Kamboja membuat saya tergelitik untuk mengunjungi dan menyelami adat dan tradisi masyarakat disana yang tampaknya serupa tapi tak sama dengan Indonesia. Doakan saya semoga bisa segera berkunjung ke Angkor Wat, memakai sampot, naik Tuk-tuk dan tak lupa makan beras ketan dengan duriannya. Ayo siapa yang mau ikut?

















Monday, 26 August 2013

Antara Salon Thailand, Tahun 2015 dan Era Masyarakat Ekonomi ASEAN


Gambar ilustrasi © Lawrence Manning/Corbis

 "Jeng..jeng..pake sabun beras asal Thailand ini loh. Pasti kinclong deh,".

Kira-kira demikianlah ucapan yang sempat beberapa kali mampir di telinga ataupun tawaran yang kurang lebih hampir serupa dengan promosi tersebut di berbagai jejaring sosial. jenisnya pun beragam mulai dari sabun beras, sabun susu, atau ada juga sabun beras susu, serta sabun mutiara. Semuanya berujung pada satu hal, memutihkan kulit.

Terlepas dari sabun tersebut bisa benar-benar memutihkan atau tidak, ada dua fenomena lain yang saya tangkap dari hal tersebut. Apakah itu?

Pertama, orang-orang Indonesia sangat mudah terbius oleh produk impor. Kalau sudah disebut impor, gengsi langsung naik dan serasa jadi orang paling keren kalau memakainya. Kedua, betapa inginnya orang-orang Indonesia berkulit putih. Seakan-akan kulit yang putih menjadi dambaan dan dapat meningkatkan prestise. Padahal memang kulit sawo matang adalah identitas asli bangsa Indonesia.

Kalau saat ini, kita masih bisa tenang-tenang saja menghadapi hal tersebut dan semacamnya, tapi bagaimana dengan tahun 2015 nanti? Ada apakah tahun itu? Sebelum menjawab pertanyaan itu, maka kita harus mulai dari awal.

Ada yang masih ingat apa itu ASEAN? Hehehe ayo buka-buka lagi buku pelajaran anaknya, atau cari deh di Om Google.

aseanblogger.com

ASEAN adalah kepanjangan dari Association of South East Asia Nations. Ketika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, ASEAN disebut juga sebagai Perbara yang merupakan singkatan dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara.

ASEAN didirikan tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok. ASEAN diprakarsai oleh 5 menteri luar negeri dari wilayah Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura. Hingga kemudian negara-negara lain bergabung Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja.

Sebagai bagian dari pembangunan komunitas di ASEAN, ada yang disebut dengan ASEAN Economic Community (AEC) 2015 atau diterjemahkan sebagai Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ada tiga hal penting didalamnya yaitu integrasi perdagangan, pelayanan dan  wilayah investasi. Ketiganya dianggap sama penting dengan masyarakat politik dan keamanan serta masyarakat sosial dan budaya.

Kebebasan Pergerakan SDM


Dari sini kita akan mulai menjawab pertanyaan diatas tadi. Sebenarnya sabun pemutih Thailand itu merupakan salah satu pengandaian saya terhadap ASEAN Economic Community diatas yang akan berlaku tahun 2015. Tapi apa pengaruhnya sih buat kita? Tentu saja ada, bahkan pengaruhnya sangat luar biasa.

 Ilustrasi pribadi

Memasuki tahun 2015, akan ada kebebasan pergerakan Sumber Daya Manusia (SDM) di segala lini ASEAN dan tentu saja pergerakan bebas itu tetap mensyaratkan hal yang harus dipenuhi.  Selain ijazah, ASEAN Community juga menuntut adanya sertifikat kompetensi, yang semuanya berbasis kompetensi termasuk keterampilan (skills).

"Ah tenang aja, mereka yang masuk ke Indonesia kan tetap ada persyaratan. Ngapain sih khawatir?"

Bisa saja itu menjadi tanggapan para SDM di Indonesia. Tapi, yang kemudian harus dipikirkan, bagaimana jika kemudian Pemerintah di negara-negara asal ASEAN lain sudah mampu menggenjot kompetensi para SDM sehingga mereka dengan mudah dapat memperoleh sertifikat kompetensi dan masuk sebagai tenaga kerja di Indonesia?

Bagaimana jika pasar Indonesia yang sangat besar dan potensial ini menjadi "santapan" para SDM dari luar negeri, akan dikemanakan SDM asal Indonesia? Apalagi SDM dengan sertifikat kompetensi masih sangat jarang ditemukan di Indonesia. Jangankan mau bersaing mencari nafkah di luar negeri, bahkan bersaing dengan SDM yang datang lengkap dengan sertifikasi kompetensi pun tak mampu?

Jika hal ini sudah terjadi, maka bisa jadi, semakin banyak pengangguran, penurunan daya beli masyarakat dan pada akhirnya kemerosotan pembangunan. Apakah itu yang kita inginkan?

Salah satu contoh yang bisa terjadi adalah berdirinya salon-salon Thailand yang profesional dan mempunyai sertifikat tingkat Nasional. Mari kita semua meluangkan sedikit waktu untuk berpikir apakah mungkin salon-salon tersebut akan menggeser salon lokal?

Gambar ilustrasi © Achim Sass/Westend61/Corbis

Jika kita berkaca pada sabun pemutih asal Thailand tersebut, rasanya hal tersebut sama sekali tidak mustahil. Ditambah dengan kepercayaan mayoritas masyarakat Indonesia yang sangat menyanjung produk impor, termasuk tenaga kerja "impor". Apakah kita sebagai anak bangsa, rela jika semua lini pekerjaan ditempati oleh para pekerja dari luar negeri, sementara kita tidak memiliki kesempatan di negeri sendiri?

Nanti tak sekedar salon-salon Thailand yang perlu diwaspadai. Ahli kesehatan asal Singapura yang sudah banyak menjadi kepercayaan para kalangan tertentu di Indonesia, akan bebas berpraktik di Indonesia. Mungkin juga pengusaha makanan. Bukan tak mungkin, nanti restoran Padang justru dimiliki dan dikelola oleh tenaga kerja asing.

Bahkan, saat ini pekerja asal Korea sudah merambah ke industri tekstil sebaga sektor andalan di Jawa Barat, meskipun baru terbatas pada tingkat manajer ke atas. Bayangkan pada tahun 2015, jika tenaga kerja bersertifikasi kompetensi sudah bebas. Tak mustahil, sebagian besar pekerja industri tekstil di Jawa Barat bukan lagi dari masyarakat sekitar namun dipenuhi pekerja asing.

Tentu saja ini bukan kerja mudah bagaikan membalikkan telapak tangan, perlu kerjasama antara berbagai lapisan masyarakat dan pemerintah. Tenaga kerja harus meningkatkan kualitas kerja untuk sertifikasi dan Pemerintah juga harus mulai memperhatikan lebih serius.

Masyarakat secara luas juga harus semakin menyadari hal ini, bahwa tahun 2015 akan segera menjelang. Bukan satu dasawarsa atau rencana pembangunan lima tahun, tapi tak lebih dari dua tahun lagi. Apa yang harus dan sudah kita lakukan?

Menulis mengenai Era Masyarakat Ekonomi 2015 merupakan salah satu kontribusi yang bisa saya lakukan. Berharap dapat memperluas pengetahuan masyarakat dan meningkatkan kewaspadaan.

Saat saya menulis ini, saya terpikir, apa lagi yang mampu dilakukan sebagai anak negeri untuk menghadapi hal ini, seberapa siapkah saya? Bagaimana dengan Anda?









Sunday, 25 August 2013

Rela Putar Otak Demi Nikmati "Kopi Instan & Cappuccino Good Day, Kopi Gaul Paling Enak"

 
Gambar diambil dari hidupbanyakrasa.com

"Rin, ngopi yuk," ajak seorang teman. "Gak ah, gak suka ngopi," jawab saya.

Itu adalah sepenggal percakapan antara saya dan teman yang suka mengajak untuk minum kopi. Saat itu sekitar tahun 2002, saya masih menjadi calon reporter di sebuah media cetak. Untuk saya, kopi itu berarti kopi hitam yang sering diminum Papa saya.

Kalau Mama atau Kakak saya tidak di rumah, biasanya saya yang didaulat untuk membuatnya. Dan itu adalah salah satu tugas yang saya merasa tidak mampu. Loh kok bisa? Bagaimana nggak, bikin kopi hitam ala papa saya itu terdiri dari mengambil beberapa sendok teh kopi bubuk kemudian dicampurkan dengan beberapa sendok gula, baru kemudian diseduh air mendidih. *coba  “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak” yang praktis udah ada sejak saya masih pake rok merah putih dulu...mesin waktu manaa mesin waktu ^_^*


Trus kenapa bisa susah? Karena menurut saya, tiap saya buat rasanya beda-beda. Kadang terlalu pahit, kadang terlalu manis.Papa saya sih biasanya gak terlalu banyak protes, walaupun kopi yang saya buat, menurut saya lebih mirip rasa bilasan cucian hahahaha :)

Baiklah, kembali membahas kopi. Rasa kopi hitam milik Papa saya yang pahit, juga membuat saya kurang menyukainya. Konon, para wanita lebih menyukai rasa manis.

Salah satu bukti adalah ketika saya melakukan liputan kuliner ke salah satu restoran yang menyediakan coklat dalam berbagai varian hidangan, hampir 80 persen pengunjungnya adalah wanita. Sebagian besar pria yang datang dalam rangka mengantar sang wanita hehehe. *Satu lagi nilai plus “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak” di mata saya, sebagai penyuka kopi non-hitam dengan berbagai varian yang superrr ueenaaak :D*


Naah jelas kan mengapa saya agak-agak alergi kalau diajak ngopi oleh teman-teman kala itu. Ngopi itu dalam benak saya adalah minum kopi hitam yang rasanya pahit.

Tapiii, ituuu duluuuu. Pada suatu malam, sepulang kerja saya saya menyempatkan diri berbelanja ke sebuah supermarket untuk membeli bahan makanan. Maklum, waktu itu saya masih nge-kost, karena rumah orangtua saya jauh dengan tempat kerja. Setelah roti, beberapa jenis camilan sudah masuk ke keranjang belanjaan, saya melirik rak tempat berbagai jenis minuman seduh seperti teh, kopi dan lain-lain.

 
Dokumen foto pribadi

Mata saya kemudian tertumbu pada kemasan kopi yang sangat menarik. Saya ambil untuk saya baca. "Oh merknya kopi Good Day". Saat itu belum  banyak iklan-iklannya, apalagi tagline keren “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak” Tapi kok ya saya sangat tertarik sama kemasannya, desainnya itu berkesan modern, keren dan gaul gitu deh. Sebagai salah satu anak muda waktu itu, *eh sekarang masih muda kok, cuma udah punya dua anak ;)*, lah saya kok ya jadi tergoda juga nyobanya. Padahal seumur-umur, sebelumnya gak pernah tergoda tuh sama kopi-kopi instan gitu.

Waktu itu kalau nggak salah, sudah ada empat varian kopi instan Good day yaitu original, mocacinno, chococinno dan vanilla latte *CMIIW alias benerin kalo salah ya man-teman*. Nah galau lagi deh pas milihnya hehehe :)

Pilih punya pilih, saya mikir kalo rasa original, ntar rasa kopi banget donk, saya kan ogah *padahal setelah dicobain, tetep saya suka tuuh*. Kalo Chococino, ntar rasa coklat lagi, pikir saya. Hadeeuuuh repot amat sih. Akhirnya karena suka dengan warna merah kemasan Good Day, untuk pembelian perdana saya beli Good Day Mocacinno. Yaaang ternyataaaa..pilihaaaan saya gak salah. Seleranya, saya bangeeeet!! Dan tahu gak, ternyata suami saya juga punya rasa favorit yang sama looh. *ketjup-ketjup “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”

Minggu-minggu selanjutnya adalah percobaan saya dengan Vanilla late, original dan berbagai varian rasa “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak” yang kemudian semakin banyak dan gak ada yang rasanya mengecewakan. Beneran deh! Gak bohong!

Beberapa Tahun Kemudian

Tapi, seiring waktu dan usia saya semakin muda, eeh bertambah. Lambung saya kemudian tak lagi sebugar dulu. Asupan kopi harus dicermati. Gak bisa tiap hari seperti dulu huhuhuuu :'(

Tenang, bukan saya namanya kalo nyerah begitu aja. Selain, tips dari Mama saya untuk menyeduh satu sachet “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak” untuk dua kali pakai, saya juga punya tips ciamik yang gak kalah asik. Apakah itu?

Begini ya, di saat-saat lambung saya sedang agak bermasalah namun keinginan ngopi sangat kuat, maka suami saya akan jadi solusinya. Looh kok bisa? Sini..sini saya bagi-bagi rahasia, tapi jangan bilang2 yaa.

Pertama, ketika suami pulang kantor. Sambut dengan senyum dan cium tangan. Dengan manis, tanyakan kabarnya di tempat kerja dan tawarkan, "Ayah, mau minum kopi? Ibu buatkan ya". Biasanya suami akan takjub *eh apa itu suami saya aja ya* dan mengiyakan sambil menduga-duga ada apakah dengan istrinya yang cantik hari itu :D

Kedua, ambil satu sachet “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak” favorit suami. Kalau suami saya, favoritnya sama dengan saya Good Day Mocacinno. Sajikan dalam cangkir yang paliiing baru, hihihi kalo gak ada ya cangkir buat tamu gitu deh. Pokoknya tampilan menarik.


Good Day Mocacinno favorit saya dan suami (hidupbanyakrasa.com)

Ketiga, sajikan tetap dengan senyum manis. "Silakan diminum yah". Biasanya, suami saya minum dengan kalimat "Ibu ada maunya nih ya?" hahahaha tahu aja sih yah.

Jadi apa sih sebenarnya mau saya dan apa hubungannya dengan tips ngopi saat lambung bermasalah? Hehe ini adalah cara saya untuk ikutan menyeruput kopi yang saya buat tadi. Bisa dengan sendok ataupun menunggu suami menurunkan gelas dari mulutnya. Singkatnya sih, nebeng ngopi yang kadang justru ngabisin hihihi *sabar ya yah* :D

Tapiii, itu juga kalau si lambung gak terlalu rewel loh ya, dan belum tentu bisa berlaku untuk semua orang, istilah kerennnya "syarat dan ketentuan berlaku" hihihi, namanya juga tips ajaib ala saya. Intinya, saya selalu putar otak supaya bisa menikmati dan mencicipi  “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak” yang berhasil mengubah alergi kopi saya jadi teman sejati.


Sunday, 28 July 2013

Rapat Sekolah yang Seru Sumringah

Assalamualaikum wr.wb...Selamat malem man teman semuanya, semoga sehat wal afiat di bulan suci Ramadhan ini yaa :) Alhamdulillah saya dan keluarga juga demikian, kecuali si kecil Sandya yang idungnya udah mulai meler dan bersin2 bikin ibunya bersiap2 menghadang flu.

Ceritanya, hari Sabtu kemaren itu saya diundang tuh sebagai perwakilan orangtua siswa kelas 2 (yeaay si Kakak udah kelas 2 looh :D) di SD tempat anak saya sekolah. Pikir punya pikir, saya pun gak habis pikir ngapain aja ya ntar di rapat itu.

Saking semangatnya, saya sengaja tuh gak tidur lagi dari sahur trus milih ngerjain beberapa kerjaan freelance saya di depan leptop. Tapi, jam 7-an, alarm saya alias Sandya yang nangis minta nyusu berbunyi *hehe berasa lonceng ya* Sebagai ibu yang baik dan benar, maka saya pun nyamperin anak saya donk, masa iya nyamperin ayahnya :D

Nah, singkat cerita, saya pun menyusui dengan gaya favorit adek (atau ibunya yak) dengan tiduran, jd dia bisa langsung tidur lagi. Ternyata oooopps olalaa, saya juga ikut ketiduraaan. Rapat yang mulai jam 9 itu pun sukses terlewatkan, karena saya bangun jam 9.30.

Alhasil, orang-orang rumah kemudian jadi sasaran kesel saya. hehe padahal emang salah saya sendiri, gak pesen minta dibangunin. Dengan bermodalkan kebiasaan persiapan kilat jaman jadi wartawan dulu, dalam waktu gak lebih dari 15 menit, saya sudah lengkap mandi dan pakaian lengkap dengan jilbab *cepet kaan, makanya suami saya sih jarang komplain kalo pas saya siap2 mau berangkat, paling bete aja hihihi*

Minta dianterin suami, saya pun berangkat ke sekolahnya Kakak. Wussss hanya kurang dari 10 menit, sudah sampe deh. Setelah cium tangan suami, maka saya pun menuju ruang rapat. Sebenernya tetep aja bertanya2 bakal seperti apakah rapat dari Pengurus PTSG, kalo gak salah Parent Teacher Support Group, yaitu kelompok orangtua murid yang terlibat dalam kegiatan di sekolah, termasuk kegiatan belajar mengajar dan lain-lain.

Sebenernya, saya sendiri sudah tidak asing bagi guru2 karena memang sering nongol nganter jemput Kakak plus saya juga instruktur Klub Menulis disana. Oh ya, saya juga membantu menulis dan mengedit di website sekolah. Jadi waktu biicara di forum itu, yaa saya beraasa bermuka dua deh, antara pendapat sebagai orangtua murid tp juga sebagai instruktur Klub Menulis *yang udah berhasil menerbitkan self publishing book, bukan sombong bukan sihir sodara-sodara* :D

Ndilalah rapat itu pas saya masuk kok ya pas ngomongin school club alias sejenis kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Jadi saya bisa langsung on, walaopun telat 1 jam itu *sungkem2*

Baku pendapat *bukan hantam ya* terjadi seputar school club mana yang mau diteruskan atau tidak, menimbang berbagai hal seperti kesesuaian dengan tujuan sekolah, berpotensi membawa nama sekolah ke luar, juga dari segi pengajar. Wuuiih pokoknya seru deh, ngalah2in acara debat di stasiun tv hahahaha

Klub menulis yang saya instrukturi *ini nulisnya bener gak ya* dianggap unik dan mau dimajukan sebagai unggulan..ehem..ehemm. Antara bangga sama deg2an juga ini, ternyata pekerjaan saya bekerjasama dengan tim dari sekolah, dihargai orangtua, tp juga berarti saya harus meningkatkan mutu diri sekaligus membuat bahan pengajaran yang lebih baik lagi dibanding tahun kemarin *komat-kamit* *doa loh ya, bukan yang lain*

Kemudian tibalah saatnya pemilihan pengurus PTSG. Sebenernya sudah ada tiga pengurus inti sebagai Ketua, Sekretaris dan Bendara. Kemudian tinggal memilih anggota untuk bidang2 yang disepakati. awalnya usulan bidang dari sekolah, terlalu njlimet, akhirnya ada tiga bidang umum dengan beberapa anggota.

Saya kemudian dimasukkan ke bidang pengawasan alias sebagai koordinator kelas perwakilan kelas 2. Ya oke lah, ngawasin kan kerjaannya? hehe ngawasin anak sendiri juga udah biasa kok *beda kaliiii, riin* :D

Pemilihan anggota bidang ini gak kalah serunya dengan penentuan anggota bidang di rapat pemerintahan di gedung Gubernur *sook tauu*. Hehe apalagi kan gak semua orangtua juga mau ikut diidalamnya. Alhasil, seruu deh. Apalagi ketika Ketua PTSG merasa ada kebutuhan perwakilan PTSG yang stand by untuk mengurus berbagai keperluan. Sayangnya, guru dan staf sekolah sudah tidak bisa membantu itu.

Kemudian diputuskan untuk menggunakan media seperti Facebook ataupun BB grup atau apalah itu, maklum saya pan dari dulu gak pernah punya dan pake BB, jadi ya emang gak ngerti. Saya dan suami memang milih gak pake BB, agar gak menguras waktu sekaligus isi rekening hehehehe :D

Kebetulan, dari kelas dua ternyata ada dua orangtua murid, saya dan seorang lagi.  Setelah utak atik nama anggota beberapa waktu, tiba-tiba ketika saya lagi bolak-balik lihat tas karena denger Hp yang bunyi2 tanda lowbat dan bikin saya mikir, gimana nanti nelp suami untuk minta jemput, muncul usulan saya jadi sekretaris. Heeee...afa-afaan inih.

Saya langsung berkelit bak pesilat tangguh, "Jangan deh, saya kan gak pake BB", *itu alasan nyambung gak sih* dan langsung disambut jawaban "gak apa2, kan banyak media lain". Saya belum nyerah, "kan sudah ada Sekretaris yang dipilih," kata saya. "Biarin, kalau Sekretarisnya dua kan lebih bagus".

Huks saya bagaikan kena smash! Glek..seumur2 saya juga gak pengalaman ikut organisasi serupa seperti ini. Jaman anak saya TK deket rumah apalagi, muridnya aja cuma seuprit, boro2 bikin PTSG.

Akhirnya dengan penuh wibawa *ihiik* saya jawab bersedia. Job desk juga akan kembali dirapatkan. Saya masih mengira-ngira sih apa aja yang bisa saya kerjakan, ditengah berbagai kegiatan saya yang (kesannya) seabrek ini.

Tapi, tenaang saya masih merasa punya kesempatan, besok Senin akan saya konfirmasi lagi sama Ketua dan sekolah, kali2 aja mereka sadar dari kekhilafan ini hihihii ;) Doakaan saya yaaa man temaaan :)







Friday, 3 May 2013

Pendidikan atau Pembelajaran?

Selamat malam semuaaa..semoga sudah duduk nyaman dan beristirahat di rumah masing-masing ya. Kalo yang masih harus ngurus kerjaan dan deadline, tetap semangaat tapi jangan kemaleman juga istirahatnya. Ingat, tubuh kita punya hak untuk beristirahat.

Eniweey, malam ini ada keluhan seorang teman yang menggelitik pikiran dan hati saya. Apakah itu dan apa juga hubungannya dengan judul saya diatas itu? Hehehe baiklah kita akan mulai sebentar lagi, ayo berhitung bersama..3..2..1 :D

Jadi gini, ada seorang ibu yang tengah gundah gulana lantaran ada sesuatu yang mengganjal saat proses belajar mengajar di sekolah putranya. Dirasa ada yang kurang sreg, tp orangtua tidak bisa banyak bertindak, karena taruhannya adalah sang buah hati.

Kok bisa gitu? Pasalnya, sekolah itu kan bagai rumah kedua untuk anak-anak, memindahkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kalau sudah begini, pendidikan tak ubahnya produk pada umumnya, kalau suka dan cocok ya tetap digunakan, dan sebaliknya kalo sudah gak sreg, ya diganti. Sayangnya, produk yang kita bicarakan ini soal pendidikan anak, bukann soal sabun atau pasta gigi yang bisa diganti kapan pun kita mau.

Tapi, sebenarnya apa sih sebenarnya pendidikan itu? Saya sendiri bukan ahli pendidikan ataupun praktisi yang memiliki cukup pengalaman untuk membuat sebuah definisi. Ada beberapa kutipan dari beberapa ahli yang saya kutip yang sekiranya dapat mewakili defisin pendidikan tersebut.

“Education is the kindling of a flame, not the filling of a vessel.” ― Socrates

“Education is not the filling of a pail, but the lighting of a fire.”― W.B. Yeats

Dua kutipan yang hampir mirip tersebut merupakan favorit saya. Mengapa? Karena untuk saya, pendidikan itu bukan bagaikan seseorang mengisi wadah kosong, melainkan "membangunkan" apa yang sudah tertanam dan memaksimalkan kemampuan tersebut.

Lah terus itu judul di atas apah dong maksudnyaah? Hehe bahasan saya serius banget gak sih? moga2 masih ada yang nerusin baca *komat-kamit* :)

Jadi menurut saya pribadih nih ya, pendidikan itu lebih berbau formalitas seperti masuk sekolah, ujian, memperoleh ijazah dll, sementara pembelajaran itu lebih luas dari pendidikan. Didalam pembelajaran pasti ada pendidikan, tp didalam pendidikan belum tentu ada pembelajaran. Looh kok gitu? Loh kok bisa, aah pasti pikiran situ aja tuh?

Ya iya emang ini pikiran saya pribadi, pan udah dibilangin dari tadi. Contohnya, saat anak menghafal tanggal2 bersejarah mulai awal perang Diponegoro sampe awal kemerdekaan tahun 1945, apa mereka benar-benar belajar? Ya, untuk anak2 yang tingkat kemampuan mengingatnya tinggi, bisa jadi mereka akan hafal di luar kepala. Kemudian pertanyaannya sampai kapan? Ada yang kesenggol temennya, trus lupa. Ada juga yang tiba-tiba lupa pas ujian, sukur2 ada yang inget sampe ujian selesai.

Kalau mereka ingat sampe ujian trus mereka dapat nilai bagus dari ingatan itu, apa mereka sudah benar-benar melakukan pembelajaran? Eittss tunggu dulu. belum tentu. Buat saya, pembelajaran itu kalau mereka sudah tahu berbagai hal tentang perang tersebut. Misalnya, apa penyulut perang Diponegoro, siapa Diponegoro itu, kemudian apa latar belakang pembangkangan yang ia lakukan terhadap Belanda lalu siapa saja yang menjadi teman atau musuhnya dll. Begitu juga dengan perang kemerdekaan, dll. Demikian juga saat mereka belajar geografi, yang gak cuma diminta menghafal nama2 negara Asia, Eropa, Afrika dll ditambah dengan nama kepala negara, ibu kota dll, yang tidak jauh dari data.

Maafkan jika saya salah, tapi untuk belajar, saya yakin ada keinginan siswa untuk terlibat aktif, untuk mencaritahu dan untuk memenuhi rasa penasarannya. Sudahkan anak-anak kita belajar seperti itu? Atau, yang mereka jalani lebih banyak merujuk pada paragraf saya sebelumnya.

“Children must be taught how to think, not what to think.” ― Margaret Mead

Satu lagi kutipan yang sangat "nendang" untuk tulisan saya kali ini. Kita sebagai orang dewasa seringkali merasa "lebih tahu", "lebih berpengalaman" dan lebih-lebih yang lain dibandingkan anak2 kita. Padahal ini tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataannya, kita kebetulan lebih dulu menjalaninya dibandingkan anak-anak kita. Tapi apakah itu membuat kita berhak memberikan perintah-perintah dan rambu2 pada anak-anak? Apakah kita benar-benar berhak menentukan apa yang kita pikir terbaik untuk mereka?

“In learning you will teach, and in teaching you will learn.”― Phil Collins

Mengajar dalam kalimat Phil Collins ini juga bukan berarti untuk para pengajar formal. menjadi orangtua adalah salah satu profesi pengajar tertua dengan masa kerja yang tak terbatas. Ya, saya yakin setiap orangtua adalah guru sejati bagi anak-anaknya. Jadi pertanyaannya kemudian? Apakah kita sebagai orangtua sudah mencukupkan dan memantaskan diri sebagai pengajar anak-anak kita dengan perilaku, sikap dan tindakan kita? Apakah selama ini kita sudah mengambil porsi kita dalam pendidikan dan pembelajaran anak-anak kita, atau lebih banyak menyerahkan kepada sekolah dan institusi formal lainnya?

“Educating the mind without educating the heart is no education at all.”― Aristotle

Ini adalah inti dari pendidkan dan pembelajaran sebenarnya untuk saya, yaitu mendidik hati termasuk karakter, kepribadian dan lain2 yang utama pada anak. Saya tidak menampik bahwa ada kebanggaan jika anak saya meraih prestasi di bidang akademik ataupun bidang2 lain. Tapi yang tak kalah penting dan membuat saya bangga adalah ketika anak saya mampu berempati ketika  temannya sakit, atau ketika mau mengambilkan minum untuk saya atau Ayahnya ketika sedang terbatuk2, atau ketika ia memeluk sayang dan menjaga adiknya. Apakah itu diajarkan di sekolah, dan apakah orangtua sudah mengajarkan itu kepada anak-anaknya? Lalu darimana anak2 bisa memahami dan melakukan hal tersebut jika ia sama sekali tidak mengetahui pentingnya perilaku tersebut dan contoh yang bisa ditirunya.

Satu garis merah dari pendidikan atau pembelajaran untuk saya kemudian adalah mencoba menjadikan anak-anak pribadi yang lebih baik. Meskipun saya yakin hal itu tidak hanya diperoleh dari institusi formal. Dan jika nilai berupa angka yang masih menjadi patokan orangtua dalam pendidikan anak, coba tanyakan kepada para pekerja profesional ataupun pada diri kita sendiri, seberapa banyak hal tersebut mempengaruhi diri kita saat ini? Apakah angka tersebut yang mendefinisikan diri kita saat ini?

Terimakasih sudah mau meluangkan waktu disini. Maaf kalau ada salah2 kata dan sok tahu. Masukan, kritik dan tukar pendapat disini sangat diharapkan looh. Selamat malam semuaa :)




Thursday, 25 April 2013

Cinta Dalam Sebungkus Lumpia Basah


Sumber foto: jejakrasa.blogspot.com

Selamat soreee..Assalamualaikum semua. Apa kabar? Semoga kita sehat sentosa dan dalam lindungan Allah SWT.

Hehe apa pula judul tulisan saya hari ini ya? Kalo Garin Nugroho pernah bikin film Cinta dalam Sepotong Roti dan penulis muda, Raditya Dika punya film Cinta Dalam Kardus, nah yang saya alami ini beda lagi.

Jangan2 ada komen, idiih ganjen amat sih ibu2 ngomongin cinta2an. Eitsss jangan salah, meski udah suami istri, cinta itu harus tetap disirami, semacam tanaman gitu hehehe :)

Trus apa hubungannya sih sama lumpia basah, ada juga keujanan yang basah deh :D Sabar..sabar..mari kita mulai. Ini postingan kepanjangan intronya yah.

Ceritanya begini, saya dan suami kan udah menikah hampir 8 tahun, ditambah 4 tahun kenal (malu ah bilang pacaran, pan gak boleh pacaran kata ustad Yusuf Mansur). Jadiiii, total hampir 12 tahun deh sejak pertama kenal. Suami saya itu jauuuuh dari jenis romantis, yang suka ngasih kejutan bunga atau coklat. Apalagi bikin puisi dan bernyanyi romantis pake gitar di depan jendela hihihi, pokoknya tipe pekerja keras dan gak ngerti gombal2an, meski suka becanda sesekali juga.

Nah menjelang ulang tahun saya ke ... (maaf kena sensor ;) pada awal April kemaren, tiba-tiba suami ngajak liburan ke Puncak. Oww oww romantis dong nih. Taaapiiii, jangan salah duga pemirsaaa, liburan ini bukan tipe yang begitu. Liburan kami ke Puncak adalah bareng temen2 tim kantor suami, lengkap dengan membawa keluarga masing-masing. Termasuk saya bawa dua anak dan Papa Mama. Tapi buat jenis manusia seperti suami saya, kejutan seperti itu udah lumayaaaan banget deh :) Makasih yaa.

Jadi dimana kisah lumpia basahnya? beloooom..ini masih intronya hahahaa

Suami saya juga punya kebiasaan ngambil cuti panjang sekitar 2 minggu pas bulan April yaitu menjelang, saat dan setelah saya ultah. Kalo dulu si Kakak masih TK sih, kita bisa jalan bebas2 aja, tapi sekarang kan Kakak udah SD, jadi mana bisa ijin sesuka2 hati. Jadilah sisa cuti suami, menggantikan saya yang anter jemput Kakak ke sekolah. Nah cerita-ceritanya, berhubung suami saya tukang jajan dan pemilih makanan alias picky eater, tiap kali selesai nganter atau jemput Kakak sekolah, suami jalan2 cari makanan.

Pada suatu hari, saya sempet terucap, "Yah, lumpia basah yang di depan SMP itu kayanya enak ya,". Sebenernya lokasi SMP itu gak deket2 amat sih sama sekolah Kakak, agak beda jurusan malah. Waktu itu kita kebetulan lewat. Saya udah gitu lupa deh pernah ngomong gitu.

Suatu pagi, suami saya pamit mau ada urusan setelah nganter Kakak ke sekolah. Kebetulan memang rumah mertua saya gak terlalu jauh. Jadi suami mau nengok orangtuanya. Trus saya sibuk deh sama si Adek,mulai dari mandiin, pake baju, makan dll. Sampe akhirnya Adek bobo lagi. Suami belum pulang. Hmmm telpon gak telpon gak, iih saya kan gak mau disebut istri posesip, itu tuuuh yang suka nelp2 mulu kalo suami pergi *buang muka* *Eh jangan ada yg ambil ya, muka saya kan cuma satu* :D

Tunggu punya tunggu, suami pun pulang. Tapi, bungkusan apa itu? Tadaaa..ternyata itu adalah lumpia basah yang saya pengen yang sempat lontarkan beberapa hari lalu. Sumpaahh, lumpia itu rasanya suangaaat uenaaaaaak pagi menjelang siang itu. Mungkin karena efek laper, terkejut juga karena merasa senang diperhatikan suami.

Ya seperti itulah suami saya, memang tidak suka menggombal dan berkata-kata romantis. Dibalik pribadi pekerja keras, Ayah yang sangat baik kepada anak-anaknya, sekaligus putra yang sangat hormat kepada orangtuanya, dia adalah suami yang sangat pengertian, mendukung sekaligus suka memberi kejutan sederhana, namun sangat menyenangkan.

Seperti siang itu, cintanya tampak dalam sebuah lumpia basah yang dibalut oleh daun pisang serta dilengkapi sepasang sumpit. Lumpia dengan harga Rp 5 ribu itu nilainya beratus-ratus kali lipat di mata saya siang itu, karena lengkap dengan balutan perhatian dan kasih sayang suami. Terimakasih yaa.

Demikiaan kisah saya sore ini, moga2 dibaca sampai akhir hehehe. Selamat sore, selamat menikmati camilan sore :) 



Monday, 11 March 2013

Menyiapkan Anak untuk Gagal?


Selamat malam semuaaa! apa kabar? semoga baik, sehat dan bahagia semuanya ya. Aamiin. Alhamdulillah saya juga demikian, kecuali sedikit sakit gigi lantaran tumbuh gigi bungsu (halaaah gak keren banget yak), yang memicu sakit kepala juga. Saya jadi makin ngerti kenapa anak2 rewel kalo tumbuh gigi, saya yang orang gede aja gitu kok *eh :D

Aniwei, apa hubungannya sih sama tuh judul mak? hehe gak ada sih, itu cuma pembuka sekaligus curcol sayah hehehe :) Markitmul, alias mari kita mulai...

Begini, saya kan ngedaftar tuh ke website pendidikan luar yang ngasih berbagai informasi tentang pendidikan, terutama kalo saya mati gaya untuk kelas menulis saya yaitu http://www.education.com/

Nah, saya juga nge-like dong page Facebooknya. Kemaren2 mereka tuh posting foto yang judulnya Famous Failures yang berisi foto2 orang-orang terkenal seperti Einstein, Michael Jordan, Oprah, Steve Jobs, Walt Disney dan The Beatles. Bingung dong, kok orang gagal sih, mereka kan justru sangat berhasil di bidangnya? Hayooo penasaran kan? Saya juga. Akhirnya saya buru2 buka FB di laptop, soalnya kalo di HP gak kebaca kata-katanya.

Kalimat pengantar dari foto tersebut adalah: "Have you encouraged your kid to try something new lately?" Dengan kata lain, kegagalan dikaitkan dengan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru. Apakah kita sebagai orangtua sudah melakukan itu? *ngaca rin ngaca hehe*

Sebenernya yang paling nendang untuk saya pribadi sih, bukan dari sisi mencoba sesuatu yang baru. Tapi, justru mempersiapkan anak mengalami kegagalan? Loh kok gitu? Sebab, hidup itu memang tidak selalu dihiasi dengan keberhasilan. Kegagalan itu antara lain sebagai tangga menuju keberhasilan. Tapi, apakah kita pernah mengajarkan anak kita untuk gagal? Atau bagaimana bersikap dan berhati besar saat mereka gagal?

Selama ini, yang saya tahu orangtua selalu "diajarkan" oleh lingkungan untuk memberikan pujian atau reward saat anak berhasil, tapi jarang yang memberikan hal tersebut saat anak gagal, bukan begitu?

Padahal, saat gagal justru waktu yang lebih penting bagi para anak-anak menerima motivasi dan semangat dari orangtua dibandingkan saat mereka berhasil, iya kan? Jangankan anak-anak, saya saja yang sudah dewasa merasa seperti itu.

Coba kita lihat para manusia "gagal" yang kemudian menjadi luar biasa hebat dalam foto-foto diatas. Manusia yang dijuluki sebagai salah satu manusia terpintar di dunia, Albert Einstein ternyata tidak bisa bicara hingga berusia empat tahun, dan gurunya berkata dia tidak akan dapat memiliki kapasitas yang besar atau lebih tepatnya kalimatnya "he would never amount to much". Bayangkan, seorang guru yang berkata seperti itu *geleng2 kepala*

Siapa yang tak kenal Michael Jordan sebagai salah satu legenda Basket? Jordan muda rupanya pernah dikeluarkan dari tim Basket di sekolahnya hingga ia masuk ke kamar dan menangis. Lalu ada Walt Disney, Steve Jobs, Oprah dan The Beatles yang juga mengalami kegagalan dan tentunya kekecewaan yang besar.

Apakah pengalaman ini seakan-akan mengingatkan pada diri Anda sendiri? Kalau saya iya. ada beberapa kali saya merasa gagal dan terpuruk, kecewa dan merasa jd orang paling malang di dunia. Saya rasa semua orang pernah merasa seperti itu, sesekali dalam hidup.

Lalu apa yang membedakan kita dengan orang-orang hebat tersebut diatas? Mereka tidak menyerah. Itu kuncinya, menurut saya. Apakah Einstein menyerah ketika gurunya mengejeknya sedemikian rupa? Tak akan ada lagu-lagu legendaris dari The Beatles jika mereka langsung merasa gagal dan terpuruk? Kita juga tidak akan pernah mengenal Micky Mouse dan Disneyland, jika Walt Disney terus menerus kecewa lantaran dianggap gagal setelah dipecat dari pekerjaannya di sebuah surat kabar karena "kurang imajinasi dan tidak memiliki ide original".

Jadi bagaimana kita seharusnya menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi kegagalan dan bangkit dari keterpurukan tersebut? Menurut saya pribadi, terutama dari sikap kita sebagai orangtua. Ayah dan Ibu adalah tokoh panutan terdekat bagi anak. Bagi mereka, tentunya sikap kita lah yang akan mereka lihat pertama kali, secara sadar ataupun dibawah sadar.

Saya sendiri bukan seorang berbasis pendidikan ataupu psikologi, satu-satunya cara yang saya tahu adalah berdasarkan pengalaman. Satu hal yang saya praktekkan baru-baru ini adalah ketika para siswa kelas menulis saya yang gagal meraih juara ketika mengikuti lomba menulis. Untuk saya pribadi, keberanian mereka untuk mengikut lomba saja sudah merupakan kemenangan. Meski mereka tidak juara, saya tetap memberikan apresiasi saya pada mereka, meskipun hadiahnya sederhana yaitu camilan setelah kelas menulis :) 

Sementara untuk anak saya sendiri, saya tetap menyemangatinya setelah ia tidak menang saat ikut lomba menghafal surat-surat Al-Quran waktu TK. Padahal waktu itu, hampir satu rumah yang mengantarnya saking semangat hehehe 

Saya akui kadang tak mudah berbagi cerita kegagalan dibandingkan keberhasilan, apalagi pada anak-anak, tapi kisah-kisah semacam itu saya yakini dapat menguatkan mereka dan pada akhirnya membuat mereka menganggap bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti, namun harus dihadapi dan membuat mereka berusaha lebih keras lagi. Yang pasti, kegagalan apapun yang anak alami, penting untuk mereka mengetahui bahwa Ayah dan Ibu akan tetap mencintai mereka.

Selamat malam dan terima bingkisan :D hehehe met istirahat semuaaaaa....







Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...